“Su Yang, apa sebenarnya hubunganmu dengan Tetua Lan?”
“Dia hanya pelangganku.”
“Pelanggan?!” Tang Hu membelalak. “Lalu sepuluh wanita cantik yang datang mencarimu itu?”
“Pelanggan juga.”
Dahulu, Su Yang hanyalah murid pelataran luar yang diremehkan. Namun, setelah jiwa seorang kultivator legendaris terbangun dalam tubuhnya, segalanya berubah.
Dengan teknik kultivasi yang tak tertandingi dan pesona yang sulit ditolak, ia membuat para wanita di Sekte Bunga Mendalam mulai memperebutkan perhatiannya.
“Su Yang! Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku!”
“Aku juga! Jangan lupakan aku!”
Su Yang hanya tersenyum.
“Tenang saja. Akan ada cukup banyak kesempatan bagi kalian untuk mengenalku.”
Di tengah rayuan, kecemburuan, dan rahasia masa lalunya, Su Yang kembali menapaki jalan menuju keabadian. Namun kali ini, perjalanan kultivasinya mungkin akan jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
🙏🙏🙏❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangi Suci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Enam Melawan Satu
“Su Yang, kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri.”
Gu Wei berdiri bersama lima murid Pelataran Dalam.
Mereka membentuk setengah lingkaran, menutup jalan Su Yang.
“Kau baru menjadi murid Pelataran Dalam, tetapi sudah bertindak seenaknya,” ujar salah seorang dari mereka. “Sebagai seniormu, kami akan mengajarimu aturan.”
Su Yang tertawa kecil.
“Senior?”
Tatapannya menyapu keenam orang itu.
“Kalau begitu sebagai junior, aku menyarankan kalian menyingkir sebelum tanganku mulai gatal.”
Wajah mereka langsung gelap.
Gu Wei mengangkat tangan.
“Hajar dia!”
Lima orang bergerak serentak.
Tinju dan tendangan datang dari berbagai arah.
Namun sesaat sebelum serangan mengenai tubuhnya—
Su Yang menghilang.
“Apa?!”
Mereka kehilangan sasaran.
“Gu Wei! Di belakangmu!”
Gu Wei berbalik.
Sebuah tangan sudah mencengkeram lehernya.
Tubuhnya terangkat dari tanah.
“Kau tidak terlihat seperti senior sekarang,” ujar Su Yang.
Gu Wei meronta.
Cengkeraman itu terasa seperti besi.
“Lepaskan dia!”
Kelima murid lain mengeluarkan senjata.
Su Yang hanya melirik mereka.
“Tidak sabaran sekali.”
Salah seorang murid mencabut belati.
“Kalau kau memang berani, lepaskan Gu Wei dan lawan kami!”
“Kalian pikir aku menjadikannya sandera?”
Su Yang tertawa.
“Baik.”
Ia melempar Gu Wei begitu saja.
Tubuh pria itu menghantam tanah.
Murid yang membawa belati segera menyerang dari belakang.
Ujung senjata hampir mengenai Su Yang ketika dua jarinya menjepit bilah tersebut.
Krek!
Belati baja itu patah.
Mata penyerang membelalak.
Su Yang mencengkeram tangannya.
Suara tulang retak terdengar.
“Aaargh!”
Jeritan menggema.
Murid-murid lain terdiam.
Su Yang sudah menghilang lagi.
Satu pukulan menghantam wajah murid berikutnya.
Tubuhnya terlempar beberapa meter dan langsung pingsan.
Murid ketiga menerima tamparan begitu keras hingga tubuhnya berputar sebelum jatuh.
Yang keempat langsung kehilangan keberanian.
“Monster!”
Ia berbalik dan berlari.
Su Yang muncul di depannya.
“Bukankah tadi kau ingin mengajariku?”
“T-Tunggu! Ampuni aku!”
“Aku sebenarnya ingin kalian membiarkanku pulang.”
Pukulan menghantam perutnya.
Murid itu berlutut sambil memuntahkan darah sebelum kehilangan kesadaran.
Dua orang masih sadar.
Salah satunya memegangi tangan yang telah remuk.
Yang terakhir bahkan mulai gemetar.
“Semua ini ide Gu Wei!”
Su Yang menghela napas.
“Dunia kultivasi memang selalu dipenuhi orang yang mencari masalah.”
Ia melangkah mendekat.
“Aku tidak peduli siapa yang membenciku. Selama tidak menggangguku, aku tidak akan menyentuh kalian.”
Tatapannya menjadi dingin.
“Tapi kalian membuang waktuku.”
Murid terakhir panik.
“Tolong! Ada yang menyerang murid sekte!”
Teriakannya menarik perhatian penghuni Pelataran Dalam.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya muncul.
“Apa yang terjadi?!”
Murid itu seperti melihat penyelamat.
“Tetua Sun! Su Yang menyerang kami!”
Tetua Sun mengerutkan kening.
Kemudian ia mengenali wajah Su Yang.
“Kau?”
Ia masih mengingat pemuda yang pernah melakukan duel maut tanpa izin dengan Yan Ming.
Namun saat itu Su Yang hanyalah murid Pelataran Luar di Alam Roh Dasar.
Tatapan Tetua Sun turun ke jubah hijau.
“Kau sudah menjadi murid Pelataran Dalam?!”
Su Yang mengenalinya juga.
“Sudah lama tidak bertemu.”
Tetua Sun memandang para murid yang bergelimpangan.
“Apa yang terjadi?”
“Mereka meminta dipukul.”
Jawaban itu membuat Tetua Sun terdiam.
Ia tahu reputasi Gu Wei sebagai pembuat masalah sehingga tidak langsung mengambil kesimpulan.
“Jelaskan semuanya di Kantor Disiplin.”
Su Yang tidak menolak.
Kantor Disiplin adalah bangunan tiga lantai.
Tetua Sun membawa Su Yang ke ruangan paling atas.
“Duduk.”
“Aku lebih suka berdiri.”
Tetua Sun mengerutkan kening.
“Aku yang menentukan kapan kau boleh pergi.”
Su Yang hanya tersenyum.
“Apa yang terjadi?”
“Aku sedang pulang. Beberapa sampah menghalangi jalan. Jadi aku membersihkannya.”
Tetua Sun menatapnya lama.
Enam murid Pelataran Dalam.
Su Yang mengalahkan semuanya sendirian.
Yang lebih aneh adalah perkembangan kultivasinya.
Sebulan lalu, ia baru Alam Roh Dasar Lapisan Ketiga.
Sekarang?
Perkembangannya terlalu cepat.
“Su Yang.”
Nada Tetua Sun menjadi serius.
“Apakah kau menggunakan teknik terlarang?”
Mata Su Yang menyipit.
Tetua Sun mengeluarkan jimat kuning.
“Jangan salah paham. Sebagai kepala bagian disiplin, aku harus memastikan tidak ada kultivator teknik terlarang yang membahayakan sekte.”
Ia meletakkan jimat di meja.
“Sentuh.”
Jimat itu dapat membaca sifat energi seorang kultivator.
Energi normal akan membuatnya bersinar kuning.
Energi jahat akan membakarnya menjadi abu.
Su Yang mengambilnya.
Cahaya kuning segera muncul.
Tetua Sun menghela napas.
“Aku meminta maaf karena—”
Belum selesai ia berbicara, cahaya jimat berubah.
Kuning memudar.
Digantikan warna biru terang seperti langit tanpa awan.
Tetua Sun membeku.
“Apa…”
Su Yang pun menatap jimat itu.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Kantor Disiplin, ekspresi santainya menghilang.
Ia mengenali energi tersebut.
Qi Surgawi.
Energi yang seharusnya hanya dapat disentuh makhluk pada tingkat yang sangat tinggi.
Dan sekarang—
jejak energi itu ternyata berada di dalam tubuhnya.
Su Yang langsung teringat satu kemungkinan.
Kitab Pemurnian Tubuh Surgawi.
“Jadi teknik itu telah mengubah tubuhku sampai sejauh ini…”
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Jika benar, jalan kultivasinya di kehidupan ini mungkin akan melampaui kehidupan sebelumnya.
Tetua Sun menatapnya tajam.
“Apa yang kau lakukan pada jimatku?”
“Tidak ada.”
“Kau tahu kenapa warnanya berubah?”
“Tidak.”
Tetua Sun jelas tidak percaya.
Namun ia tidak memiliki bukti.
Sebelum percakapan berlanjut—
Bang!
Pintu terbuka.
Seorang wanita muda berambut hitam panjang masuk sambil membawa gulungan.
“Kakek! Aku menemukan sesuatu di Gerbang Ilahi!”
Langkahnya berhenti.
Tatapannya bertemu Su Yang.
Dan tanpa diketahui siapa pun, gulungan yang berada di tangannya akan membawa Su Yang menuju petunjuk terbesar sejak ia terlahir kembali di dunia ini.
......................
Bersambung...
udah tahu wajahnya saja bisa membuat para lelaki iri hati malah dengan sengaja mengajak semua wanita di rumah makan untuk bergabung dengan dia🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semoga dalam beberapa hari dekat ini akan ada lebih banyak atensi dan juga apresiasi untuk semua karyamu👍👍👍
karena sebelum ini ada beberapa novel yang seperti dihapus karena mungkin terdapat adegan yang tergolong vulgar
Aku berharap ini akan terus berlanjut sampai ceritanya benar-benar tamat