NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Pagi hari dengan sinar mentari yang menyinari sebuah rumah mewah kediaman Barenyah, sinar yang di antara beton megah bergaya romawi klasik.

Di ruang tamu, nampak suara menggelegar penuh amarah.

Lantai marmer seolah menjadi saksi akan amarah seorang Jendral Fadhil Barenyah, kaki Alina melangkah masuk karena dirinya baru saja di ciduk oleh anak buah sang ayah.

Mendengar jika tunangannya menghabiskan malam bersama Robert di hotel, Angga langsung membatalkan pertunangannya.

"Saya nggak akan mau ambil resiko, karena ini sudah menentang prinsip saya sebagai TNI. Saya akan melepaskan Alina Barenyah dan membiarkannya menikah dengan pria pilihannya," kata Mayor Angga Pratama.

Mayor Angga Pratama tadi pagi ke rumah, bicara di depan sang Jendral sembari memberikan kembali cincin pertunangannya.

Kini, Alina masuk ke dalam ruang tamu atas panggilan ayahnya, semalam dirinya menyerahkan jiwa dan raganya dalam dekapan hangat Robert.

Wanita ini paham akan kemana dirinya, Alina siap jika mendapatkan kemurkaan dari sang ayah.

Mayor Jendral Fadhil Barenyah, berdiri menanti putri bungsunya di ruang tamu---tangannya memegang stick golf selayak Algojo, hukum pancung.

Sang Jendral mengenakan pakaian kasual, baju polo warna merah dan celana panjang warna khaki----lengkap dengan topi golf warna krem yang menutupi kepalanya.

Fadhil baru saja menyelesaikan permainan golf pagi tadi bersama pejabat daerah, dan jajaran elite kementerian pariwisata.

Namun, dirinya akan memuntahkan segala macam amarahnya kepada putrinya---atas kecerobohannya membuat skandal di hotel bersama pria warga negara asing.

Meski begitu Robert mau menikahinya, untuk Fadhil dirinya masih tak terima karena ambisinya harus terhenti---anak dan cucunya harus dari kalangan militer.

Bukan dari kalangan orang biasa, meski itu adalah pejabat daerah.

Langkah kaki Alina memasuki ruang tamu, tubuhnya mengenakan kaos lengan pendek model crop top warna hijau tua di padukan kardigan rajut warna biru muda.

Bawahnya mengenakan celana kulot panjang warna hitam, rambutnya hitam panjang di biarkan terurai.

Baru saja gadis itu berdiri di depan ayahnya, tiba-tiba tangan sang Jendral terangkat lalu mendarat di pipi putrinya.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Alina, sangat keras.

Tamparan itu membuat tubuh Alina yang ramping dan tinggi semampai terhuyung, terjatuh di atas sofa warna krem yang empuk.

Rasa panas membakar pipinya, Alina terduduk meringkuk di atas sofa---telapak tangannya memegang pipinya yang terasa perih dan sakit.

Air mata tak bisa di tahan lagi, kini air mata itu mengalir deras melewati sela-sela jarinya.

Air mata sudah membasahi wajah cantiknya, kini di penuhi ketakutan dan batin yang hancur yang mendalam.

Pria paruh baya itu berdiri sambil sedikit membungkuk di hadapan putrinya yang sedang terisak oleh tangis, tangan kanannya nampak mengepal di sisi paha celana khakinya---terlihat akan amarah dan emosi yang terpendam.

Tangan kirinya bertumpu di pinggang dengan gestur dominasi militer yang kaku dan sarat akan titah yang mutlak.

"Anak gadis murah!!" teriak sang Jendral tepat di depan wajah Amina dengan napas memburu.

Terlihat tatapan Jendral Fadhil sangat jijik, dan seolah akan menghapus putrinya dari daftar kartu keluarga.

"Kamu pikir Papa nggak tahu dan bisa kamu bodohi! setelah kamu menyerahkan kehormatanmu pada pria asing keparat itu di hotel?!" desis Fadhil dengan nada menekan sarat akan amarahnya.

Alina terisak semakin keras, rasa sakit pipinya tak sebanding dengan hinaan yang keluar dari bibir sang ayah.

"Papa sudah mendapatkan konfirmasi resmi dari markas besar tadi subuh!" lanjut Jenderal Fadhil dengan suara yang sarat akan keputusasaan, dan rasa malu yang luar biasa besar sebagai seorang perwira tinggi.

Alina menatap ayahnya dengan derai air mata, lalu menggelengkan kepalanya---seolah dirinya menjadi korban akan catur ambisi sang ayah.

"Kabar jika Mayor Angga Pratama... tunangan resmimu yang terhormat itu, telah mengajukan pembatalan pertunangan protokoler kementerian secara sepihak! Dia sudah tahu semuanya, Alina! Dia tahu kamu tidur dengan Robert semalam! Dan dia memiliki semua bukti digital perselingkuhan!" marahnya, kepada Alina.

Mendengar nama Angga---Alina langsung merasa ada kelegaan yang menyusup di batinnya, tubuhnya kini masih bergetar ketakutan.

Alina merasa jika amarah sang ayah belum habis, dan sepertinya dirinya harus siap di pukuli---sampai lebam.

"Alhamdulilah ya allah...tolong ya allah bantu hambamu ini," ucapnya dalam hati.

Angga yang secara resmi membatalkan pertunangannya, seolah membebaskannya dari belenggu tali yang menyiksa akan jiwanya.

Namun, harga yang harus ia bayar untuk kebebasan itu ternyata teramat sangat mahal dan berdarah.

"Kamu sudah menghancurkan nama baik Papa di depan seluruh jajaran pejabat militer, Alina!" bisik Jenderal Fadhil dengan nada suara yang kini terdengar dingin, kosong, namun sarat akan ancaman yang mematikan batin.

Jendral Fadhil melangkah mundur, menatap kecut ke arah bingkai piagam penghargaan militer dan medali bintang jasanya di atas meja konsol kayu di latar belakang ruangan.

Kehormatan keluarga Barenyah yang di bangun dengan susah payah selama puluhan tahun, kini runtuh karena ulah putri bungsunya yang memiliki pilihannya sendiri.

"Pertunangan militer yang Papa persiapkan untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ini setelah kakakmu," ucap sang jendral dengan rasa kecewa yang mendalam.

Fadhil lalu pergi, sebelum itu dengan tarikan satu napas.

"Mulai detik ini, papa akan memutuskan hubungan denganmu. Kamu tak akan menjadi anak papa lagi," pungkas sang Jendral pergi meninggalkan Alina.

Sang Jendral pergi meninggalkan putrinya, menuju ruangan lain.

Alina dengan air mata masih terduduk sambil memegang pipinya yang merah, lalu dirinya bangkit menghapus air matanya dengan kasar.

"Oke Fadhil Barenyah, aku akan angkat kaki dari rumah ini," ujar Alina dengan penuh tekad, menuju kamarnya.

Dirinya akan merapikan baju-bajunya, dan segera pergi dari rumah yang menurutnya seperti sangkar emas ini.

Alina akan memulai hidup barunya bersama Robert, dirinya akan segera mengurus pernikahannya dengan Robert dan hidup di luar Negeri.

"Aku akan jadi wali kamu, kamu tak perlu khawatir...menikahlah dengan pilihanmu," ucap Fauzan---kakaknya Alina.

Alina sudah sangat muak, hingga dirinya akan pergi dari rumah ini.

Sungguh rasanya jika tak bisa menikah dengan Robert, lebih baik mati saja---menikah dengan Robert adalah jalan satu-satunya dirinya menempuh kebebasan dan keinginannya.

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
Putri Sabina: udah lanjut kak, sehari sekali yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!