NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 08

Mencari alamat ayah Bram ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Sabtu pagi itu, Karina dan Bram menghabiskan hampir dua jam berkeliling kampung sebelah, bertanya pada tetangga demi tetangga sampai akhirnya seorang bapak penjual rokok mengenali nama yang mereka sebuktkan.

"Oh si Herman? Dia sekarang ngekos digang belakang pasar, deket warung Bu Inem." Kata bapak itu sambil menunjuk arah dengan dagunya.

"Tapi hati jati, orangnya suka mabuk mabukan, apalagi kalo lagi kepepet duit." Lanjutnya lagi.

Karina dan Bram saling pandang sejenak sebelum melangkah kearah yang ditunjuk, hati keduanya dipenuhi ketegangan yang berbeda.

Karina dengan tekad yang mencobaa ia jaga tetap kuat dan Bram dengan campuran antara rasa takut, marah dan sesuatu yang lebih rumit lagi.

Kos kosan itu sederhana, temboknya kusam dengan cat yang mengelupaas dibeberapa sudut.

Mereka menemukan kamar nomor tiga pintunya sedit terbuka, dengan suara radio tua yang menyalaa pelan dari dalam.

Bram mengetuk pintu itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Siapa?" Suara serak dari dalam menyahut, sebelum pintu itu terbuka lebih lebaar, menampakkan sosok ayah Bram yang terlihat lebih kacau dari terakhir kali mereka bertemu digerbang sekolah.

Rambutnya acak acakan, matanya merah dan bau alkohol langsung tercium begitu pintu terbuka.

"Lah, Bram?" Katanya terkejut, lalu matanya betalih kearah Karina. "Sama pacarnya lagi, ada apa nih tiba tiba dateng kesini?"

"Kita harus bicara." Ucap Bram dengan suaranya berubah tegas meski Karina bisa merasakan getaran kecil dibaliknya.

"Bicara apa? Kalo soal duit kemarin, bapak masih belum dapet—"

"Ini bukan soal ngasih duit." Potong Bram cepat. "Ini soal bapak nyelesain sendiri masalah utang bapak, bukan malah lempar kesaya."

Herman sang bapak Bram mendengus, menyandarkan tubuhnya kekusen pintu. "Gampang ngomong, lo pikir kalo gampang bapak bakal mintak ke lo?"

"Orang orang suruhan bapak dateng kerumah, ngancem nenek." Ucap Bram dengan suara mulai meninggi.

"Nenek yang udah sakit sakitan, yang bapak sendiri nggk pernah nengokin selama belasan taun ini, sekarang harus nanggung ketakutan gara hara utang bapak. Itu adil menurut bapak?"

Herman terdiam sejenak, ada sekilas rasa bersalah yang lewat diwajahnya sebelum kembali tertutup topeng defensif yang biasa ia pakai.

"Bapak juga nggk minta hidup bapak jadi begini. Sejak nyokap lo minta cere, semuanya jadi berantakan. Bapak kehilangan kerjaan, kehilangan tempat tinggal, kehilangan segalanya."

"Dan solusinya bapak malah lari kejudi sama miniman?" Bram membalas dengan tajam. "Bukannya mencoba benerin diri malah nambah masalah baru?"

Karina yang sejak tadi diam mengamati akhirnya memutuskan untuk ikut bicara, mencoba meredakan suasana yang mulai memanas sebelum berubah menjadi pertengkaran yang tidak produktif.

"Pak." Ucapnya, suaranya tenang tapi tegas. "Kami tidak kesini untuk menyalahkan bapak saja, kami kesini untuk mencari solusi. Tapi solusinya tidak bisa terus terusan dibebankan kepada Bram yang bahkan tidak ada hubungannya dengan hutang itu."

Herman menatap Karina lama, seperti menilai apakah gaids didepannya ini serius atau sekedar ikut campur urusan yang bukan miliknya.

"Trus solusi apa yang lo tawarin?" Tanyanya dengan nada sinis yang terselipakan disuaranya.

"Bapak harus tanggung jawab sendiri." Jawab Karina. "Kalau memang butuh bantuan lunasin hutang, mungkin ada program bantuan sosial atau kerja serabutan uang bisa dicicil."

"Tapi bukan dengan cara mengancam anak bapak sendiri, apalagi sampai membuat dia jampir ikut pertarungan ilegal agar dapat menutupi kesalahan bapak."

Kalimat terakhir itu membuat Herman tersentak. "Pertarungan ilegal? Lo mau iku pertarungan ilegal?"

"Iya." Jawab Bram getir. "Karna saya nggak punya pilihan lain buat lunasin hutang bapak sebelum orang orang itu bikin maslah lebih besar lagi dirumah."

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, ekspresi herman benar benar berubah, bukan lagi defensif atau sinis, melainkan seperti penyesalan yang jarang sekali ua tunjukkan.

"Bram..."Ucapnya dengan suara yang melembut. "Bapak nggak pernah maksud bikin lo sqmpe kayak gitu."

"Tapu itu yang kejadian, pak." Bram menatap bapaknya dengan mata yang mulai berkaca kaca meskipun ia berusaha keras menahannya.

"Selama ini saya selalu mikir, mungkin suatu hari bapak bakal berubah, bakal balik jadi bapak yang seharusnya. Tapi tiap kali bapak dateng, yang adda cuma masalah baru. Saya capek pak, sangat capek."

Herman terdiam lama sambil menatap anaknya yang kini sudah jauh lebih yinggi dari terakhir kali ia benar benar memperhatikannya.

Jauh lebih dewasa dari usianya yang seharusnya karna keadaan yang memaksannya begitu.

"Bapak tau bapak bukan bapak yang baik." Ucapnya dengan suara yang bergetar. "Bapak tau bapak udah ngerusak banyak hal. Tapi bapak nggk tau harus mulai darimana lagi buat benerin semuanya."

"Bapak bisa mulai dari berhenti membuat masalah baru." Sahut Karina dengan suara tegas tapi tidak kasar.

"Pak, kalau memang beneran ingin berubah, langkah pertamanya adalah berhenti merusak diri anda sendiri dulu. Berhenti minum, mencari pekerjaan yang stabil, dan yang paling penting jangan pernah libatkan Bram dalam masalah yang bapak buat sendiri."

...----------------...

Percakapan itu berlangsung lebih dari satu jam, dengan emosi yang naik turun, kadang penuh amarah yang tertahankan bertahun tahun, kadang penuh dengan keheningab canggung.

Sampai akhirnya Herman dengan mata yang basah dan suara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya, berjanji untuk mengurus hutangnya sendiri, meski Karina dan Bram sama sama tau janji itu belum tentu bisa dipegang sepenuhnya.

"Saya nggak akan maafin bapak gitu aja." Ucap Bram sebelum mereka pergi dengan suaranya yang masih dingin meskipun tidak sekeras sekeras sebelumnya.

"Tapi saya akan kasih bapak satu kesempatan buat buktiin ucapan bapak barusan. Cuma satu."

Herman mengangguk pelan, matanya menatap anaknya dengan tatapan yang untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu terlihat benar benar tulus. "Itu udah lebih dari cukup dari yang bapak layak dapetin."

...----------------...

Dalam perjalanan pulang, Bram berjalan dalam diam untuk waktu yang lama, pikirannya jelas masih bergulat dengan segala emosi yang barusaja ia lepaskan.

"Kamu nyesel nggak tadi ngomong sekeras itu kebapak kamu?" Tanya Karina memecahkan keheningan mereka.

Bram menggeleng pelan. "Nggak, gue malah ngeras.... lebih ringan, entah kenapa. Kayak akhirnya gue akhirnya bisa ngeluarin semua yang selam ini gue pendem."

"Itu bagus." Ucap Karina sambik tersenyum kecil.

"Al.." Bram berhenti melangkah dan menatap Karina lekat lekat. "Thanks ya, bukan cuma buat hari ini, tapi buat semuanya. Lo nggk pernah nyerah bantuin gue, padahal gue bahkan nggk pernah minta."

"Karna aku perduli sama kamu." Jawabnya sederhana meskipun dibalik kesederhanaan iyu tersimpan perasaan yang jauh lebih rumit dari yang bisa ia ungkapkan. "Dan karna aku juga percaya kamu pantes dapetin hidup yang lebih baik dari ini semua."

Bram menatapnya lama, sebelum akhirnya tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali muncul diwajahnya, tapi begitu tulus hingga membuat dada Karina tersa hangat sekaligus perih pada saat yang bersamaan.

...----------------...

Malam harinya layar tembus pandang muncul lagi dicamar Karina.

[Pembaeuan status.]

[Poin Kehidupan: 2.200 / 100.000.]

[Poin besar diberikan atas keberhasilan mendorong konfrontasi yang membuka jalan menuju pemulihan hubungan keluarga yang telah lama rusak.]

[Catatan: meskipun hasil akhir dari perubahan sabg ayah belum dapat dipastikan, langkah ini menjadi fondasi penting bagi definisi akhir bahagia subjek yang lebih utuh. Mencakup pemilihan, bukan sekedar pelarian dari masa lalu.]

Karina tersenyum lega membaca pembaruan itu, meaki disudut hatinya masih ada kekhawatiran tentang apakah Herman benar benar berubah atau hanya akan kembali kekebiasaan lamanya begitu tekanann mereda.

"Yang penting sekarang Bram udah berani menghadapi masa lalunya. Itu langkah besar, apapun hasilnya nanti sama bapaknya." Pikirnya.

Ia merebahkan dirinya dikasurnya, merasa lelah secara emosional tapi juga lega.

Namun jauh didalam lubuk hatinya, ia tau perjalanana ini masih jauh dari kata selesai, dan bahwa ujian yang lebih besar yang menyangkut hatinya sendiri sedang menunggu didepan.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!