NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Menghapus Jejak

Langkah kaki Gavin terdengar berat dan terseok-seok saat ia meniti anak tangga semen menuju lantai dua Kos Bu Broto. Jam dinding di koridor luar menunjukkan pukul empat pagi. Kota universitas masih terlelap dalam pelukan kabut tipis pasca-badai, menyisakan keheningan yang hanya dipecah oleh suara serangga malam dan desis napas Gavin yang pendek.

Meskipun ia berhasil meruntuhkan seluruh anggota Srigala Jalanan di gudang pelabuhan lama, Gavin bukanlah manusia super yang kebal peluru atau senjata tajam. Begitu adrenalin di dalam tubuhnya perlahan menyusut, rasa sakit yang luar biasa mulai menghantam kesadarannya. Sudut bibir kanannya robek dan terus berdenyut perih. Di balik kaos oblong hitamnya yang basah oleh keringat, terdapat memar kebiruan yang melintang di tulang rusuk akibat hantaman balok kayu.

Namun luka yang paling parah berada di lengan kiri atasnya. Sebuah sayatan pisau lipat yang cukup panjang dan dalam berhasil menembus pertahanannya di menit-menit akhir pertempuran. Kain kaos oblongnya di bagian lengan telah robek, berubah warna menjadi merah pekat karena darah segar yang terus mengucur, membasahi sebagian jaket denim lusuh yang tersampir pasrah di pundaknya.

Gavin meraba saku jinsnya dengan jari-jari tangan kanan yang gemetar, mencari kunci kamar nomor 2B. Kepalanya mulai terasa agak pening akibat kehilangan darah yang cukup banyak sepanjang perjalanan pulang menaiki motor Astrea-nya.

KLIK.

Tepat saat Gavin berhasil memasukkan kunci ke dalam lubang pintu dan memutarnya, lampu neon kuning di teras Kos Bu Broto mendadak menyala secara otomatis.

Gavin membeku di tempatnya berdiri. Ia perlahan menoleh ke belakang. Di ujung koridor dekat tangga, berdiri Kirana Putri. Gadis itu masih mengenakan almamater kampus yang lecek dan celana kain hitamnya. Matanya sembap, merah, dan dipenuhi gumpalan air mata yang belum kering semenjak ia menjaga Rian di klinik semalam. Kirana tampaknya baru saja kembali dari klinik untuk mengambil beberapa pakaian ganti Rian di kamar sebelah.

Melihat siluet Gavin yang berantakan di bawah sorot lampu, Kirana langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan histeris yang hampir lolos dari tenggorokannya.

Di depan matanya, Gavin berdiri dengan wajah yang dipenuhi noda darah yang mengering dan lebam di rahang. Yang paling mengerikan adalah lengan kiri cowok itu, di mana darah segar masih tampak menetes dari ujung jins robeknya, jatuh ke lantai semen teras menciptakan pola lingkaran merah yang konsisten.

"Gavin...?" bisik Kirana dengan suara yang sangat bergetar, seluruh tubuhnya mendadak lemas melihat pemandangan horor di depannya.

Gavin yang menyadari penyamarannya sebagai mahasiswa santai runtuh di depan Kirana, langsung memaksakan sebuah senyuman miring di sudut bibirnya yang robek. Ia menggaruk kepalanya canggung dengan tangan kanan yang bersih dari darah. "Eh, Bos Kirana... Belum tidur? Bagus deh, jangan tidur dulu, tolong pel lantai teras ya. Gue gak sengaja numpahin sirup cocopandan nih pas mau masuk kamar," celetuk Gavin dengan nada ugal-ugalan yang dipaksakan, mencoba mengalihkan situasi drama yang paling ia benci.

Kirana tidak tertawa. Air matanya justru kembali luruh membasahi pipinya. Tanpa memedulikan ucapan konyol cowok itu, Kirana melangkah cepat, merebut kunci dari tangan Gavin, membuka pintu kamar 2B secara kasar, lalu menarik pergelangan tangan kanan Gavin yang sehat untuk masuk ke dalam kamar.

BRAK!

Kirana menutup pintu kamar dengan tendangan kakinya, lalu menguncinya dari dalam. Kamar Gavin sangat berantakan; hanya ada kasur busa tanpa ranjang di lantai, setumpuk buku diktat kimia yang berdebu, dan sebuah ransel kanvas di pojok ruangan. Kirana mendudukkan Gavin secara paksa di tepi kasur busa.

"Kamu bodoh ya, Gavin?!" bentak Kirana dengan suara tertahan agar tidak membangunkan penghuni kos lain, meskipun air matanya terus mengalir deras. "Kamu pergi sendirian ke tempat preman-preman itu?! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Pahlawan super?! Lihat kondisi kamu sekarang! Kamu bisa mati kehilangan darah, tahu gak?!"

Gavin hanya diam, menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang dingin. Rasa pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Sisi slengeannya perlahan padam saat ia menatap wajah Kirana yang dipenuhi kecemasan murni untuk keselamatan dirinya.

Kirana buru-buru berdiri, berjalan keluar kamar sejenak untuk mengambil kotak P3K milik bersama yang selalu tergantung di dekat dapur kosan. Beberapa menit kemudian, ia kembali, mengunci pintu lagi, lalu duduk bersimpuh di lantai semen tepat di samping kasur Gavin.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Kirana mulai membuka botol alkohol pembersih luka dan menyiapkan gulungan kapas. Ia meraih lengan kiri Gavin dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang memegang barang porselen yang sangat rapuh. Saat kapas yang dibasahi alkohol menyentuh luka sayatan yang terbuka di lengan Gavin, tubuh cowok tegap itu reflek menegang, giginya bergemertak menahan rasa perih yang luar biasa menusuk hingga ke saraf.

"Tahan... maaf, ini pasti perih banget," bisik Kirana pelan, suaranya melembut secara drastis. Ia dengan telaten membersihkan sisa-sisa darah dan kotoran di sekitar luka sayatan tersebut. Air mata Kirana sesekali menetes, jatuh mengenai kulit lengan Gavin yang hangat.

Gavin menatap puncak kepala Kirana yang sedang menunduk fokus mengobati lukanya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium kembali aroma parfum melati yang samar dari rambut gadis itu, bercampur dengan aroma obat merah dan alkohol. Keheningan malam di dalam kamar nomor 2B terasa begitu pekat, hanya menyisakan suara embusan napas mereka yang teratur.

"Kenapa lu gak nanya ke gue, Ran?" tanya Gavin memecah keheningan, suaranya terdengar sangat rendah dan lelah. "Kenapa lu gak nanya kenapa gue bisa berantem sampai kayak gini? Atau nanya kenapa gue tahu tempat persembunyian mereka?"

Kirana menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia mendongak, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Gavin yang hitam pekat. "Karena aku tahu kamu gak bakal mukul orang kalau orang itu gak keterlaluan, Gav," jawab Kirana dengan nada bicara yang sangat tulus dan mantap. "Aku emang sering marah sama sikap ugal-ugalan kamu di kampus. Tapi setelah kejadian di minimarket dan warkop kemarin, aku tahu... di balik semua kelakuan berandalan kamu, kamu itu orang yang paling punya prinsip di sini. Kamu rela terluka kayak gini demi ngebela Rian yang bahkan baru kamu kenal beberapa bulan."

Gavin tertegun mendengar jawaban Kirana. Sebuah kehangatan yang asing perlahan menjalar di dalam dadanya, meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan emosional yang selama ini ia bangun untuk menjaga jarak dari orang-orang di sekitarnya.

Kirana kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mengambil sebotol cairan antiseptik, mengoleskannya pada luka Gavin, lalu mulai membalut lengan kiri cowok itu menggunakan kain perban putih secara rapi dan rapat. Gerakan tangan Kirana sangat lembut, menunjukkan tingkat kepedulian yang sangat dalam yang belum pernah Gavin dapatkan dari siapa pun di lingkungan masa lalunya di Menteng, di mana semua pelayanan dilakukan atas dasar uang tip dan formalitas status.

Setelah selesai membalut luka di lengan, Kirana mengambil sepotong kapas baru yang diberi obat merah, lalu perlahan mengusapkannya pada luka robek di sudut bibir Gavin.

Wajah mereka kembali berada dalam jarak yang sangat dekat, hanya terpaut beberapa inci. Gavin bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam bola mata Kirana yang jernih namun sembap. Napas hangat Kirana menerpa permukaan kulit wajah Gavin, membuat jantung cowok slengean itu mendadak berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.

"Lain kali... tolong jangan lakukan hal bodoh kayak gini lagi sendirian, Gavin," kata Kirana dengan suara yang hampir menyerupai bisikan, matanya menatap tepat pada bibir Gavin sebelum beralih kembali ke matanya. "Kalau kamu kenapa-kenapa di jalanan... Rian bakal ngerasa bersalah seumur hidup. Dan... aku juga gak bakal punya temen debat lagi di laboratorium."

Gavin tersenyum tipis, meskipun hal itu membuat sudut bibirnya kembali terasa perih. "Siap, Bos Kirana. Lagian, obat merah lu rasanya aneh, kayak rasa kalah balapan," seloroh Gavin, berusaha mengembalikan atmosfer slengean andalannya untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang dirinya.

Kirana mendengus pelan, menepuk kaki Gavin gemas dengan sisa tenaganya yang tipis sebelum mulai merapikan kembali peralatan medis ke dalam kotak P3K. Sambil membersihkan sisa-sisa kapas di lantai, Kirana menatap Gavin yang kini sudah mulai memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa.

Malam itu, di dalam kamar kos yang sempit dan sederhana, jejak-jejak pertempuran jalanan yang brutal berhasil dihapus dari tubuh Gavin oleh tangan seorang gadis yang paling membencinya di awal semester. Namun, di saat yang sama, sebuah ikatan baru yang jauh lebih kuat dan emosional telah terpatri di antara mereka, meninggalkan sebuah pertanyaan besar yang masih menggantung di udara tentang siapa sebenarnya sosok Gavin di balik balutan luka dan jaket jins lusuhnya.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!