Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Deru mesin motor sport milik Dayang membelah jalanan kota menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di daerah tersebut.
Angin pagi menyapu wajah mereka, membawa sensasi hangat yang menyenangkan setelah hiruk-pikuk pelelangan ikan yang menguras tenaga.
Setibanya di parkiran mall, suasana modern dan dinginnya pendingin ruangan langsung menyambut mereka.
Rimba yang biasanya melangkah di tempat seperti ini dengan setelan jas mahal buatan Italia dan dikawal jajaran asisten, kini berjalan bersahaja dengan kaos polos usang dan celana kain sederhana di samping Dayang.
Saat menaiki eskalator menuju lantai atas tempat bioskop berada, Dayang menoleh ke arah Rimba dengan tatapan penasaran.
"Mas Bima suka nonton film apa?" tanya Dayang ceria, matanya berbinar menatap deretan poster film yang terpajang di area lobby.
Rimba tersenyum tipis, menatap balik Dayang dengan sorot mata yang lembut.
"Terserah Mbak saja."
Dayang tertawa kecil, menyenggol lengan tegap Rimba dengan sikutnya.
"Halah, jawaban tipikal banget! Masa ndak punya genre favorit? Laga, horor, komedi, atau, drama romantis?"
"Beneran terserah Mbak Dayang," sahut Rimba halus, suaranya yang berat terdengar begitu hangat di tengah keriuhan bioskop.
"Saya ikut apa pun pilihan Mbak. Asal nontonnya sama Mbak Dayang, film apa saja pasti bagus."
Perkataan sederhana itu mendadak membuat pipi Dayang merona merah.
Gadis perkasa yang biasanya paling garang di pelelangan ikan itu seketika salah tingkah, berpaling cepat ke arah papan jadwal tayang untuk menutupi debaran dadanya yang makin liar.
Dayang akhirnya memilih film horor yang sedang populer.
Dengan gesit, gadis itu melangkah ke loket pembelian untuk membeli dua tiket, serta memesan satu ember besar popcorn karamel dan dua gelas minuman dingin untuk mereka nikmati di dalam bioskop.
"Ini, Mas Bima pegang popcorn-nya ya," ujar Dayang ceria seraya menyodorkan ember karton itu saat keluar dari antrean.
Namun, baru saja Rimba menerima ember popcorn tersebut, sebuah suara bernada terkejut memanggil dari arah samping lobby.
"Lho, Pak Rim—"
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas mahal membeku, menatap
Rimba dengan mata membelalak tak percaya. Pria itu adalah salah satu komisaris rekanan bisnis Suryo Group yang sangat mengenali sosok sang CEO.
Sebelum pria itu sempat menuntaskan kalimatnya atau menyebut nama lengkapnya,
Rimba dengan cepat melemparkan tatapan tajam dan mengedipkan sebelah matanya secara tersirat—memberikan sinyal peringatan yang sangat jelas agar penyamarannya tidak dibongkar.
Pria bertubuh tambun itu seketika bungkam, sadar ada hal serius yang sedang terjadi.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rimba langsung merangkul pelan bahu Dayang dan memutar arah langkah mereka dengan cepat.
"Yuk, Mbak, langsung masuk saja ke studio. Pintu lima sudah dibuka," potong Rimba memutus suasana, membawa Dayang melangkah cepat meninggalkan area lobby.
Dayang yang sempat menoleh ke belakang merasa heran dengan interaksi singkat yang aneh tersebut. Ia mendongak menatap Bima yang tampak terburu-buru.
"Siapa, Mas?" tanya Dayang penasaran.
Rimba memasang raut wajah polos dan menggidikkan bahunya santai.
"Entahlah, Mas tidak tahu. Mungkin salah orang atau mirip kenalannya."
Dayang mengerutkan kening sejenak, namun hembusan dinginnya udara studio bioskop dan gelapnya ruangan saat film hendak dimulai perlahan mengalihkan perhatiannya, menyelamatkan penyamaran sang CEO sekali lagi.
Lampu studio bioskop perlahan padam sepenuhnya, menyisakan pancaran layar lebar yang mulai menampilkan judul film horor tersebut.
Udara dingin dari pendingin ruangan perlahan menusuk kulit, namun keheningan di dalam studio yang remang-remang justru menghadirkan atmosfer yang hangat di antara Rimba dan Dayang.
Awalnya, Dayang duduk dengan tegap, berusaha menjaga wibawanya sebagai Srikandi Pasar Matahari yang tak gampang digertak.
Ia beberapa kali mengunyah popcorn karamel dengan santai sembari menatap layar.
Rimba yang duduk di sampingnya melirik tipis, tersenyum kecil melihat kepura-puraan gadis di sebelahnya itu.
Namun, begitu jalan cerita mulai mencekam, suasana berubah total. Musik latar mendadak hilang, menyisakan suara detak histeris dari karakter utama di layar.
DAR!
Efek suara kejutan keras beserta kemunculan sosok menyeramkan secara tiba-tiba menghantam layar.
"Mama!" jerit Dayang tertahan.
Secara refleks, gadis perkasa itu memejamkan mata rapat-rapat dan langsung mencengkeram lengan tegap Rimba.
Bukan hanya memegang lengan, jari-jemari Dayang bertaut erat, mengapit tangan kanan sang CEO dengan begitu kencang.
Tubuhnya menyandar rapat ke bahu kekar Rimba, mencari perlindungan di tengah ketakutannya.
Rimba tertegun sejenak. Sentuhan jari Dayang yang dingin terasa bagai sengatan listrik yang menjalar hingga ke dadanya.
Rasa hangat merayapi seluruh tubuh sang pria. Tanpa ragu, Rimba mengubah posisi jemarinya, membalas genggaman tangan Dayang dengan lembut namun mantap, menyalurkan rasa aman.
"Tenang, Mbak.nAda saya di sini. Cuma film kok," bisik Rimba sangat halus tepat di dekat telinga Dayang.
Suaranya yang berat dan tenang berhembus menenangkan.
Dayang perlahan membuka matanya. Ia sadar betul betapa eratnya ia menggenggam tangan 'Bima' dan betapa dekatnya jarak wajah mereka saat ini.
Bau harum tubuh Bima—campuran sabun bersahaja dan aroma alami pria—tercium begitu jelas. Pipinya seketika panas merona di dalam kegelapan studio.
Bukannya melepaskan genggaman itu, Dayang justru makin mempererat pegangannya, menyandarkan kepalanya pelan di bahu Rimba hingga film usai.
Lampu studio kembali menyala terang menandakan film telah usai.
Dayang yang masih sedikit malu-malu cepat-cepat melepaskan genggaman tangannya dari lengan Rimba, berpura-pura sibuk merapikan baju dan wadah popcorn yang sudah kosong.
Begitu keluar dari area bioskop yang dingin, langkah Dayang tidak langsung mengarah ke luar mall, melainkan berbelok menuju sebuah toko pakaian besar di lantai yang sama.
"Mbak mau beli apa lagi?" tanya Rimba heran seraya mengikuti dari belakang.
Dayang berhenti di depan jajaran pakaian pria, lalu memutar tubuhnya menatap Rimba dari atas ke bawah.
"Bukan buat aku, tapi buat Mas Bima. Kaos yang Mas Bima pakai itu kan cuma kaos pinjaman peninggalan almarhum bapak yang sudah lusuh. Masa kuli paling hits di Pasar Matahari bajunya itu-itu saja?"
Rimba tersentak pelan. Pria yang biasa mengoleksi jas buatan penjahit ternama di Eropa itu merasa canggung.
"Mbak, tidak usah. Saya pakai ini saja, masih sangat layak kok."
Dayang menggelengkan kepalanya tegas, mengabaikan penolakan halus sang kuli.
"Tidak ada penolakan! Ini bonus karena kerja kerasmu hari ini."
Dengan telaten, Dayang mulai memilih-milih pakaian.
Ia mengambil tiga potong kaos polos katun yang kainnya dingin dan nyaman, dua celana panjang kain tebal yang cocok untuk kerja keras di pasar, dan tanpa rasa canggung Dayang juga memilihkan satu set celana dalam baru untuk Rimba.
Saat melihat Dayang memegang kotak set pakaian dalam itu, wajah Rimba yang biasanya dingin dan dominan mendadak merona merah.
Sang CEO Suryo Group dibuat tak berdaya dan salah tingkah oleh perhatian polos tapi vulgar khas gadis pasar tersebut.
"Nah, ini pas semua ukurannya. Ayo bayar," ujar Dayang puas setelah menenteng tas belanjaannya dari kasir.
Selesai berbelanja pakaian, perut mereka mulai menyuarakan rasa lapar.
Dayang menepuk perutnya pelan seraya terkekeh.
"Ayo, sekarang kita makan siang di food court! Aku yang traktir lagi!" ajak Dayang ceria, melangkah mendahului Rimba menuju area food court yang ramai oleh pengunjung mall.
Suara keriuhan food court di tengah jam makan siang menjadi latar belakang hangat di antara mereka.
Di atas meja putih bersih itu, dua piring besar berisi nasi goreng spesial beraroma gurih, sepiring mi goreng telur bertabur bawang goreng, serta dua gelas besar es teh manis yang segar sudah tersaji rapi.
Dayang menyendok mi gorengnya, lalu menyuapnya santai.
Sinar matahari siang yang menerobos jendela kaca besar mall menerangi paras ayunya, memperlihatkan guratan lelah yang tersembunyi di balik ketegarannya.
"Makan yang banyak, Mas Bima," ujar Dayang menyodorkan piring nasi goreng ke dekat Rimba.
"Kerja di pasar itu butuh tenaga ekstra. Jangan malu-malu."
Rimba tersenyum tipis, menyuap nasi gorengnya dengan penuh penikmatan.
Bagi seorang CEO yang terbiasa dengan hidangan restoran bintang lima, makan mi dan nasi goreng sederhana di food court bersama Dayang terasa jauh lebih nikmat dan berkesan.
Dayang menyedot es teh manisnya hingga berkurang separuh, lalu pandangannya menerawang menatap es batu yang bergemerincing di dalam gelasnya. Suasana mendadak berubah sedikit lebih sentimental.
"Mas Bima tahu nggak," panggil Dayang pelan, suaranya yang biasa nyaring kini terdengar lebih lembut dan dalam.
"Lapak ikan di Pasar Matahari itu satu-satunya peninggalan almarhum Bapak sama Ibu."
Rimba menghentikan sendoknya, menatap penuh perhatian pada gadis di hadapannya.
"Waktu Bapak sama Ibu meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu, Bintang itu masih kecil banget," lanjut Dayang, ada getar tipis di ujung suaranya yang berusaha ia tahan.
"Masih ingusan, belum paham apa-apa. Banyak saudara yang menyarankan lapak disewakan atau dijual saja buat biaya hidup. Tapi aku nolak keras."
Dayang menatap Rimba dengan sorot mata yang begitu teguh, memancarkan aura srikandi yang membuat dada Rimba berdesir hebat.
"Aku janji di depan makam mereka, aku yang bakal teruskan usaha Bapak. Aku rela putus kuliah, bangun tiap jam tiga subuh, mandi air dingin, bau amis ikan tiap hari, asal Bintang bisa tetap sekolah tinggi dan punya masa depan yang layak. Aku nggak mau Bintang bernasib sama kayak aku yang cuma lulusan SMA dan hidup di kerasnya pelelangan ikan."
Rimba mendengarkan setiap patah kata itu tanpa memotong sedikit pun.
Di balik sikap sangar dan tangguh Dayang saat menghadapi preman seperti Bayu atau bertengkar di pasar, ternyata ada pengorbanan luar biasa tulus dari seorang kakak perempuan yang memikul beban dunia di pundaknya sendirian.
Rimba meresapi betapa berbedanya dunia mereka.
Dulu ia menganggap bisnis hanyalah angka, margin keuntungan, dan penguasaan pasar.
Namun di depan Dayang, ia melihat bahwa bagi rakyat kecil, sebuah usaha adalah urat nadi kehidupan dan kehormatan keluarga.
Dengan gerakan penuh kehangatan, Rimba mengulurkan tangannya di atas meja, mengusap pelan jemari Dayang yang terasa agak kasar akibat kerja keras.
"Mbak Dayang itu wanita paling hebat dan tegar yang pernah saya temui," ucap Rimba tulus, matanya menatap dalam langsung ke bola mata Dayang.
"Bintang pasti bangga punya kakak seperti Mbak. Dan Bapak-Ibu Mbak di atas sana, pasti senyum melihat kegigihan Mbak Dayang menjaga amanah mereka."
Dayang tersentak pelan menerima usapan dan pujian tulus itu.
Tatapan mata 'Bima' yang begitu hangat dan berwibawa seketika meruntuhkan benteng pertahanan di dadanya.
Air mata tipis tergenang di sudut matanya, namun jemarinya membalas genggaman Rimba dengan erat di atas meja food court.
Setelah makan siang dan puas menghabiskan waktu bersama di mall, mereka berjalan menuju parkiran.
Bungkusan belanjaan pakaian baru untuk Rimba tersimpan rapi di dalam tas kain yang kini menggantung di stang motor.
Matahari siang mulai bergeser ke barat saat motor sport hitam milik Dayang membelah jalanan raya kembali menuju desa.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka.
Di tengah perjalanan yang tenang, Dayang yang duduk di jok belakang perlahan memajukan posisinya.
Tanpa kata, kedua lengan mulusnya melingkar halus di pinggang tegap Rimba.
Ia menyandarkan dagunya pelan di bahu kekar pria itu, memeluk tubuh Rimba dengan kehangatan dan rasa percaya yang begitu tulus setelah momen emosional mereka di food court tadi.
Sentuhan lembut dan pelukan erat Dayang menghantam dada Rimba bagai tamparan keras. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika membakar seluruh sendi jiwanya.
Dayang, maaf. Aku sudah membohongimu. Aku Rimba, musuhmu. batin Rimba menjerit perih dalam keheningan.
Pria itu mengepalkan jemarinya di stang motor. Setiap detik yang ia habiskan bersama Dayang—melihat ketulusannya, mendengar rintihan perjuangannya demi Bintang, hingga merasakan kehangatan pelukannya—justru makin memperjelas betapa kotornya kebohongan yang ia bangun sejak awal.
Pergulatan batin sang CEO Suryo Group telah mencapai titik nadir.
Ia tak sanggup lagi meneruskan sandiwara ini, tak sanggup melihat mata polos Dayang kelak menatapnya dengan rasa benci yang teramat sangat jika penyamarannya terbongkar secara paksa.
Rimba membulatkan tekadnya di sepanjang jalan pulang.
Rencana kepulangannya sudah terkunci rapat di kepalanya: besok, begitu Dayang menyerahkan dokumen kerja sama yang sudah ditandatangani itu kepada Dio, tugas dan penyamarannya selesai.
Ia akan menghilang tanpa jejak dari kehidupan Dayang, kembali menjadi Rimba Suryo—sang CEO berdingin hati—dan membiarkan 'Bima' si kuli jalanan dikenang sebagai kenangan manis yang meredup di Pasar Matahari.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂