Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Jamuan Rendang dan Tragedi Pingsan Di Atas Piring
“Heh! Lu olang lagi! Lu olang lagi! Mau latihan aksi lompat kodok masuk rumah oe lagi lu?” semprot Baba Hartono ketus begitu melihat wajah Reno yang menyengir tanpa dosa di ambang pintu gerbang kayu jati miliknya.
“Kalem dulu, Ba. Reno datang malam ini dengan niat baik cuma mau beli balik koleksi golok keramat milik Baba. Boleh, kan? Kita bawa dana segar ini,” sahut Reno.
Reno melangkah maju satu langkah dengan senyuman paling sopan yang ia miliki, mencoba melunakkan hati kakek tua kolektor barang antik tersebut. Sementara itu, Adit tetap berdiri kaku di barisan belakang. Pria itu berusaha keras sekuat tenaga untuk tetap menjaga wibawa CEO-nya yang saat ini kondisinya sudah compang-camping tak berbentuk akibat rentetan badai seharian penuh.
“Masuk lu berdua! Tapi jangan pakai lama-lama. Oe punya mata sudah ngantuk mau tidur!” gerutu Baba Hartono sembari mengayunkan cerutunya yang mengepulkan asap pekat.
Adit melangkah gontai mengikuti pergerakan mereka masuk ke dalam rumah raksasa yang interiornya terasa lebih mirip seperti museum horor. Suasana di dalam rumah itu sangat hening dan gelap, dipenuhi bayangan patung-patung kuno.
Di dalam kepala Adit saat ini, ia hanya bisa membayangkan nasib Sella, calon istri dadakannya. Apakah gadis ceroboh berusia 19 tahun itu sekarang sedang menangis histeris di kamarnya? Ataukah mahasiswi mode semester awal yang hobi membaca buku dewasa itu justru sedang sibuk memilih gaun pengantin mewah lewat katalog online untuk merayakan pernikahan massal mereka besok pagi? Adit memejamkan kedua matanya sejenak, berharap keajaiban datang dan semua kegilaan ini hanyalah sebatas mimpi buruk akibat dirinya salah minum cairan jus jeruk di Paris.
Adit berdiri kaku di dalam ruang koleksi barang antik milik Baba Hartono yang udaranya terasa sangat pengap oleh aroma kayu tua. Fokus pikirannya sama sekali tidak berada di tempat ini; ia masih sibuk membayangkan bagaimana besok pagi tangannya harus menjabat erat tangan sang penghulu KUA di bawah tatapan galak mantan komandan militer Papa Kaizen.
Namun, di tengah kesunyian ruangan, suara dari dalam perutnya sendiri tiba-tiba berbunyi nyaring, mengkhianati seluruh wibawa korporat eksekutif mudanya.
KRUYUKKKK...!!!
Suara keroncongan perut itu bergema dengan sangat nyaring di dalam ruangan yang sunyi senyap, memantul keras di antara deretan guci-guci mahal peninggalan Dinasti Ming. Adit langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat, seluruh wajah tampannya seketika berubah warna menjadi merah padam menahan malu hingga ke batas leher.
Sebagai seorang CEO muda terhormat yang biasanya selalu menghadiri agenda jamuan makan malam formal kelas atas di Paris, insiden keroncongan perut di tengah museum angker ini adalah sebuah bentuk penghinaan fisik paling memalukan dalam sejarah hidupnya.
"Lu olang punya perut rupanya lapar, ya?" tanya Baba Hartono, mengarahkan telunjuknya menunjuk ke arah perut Adit menggunakan ujung cerutunya yang masih menyala merah.
Adit memberikan anggukan kepala pelan yang nyaris tidak terlihat karena saking malunya. "Iya, Ba... mohon maaf sebelumnya. Saya... saya benar-benar belum sempat menyentuh nasi atau makanan berat apa pun sejak keberangkatan darurat dari Paris siang tadi," jawabnya dengan volume suara rendah dan parau.
Bayangan saat tubuhnya diseret kasar oleh Kaizen dari terminal bandara hingga momen disidang darurat di ruang tamu rumah utama benar-benar membuat selera makannya baru bangkit sekarang. Apalagi setelah dipicu oleh aroma rempah rendang yang sangat harum menguar dari arah dapur rumah mewah tersebut.
"Kebetulan di area dapur oe punya pembantu ada masak rendang daging banyak. Lu berdua cepat makan sana daripada nanti pingsan di dalam oe punya rumah, nanti oe bisa dikira melakukan tindakan malpraktik!" tukas Baba Hartono sembari melangkah pergi menuju gudang belakang untuk mengambil golok keramat pesanan Reno.
Adit melangkah dengan gerakan gontai mengikuti langkah Reno menuju ke area dapur mewah yang ukuran luasnya hampir menyamai ruang rapat direksi di kantor pusatnya. Di atas meja marmer yang mengkilap, telah tersaji sebuah baskom besar berisi rendang daging dengan warna cokelat pekat yang sangat menggoda selera.
"Sikat langsung, Dit! Jangan dikasih sisa sedikit pun. Kalau perlu bumbunya kita bungkus pakai plastik buat stok makanan di apartemen lo!" seru Reno bersemangat sembari menyambar piring porselen mahal dan menimbun nasi putih di atasnya hingga menyerupai bentuk gunung.
Adit sempat melongo heran, memegang sendok peraknya dengan gerakan ragu yang kaku. “Heh, Reno! Jaga sikap dan sopan santun lo ya. Kita berdua di sini statusnya sebagai tamu terhormat, bukan sekelompok pengungsi korban bencana yang kelaparan!” tegur Adit berbisik tajam. Meskipun begitu, tangan kanan Adit sendiri sudah mulai bergerak aktif menyendok nasi putih ke atas piringnya dengan porsi yang jauh lebih sopan dan terukur.
Begitu suapan nasi dan bumbu rendang pertama masuk ke dalam mulutnya, Adit langsung memejamkan kedua matanya menikmati rasa gurih yang luar biasa. Sensasi gurih dari perpaduan santan pekat dan rempah-rempah nusantara seolah-olah berhasil membasuh seluruh tingkat stres yang menumpuk di otaknya sejak insiden salah kamar di hotel Paris.
Namun, pemandangan menyebalkan di depannya seketika merusak suasana syahdu makan malamnya. Reno tampak sedang bertarung nyawa mengerahkan seluruh tenaga rahangnya untuk menggigit sepotong daging rendang yang ia ambil.
KRAK!
"Duh, buset! Ini daging rendang apa fosil purbakala peninggalan zaman purba sih? Keras amat teksturnya, udah kayak tulang dinosaurus!" keluh Reno kesal sembari melempar kembali potongan daging itu ke atas permukaan piring porselen dengan bunyi denting keras yang nyaring.
Adit mengunyah makanan di mulutnya secara perlahan, lalu menelan suapannya dengan gerakan elegan khas kaum elit sebelum membuka mulut untuk menjawab. “Punya gue teksturnya empuk-empuk aja tuh dari tadi. Makanya jadi orang jangan serakah mengambil porsi paling gede, kualat kan lo!” ucap Adit, akhirnya bisa mengeluarkan suara tawa kecil setelah seharian penuh wajahnya ditekuk masam karena tekanan mental pernikahan paksa.
“Udah syukur kita dikasih makan gratis di tengah malam buta begini sama pemilik rumah, lo malah protes milih-milih makanan. Ingat ya, Reno, besok subuh lo butuh asupan tenaga ekstra buat jadi pengantin massal dadakan. Jangan sampai lo pingsan lemas di depan bapak penghulu cuma gara-gara tubuh lo kurang gizi dan lemas menghadapi Kaizen.”
Adit kembali menyuap nasinya, mencoba menikmati momen ketenangan terakhirnya sebelum badai eksekusi pernikahan besok subuh melanda hidupnya. Namun, kalimat peringatan Reno sebelumnya tentang urusan penunggu gaib golok keramat dan insiden mistis mendadak melintas di otaknya, membuat tenggorokan Adit terasa seret seketika. Ia menatap was-was ke arah pintu kayu gudang belakang, tempat golok itu disimpan oleh Baba Hartono.
"Gimana kalau... penunggu gaib golok keramat lo itu dengar ucapan protes lo tadi tentang daging rendang ini, dan lo mendadak diseret masuk ke dimensi lain lagi malam ini, Ren?" tanya Adit dengan nada serius yang seketika membuat pergerakan Reno sontak mematung di tempat.
Wajah sahabatnya itu mendadak berubah menjadi pucat pasi tak berdarah. Kedua matanya mendelik kosong ke arah depan seolah-olah ia sedang melihat halusinasi tingkat tinggi di sudut dapur.
"Dit... aduh, Dit... kayaknya ramalan lo beneran terjadi... gue berasa mau pindah dimensi lagi ini. Kepala gue mendadak pusing tingkat dewa..." bisik Reno lemas.
BRUKKK!!!
Wajah Reno langsung menghantam permukaan piring porselen mahal di depannya dengan sangat telak. Kuah rendang yang berminyak pekat seketika menciprat ke segala arah, termasuk sukses mendarat mengotori kemeja mahal milik Adit.
"Reno! Heh! Kalau lo emang mau pingsan jangan di atas piring makan juga dong! Tolong posisinya dibuat estetik dikit napa!" seru Adit panik sekaligus jengkel setengah mati melihat kemejanya terkena noda baru.
Tangan kanannya bergerak cepat menarik rambut Reno agar wajah sahabatnya itu tidak tenggelam semakin dalam di balik kubangan bumbu rendang pekat. Kini, seluruh wajah Reno sudah belepotan penuh oleh bumbu rendang berwarna cokelat pekat, persis seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesi masker lumpur di salon kecantikan.
Adit menghela napas panjang tanda pasrah, menyandarkan tubuh lemas Reno yang tak sadarkan diri ke sandaran kursi kayu jati dapur. “Dasar anak kualat. Makanya, kalau mau makan itu dimulai dengan doa, bukan malah sibuk nakut-nakutin gue dari tadi,” gumam Adit pelan.
Ia memilih untuk tetap bersikap tenang sejenak, menyendok sisa nasi terakhir di piringnya dengan santai meskipun sahabatnya terkapar pingsan. “Tapi lumayan juga sih, rasa rendangnya jadi berasa makin gurih kalau dimakan sambil ditontonin adegan pingsan komedi begini,” rutuk Adit pasrah menerima keabsurdan garis takdirnya malam ini.