Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Yun Shadom Dan Yun Sharam
Suasana malam yang sepi itu mendadak berubah menjadi neraka.
BRAK! Suara hantaman brutal terdengar memecah keheningan jalanan yang sepi.
Tubuh seorang pria berjas—seorang penjaga bayangan tingkat tinggi—terlempar mengenaskan hingga menghantam pintu mobil Van di belakangnya, meninggalkan jejak penyok mendalam dan kaca yang retak seribu.
"Bertahan di posisi kalian! Lindungi Nona!" teriak komandan pengawal, suaranya parau tertutup gemuruh adrenalin.
DOR!
DOR!
DOR!
TRAATAAAAA!
Hujan peluru kaliber tinggi seketika menyalak, memuntahkan kilatan api yang mengarah tepat pada satu titik: kelima pria berpakaian serba hitam yang berdiri bergeming di hadapan mereka.
Namun, pemandangan berikutnya justru memutus logika. Semua peluru itu luluh lantak, jatuh bergemerencing di atas aspal tanpa ada satu pun yang berhasil menyentuh kulit atau bahkan menggores jubah musuh mereka.
Mata para bodyguard dan penjaga bayangan yang ditugaskan khusus untuk melindungi Liu Yue seketika melotot horor.
Ketakutan merayapi tengkuk mereka, namun sumpah setia membuat mereka menolak untuk menyerah. Jika senjata api sudah tidak mempan, maka darah dan daging harus menjadi tameng terakhir.
BRAK!
"Sialan! Tubuh mereka... tubuh mereka keras seperti batu!" lolos jeritan frustrasi dari seorang bodyguard senior.
Ia mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi, menatap nanar telapak tangannya yang hancur total, tulang-tulangnya remuk hanya karena nekat menghantam lengan salah satu musuh berpakaian hitam tersebut.
Musuh tidak memberikan ruang untuk bernapas. Dalam hitungan detik, kekacauan berubah menjadi pembantaian sepihak. Satu per satu pengawal bayangan yang terlatih secara genius langsung berjatuhan, bersimbah darah di atas aspal yang dingin.
Sementara itu, di dalam ruang kedap suara mobil Van, dunia seolah runtuh bagi Liu Yue. Tubuh gadis itu sudah gemetar hebat, keringat dingin membanjiri pelipisnya saat menyaksikan pembantaian di balik kaca jendela yang gelap.
Rasa ngeri mencekik lehernya hingga ia hampir lupa cara bernapas. Di ambang keputusasaan, tiba-tiba satu nama muncul di kepalanya seperti seberkas cahaya—Liu Han—sang kakak tercinta, pria yang selalu menjadi pelindungnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya, Liu Yue menekan nomor kontak kakaknya. Hanya dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, nada sambung itu terputus dan suara bariton yang familiar terdengar di seberang telepon.
"Halo? Yue'er? Ada apa?" Itu suara Liu Han, terdengar tenang namun membawa kehangatan yang biasa.
"Kakak... tolong..." suara Liu Yue terdengar patah-patah, sarat akan keputusasaan yang mendalam. Isak tangis yang tertahan membuatnya hampir tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Di sisi lain kota, Liu Han yang masih berada di dalam ruang kerja gedung perusahaannya tiba-tiba merasakan firasat buruk. Mendengar nada suara adiknya, seluruh tubuhnya seketika menegang kaku. Pena di tangannya terlepas begitu saja.
"Yue'er?! Apa yang terjadi?! Katakan padaku, kau baik-baik saja, kan?!" tanya Liu Han, suaranya mendadak naik satu oktav, dipenuhi kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
"Tidak, Kak... tidak! Ada orang-orang aneh yang tiba-tiba menyerang. Semua anak buah Kakak... mereka semua kalah dalam sekejap! Mereka bukan manusia, Kak! Tolong aku—" jerit Liu Yue histeris.
Tiba-tiba—BRAK!
Bemper depan mobil Van hancur berantakan akibat hantaman tubuh seorang pengawal yang dilemparkan musuh dari luar. Mobil berguncang hebat, membuat ponsel Liu Yue hampir terlepas. Di dalam sana, Liu Yue semakin cemas, memeluk lututnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Kirim lokasimu sekarang!" titah Liu Han tanpa bantahan.
Suaranya beralih menjadi dingin dan mematikan. Telepon belum dimatikan saat Liu Han sudah berlari kencang keluar dari ruang kerjanya.
Sambil terus berlari menuju lift, jemarinya dengan cepat menekan tombol pintas di jam tangannya—mengaktifkan Kode Merah—sebuah sinyal darurat yang langsung terhubung dengan markas pusat organisasi pasukan terlatih rahasia yang ia bangun sendiri. "Aku akan datang, Yue'er. Bertahanlah!"
Sementara itu, di sebuah sudut jalanan pinggir kota yang sunyi dan remang-remang, tampak dua orang pemuda sedang berjalan santai di bawah lampu jalan yang temaram.
Mereka adalah Yun Shadom dan Yun Sharam. Langkah kaki mereka terdengar konstan di atas trotoar, memecah kesunyian malam.
"Ini semua salah Kakak," cetus Yun Sharam tiba-tiba dengan nada menyalahkan, matanya melirik sinis ke arah pemuda di sebelahnya.
Yun Shadom yang mendengar tuduhan itu hanya menghela napas panjang. Wajahnya tampak jengah dan malas untuk menanggapi kekanak-kanakan adiknya. "Bisakah kau diam dan jalan saja, Sharam? Telingaku sudah panas mendengarnya sejak tadi."
"Coba saja Kakak menerima pekerjaan dari Nona baik hati itu. Mungkin kita bisa minta tolong padanya untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak," katanya lagi dengan nada merajuk yang kental, sembari melipat kedua tangannya di dada. "Sekarang kita mau tinggal di mana? Aku tidak mau tinggal dan tidur di jalanan lagi, Kak. Dingin dan melelahkan!"
Yun Shadom menghentikan langkahnya sejenak, menghela napas panjang untuk meredam kekesalan yang mulai merayap di dadanya. "Aku tidak akan pernah mengorbankan kehormatanku demi uang di dunia ini, Sharam." jawab Yun Shadom dengan nada suara yang berat dan penuh penegasan.
Yun Sharam mendengus kencang, memutar bola matanya jengkel. "Kita ini sedang berada di dunia modern kalau Kakak lupa!" sahut Yun Sharam berapi-api. "Di sini, memotong rambut itu sudah menjadi hal yang biasa, kenapa Kakak harus sekeras kepala ini?"
"Pokoknya aku tetap tidak mau," tegas Yun Shadom, matanya menatap lurus ke depan dengan sorot yang tak tergoyahkan. "Bagaimana jika tiba-tiba kita kembali ke dunia kita?"
Yun Sharam tidak menjawab. Ia hanya berdecak kesal, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gusar. Namun, perdebatan saudara itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba—BRAK!!!
Suara dentuman keras memekakkan telinga bergema dari arah tikungan jalan, memotong perdebatan mereka secara paksa. Kedua pria itu terperanjat seketika.
Tubuh mereka menegang, dan mata mereka langsung menyipit tajam. Insting bertarung mereka yang sudah terlatih selama bertahun-tahun di dunia asal langsung bangkit, merasakan adanya gelombang bahaya yang sangat besar di dekat sana.
Keduanya saling pandang tanpa suara.
Lalu, dalam sekejap—Whush! Keduanya berlari melesat dengan kecepatan angin, meninggalkan debu yang berterbangan di belakang mereka.
Hanya dalam waktu sepuluh detik, langkah kaki mereka terhenti dengan hentakan seirama. Di hadapan mereka kini tersaji sebuah pemandangan yang mengerikan.
Terjadi sebuah pertempuran sengit—atau jika boleh jujur, itu lebih tepat disebut sebagai sebuah pembantaian sepihak. Udara di sekitar tempat itu terasa bergejolak, dipenuhi oleh tekanan energi yang sangat asing bagi manusia bumi, namun sangat akrab di indra mereka.
"Mereka... kultivator," gumam Yun Sharam dengan suara bergetar, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra penglihatannya.
Yun Shadom terdiam. Wajahnya menegang, dan sepasang matanya perlahan berubah menjadi jauh lebih dingin dan menusuk, mengunci pergerakan lima orang berjubah hitam yang tengah merangsek maju.
Tiba-tiba, mata Yun Sharam membelalak sempurna saat pandangannya beralih pada objek di tengah arena pertempuran. "Kakak! Lihat siapa yang ada di dalam kereta besi itu?!" serunya panik, tangannya menunjuk lurus ke arah sebuah mobil Van yang kini kondisinya sudah ringsek dan tidak berbentuk lagi akibat hantaman keras.
Namun, mata mereka yang tajam menembus kaca yang sedikit retak itu--- memperlihatkan wajah seseorang yang dipenuhi ketakutan.
Kedua pemuda itu saling pandang sekali lagi.
Tiba-tiba...
Whush—DUAR!!!
Gerakan Yun Shadom melesat bagai kilat yang membelah malam. Tanpa sempat disadari oleh musuh, sebuah pukulan mentah berbalut tenaga dalam milik Yun Shadom menghantam telak dada salah satu dari kelima kultivator bertopeng tersebut.
Dentuman keras tercipta, membuat kultivator itu terbatuk darah dan terlempar mundur belasan meter ke belakang.
Sisa kultivator yang ada langsung tersentak seketika. Gerakan membantai mereka terhenti total.
Mata mereka membelalak lebar di balik topeng, memandang penuh kewaspadaan dan keterkejutan atas kemunculan tiba-tiba dari dua orang pemuda asing yang memiliki aura spiritual luar biasa—jauh berbeda dan melampaui batas manusia normal di dunia ini.
"Ternyata, bajingan-bajingan yang haus darah bukan hanya ada di duniaku," kata Yun Shadom dengan nada suara yang datar namun teramat dingin, seolah mampu membekukan udara di sekitarnya. "Tapi di sini... para kultivator berhati busuk juga ada."
Yun Sharam maju satu langkah di samping kakaknya, mengepalkan kedua tangannya hingga sendi-sendinya memutih, sementara aliran energi spiritual mulai menyelimuti tubuhnya.
Ia berdecih dengan tatapan penuh kebencian. "Beraninya kalian memamerkan kekuatan busuk itu di sini, dan beraninya kalian ingin menyentuh Nona baik hati! Bersiaplah untuk membayar kelancangan kalian!" gertaknya dengan suara menggelegar, siap meledakkan pertempuran hidup dan mati.
Sementara itu, di dalam mobil yang terkunci, atmosfernya terasa jauh lebih mencekam. Liu Yue memeluk lututnya erat-erat.
Ia sama sekali tidak berani mengintip ke luar jendela. Dengan tubuh yang gemetar hebat dan air mata yang mulai mengenangi pelupuk matanya, ia hanya bisa mendengar dentuman-dentuman aneh yang menggetarkan kerangka mobilnya.
Pikirannya kalut; gadis itu tidak pernah membayangkan bahwa malam yang melelahkan ini akan berubah menjadi medan pertempuran mistis yang melampaui logika akal sehatnya.