Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si kecil
Xuan Han merasa kedinginan. Akar-akarnya berusaha tumbuh lebih dalam untuk mendapatkan kehangatan, namun rasanya hal itu hanya mampu membuatnya bertahan. Ketika badai salju tiba, tubuhnya bergoyang-goyang. Ia mendapati dirinya berteriak kesakitan saat beberapa dahannya terpotong. Tidak ada manusia, bahkan rumput yang tumbuh subur kini mati dalam timbunan salju tebal.
Musim dingin baginya adalah salah satu musim paling menyeramkan dan bisa merusak tanah. Ia kesulitan menemukan makanan. Itu juga menyebabkan beberapa luka pada dahannya. Xuan Han sering menggertakkan giginya menahan sakit, tapi ia tidak bisa berbuat banyak kecuali berusaha mencengkeram tanah.
Lalu, setelah musim dingin yang penuh badai dan awan tebal, akhirnya cahaya matahari terbit. Seluruh tubuhnya terasa dibasuh obat dan Xuan Han sangat menikmatinya. Salju-salju meleleh. Tanah menyerap air dan perlahan-lahan rumput mulai tumbuh lagi. Xuan Han juga kembali hidup dan mulai menumbuhkan dedaunan. Seiring waktu berlalu, daun-daunnya semakin banyak dan sudah waktunya berbunga.
Perlahan-lahan ia menumbuhkan bunga, dan bunga-bunga magnolia putih mekar memenuhi dahannya. Ia seperti seorang gadis yang dirias indah setelah banyak penderitaan yang dilaluinya.
“Aku adalah pohon dan sangat bahagia berhasil menumbuhkan bunga-bunga.”
Lambat laun kupu-kupu mulai datang. Para pengelana akhirnya mau menatapnya lama dan berteduh di bawahnya. Mereka bercakap-cakap sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Seorang gadis menyaksikan jatuhnya salah satu bunganya yang indah. Ia mengambil dan menatapnya sebentar, lalu akhirnya menyelipkannya di telinga. Setelah itu, kelompok tersebut berjalan kembali. Xuan Han menatap gadis itu, dan ia terlihat tertawa ketika berbicara dengan kelompoknya.
Kala hampir menuju pertengahan musim semi, kembali lagi sebuah kereta mewah datang dan berhenti. Kali ini yang menjadi kusirnya adalah seorang wanita yang langsing. Ia segera berdiri dan turun. Seorang wanita keluar dari kereta lalu menatap pohon di depannya. Perlahan-lahan ia turun dan mendekat. Menatap batang pohon itu sebentar, seperti mencari-cari sesuatu. Ia menghela napas setelah tidak menemukannya. Kemudian ia mendongak menatap hamparan bunga magnolia putih. Seluruh pandangannya dipenuhi bunga yang cantik dan langit biru cerah. Perlahan-lahan, ia menarik dua sudut bibirnya ke atas untuk tersenyum.
Wanita itu menghabiskan waktu sebentar di bawahnya sembari makan siang. Ia lalu berdiri.
“Nona...”
“Aku tahu.”
Wanita itu mengangkat tangannya. Tiba-tiba tubuh pohon itu bergetar dan Xuan Han merasa terkejut lalu ketakutan. Perlahan-lahan ada energi tak terlihat yang menggoyangkan pohon itu lalu mencabutnya. Pohon itu kemudian mengecil dan masuk ke cincin yang dikenakan wanita itu.
“Ayo kita pergi.”
Pelayannya mengangguk.
Kereta akhirnya kembali berjalan dan pohon satu-satunya yang ada di padang rumput itu telah hilang, meninggalkan bekas cekungan yang dalam. Sekarang hanya ada padang rumput yang luas tanpa apa pun lagi.
...----------------...
Xuan Han sadar. Ia berada di samping aula yang dikelilingi banyak pohon berbunga. Ia melihat ke sekeliling, bertanya mengapa ia bisa ada di sini dan kejadian tadi itu apa. Ada bangunan megah tidak jauh darinya.
Ia merasa lemas dan perlahan-lahan akar-akarnya mulai menancap ke tanah.
“Apa yang terjadi? Mengapa wanita itu membawaku ke sini?”
Ia mulai bertanya pada pohon-pohon yang ada di sana. Namun, tidak ada yang menjawabnya. Ia melihat pohon jeruk yang berbuah lebat dan pohon plum yang bunganya merah muda. Ada juga pohon persik di seberangnya. Dibandingkan Xuan Han, keindahan mereka setara dengannya. Ia kembali bertanya pada pohon-pohon di sana, namun tidak ada jawaban. Akhirnya ia menghela napas dan berusaha menenangkan diri.
Perlahan-lahan bunga-bunganya yang layu mulai segar dan daun-daunnya terangkat.
Keesokan harinya, lima orang datang membawa kursi dan meja. Salah satu di antara mereka memberi perintah. Ia banyak bicara, sepertinya menyuruh mereka bergerak cepat, "Lakukan dengan baik. Nyonya baru melahirkan, beliau akan berkunjung pada hari ini, lakukan dengan baik. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun."
Setelah satu jam, akhirnya kursi dan meja berhasil ditata di bawah pohon magnolia. Lalu aula itu menjadi sepi. Dua pelayan lewat pada siang harinya. Salah satunya berkata, “Nyonya sudah melahirkan. Tuan Muda itu pasti sangat tampan seperti ayah dan ibunya. Aku tidak sabar melihatnya tumbuh.”
“Tuan Muda Xuan... Ah, pasti banyak gadis yang akan mau bersamanya. Menurutmu jika nanti dia besar, maukah dia menikah denganku?”
“Mustahil! Jangan berharap seperti itu. Kamu pasti sudah tua ketika Tuan Muda dewasa.”
Gadis di sampingnya agak marah, memegang erat kain di tangannya lalu mendengus, “Huh, setidaknya sebagai teman kamu mendukungku. Aku selalu menolongmu, kamu jahat sekali.”
Mereka berjalan menjauh dan akhirnya masuk ke sebuah bangunan dan tidak terlihat lagi.
“Tuan Muda Xuan...”
Ia merenung sebentar. Sepertinya ia akrab dengan nama itu, tapi ia adalah sebuah pohon, dan pohon tidak perlu nama. Perlahan-lahan ia mengabaikannya.
Ada tawon yang berkunjung, begitu juga lebah-lebah yang berusaha meminang bunga-bunganya. Lalu pada sore harinya, seorang wanita bergaun kuning datang menggendong bayi sembari bersenandung. Ia berhenti menatap pohon magnolia itu, lalu duduk di bawahnya. Angin musim semi berembus. Bayi di tangannya tertidur, tapi tidak lama kemudian tiba-tiba terbatuk dan menangis. Wanita itu berdiri, menggoyangkan tubuhnya agar sang bayi tenang. Namun, tampaknya hal itu agak sulit. Melihat keadaan sekitar yang sepi, akhirnya ia duduk, membuka sedikit gaun di dadanya, dan membiarkan bayi itu mengisap buah dadanya. Wanita itu menatapnya, begitu juga bayi kecil itu. Lalu, wanita itu tersenyum.
Tiga hari kemudian, wanita yang membawanya datang. Ia menatapnya, lalu melihat kulit pohon itu. Wanita itu mengeluarkan koin dan mulai menulis dua aksara yang berbunyi 'angin malam', lalu berlari pergi. Xuan Han mengumpat. Ia benci wanita itu.
Waktu dengan cepat berlalu. Musim semi berakhir digantikan musim panas, lalu gugur, dan pada akhirnya musim dingin.
Tempat ini jauh lebih baik daripada di hutan. Meski pohon-pohon di sekitar tidak mau berbicara, beberapa tukang kebun sering memberikan nutrisi dan menjaga kesehatannya, sehingga terasa sangat nyaman.
Sehingga tanpa terasa empat tahun pun berlalu.
Selama waktu itu, sang wanita sering berkunjung. Si kecil perlahan-lahan tumbuh besar. Ia sering merangkak dan menatap pohon magnolia itu; menatapnya beberapa saat seperti memikirkan sesuatu, kemudian tertawa. Perlahan-lahan ia belajar bicara dan berjalan.
Pada suatu hari, Tuan Muda kecil ini berdiam di bawah pohon, dan tangannya digenggam oleh Kakak pelayan. Ia menatap pohon magnolia ini dari atas hingga ke bawah, lalu mendongak menatap kakak yang memegang tangannya.
“Kakak Yu, pohon-pohonnya indah.”
“Betul sekali. Tuan Muda suka dengan bunga?”
“Benarkah pohon ini dibawa oleh Kakak dan Kakak sendiri yang mencabutnya?”
“Kakak Anda? Tentu saja, dia sudah mencapai tahap spiritual tingkat tiga. Itu dengan mudah dilakukan. Lihat, di kulit pohonnya ada potongan puisi. Itu pasti dari kakak Anda.”
“Angin malam...” Si kecil membacanya dari jarak jauh.
“Tuan Muda bisa membacanya? Anda pintar sekali.”
“Itu hanya dua huruf, jadi mudah dibaca. Aku belum hafal tiga ribu huruf itu.”
“Jadi Anda tidak tahu arti-arti yang lain? Seperti yang ada di pohon jeruk, plum, dan persik itu?”
Tuan Muda melihatnya dan menggeleng. “Kakak Yu, aku tidak pandai membacanya.”
“Sini, biar Kakak yang membacanya.” Kakak Yu kemudian menarik tangannya hingga mendekat ke pohon persik dan membiarkan si kecil mengamati aksara yang ada di sana. Anak itu memperhatikannya sebentar, lalu menatap gadis di sampingnya.
"Ini artinya, 'Ketika musim semi, angin berembus dari selatan.' Lalu sambungannya mungkin tulisan yang ada di pohon magnolia itu yang berarti, 'angin malam.' Lalu aksara selanjutnya ada di pohon persik, artinya kurang lebih seperti ini, 'hidungku tanpa aroma mengisap seluruh udara, memejam mata berharap kelak menjadi bunga.' Dan puisinya ditutup dengan kalimat yang ada di pohon plum: 'tapi saya tidak pernah menjadi bunga, hanya pohon plum yang bisa.'"
“Tuan Muda, dengarkan ini:
Ketika musim semi, angin berembus dari selatan
Angin malam
Hidungku tanpa aroma mengisap seluruh udara, memejam mata berharap kelak menjadi bunga.
Tapi saya tidak pernah menjadi bunga, hanya pohon plum yang bisa."
“Tuan Muda, bisa saja urutannya seperti ini:
Angin malam
Ketika musim semi, angin berembus dari selatan
Hidungku tanpa aroma mengisap seluruh udara, memejam mata berharap kelak menjadi bunga.
Tapi saya tidak pernah menjadi bunga, hanya pohon plum yang bisa."
“Kakak sering membalik kalimatnya selama melewati taman. Mungkin kakak Anda memang menulis ini agar ketika bunga-bunga ini tidak berbunga, ada beberapa orang yang masih memperhatikannya dengan cara seperti ini.”