NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 BERITA 1992
Waktu bergulir dengan kejam, tak memedulikan penderitaan manusia yang tergilas di bawah rodanya.
Tiga hari telah berlalu sejak amukan entitas gaib di ruang sekretariat Teater Arya Sena yang melemparkan Yuda dan Dion ke lantai lorong.
Tiga hari yang terasa layaknya siksaan neraka tanpa akhir.
Teror itu benar-benar telah menyebar. Bagai kabut beracun yang merayap perlahan dari Candi Prambanan, kutukan itu kini mengintai setiap sudut kehidupan mereka yang terlibat.
Anggota teater lainnya—Fahri, Septi, dan Okta—jatuh sakit secara bersamaan dengan demam tinggi yang tak bisa dijelaskan secara medis, terus-menerus mengigau tentang bayangan wanita bergaun merah di sudut kamar mereka.
Di kediaman keluarga Zaki, Harumi semakin menarik diri dari dunia luar. Gadis itu menolak makan, menolak bicara, dan hanya duduk meringkuk di sudut kamarnya sambil terus memegangi pergelangan tangannya yang memar.
Sementara di rumah sakit, kondisi fisik Haruma memang mulai membaik, namun jiwanya seolah masih tertahan di ambang batas dua dunia; matanya selalu memancarkan kewaspadaan yang mengerikan, menatap ke arah bayang-bayang di sudut ruangan yang hanya bisa dilihat olehnya.
Dan Yuda... pemuda itu berada di ambang batas kewarasannya.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat kilatan pisau pusaka berkarat dan darah yang menyembur dari perut Haruma. Halusinasi bau kemenyan dan darah segar terus menghantuinya di mana pun ia berada. Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang sangat pekat. Namun, di balik penampilannya yang nyaris seperti mayat hidup itu, ada bara tekad yang menolak untuk padam.
Rencana Yuda dan Dion untuk pergi menemui sesepuh di Klaten terpaksa tertunda.
Bapak kos Dion yang berjanji akan menjembatani pertemuan itu memberi kabar bahwa sang sesepuh sedang melakukan ritual "tapa bisu" di lereng Gunung Merapi dan baru bisa ditemui beberapa hari lagi.
Mereka tidak bisa hanya berdiam diri menunggu sementara waktu terus menggerogoti nyawa orang-orang yang mereka cintai.
.....
Siang itu, hujan turun rintik-rintik membasahi aspal kota Yogyakarta, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Yuda dan Dion kembali berdiri di depan gedung perpustakaan pusat kampus peninggalan zaman kolonial itu. Payung hitam di tangan Yuda meneteskan air ke lantai teras.
"Yud, lo yakin kita bakal nemu sesuatu di sini?" tanya Dion, suaranya bergetar menahan dingin dan sisa ketakutan. "Terakhir kali kita ke sini, bundel koran dan buletin tahun 1992 bulan Agustus sampai Desember udah dipotong rapi. Dihilangkan. Nggak ada jejak."
Yuda melipat payungnya dengan sekali sentakan kasar. Matanya menatap tajam ke arah pintu kaca perpustakaan.
"Orang yang motong arsip itu mungkin pintar, Yon. Tapi di era 90-an, berita sebesar pembunuhan atau bunuh diri di Prambanan nggak mungkin cuma diliput sama satu atau dua koran lokal utama. Pasti ada koran kuning, tabloid kriminal, atau majalah independen mahasiswa yang beritain. Dan arsip-arsip sampah kayak gitu biasanya nggak disimpen di rak utama. Biasanya dilempar ke ruang basement atau dijadikan microfilm buat bahan kajian sosiologi." jawab Yuda.
Dion menelan ludah. Masuk ke ruang basement perpustakaan yang gelap dan lembap di saat mereka sedang diincar oleh makhluk gaib terdengar seperti ide yang sangat buruk. Namun, melihat tekad baja di mata Yuda, Dion tahu ia tidak bisa mundur.
Mereka berdua melangkah masuk. Melewati meja resepsionis yang dijaga oleh seorang petugas paruh baya yang sedang tertidur pulas, mereka menyelinap menuju tangga putar besi di sudut ruangan yang mengarah ke ruang bawah tanah.
Aroma kertas lapuk, debu, dan kayu berjamur langsung menyergap penciuman mereka begitu kaki mereka menjejak lantai basement.
Ruangan itu luas, dipenuhi rak-rak besi berkarat yang disesaki oleh kardus-kardus arsip tua, majalah kadaluarsa, dan mesin pembaca microfiche kuno yang sudah berdebu tebal.
Pencahayaannya sangat minim, hanya mengandalkan tiga buah lampu bohlam kuning yang bergoyang pelan ditiup angin dari celah ventilasi.
"Kita cari di kardus-kardus arsip tabloid kriminal tahun 92. Fokus ke bulan Oktober sampai Desember," perintah Yuda, langsung bergerak menuju deretan kardus di sudut ruangan yang paling gelap.
Dion mengangguk, menyalakan flashlight dari ponselnya untuk membantu penerangan.
Mereka mulai membongkar kardus demi kardus. Debu yang beterbangan membuat mereka terbatuk-batuk. Tangan mereka menjadi hitam oleh kotoran dan tinta koran yang sudah melapuk.
Satu jam berlalu.
Dua jam berlalu.
Frustrasi mulai merayapi benak Yuda.
Kardus-kardus itu berisi ribuan eksemplar tabloid kriminal yang menampilkan berita-berita sensasional berdarah, namun belum ada satu pun yang menyinggung tentang Teater Arya Sena atau Candi Prambanan.
Tiba-tiba, udara di dalam basement itu merosot tajam.
Napas Yuda dan Dion seketika membentuk kepulan uap putih tipis di udara. Suara rintik hujan dari luar mendadak tak terdengar lagi, digantikan oleh kesunyian yang menulikan telinga.
Sring... Sring...
Bulu kuduk Yuda berdiri seketika. Suara gemerincing gelang kaki itu terdengar lagi.
Kali ini, suaranya berasal dari lorong rak besi di sebelah kanan mereka.
Sangat pelan, namun setiap langkahnya seakan sengaja ditujukan untuk mengintimidasi mental mereka.
"Y-Yud..." bisik Dion, wajahnya sepucat kertas. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat hingga cahaya senternya bergoyang-goyang liar.
"Abaikan, Yon. Jangan dilihat. Fokus ke tumpukan ini," desis Yuda dengan rahang mengeras. Ia menolak untuk kalah oleh rasa takut. Tangannya dengan brutal dan cepat membongkar tumpukan majalah independen mahasiswa yang sudah berjamur di dasar kardus terakhir.
Sring... Sring...
Suara itu semakin dekat. Bau melati busuk dan kemenyan mulai menyengat paru-paru mereka, membuat Dion nyaris muntah.
Sesuatu yang tak kasatmata sedang bergerak mendekati mereka dari balik kegelapan rak besi. Sebuah hawa dingin yang luar biasa pekat merayap di pergelangan kaki Yuda.
"Kalian mencari sesuatu yang sudah terkubur..." sebuah bisikan parau menyapu daun telinga Yuda, begitu dekat hingga ia bisa merasakan embusan napas yang berbau darah busuk. "Biarkan rahasia itu membusuk, atau kalian akan menyusulnya ke dasar neraka..."
"Gue nggak takut sama lo, Iblis!" geram Yuda melalui gigi-giginya yang terkatup rapat. Tangannya terus menggali dasar kardus dengan putus asa. Jari-jarinya tanpa sengaja menyobek sampul majalah-majalah rapuh tersebut.
Tiba-tiba, dari sela-sela tumpukan sebuah majalah kampus underground bertajuk "Suara Mahasiswa" edisi November 1992, selembar kliping koran yang dilaminasi kasar jatuh melayang ke lantai.
Mata Yuda langsung tertuju pada lipatan kertas menguning itu. Di tengah hawa dingin yang mencekik dan ancaman gaib yang mengintai di punggungnya, Yuda menyambar kliping tersebut.
Cahaya senter ponsel Dion menyorot tepat ke atas permukaan kertas yang sudah pudar itu.
Jantung Yuda seakan berhenti berdetak saat membaca barisan huruf kapital tebal bertinta hitam yang menjadi tajuk utama berita tersebut.
.....
.....
TRAGEDI BERDARAH PRAMBANAN: PEMERAN RORO JONGGRANG BUNUH DIRI DI ATAS PANGGUNG (1992).
.....
.....
"Yon... gue nemu, Yon! Gue nemu!" bisik Yuda, suaranya bergetar hebat antara rasa takut, kelegaan, dan kengerian yang berbaur menjadi satu.
Mendengar itu, entitas gaib yang berada di dekat mereka tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan melengking yang memekakkan telinga.
PRAAANG!!!
Tiga buah lampu bohlam di ruangan basement itu meledak secara bersamaan. Pecahan kacanya menghujani lantai.
Kegelapan total langsung menyergap mereka, hanya disisakan oleh satu-satunya cahaya dari senter ponsel Dion yang berkedip-kedip.
Rak-rak besi bergetar hebat seakan sedang diguncang gempa bumi skala tinggi.
"LARI, YON! BAWA KERTASNYA, LARI!" teriak Yuda.
Ia menarik kerah baju Dion.
Keduanya berlari pontang-panting menerjang kegelapan, menabrak kardus-kardus arsip hingga berserakan.
Mereka terus berlari menaiki tangga putar besi yang berderit menahan beban langkah mereka yang serabutan.
Suara tawa melengking wanita yang sangat menyeramkan mengejar mereka dari bawah, menggema di sepanjang dinding basement hingga menembus ubun-ubun. Namun, mereka tak menoleh ke belakang sedikit pun.
Yuda dan Dion mendobrak pintu tangga, berlari melintasi meja resepsionis, dan menghambur keluar dari gedung perpustakaan menembus rintik hujan.
Mereka berlari sejauh mungkin hingga mencapai area kantin fakultas sastra yang ramai oleh mahasiswa, sebelum akhirnya menjatuhkan diri di kursi panjang dengan napas terengah-engah dan dada yang serasa mau pecah.
Keringat dingin membanjiri tubuh mereka, bercampur dengan titik-titik air hujan.
Yuda menelan ludah yang terasa seperti pasir, sementara Dion masih gemetar memegangi dadanya.
"B-buka klipingnya, Yud. B-baca!" desak Dion dengan napas memburu.
Dengan tangan yang masih gemetar, Yuda membentangkan kliping koran kuning tua berlogo "Tabloid Investigasi Kriminal" edisi minggu kedua November 1992.
Kertas itu sudah rapuh, ujungnya terlipat, dan tintanya sedikit luntur, namun paragraf demi paragraf di dalamnya masih bisa terbaca dengan jelas.
Yuda mulai membaca dengan suara lirih yang ditekan, agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain di kantin.
.....
.....
"YOGYAKARTA, 1992 – Pementasan seni drama mahakarya lakon Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang yang diselenggarakan oleh unit kegiatan mahasiswa bergengsi, Teater Arya Sena, pada malam bulan purnama Jumat Kliwon (23/10/1992) di pelataran Candi Prambanan berujung pada tragedi pertumpahan darah yang menggemparkan."
"Ribuan penonton yang memadati area candi menjadi saksi mata kengerian ketika mahasiswi bernama Sekar Ayu (20), pemeran utama Roro Jonggrang, mendadak kehilangan kendali di adegan puncak kutukan. Menurut kesaksian para pemain, mata Sekar mendadak kosong dan ia menampilkan senyum menyeringai yang tak lazim sebelum akhirnya menyerang lawan mainnya, pemeran Bandung Bondowoso, menggunakan keris yang secara misterius muncul dalam genggaman tangan sang pemeran Roro Jonggrang."
"Sang aktor berhasil menghindar, namun keris itu menancap di lengan seorang kru panggung yang mencoba menahan Sekar. Kekacauan massal terjadi. Dalam kondisi histeris dan tatapan mata yang gelap pekat, Sekar meneriakkan kalimat-kalimat kutukan berbahasa Jawa kuno yang tidak ada di dalam naskah."
"Tragedi itu mencapai puncaknya ketika panitia dan pihak keamanan berusaha mengamankan Sekar. Secara tiba-tiba, gadis berparas ayu itu memutar arah keris berdarah tersebut dan dengan satu gerakan fatal, ia menggorok lehernya sendiri di atas panggung. Sekar Ayu tewas seketika di lokasi kejadian, meninggalkan misteri kelam yang menyelimuti Candi Prambanan."
"Pihak kepolisian menutup kasus ini sebagai insiden bunuh diri yang disebabkan oleh tekanan psikologis berat (histeria massal) dan gangguan kejiwaan mendadak pada korban. Seluruh arsip pementasan Teater Arya Sena disita dan dibekukan oleh pihak rektorat untuk menghindari trauma lanjutan."
.....
.....
Yuda berhenti membaca.
Udara di sekitarnya terasa membeku.
Mulut Dion menganga, wajahnya memucat, matanya menatap nanar ke arah kliping tersebut.
Persamaannya terlalu nyata, terlalu detail, dan terlalu akurat untuk dianggap sebagai sebuah kebetulan belaka.
Malam bulan purnama...???
Pementasan di pelataran Prambanan...???
Mata yang kosong....???
Senyuman menyeringai...???
Senjata yang tiba-tiba muncul dan menjadi senjata pembunuh...???
Serangan terhadap kru panggung...???
Dan yang paling mengerikan... bahasa Jawa kuno yang tidak ada di dalam naskah...???
Semua itu persis seratus persen dengan apa yang terjadi pada Harumi tujuh hari yang lalu.
Satu-satunya yang membedakan tragedi Harumi dengan tragedi tahun 1992 adalah...
Yuda tidak sempat tertusuk, dan yang menjadi korban luka adalah Haruma, kakak kandung Harumi sendiri.
Dan secara ajaib, Harumi tidak sempat melakukan bunuh diri karena pisau pusaka itu terlepas dari genggamannya sesaat setelah menembus perut Haruma.
"Ya Tuhan..." Dion mengusap wajahnya kasar, suaranya bergetar hebat.
"Sekar Ayu... Namanya Sekar Ayu. Yud, ini bukti mutlak! Harumi ngalamin hal yang persis sama dengan apa yang dialami Sekar Ayu tahun 1992 yang lalu! Kutukan itu... kutukan itu mengulang dirinya sendiri!" tambah Dion dengan suara semakin bergetar.
Yuda mengepalkan tangannya kuat-kuat, meremas ujung meja kantin hingga urat-uratnya menonjol. Matanya menyala oleh perpaduan antara kengerian dan amarah yang mendidih.
"Iblis itu butuh wadah, Yon," desis Yuda, otak analitisnya mulai merangkai benang merah dari semua kengerian ini. "Makhluk dari Prambanan itu menggunakan tubuh pemeran Roro Jonggrang untuk menuntut balas dendam. Di tahun 92, dia merasuki Sekar, mencoba membunuh pemeran Bandung Bondowoso, dan pas gagal, iblis itu mengambil nyawa Sekar sebagai gantinya."
Napas Yuda memburu saat ia menatap lurus ke arah Dion.
"Dan sekarang... iblis itu merasuki Harumi. Sialnya, iblis itu sadar kalau Harumi punya darah 'Tulang Wangi' yang jauh lebih kuat dari Sekar. Makanya dia nggak bunuh Harumi di atas panggung malam itu. Dia sengaja menyimpan Harumi sebagai wadah hidup untuk menelan nyawa demi nyawa. Nyawa kakaknya, nyawa gue, dan nyawa siapa pun yang terlibat!" tambah Yuda.
Dion menelan ludah, membayangkan penderitaan yang harus ditanggung Sekar Ayu di detik-detik terakhir hidupnya.
Kesadaran bahwa Harumi saat ini sedang diincar untuk nasib yang sama mengerikannya membuat bulu kuduk Dion kembali berdiri.
"Lalu... langkah kita selanjutnya apa, Yud?" tanya Dion putus asa. "Kita udah tahu sejarahnya. Kita udah tahu nama korbannya. Terus apa?"
Yuda melipat kliping koran rapuh itu dengan sangat hati-hati dan memasukkannya ke dalam dompetnya seakan benda itu adalah jimat penyelamat nyawa.
"Kita cari keluarga Sekar Ayu," ucap Yuda dengan nada final.
Ketegasannya membelah hawa dingin dan ketakutan yang sejak tadi mengikat mereka. "Di berita ini pasti ada informasi dari desa mana Sekar berasal, atau di mana dia dimakamkan. Keluarga Sekar pasti tahu apa yang terjadi setelah kematian putrinya. Mereka pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa kutukan itu, atau minimal, mereka punya kenalan orang pintar yang dulu gagal nyelamatin Sekar."
Yuda berdiri dari kursinya, membetulkan letak jaketnya. "Besok, persetan dengan dosen pembimbing atau urusan kampus. Kita lacak jejak keluarga Sekar Ayu. Kita temukan kepingan puzzle terakhir dari kutukan Roro Jonggrang ini, sebelum iblis itu kembali ke rumah Pak Zaki dan memaksa tangan Harumi untuk menggorok lehernya sendiri."
Malam mulai turun menyelimuti Yogyakarta.
Hujan rintik-rintik belum juga reda.
Di kantin fakultas yang riuh rendah itu, di bawah tatapan tak kasatmata yang terus mengintai dari balik bayang-bayang pepohonan kampus, Yuda dan Dion telah memantapkan langkah mereka.
Mereka akan mengorek luka lama tahun 1992.
Membongkar rahasia yang telah dikubur rapat-rapat oleh waktu, demi menebus masa depan wanita yang mereka sayangi dari jeratan kematian.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda