Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Dua bulan,” suara istri Jayengrana pelan, memecah keheningan. “Kalau benar anak kita sudah berada di Gedung Utara sejak saat itu… berarti saat aku ditahan di sana, dia mungkin hanya beberapa tingkat di bawahku. Atau di sayap yang berbeda.”
Jayengrana tidak langsung menjawab. Ia menatap gelap di luar.
“Aku sudah berada di dalam bangunan itu,” katanya akhirnya. “Aku sudah berjalan di koridornya. Sudah membuka sel. Sudah hampir membawa keluar seseorang yang kucintai. Tapi aku tidak merasakan kehadirannya.”
“Karena kau sedang fokus menyelamatkanku,” jawab istrinya. “Dan karena mereka sengaja memisahkan kami.”
Keheningan kembali. Hanya bunyi jangkrik jauh dan tiupan angin yang sesekali menggoyang atap ilalang.
Pengemis Tua yang selama ini terbaring di sudut dengan mata tertutup tiba-tiba berbicara tanpa mengubah posisi.
“Gedung Utara bukan hanya satu bangunan. Ada bagian bawah yang tidak terhubung langsung dengan koridor tahanan biasa. Ada ruang yang hanya bisa diakses lewat jalur air atau lewat kunci yang dipegang orang tertentu. Jika anak itu ‘disimpan’, kemungkinan besar ia berada di sana.”
Jayengrana menoleh. “Kau tahu sejak kapan?”
“Aku menduga sejak pertama kali kau menyebutkan serpihan abu tulang di roda kereta,” jawab Pengemis Tua. “Tapi dugaan tidak sama dengan kepastian. Sekarang ada kesaksian. Itu sudah cukup untuk mengubah arah.”
Istri Jayengrana menegakkan tubuh. “Berarti kita kembali?”
“Bukan kembali ke dalam dengan cara yang sama,” kata Jayengrana. “Kali ini kita tidak menyusup sebagai kuli atau tahanan. Kali ini kita datang dengan tujuan yang jelas.”
Ia mengangkat tangan kanannya. Di ujung jari, api hitam-kemerahan yang sangat kecil muncul lagi, lebih stabil dari sebelumnya. Tidak berkobar. Hanya menyala diam, seperti bara yang menunggu.
Istrinya menatap api itu tanpa takut, hanya waspada. “Semakin sering muncul.”
“Aku tahu.” Jayengrana menutup kepalan, memadamkannya. “Dan aku masih belum memahami seluruh harganya.”
Di dalam benaknya, Penunggang berbicara, suaranya lebih jelas dari malam-malam sebelumnya.
“Api itu menjawab kemarahan yang terkendali. Bukan ledakan. Bukan dendam buta. Semakin kau mampu menahan diri sambil tetap bergerak maju, semakin stabil ia menjadi.”
Jayengrana tidak membalas.
Menjelang subuh, mereka meninggalkan desa. Tidak ada perpisahan dengan penduduk. Tidak ada jejak yang sengaja ditinggalkan selain beberapa keping uang di atas meja warung sebagai bayaran yang lebih dari cukup. Kabut pagi belum turun sepenuhnya ketika mereka sudah menyusuri jalur setapak yang mengarah ke selatan—kembali ke arah ibu kota.
Perjalanan kali ini terasa berbeda. Bukan lagi pelarian murni. Ada tujuan yang lebih tajam di setiap langkah.
Jaka berjalan di antara Jayengrana dan istrinya. Sesekali anak itu menatap ke depan, ke arah yang masih jauh.
“Kalau kita menemukan anak itu,” tanyanya tiba-tiba, “apakah dia akan ikut dengan kita?”
Istri Jayengrana meraih bahu Jaka, menepuknya pelan. “Dia anak kami. Tentu saja.”
Jaka mengangguk, tetapi matanya masih tampak berpikir. “Di mimpi, dia tidak menangis. Dia hanya menunggu. Seperti sudah tahu seseorang akan datang.”
Jayengrana mendengar itu tanpa menoleh. Di dadanya, tanda perjanjian berdenyut sekali, lebih dalam.
Mereka berjalan sampai matahari naik cukup tinggi. Di sebuah titik di mana jalan setapak berpotongan dengan jalur gerobak yang lebih lebar, Pengemis Tua tiba-tiba mengangkat tangan.
“Berhenti.”
Semua berhenti.
Di tanah, tepat di tengah persimpangan, ada goresan baru. Belum kering sepenuhnya. Bentuknya jelas: lingkaran dengan tiga garis melengkung di dalamnya.
Lambang yang sama.
Di sampingnya, ada tambahan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya—sebuah garis lurus yang mengarah ke selatan, seolah penunjuk arah.
Pengemis Tua berjongkok, menatap goresan itu lama. “Mereka tidak hanya menandai. Mereka mengundang.”
Jayengrana menatap garis yang mengarah ke selatan. Ke arah ibu kota. Ke arah Gedung Utara.
Api kecil kembali menyala di ujung jarinya, kali ini tanpa ia sadari sepenuhnya. Baru ketika istrinya menyentuh lengannya, ia menutup kepalan dan memadamkannya.
“Kalau mereka ingin aku datang,” kata Jayengrana pelan, suaranya datar tetapi tajam, “maka aku akan datang.”
Ia melangkah melewati lambang itu tanpa menghapusnya.
“Tapi bukan sebagai buronan yang ketakutan.”
Mereka mengubah arah sebelum matahari terlalu tinggi.
Bukan lagi lurus ke selatan menuju ibu kota, melainkan memotong ke barat daya, menyusuri jalur yang lebih sepi dan berbukit. Pengemis Tua tidak bertanya. Ia hanya mengikuti, seolah sudah menebak bahwa Jayengrana sedang membawa mereka ke seseorang.
Menjelang tengah hari, di balik punggungan rendah yang ditumbuhi pohon jati, tampak sebuah kompleks rumah besar dengan pagar bambu tinggi. Bukan istana, tetapi jelas milik orang berpangkat. Ada dua orang prajurit di gerbang, tetapi mereka tidak berdiri terlalu tegang. Di halaman dalam, beberapa kuda ditambatkan, dan asap dapur naik tenang.
Jayengrana berhenti di balik semak. Ia menatap kompleks itu lama, lalu berkata pelan,
“Tunggu di sini.”
Istrinya menoleh. “Siapa yang tinggal di situ?”
“Seseorang yang dulu bertarung di sisiku,” jawab Jayengrana. “Tumenggung. Sahabat dekat. Salah satu dari sedikit orang yang pernah kulihat menolak perintah yang tidak adil.” Ia terdiam sejenak. “Aku akan menonaktifkan Topeng Jiwa di depannya. Kalau dia masih mengingat wajah asliku… dia akan tahu siapa aku.”
Istrinya menatapnya serius. “Kau yakin bisa mempercayainya?”
“Lebih yakin daripada mempercayai siapa pun di Kotaraja sekarang.” Jayengrana mengalihkan pandang ke Jaka dan Pengemis Tua. “Kalian tetap di sini. Jangan mendekat sebelum aku memberi isyarat.”
Ia berjalan keluar dari semak, menghampiri gerbang dengan langkah tenang. Kedua prajurit langsung menegakkan tombak, tetapi belum menyerang.
“Sampaikan kepada Tumenggung,” kata Jayengrana, suaranya datar, “bahwa ada orang lama yang ingin bertemu. Katakan saja… bekas Senopati yang seharusnya sudah mati.”
Salah satu prajurit membelalak. Yang lain segera berlari masuk.
Beberapa saat kemudian, pintu pagar dibuka dari dalam. Seorang lelaki tegap berusia sebaya Jayengrana keluar. Rambutnya masih hitam, hanya sedikit beruban di pelipis. Bekas luka tipis membujur di rahang kirinya. Matanya tajam, dan ketika menatap wajah Jayengrana yang masih tersamarkan Topeng Jiwa, ia mengerutkan dahi.
“Siapa kau?” suaranya dalam, waspada.
Jayengrana menarik napas. Ia menutup mata sejenak, lalu dengan sadar melepaskan Topeng Jiwa.
Perubahan itu tidak dramatis di mata orang luar. Tidak ada cahaya atau getaran. Hanya persepsi yang tiba-tiba bergeser. Wajah yang tadi terlihat sebagai Saka—biasa, tidak mencolok—kini kembali menjadi wajah yang dulu dikenal seluruh prajurit Mataram.
Tumenggung itu membeku.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Kemudian ia melangkah maju satu langkah, seolah ingin memastikan matanya tidak menipu.
“…Jayengrana?”
“Aku,” jawab Jayengrana singkat.
Tumenggung itu menatapnya dari ujung rambut sampai kaki, lalu menghela napas panjang yang hampir seperti tertawa pahit. “Mereka bilang kau sudah mati. Mereka bilang kau pengkhianat. Mereka bahkan menghapus namamu dari daftar senopati.” Ia menggeleng. “Dan kau muncul di gerbang rumahku dengan wajah yang sama.”
“Aku butuh tempat untuk menitipkan seseorang,” kata Jayengrana tanpa basa-basi. “Istriku. Hanya untuk sementara. Aku tidak bisa membawanya terus ke tempat yang akan kuju.”
Tumenggung itu menajamkan pandangan. “Kau akan kembali ke Kotaraja.”
Bukan pertanyaan.
Jayengrana mengangguk sekali.
Sang Tumenggung terdiam lama. Kemudian ia berbalik dan memberi isyarat kepada prajuritnya. “Buka pintu. Biarkan mereka masuk. Dan jangan ada satu mulut pun yang berbicara tentang siapa yang datang hari ini.”
Ia menatap Jayengrana lagi. “Masuk. Kita bicara di dalam. Dan kali ini… jangan hanya bilang ‘aku butuh tempat’. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu.”
Jayengrana memberi isyarat ke arah semak. Istrinya, Jaka, dan Pengemis Tua segera keluar dan mendekat.
Ketika istri Jayengrana berdiri di hadapan Tumenggung itu, lelaki tersebut menunduk hormat singkat—bukan sebagai formalitas kerajaan, melainkan sebagai penghormatan lama kepada istri seorang sahabat.
“Rumah ini aman untukmu,” katanya. “Selama aku masih bernapas di sini, tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Istri Jayengrana menatap suaminya. Di matanya ada kekhawatiran yang dalam, tetapi juga pengertian.
Jayengrana meraih tangannya sebentar. Genggamannya kuat.
“Aku akan kembali,” katanya pelan. “Setelah aku menemukan anak kita.”
Istrinya mengangguk. Tidak banyak kata. Hanya genggaman yang dibalas sama eratnya sebelum akhirnya dilepaskan.
Di dalam dadanya, tanda perjanjian berdenyut pelan. Seolah mencatat keputusan ini—keputusan untuk melepaskan sementara orang yang paling ia lindungi, demi tujuan yang lebih tajam.
Penunggang tidak berbicara.
Namun diamnya terasa seperti sedang mengamati dengan sangat saksama.