Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kantin seberang kampus siang itu sangat padat, penuh dengan kepulan uap kaldu yang gurih dan aroma sambal yang menyengat hidung. Setelah mengantre cukup lama, empat mangkuk bakso premium dengan urat melimpah dan es jeruk berukuran besar akhirnya sukses mendarat di atas meja kayu panjang pojok kantin.
"Nyam! Ini baru namanya rasa keadilan hakiki!" seru Gino setelah suapan bakso pertamanya sukses mendarat di mulut. Cowok itu mendesah puas, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Reyhan yang duduk tepat di seberangnya dengan pandangan penuh selidik yang jenaka.
Gino berdehem keras, sengaja memancing perhatian Shirin dan Aurel yang sedang sibuk meracik kecap dan sambal. "Rey, gue mau nanya serius nih sebagai sesama lelaki pejuang maba. Lo kan udah fiks ya dapet lampu hijau dari Papa Crish sama Mama Olivia. Tapi lo sadar nggak, ujian terberat lo itu bukan di Pak Baskoro, melainkan di si Abang Siaga Satu?"
Reyhan yang baru saja hendak menyuap sepotong tahu baksonya mendongak tenang. Ia menaikkan sebelah alisnya tanpa beban. "Bang Edward?"
"Iya lah! Siapa lagi!" timpal Gino menggebu-gebu, sesendok kuah bakso digunakannya untuk menunjuk-nunjuk ke udara. "Gue perhatiin, radar proteksi Bang Edward ke Aurel itu tingkat dewa. Lo geser dikit, langsung di-block. Lo modus dikit, langsung diinterogasi kayak buronan kelas kakap. Nah, lo udah punya strategi belum buat meluluhkan hati kating pemburu maba kayak dia?"
Shirin langsung meledak dalam tawa pelan sembari menyenggol lengan Gino. "Nggak usah kompor deh, Gin. Makan tuh bakso biar mulut lo ada kerjaannya."
Sementara itu, Aurel yang mendadak diseret ke dalam topik sensitif langsung mati kutu. Wajahnya perlahan memerah padam menahan malu di balik mangkuk baksonya. "Gino, sumpah ya, lo kalau nggak gibahin hidup gue sehari aja bisa meriang, ya?"
Reyhan justru meletakkan sendoknya dengan gerakan yang luar biasa santai. Bukannya panik atau salah tingkah, cowok berjaket denim itu malah menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna di sudut bibirnya.
"Nggak perlu taktik rumit, Gin," jawab Reyhan dengan nada suara beratnya yang tenang dan sangat percaya diri.
Gino mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran. "Wah, sombong amat. Apaan tuh rahasianya?"
Reyhan melirik lambat ke arah Aurel yang kini sedang berpura-pura sibuk mengunyah kerupuk, lalu kembali menatap Gino. "Bang Edward itu protektif karena dia sayang sama adiknya sebagai seorang kakak. Dia cuma takut Aurel jatuh ke tangan orang yang salah. Jadi, cara terbaik buat meluluhkan dia bukan dengan cara disogok atau dirayu... tapi dengan bukti kalau gue bisa jagain Aurel lebih baik daripada cara dia menjaga adiknya selama ini.
"Uhuk!
Aurel yang baru saja meneguk es jeruknya seketika langsung tersedak keras. Kalimat blak-blakan nan dewasa yang meluncur dari mulut Reyhan barusan benar-benar menghantam jantungnya dengan telak, menciptakan debaran yang begitu kencang dan bergemuruh di dalam dadanya.
Shirin langsung menepuk-nepuk punggung Aurel sambil tertawa puas melihat sahabatnya yang biasanya paling berisik kini dibuat tak berkutik sama sekali. "Nah, lo, Rel! Dengerin tuh. Skenario pertahanan maba denim emang nggak pernah gagal kalau masalah komitmen!"
Gino langsung memberikan tepuk tangan meriah di pojok kantin hingga mengundang lirikan dari meja sebelah. "Gila! Spek dewa emang lo, Rey! Jawaban lo berkelas banget, pantesan pertahanan Abang Siaga Satu langsung berasa goyah kalau denger teori sosiologi pendekatan lo ini!"
Aurel tidak bisa membalas sepatah kata pun. Di bawah meja kayu itu, jemari tangannya meremas tisu dengan sangat erat demi menyembunyikan rasa salah tingkah gila-gilaan yang merajai dirinya. Namun, di balik rasa malunya, ada kehangatan luar biasa yang perlahan-lahan mengikis habis sisa-sisa rasa getir akibat cinta sepihak masa lalunya bersama Bang Edward. Di hadapan para sahabatnya siang ini, Aurel sadar bahwa jalan buntu itu kini telah benar-benar runtuh, digantikan oleh sebuah jalan baru yang begitu indah bersama cowok di sebelahnya.
Belum sempat Aurel meredakan debaran di dadanya akibat kalimat dewasa Reyhan, sebuah bayangan besar mendadak runtuh di atas meja mereka. Suara dehaman berat yang sangat familier seketika menghentikan denting sendok di pojok kantin itu.
"Ehem. Jarak satu meternya ke mana ya, wahai para maba?"
Aurel refleks tersentak dan hampir menjatuhkan kerupuknya. Begitu mendongak, sosok Bang Edward sudah berdiri tegak di samping meja mereka dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di belakangnya, Kak Anita menyusul sambil menepuk jidat, memasang wajah pasrah karena kekasihnya lagi-lagi mengaktifkan mode radar siaga satu.
Bang Edward memicingkan matanya tajam, bergantian menatap Aurel dan Reyhan yang posisi duduknya memang sangat mepet di bangku kayu panjang tersebut. "Wah, bener-bener ya lo berdua. Di kelas Pak Baskoro aja bisa jaga jarak, giliran ketemu mangkuk bakso malah nempel kayak prangko. Reyhan, tangan lo itu sengaja banget ya mepet-mepet adek gue?"
Wajah Aurel yang tadinya sudah semerah kepiting rebus, kini makin matang akibat terkejut. "Bang Edward! Astaga, lo muncul dari mana sih kayak jaelangkung?! Orang bangku kantinnya emang penuh, ya wajar kalau mepet!"
"Alasan!" todong Bang Edward, menunjuk mangkuk bakso Reyhan dengan telunjuknya. "Gue pantau dari pintu masuk tadi ya, gerak-gerik lo berdua mencurigakan banget. Apalagi si Gino di depan lo udah kayak ketua tim sukses penjadwalan kencan."
Gino yang mendadak diseret langsung mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Ampun, Kapten! Gue cuma bagian tim hore yang menuntut hak traktiran bakso premium atas nilai sempurna tadi pagi."
Reyhan tetap menjadi satu-satunya orang yang paling tenang di meja itu. Cowok berjaket denim itu meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Bang Edward tanpa binar panik sedikit pun. "Bangku kantinnya emang penuh, Bang. Daripada Aurel kesenggol mahasiswa lain yang lalu lalang bawa kuah panas, mending gue posisikan di sebelah dalam biar aman," sahut Reyhan santai namun sarat akan pembelaan taktis.
Bang Edward tertegun sejenak, kehilangan kata-kata karena alasan Reyhan lagi-lagi berbasis perlindungan keselamatan yang sangat masuk akal.
Sebelum Bang Edward sempat menyusun argumen baru, Kak Anita langsung maju dan menarik paksa lengan jaket kekasihnya itu dengan gemas. "Sudah ah, Edward! Kamu ini lama-lama kayak sipir penjara tahu enggak? Orang mereka lagi merayain nilai tugas kelompok kok malah diusilin terus. Yuk, pesen makan di sebelah sana, jangan ganggu anak maba!"
"Aduh, iya, Sayang, lepasin dulu, tengsin dilihatin junior," ringis Bang Edward langsung melunak pasrah di bawah kendali Kak Anita. Namun, sebelum diseret menjauh, ia masih sempat melotot ke arah Reyhan dengan satu peringatan terakhir. "Gue awasi lo dari meja seberang, ya, Pangeran Denim! Jangan macam-macam!"
"Iya, Bang! Cerewet bener, buruan pergi sana!" usir Aurel ketus sembari mengibaskan tangannya, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkah gila-gilaan yang merajai dirinya.
Begitu sosok Bang Edward akhirnya terseret menjauh oleh Kak Anita menuju stan makanan lain, Aurel langsung mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari kejaran singa. Gino dan Shirin kembali meledak dalam tawa tertahan melihat bagaimana Reyhan selalu sukses membalikkan keadaan di depan abang siaga satu tersebut. Di balik riuhnya suasana kantin siang itu, rasa cemburu Aurel pada Kak Anita yang sempat tersisa kini benar-benar telah terkikis habis, digantikan oleh debaran baru yang jauh lebih hangat dan nyata dari cowok di sebelahnya.
Sore harinya, langit kampus perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan. Koridor-koridor gedung kuliah mulai ramai oleh langkah kaki mahasiswa yang berhamburan pulang setelah kelas terakhir usai.
Aurel berjalan keluar dari gedung bersama Shirin dan Gino. Begitu mereka sampai di area parkiran, sosok Reyhan rupanya sudah berdiri tegak di dekat motor matik besarnya. Cowok berjaket denim itu sedang membersihkan kaca spionnya dengan tisu, tampak begitu sabar menanti.
"Nah, Rel. Menara pengawas lo udah siap siaga di posisinya," goda Gino sembari menyenggol lengan Aurel, membuat gadis itu refleks mendelik.
Shirin tertawa pelan, lalu menepuk pundak Aurel penuh dukungan. "Gue sama Gino balik duluan ya, Rel. Lo hati-hati di jalan. Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai rumah dengan selamat sentosa bersama pangeran denim lo."
Setelah Shirin dan Gino melambaikan tangan lalu memacu motor mereka keluar dari gerbang kampus, Aurel melangkah perlahan menghampiri Reyhan. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
Reyhan mendongak saat menangkap derap langkah kaki Aurel. Ia menyimpan kembali tisunya, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh. "Udah beres kelasnya, Partner? Gimana, otaknya masih aman atau udah mau meledak?"
Aurel tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair karena sapaan santai dari Reyhan. "Udah aman, Rey. Tinggal sisa pegelnya aja nih seharian duduk di kelas."
"Kalau begitu, silakan naik, Tuan Putri. Sesuai janji gue tadi pagi, gue bakal mengantarkan aset berharga rumah Papa Crish ini kembali ke rumah Daddy Wira dengan selamat tanpa hambatan protokol," ucap Reyhan jenaka, mengulurkan helm putih cadangan yang wangi itu kepada Aurel.
Aurel menerima helm tersebut dengan semburat merah yang samar di pipinya. "Bisa aja lo, Rey. Oh iya, lo tahu jalan ke rumah gue, kan?"
"Tahu, dong. Tadi siang gue udah sempat nanya alamat detailnya ke Kak Anita sebelum dia diseret pulang sama Bang Edward," sahut Reyhan santai sembari menyalakan mesin motornya yang menderu halus.
Aurel menarik napas panjang untuk menetralkan debaran di dadanya, lalu perlahan naik ke jok belakang motor Reyhan. Begitu motor mulai bergerak membelah jalanan sore kota yang mulai padat, Aurel merasakan kenyamanan yang luar biasa di belakang punggung tegap cowok itu.
Rasa sesak, cemburu, dan luka getir akibat cinta sepihak kepada Bang Edward yang sempat menjebaknya dalam jalan buntu selama bertahun-tahun kini benar-benar telah runtuh tanpa sisa. Di atas motor yang melaju membelah angin sore ini, Aurel tersenyum tulus di belakang punggung Reyhan. Ia sadar, dirinya tidak sedang kehilangan cinta, melainkan sedang diantarkan menuju sebuah lembaran hidup yang baru yang jauh lebih indah dan penuh kehangatan.
Baru saja motor matik besar Reyhan melaju keluar dari gerbang utama kampus, Aurel merasakan ada sesuatu yang aneh. Dari kaca spion kiri, ia menangkap bayangan motor sport hitam yang sangat familier terus menjaga jarak sekitar lima meter di belakang mereka. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam, bertubuh kekar, dan helmnya diturunkan sangat rapat seolah sedang melakukan misi penyamaran rahasia.
Aurel langsung menepuk pundak Reyhan dengan heboh. "Rey! Rey! Coba lo lirik kaca spion sebelah kanan atau kiri deh!"
Reyhan melirik spionnya dengan tenang tanpa mengurangi kecepatan motor. "Kenapa, Rel? Ada razia?"
"Bukan razia, Rey! Itu si Abang Siaga Satu nekat buntutin kita dari belakang!" pekik Aurel setengah berteriak di dekat telinga Reyhan agar suaranya tidak teredam angin jalanan. "Astaga, Bang Edward benar-benar totalitas banget jadi intel hari ini!"
Reyhan melirik spion sekali lagi, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis nan jenaka. "Oh, Kapten Kesebelasan ternyata lagi patroli wilayah. Santai, Rel. Mari kita uji seberapa tangguh ketahanan protokol pengawasannya."
Tepat di sebuah lampu merah persimpangan jalan yang cukup padat, Reyhan sengaja memosisikan motornya di barisan paling depan, menyelip di antara deretan mobil. Bang Edward yang mengendarai motor sport besar otomatis tertahan di barisan belakang karena bodi motornya yang terlalu lebar, tidak bisa ikut menyelip.
Aurel menoleh ke belakang dan melihat Bang Edward sedang gelisah di atas motornya, mencoba menjulurkan kepala demi memantau adiknya dari kejauhan. Lucunya, saat lampu hijau menyala, Reyhan tidak langsung menancap gas kencang, melainkan sengaja membawa motornya berbelok ke arah kiri melewati area pasar tumpah sore yang sangat ramai dan macet.
"Rey, kenapa lewat sini? Ini kan macet banget!" tanya Aurel bingung sembari berpegangan pada jaket denim Reyhan saat motor mereka bergerak lincah menyalip angkot.
"Biar intelnya kena block total sama angkot, Rel," sahut Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang penuh kemenangan taktis.
Benar saja, begitu Aurel kembali melirik ke belakang, motor sport hitam Bang Edward sukses terjebak di belakang sebuah truk sayur dan angkot yang sedang berhenti menurunkan penumpang. Bang Edward tampak membuka kaca helmnya lebar-lebar dengan wajah frustrasi yang sangat kentara, sementara tangannya melambai-lambai ke arah mereka dari kejauhan seolah memberi kode agar mereka berhenti.
Aurel yang melihat pemandangan terzalimi abangnya itu langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak di atas motor. Rasa gemas, kesal, dan geli berbaur menjadi satu. Kebiasaan protektif Bang Edward yang biasanya terasa mengekang, sore ini justru menjelma menjadi komedi gratis yang sangat menghibur akibat taktisnya cara Reyhan menghadapi situasi.
"Hahaha! Reyhan, sumpah lo pinter banget! Lihat tuh muka Bang Edward udah kayak mau nangis terjebak di pasar sayur!" seru Aurel riang, tawanya lepas sepenuhnya tanpa ada lagi ganjalan di hati.
Reyhan terkekeh renyah, sebuah suara tawa yang begitu hangat di telinga Aurel. Ia memacu motornya sedikit lebih cepat begitu jalur di depan mulai melonggar, meninggalkan area pasar dan meninggalkan sang abang siaga satu yang harus merelakan adiknya pulang dengan selamat di bawah penjagaan maba spek dewa di depannya ini. Rasa cemburu dan luka getir akibat cinta sepihak masa lalu Aurel kini benar-benar telah larut sepenuhnya, digantikan oleh riuhnya tawa sore hari dan debaran baru yang semakin nyata bersama Reyhan.
Setelah menempuh perjalanan sore yang penuh tawa dan aksi kejar-kejaran intel yang kocak, motor matik besar Reyhan akhirnya berbelok dan berhenti tepat di depan pagar gerbang putih rumah Aurel. Rumah mewah berarsitektur modern itu tampak tenang, dengan lampu-lampu taman yang mulai menyala menyambut senja.
Begitu mesin motor mati, Aurel segera turun dan melepas helm putih cadangan dari kepalanya. "Puji Tuhan, selamat sampai tujuan tanpa hambatan protokol," ucap Aurel menirukan kalimat Reyhan tadi, disusul tawa kecil.
Belum sempat Reyhan membalas, pintu utama rumah tiba-tiba terbuka lebar. Sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan kemeja batik yang rapi—Daddy Wira—melangkah keluar ke teras. Wajahnya yang semula tampak lesu karena menahan rindu sejak semalam, seketika berubah cerah saat melihat putri kesayangannya telah kembali.
"Aurel! Putri kesayangan Daddy udah pulang—" Kalimat Daddy Wira mendadak terhenti di udara.
Kedua mata pria paruh baya itu membelalak sempurna saat pandangannya bergeser dari Aurel ke sosok cowok jangkung berjaket denim yang sedang turun dari motor di sebelah putrinya. Radar protektif seorang ayah kandung seketika langsung menyala di level siaga satu. Daddy Wira melangkah cepat menghampiri pagar dengan kening bertaut rapat dan tatapan menyelidik yang sangat intens.
"Lho, lho, lho... ini siapa, Rel?" todong Daddy Wira langsung, suaranya terdengar berat dan penuh selidik. Ia menatap Reyhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kok anak gadis Daddy pulangnya diantar cowok tampan begini? Edward ke mana? Katanya semalam Edward yang mau anterin pulang?"
Aurel seketika meraba pipinya yang mendadak kembali terasa hangat akibat interogasi kilat sang ayah. "Eh... Daddy! Kenalin, ini Reyhan, teman satu kelompok tugas kuliah Aurel. Tadi kami habis cetak tugas di kampus, sekalian searah jalan, jadi Aurel nebeng deh. Bang Edward mah... tadi kejebak macet di pasar sayur, Dad!" bohong Aurel sedikit sambil menahan tawa.
Reyhan dengan sikap yang luar biasa tenang dan sopan langsung melepas sarung tangannya. Ia melangkah maju, membungkuk takzim, dan menyalami tangan Daddy Wira dengan sangat hormat. "Selamat sore, Om. Saya Reyhan. Maaf baru bisa mengantarkan Aurel jam segini karena tadi harus menyelesaikan folder tugas kelompok dulu di kampus."
Daddy Wira tertegun sejenak melihat pembawaan Reyhan yang begitu santun, tegas, dan tidak tampak gemetar sedikit pun saat berhadapan dengan tatapan galaknya. Rasa curiga di wajah pria paruh baya itu perlahan mencair, berganti dengan anggukan mantap yang sarat akan penilaian positif.
"Oh... Reyhan. Sopan bener kamu, lempeng lagi mentalnya," ucap Daddy Wira, senyum tipisnya mulai terbit. Ia menepuk pundak Reyhan dengan cukup keras, khas pelukan selamat datang antarlelaki. "Ya sudah, terima kasih ya sudah jagain dan anterin putri kesayangan Om ini dengan selamat. Ayo, masuk dulu ke dalam, kita minum teh hangat dulu. Kebetulan Mami tadi bikin camilan sore."
"Terima kasih banyak atas tawarannya, Om. Tapi berhubung sudah mau magrib, sepertinya saya harus langsung pamit pulang agar tidak kemalaman di jalan," tolak Reyhan dengan sangat halus dan sopan.
"Wah, sayang sekali. Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Rey. Kapan-kapan main ke sini lagi, temenin Om ngobrol," sahut Daddy Wira hangat, tampaknya sudah resmi memberikan lampu hijau pertama.
Reyhan mengangguk takzim. Sebelum memakai helm fullface-nya kembali, ia menoleh ke arah Aurel dan mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh. "Gue balik duluan ya, Partner. Istirahat yang cukup, jalan buntu lo udah resmi beres hari ini."
Jantung Aurel refleks berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat. Ia mengangguk tulus dengan senyum cerianya yang merekah sempurna. "Iya, Rey. Hati-hati di jalan, ya!"
Begitu deru mesin motor Reyhan perlahan menjauh dan menghilang di belokan kompleks, Daddy Wira langsung merangkul pundak putri bungsunya itu dengan gemas sambil menuntunnya masuk ke dalam rumah. "Hayo... Papi cium bau-bau ada lembaran hidup baru nih. Cerita sama Papi di dalam, siapa itu si maba denim tadi!"
Aurel hanya bisa tertawa lepas memeluk pinggang ayahnya. Rasa sesak, cemburu, dan luka getir akibat cinta sepihak masa lalunya bersama Bang Edward kini benar-benar telah larut dan runtuh tanpa sisa di depan pagar rumahnya sendiri. Di bawah langit senja yang mulai menggelap, Aurel tahu hatinya telah benar-benar pulang menuju sebuah awal yang baru yang jauh lebih indah dan penuh kehangatan.
Baru saja pintu utama ditutup dan Aurel tengah bersiap menaruh tas ranselnya di sofa ruang tengah, terdengar suara raungan mesin motor sport yang digas secara brutal di depan pagar rumah. Suara itu disusul oleh decitan ban yang mengerem mendadak dan dentangan pagar besi yang dibuka dengan hentakan kasar.
"Aureeeel! Reyhaaan! Wah, bener-bener ya lo berdua!"
Suara teriakan lantang yang sarat akan kekesalan itu membuat Daddy Wira dan Mommy Zeline yang baru keluar dari kamar langsung saling pandang dengan kening berkerut. Pintu depan terbuka kasar, memunculkan sosok Bang Edward dengan napas terengah-engah.
Namun, alih-alih terlihat menyeramkan sebagai "Kapten Kesebelasan" intel siaga satu, penampilan Bang Edward sore itu justru sukses membuat seisi rumah terdiam. Jaket kulit hitamnya yang biasa tampak gagah, kini ditempeli beberapa helai potongan daun selada air yang layu di bagian bahu. Tidak hanya itu, begitu ia melangkah mendekat, aroma menyengat kombinasi kentang mentah, bawang merah, dan asap knalpot angkot langsung menyeruak memenuhi ruang tengah.
Daddy Wira refleks menutup hidungnya dengan punggung tangan, melangkah mundur dua blok. "Astaga, Edward! Kamu habis tabrakan sama gerobak tukang sayur atau gimana? Bau kamu mirip gudang pasar induk!"
"Edward, kamu kok berantakan begitu, Nak?" timpal Mommy Zeline ikut menutup hidung sembari menahan senyum gelinya.
Bang Edward mengabaikan bau tubuhnya, matanya langsung menyapu ruangan dan mengunci pandangan pada Aurel yang berdiri di dekat sofa. "Rel! Si Pangeran Denim mana? Sumpah ya, taktik kaburnya licik bener! Gue sengaja dibuntutin lewat pasar tumpah, terus motor gue kejebak di antara truk kol sama angkot mogok. Mana pas gue mau nyelip, ada ibu-ibu kesenggol sampai belanjaan seladanya terbang ke bahu gue!"
Mendengar kronologi penderitaan sang abang intel, pertahanan Aurel runtuh seketika. Tawa cemprengnya langsung meledak hebat memenuhi ruang tengah hingga ia harus memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa sejak di atas motor tadi.
"Hahaha! Bang Edward! Sumpah ya, totalitas banget lo jadi mata-mata!" seru Aurel di sela-sela tawanya yang terbahak-bahak. "Lagian siapa suruh lo nekat buntutin kelompok spek dewa? Reyhan mah otaknya taktis, radar lo langsung di-scam total sama angkot pasar sayur!"
Daddy Wira yang akhirnya paham situasi langsung geleng-geleng kepala dan menepuk pundak anak sahabatnya itu dengan sisa tawa tertahan. "Oalah, Ward, Ward... Daddy kira kenapa. Si Reyhan tadi udah pulang dari sepuluh menit yang lalu. Sopan banget anaknya, lempeng lagi mentalnya pas Daddy interogasi. Kamu lagian ada-ada saja, adik sendiri pulang selamat kok malah dikuntit sampai bau bawang gini. Sana, buruan mandi sebelum sofa Daddy ketularan bau selada!"
"Iya, Bang! Mandi gih, entar Kak Anita ogah lo peluk gara-gara lo mirip bumbu dapur berjalan!" timpal Aurel kompor, melemparkan helai daun selada layu yang sempat jatuh dari bahu Edward kembali ke arah pemiliknya.
Bang Edward hanya bisa mendengus pasrah, meratapi nasibnya yang hari ini kalah telak dari seorang maba denim bernama Reyhan. Sembari melangkah gontai menuju kamar mandi tamu di area belakang, ia masih sempat menggerutu pelan, "Awas lo ya, Rel... besok di kampus gue pasang pagar pembatas beneran!"
melihat punggung abangnya yang menjauh dengan aroma sayur mayur tersebut, Aurel mengembuskan napas panjang dengan senyum yang terpatri manis di bibirnya. Rasa sesak, cemburu, dan luka getir akibat cinta sepihak masa lalunya kepada Bang Edward