Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Perpustakaan yang Tertutup
Langkah kaki Clyrine dan Damien meniti anak tangga marmer berputar menuju lantai dua, meninggalkan ruang keluarga yang kini membeku dalam badai kecurigaan dan rasa malu. Suara isak tangis Claire yang tertahan di bawah sana berangsur-angsur lenyap begitu pintu kayu jati ruang perpustakaan keluarga Rexander didorong terbuka dan ditutup kembali oleh Damien.
Klik.
Bunyi kunci yang memutar pelan memutus total segala hiruk-pikuk drama lantai bawah.
Ruang perpustakaan itu luas dan megah, beraroma khas kertas tua berpadu lilin beraroma kayu cendana. Rak-rak buku setinggi langit-langit berjejer rapi mengelilingi meja panjang berlapis marmer hitam di tengah ruangan, diterangi pendar lampu temaram yang hangat.
Clyrine menghembuskan napas panjang, bersandar di tepi meja kayu seraya menatap Damien yang meletakkan tas jinjingnya tanpa suara. Seluruh beban yang menindih bahunya sejak pagi seolah menguap sepenuhnya.
"Gila..." gumam Clyrine lirih, menyugar rambutnya yang masih berantakan. "Gue baru pertama kali liat muka Claire sepucat itu seumur hidup gue. Biasanya dia selalu lolos pakai drama nangis-nangisnya."
Damien membuka ritsleting tasnya, mengeluarkan binder tebal dan dua buah pulpen. "Orang yang terbiasa menang pakai topeng bakal hancur begitu cermin di depannya dipecahin. Nggak ada gunanya lo ladenin pakai otot kalau fakta bisa bikin dia bisu."
Damien melirik gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jaket hitam miliknya yang kebesaran masih membungkus tubuh Clyrine, tetapi bercak debu di pergelangan tangan dan bekas lecet di telapak tangan gadis itu tampak jelas di bawah cahaya lampu meja.
Pria itu berdecak pelan. "Sebelum mulai buka buku, bersihin dulu tangan lo. Di pojok sana ada wastafel kecil."
Clyrine melirik tangannya yang memerah, lalu mengangguk patuh. Ia berjalan ke sudut ruangan, membasuh tangan dan wajahnya dengan air dingin yang mengalir. Begitu rasa perih dan debu lapangan terbasuh, ia kembali ke meja, mengeringkan tangannya menggunakan tisu yang diulurkan Damien.
"Duduk," titah Damien singkat sembari menarik salah satu kursi berbusa tebal untuk Clyrine, lalu duduk di kursi tepat di sampingnya.
Damien membuka bindernya, membeberkan silabus materi yang sudah ia susun rapi dalam beberapa bagan terstruktur. Tidak ada lagi sikap santai atau nada bercanda seperti saat mereka berada di rooftop kafe tempo hari; di hadapan lembar pelajaran, Damien berubah total menjadi sosok mentor yang dingin, disiplin, dan sangat menuntut.
"Kita punya waktu dua setengah jam sampai jam delapan," ujar Damien datar, menunjuk deretan poin di atas kertas. "Mulai dari dasar logika tata negara yang tadi pagi sempat lo jawab di kelas Ibu Helena. Kenapa regulasi publik di era reformasi harus memisahkan wewenang militer dari sipil? Jelaskan mekanismenya dalam tiga poin, pakai bahasa lo sendiri."
Clyrine sempat mengerjap kaget. Ia mengira Damien akan mulai mengajarinya rumus-rumus hafalan membosankan seperti guru privat pada umumnya. Namun pertanyaan Damien justru menuntut daya analisis murni—hal yang selama ini paling ia sukai saat membaca diam-diam.
Clyrine mengerutkan kening, menatap lembar catatan di depannya selama beberapa detik sebelum mulai menyusun kata.
"Karena kalau militer pegang wewenang sipil, kontrol hukum jadi pincang," jawab Clyrine perlahan, menatap mata Damien. "Poin pertama, penyalahgunaan kekuatan bersenjata buat kepentingan politik. Kedua, nggak ada transparansi peradilan umum kalau tersangkanya aparat. Dan ketiga... masyarakat kehilangan hak kontrol atas kebijakan publik karena ada ancaman kekerasan fisik di balik aturan itu."
Damien terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam meneliti wajah Clyrine yang kini tampak sangat fokus. Sebuah kilat kepuasan samar muncul di manik mata pria itu, meski ekspresi wajahnya tetap datar terkendali.
"Bagus," puji Damien singkat, mengetukkan ujung pulpennya ke meja. "Daya tangkap lo memang tajam kalau otak lo nggak dipakai buat tawuran di parkiran. Sekarang tulis argumen lo tadi dalam bentuk esai singkat dua ratus kata. Gue kasih waktu lima belas menit."
"Hah? Lima belas menit?!" protes Clyrine spontan. "Keburu pegel tangan gue, Kak!"
"Empat belas menit mulai dari sekarang," balas Damien tanpa ampun, melirik arloji di pergelangan tangannya.
Clyrine mendengus kesal, namun jemarinya langsung bergerak cepat mencoretkan tinta pena di atas kertas bergaris. Keheningan perpustakaan kini hanya diisi oleh gesekan ujung pulpen dan hembusan napas mereka berdua yang teratur. Damien tidak mengalihkan pandangannya; ia duduk bersedekap, memperhatikan setiap tarikan garis tulisan Clyrine dengan ketelitian seorang pengawas.
Bagi Clyrine, ada sensasi aneh yang merayap di dadanya. Sepanjang hidupnya, ia selalu dianggap anak hilang yang tidak punya masa depan oleh Charles dan Runica. Namun di bawah sorot mata Damien yang menuntut ini, ia merasa dilihat seutuhnya—bukan sebagai pembuat onar, melainkan seseorang yang memiliki nilai untuk diperjuangkan.
Tepat pada menit ketiga belas, Clyrine meletakkan penanya dengan napas lega seraya mendorong kertasnya ke hadapan Damien.
"Selesai. Tepat waktu," ujar Clyrine bangga, mengangkat dagunya sedikit menantang.
Damien menarik lembar itu, membacanya baris demi baris dalam diam. Kening pria itu berkerut meneliti struktur kalimatnya. Beberapa detik kemudian, Damien mengangguk pelan. "Struktur kalimat lo masih berantakan di bagian transisi paragraf dua, tapi argumen utamanya solid. Besok lo nggak akan kesulitan ngadepin ujian susulan sama Pak Antonio."
"Serius, Kak?" mata Clyrine berbinar senang. Pengakuan kecil dari Damien terasa jauh lebih berharga daripada pujian guru mana pun.
"Serius," jawab Damien pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. "Lo nggak sebodoh yang lo pikirkan selama ini, Cly."
Tepat saat Clyrine hendak membalas dengan celotehan usilnya, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu perpustakaan.
Tok, tok, tok.
"Clyrine? Nak Damien?"
Suara Runica terdengar lembut namun ragu-ragu dari balik daun pintu yang terkunci.
Clyrine menoleh menatap pintu, lalu beralih menatap Damien. Damien berdiri dari kursinya dengan tenang, merapikan lengan kemejanya sebelum melangkah mendekati pintu dan memutar anak kuncinya.
Begitu pintu terbuka, Runica berdiri di sana membawa nampan berisi dua cangkir teh kamomil hangat dan sepiring camilan biskuit. Wajah sang mommy tampak muram dan lelah, menyisakan jejak ketegangan yang mendalam akibat peristiwa di lantai bawah.
"Maaf mengganggu belajarnya sebentar," bisik Runica seraya melangkah masuk, meletakkan nampan di sudut meja. Matanya melirik lembut ke arah Clyrine yang duduk dengan tumpukan catatan rapi. "Mommy cuma mau bawakan teh hangat... dan mau bicara sebentar sama kamu, Cly."
Clyrine menatap ibunya dengan tatapan datar, menunggu apa yang hendak disampaikan wanita itu setelah seharian penuh membiarkan Claire memfitnahnya.
"Claire sudah masuk ke kamarnya, dia menangis dan Daddy sangat marah padanya," lanjut Runica dengan suara bergetar pelan, tangannya meremas ujung celemeknya. "Daddy... Daddy meminta maaf lewat Mommy karena sudah salah paham padamu tadi sore. Besok pagi, Daddy sendiri yang akan mengantarmu ke sekolah untuk memastikan Pak Antonio membersihkan namamu di depan semua guru."
Clyrine tertegun sejenak mendengar kabar itu. Charles Rexander, pria dingin yang tak pernah mau mengakui kesalahannya, kini mengirimkan permintaan maaf dan bersiap membela dirinya secara terang-terangan di sekolah.
Clyrine melirik ke arah Damien yang berdiri tenang bersandar di tepi rak buku. Pria itu hanya menatapnya dengan pandangan teduh, seolah memberi isyarat bahwa inilah awal dari keadilan yang sudah seharusnya ia dapatkan sejak dulu.