Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RAPAT DADAKAN & AKTOR DADAKAN
Melihat perubahan ekspresi Alya yang begitu dramatis terhadap Raka, Dimas dan Aira mendadak melesat bak agen rahasia, langsung mengepung meja Raka dan menggelar rapat dadakan.
Raka terperanjat, nyaris melompat dari kursinya melihat kedatangan dua makhluk ajaib ini.
"Waduh! Ada apa nih?!"
Dimas memicingkan matanya penuh selidik, menatap Raka seolah-olah sahabatnya itu baru saja melakukan kejahatan internasional. "Hmm... kenapa seorang Alya yang sedingin kulkas dua pintu... bisa senyum?"
Raka memasang ekspresi datar. "Loh? Cuma gara-gara gitu doang?"
"Gitu doang kamu bilang?!" gerutu Aira gemas. "Aduh, Raka... masa hal secuil gitu aja kamu gak peka?!"
"Lu beneran bikin gue curiga, Rak," timpal Dimas sambil menyilangkan tangan di dada.
"Curiga gimana lagi, sih?"
"Ya lagian, gue baru lihat Alya bisa senyum lagi setelah sekian lama! Dan senyumnya khusus buat lu!"
Raka menghela napas pasrah. "Oh... jadi ceritanya lu berdua mau menginterogasi gue nih?"
"Pake nanya!" balas Dimas dengan senyuman sus yang sangat mencurigakan.
Raka mengurut pelapis keningnya yang mendadak pening. "Haaah... ya udah, ya udah. Apa pertanyaannya?"
"Pertanyaan pertama!" Aira menunjuk Raka, sebelah alisnya terangkat tinggi. "Kenapa Alya bisa luluh sama kamu?!"
Raka mengedikkan bahu. "Hmm... gak tahu. Tanya aja sendiri sama orangnya. Gue cuma ngelakuin apa yang seharusnya gue lakuin aja, sih."
Aira cemberut. "Hmm... jawaban yang sangat tidak memuaskan!"
"Oke, pertanyaan kedua!" seru Aira lagi, tak mau kalah. "Kenapa Alya bisa senyum manis gitu ke kamu?!"
Raka berpikir sejenak, lalu menjawab jujur dengan polosnya, "Hmm... mungkin karena... dia mulai percaya sama gue?"
Seketika mata Dimas membelalak sempurna mendengar jawaban Raka yang kelewat romantis tapi diucapkan tanpa beban itu.
"Serius, Rak?! Lu jawabnya kayak di novel-novel gitu?!"
"Lah? Terus gue harus jawab apa lagi?" Raka malah kebingungan sendiri.
"Ah, udah-udah! Jangan malah pada ribut, Mas!" lerai Aira menengahi.
Tepat saat mereka mau melanjutkan "interogasi tingkat tinggi" tersebut, sosok Alya yang berdiri tak jauh dari sana mendadak memotong.
"Tolong berhenti... Teman-teman, bel masuk sebentar lagi berbunyi."
Suara yang keluar dari mulut Alya memang tergolong kecil dan halus. Namun, bagi Dimas dan Aira, kata "teman-teman" yang baru saja diucapkan Alya rasanya seperti keajaiban dunia ke delapan!
Seketika itu juga, Dimas dan Aira membeku. Matanya berkaca-kaca, lalu menangis haru penuh kebahagiaan seolah baru saja menyaksikan mukjizat.
Melihat tingkah dua temannya yang berlebihan dan bikin malu ini, Raka cuma bisa menepuk jidatnya keras-keras. "Gue punya teman gini amat, ya Tuhan..."
Tak lama kemudian, bel masuk sekolah benar-benar berbunyi nyaring. Suara langkah kaki para siswa-siswi yang berlarian menuju kelas masing-masing langsung memecah suasana absurd di pojokan kelas itu.
Tak lama setelah riuh bel masuk mereda, langkah kaki yang berat terdengar dari lorong. Pak Jarwo, guru Bahasa Indonesia berwajah galak namun hobi memberikan tugas mendadak, memasuki ruang kelas.
Seketika suasana kelas yang tadinya riuh mendadak hening. Sang ketua kelas langsung berdiri tegap.
"MEMBERI SALAM!" serunya lantang.
"SELAMAT PAGI, PAK GURU!" sahut seluruh murid serempak.
Pak Jarwo meletakkan buku tebalnya di atas meja dengan bunyi plak yang nyaring. "Pagi. Silakan duduk."
Setelah semua murid kembali ke bangku masing-masing, Pak Jarwo berkacak pinggang di depan papan tulis.
"Hari ini kita akan mengaitkan materi Bahasa Indonesia dengan Sejarah Nusantara. Tugas kalian adalah membuat drama pendek mengenai peristiwa bersejarah secara berkelompok. Bapak kasih waktu tiga jam untuk diskusi, latihan, dan langsung tampil di depan kelas hari ini juga!"
Gumam kekagetannya langsung terdengar di seluruh penjuru ruangan. Tiga jam?! Yang bener aja!
Tanpa memedulikan tatapan pasrah para muridnya, Pak Jarwo mulai membacakan pembagian kelompok. "Kelompok satu... ada..."
Satu per satu nama dibacakan beserta materi drama sejarahnya. Dimas dan Aira menahan napas di kursinya, sementara Raka berpura-pura santai meski dalam hati berdoa agar tidak dipisahkan dari Alya—atau minimal tidak sekelompok dengan Dimas yang sukanya bikin kehebohan.
Hingga akhirnya, nama kelompok terakhir dibacakan.
"Kelompok tujuh... Aira, Dimas, Raka, dan Alya. Materi kalian: Peristiwa Rengasdengklok!"
"YES!" seru Dimas refleks, sampai-sampai Pak Jarwo meliriknya tajam lewat kacamata bolongnya. Dimas langsung pura-pura batuk dan kembali duduk tegap.
Begitu Pak Jarwo kembali ke mejanya, empat orang itu langsung merapatkan meja membentuk lingkaran.
"Oke, guys! Ini takdir!" bisik Dimas bersemangat, matanya berbinar-binar. "Gue yang bakalan jadi Ir. Soekarno! Gue punya wibawa yang pas buat memproklamasikan kemerdekaan!"
"Halah, wibawa dari Hongkong!" cibir Aira. "Yaudah, gue jadi golongan muda dari Chaerul Saleh. Tugas gue yang nyulik Soekarno sama Hatta ke Rengasdengklok!"
Aira lalu menoleh ke arah Raka. "Raka, kamu jadi Bung Hatta, ya? Pas banget mukamu muka pasrah!"
Raka mendengus kasar. "Kenapa muka gue dibilang muka pasrah coba?" batinnya. Tapi begitu lirikan matanya bergeser ke samping, ia melihat Alya yang dari tadi diam mendengarkan dengan tatapan polos.
Tiba-tiba, sel-sel romantis di otak Raka bekerja secara liar. Tunggu... kalau gue jadi Bung Hatta dan Dimas jadi Bung Karno, Alya jadi siapa? Fatmawati?! Wah, gokil! Adegan menjahit bendera di samping gue?!
Raka berdeham sok tenang, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak agak cepat. "Ekhm... terus Alya jadi siapa, Aira?"
Aira mengetuk-ngetuk dagunya. "Hmm... Alya jadi Mbak Fatmawati aja! Nanti Alya bertugas bawa bendera Merah Putih pas teks proklamasi dibacakan!"
Raka langsung berbunga-bunga. Fixed! Ini takdir! Alya pasti makin luluh kalau gue kelihatan berwibawa pas dialog nanti! Raka menyunggingkan senyum tipis, merasa berada di puncak angin.
"Oke, Alya," ujar Raka dengan nada suara yang sengaja dibikin agak empuk dan lembut. "Nanti pas adegan gue diculik sama Aira ke Rengasdengklok, lu tetep di samping gue ya... jagain bendera."
Raka menatap Alya, berharap menemukan semburat merah di pipi cewek itu atau minimal senyuman manis yang bikin baper kayak tadi pagi.
Alya menatap Raka lurus-lurus. Matanya yang jernih berkedip sekali.
"Kenapa aku harus di samping kamu?" tanya Alya polos tanpa dosa. "Kan yang diculik Bung Hatta, bukan benderanya. Kalau aku ikut ke Rengasdengklok dari awal, nanti sejarahnya salah. Kamu mau nilai kita dikurangin Pak Jarwo?"
JEGERRR!
Raka membeku di tempat. Kata-kata Alya yang kelewat logis dan polos itu menusuk dada Raka bak belati tak kasatmata.
Dia... dia beneran mikirin akurasi sejarah?! Gak ada baper-bapernya pisan?!
Dimas dan Aira yang melihat muka Raka mendadak pucat langsung menutup mulut, menahan tawa sampai pundak mereka berguncang hebat. Raka cuma bisa memegangi dadanya yang mendadak sesak, meringis menahan penderitaan kena mental attack dari cewek yang ia taksir.
"Raka... kamu sakit dada?" tanya Alya lagi dengan nada polos, raut wajahnya tampak khawatir. "Mau ke UKS dulu?"
"Gak... gak apa-apa, Al," bisik Raka lemas sambil menepuk jidatnya sendiri. "Gue cuma... terlalu menjiwai penderitaan bangsa Indonesia sebelum merdeka..."
Selama satu jam berikutnya, suasana ruang kelas berubah menjadi arena kekacauan. Kelompok tujuh mencoba latihan di pojokan belakang dekat loker, namun kekacauan sudah terjadi sejak menit pertama.
"Oke, kita mulai dari adegan penculikan!" seru Aira bersemangat sambil menggulung kertas tugas menjadi tongkat estafet. "Gue sama Dimas jadi Golongan Muda yang datang malam-malam ke rumah Bung Karno dan Bung Hatta!"
Dimas langsung berpose ala drama kolosal, mendongakkan kepala dengan gagah. "Wahai Golongan Muda! Kenapa kalian mendatangi kediamanku di tengah malam yang buta ini?!"
"Aduh, Mas! Kamu itu Bung Karno-nya, bukan yang nyulik!" omel Aira sambil menepuk bahu Dimas pakai gulungan kertas. "Raka sama kamu itu yang lagi diculik!"
Raka mendesah pelan. Ia berdiri di sebelah Alya yang memegang selembar kain merah putih dengan sangat rapi dan lurus. Raka mencoba memanfaatkan momen latihan ini untuk stay cool di depan Alya.
"Jadi, Al... nanti pas gue diculik ke Rengasdengklok, dialog lu cuma bilang 'Hati-hati di jalan, Bung Hatta' ya," bisik Raka dengan suara disetel seserius mungkin.
Alya menatap Raka dengan matanya yang polos. "Tapi di buku sejarah, Mbak Fatmawati tidak mengucapkan kalimat itu ke Bung Hatta."
"Ya... ya kan ini improvisasi romantis, Al..." ujar Raka mulai agak pasrah.
"Tapi Pak Jarwo bilang harus sesuai materi sejarah. Kalau aku ngomong gitu, nanti Pak Jarwo pikir kita mengarang sejarah baru," jawab Alya sangat tenang dan logis.
Seketika Raka memegang dadanya lagi. Bener-bener gak bisa diajak kode-kodean romantis! Dimas yang melihat ekspresi lemas Raka langsung tertawa tanpa suara di belakang Aira.
"Sudah! Jangan banyak cincong! Sekarang waktunya tampil!" suara ngebass Pak Jarwo tiba-tiba menggelegar dari depan kelas, memotong latihan kacau mereka. "Kelompok tujuh, maju ke depan sekarang!"
Dimas, Aira, Raka, dan Alya langsung maju ke depan papan tulis. Seluruh pandangan siswa satu kelas tertuju pada mereka.
Pak Jarwo menyilangkan tangan di dada, matanya menatap tajam lewat kacamata bolongnya. "Silakan mulai. Peristiwa Rengasdengklok!"
Aira mengambil posisi paling depan. Dengan wajah yang dibuat-buat garang, ia menunjuk ke arah Dimas dan Raka. "Bung Karno! Bung Hatta! Kemerdekaan harus diproklamasikan sekarang juga! Tidak ada waktu lagi! Kami dari Golongan Muda akan membawa kalian ke Rengasdengklok agar terbebas dari pengaruh Jepang!"
Dimas maju satu langkah, memasang muka sok prihatin. "Tapi... apakah situasi sudah aman, wahai Pemuda?"
"Aman atau tidak, kita harus bergerak!" seru Aira heboh, lalu menarik lengan Raka dengan kencang sampai Raka nyaris tersandung. "Ayo ikut kami, Bung Hatta!"
Raka yang kaget ditarik mendadak cuma bisa pasrah dipasrah-pasrahkan. Namun, tatapannya refleks melirik ke arah Alya yang berdiri di pojok depan kelas sebagai Fatmawati. Raka bermaksud memberikan tatapan "perpisahan yang dramatis" layaknya pahlawan yang mau pergi perang.
Alya yang melihat Raka menatapnya begitu dalam, bukannya tersentuh, malah mengangguk kecil dengan ekspresi sangat datar.
"Selamat jalan, Bung Hatta. Jangan lupa menjaga kesehatan di Rengasdengklok," ucap Alya dengan suara pelan namun terdengar jelas di kelas yang hening.
"PFFFTTT!"
Beberapa anak di barisan depan langsung menyemburkan tawa. Raka yang tadinya mau berakting dramatis mendadak oleng, mukanya memerah menahan malu sekaligus mental attack kesekian kalinya dari Alya!
Dimas dan Aira sudah tidak kuat lagi. Mereka melanjutkan adegan pembacaan naskah Proklamasi sambil menahan tawa yang meledak-ledak. Dimas membaca teks proklamasi dengan suara gemetar bukan karena terharu merdeka, tapi karena menahan tawa ngakak melihat muka lemes Raka!
Setelah adegan penutup selesai, seluruh kelas bertepuk tangan riuh, sebagian besar karena terhibur oleh drama komedi terselubung tersebut.
Pak Jarwo mengusap dagunya, lalu mengetuk-ngetuk pulpen ke mejanya.
"Penjiwaan Golongan Muda sangat bagus," puji Pak Jarwo menunjuk Aira. "Dimas... ketikan suara kamu kurang berwibawa, tapi masih oke. Raka... kenapa muka kamu kelihatan seperti orang yang menderita depresi berat sepanjang Peristiwa Rengasdengklok?"
Seluruh kelas tertawa makin pecah.
Raka meringis pelan, melirik Alya yang masih berdiri anggun tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Anu, Pak... menjiwai beban berat bangsa sebelum merdeka..."
"Bagus! Alasan yang masuk akal!" potong Pak Jarwo mantap. "Dan Alya... dialog kamu memang tidak ada di buku sejarah, tapi kepolosan dan ketenangan kamu membawakan karakter Fatmawati sangat unik. Nilai kelompok tujuh: 88!"
"YESSS!" teriak Aira dan Dimas girang.
Saat berjalan kembali ke bangku masing-masing, Alya berbisik pelan di samping Raka. "Raka... ternyata improvisasi kamu tadi berhasil. Pak Jarwo suka."
Raka menoleh, menatap wajah Alya yang jujur tanpa kebohongan itu. Harapan Raka yang sempat pupus mendadak melambung lagi ke langit. Tuh kan... Alya tuh sebenarnya perhatian sama gue!
"Nanti makan siang bareng di kantin, kan?" tanya Raka dengan senyum penuh harapan.
Alya mengangguk polos. "Iya. Soalnya aku mau minta tolong diajarin cara dapat diskon promo kupon makan siang yang kamu sebutkan kemarin."
DOR!
Raka menepuk jidatnya keras-keras. Harapan gue dijatuhin lagi ke bumi! Ternyata cuma gara-gara promo kupon makan siang!
Di saat Dimas dan Aira merayakan kemenangan nilai mereka dengan melakukan high-five heboh di pojok kelas, Raka hanya bisa duduk terpesat di kursinya, memandangi langit-langit plafon kelas yang bergambar sarang laba-laba. Hatinya resmi hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya hari ini—bukan karena diculik Golongan Muda, melainkan karena sadar bahwa posisinya di mata Alya ternyata masih kalah penting dibandingkan selembar kupon promo makan siang.
Namun, penderitaan Raka belum usai. Bel istirahat pertama baru saja berbunyi nyaring dari arah koridor, memanggil keempat anak manusia itu untuk melangkah ke babak berikutnya: mendatangi markas klub baru mereka yang sudah mati suri sejak zaman peradaban kuno.