Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kesalahpahaman
Kirana menyadari bahwa merahasiakan rencana pertemuannya dengan Fajar dari Raka bukanlah keputusan yang bijak, meski ia belum menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan situasi rumit ini tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Namun sebelum ia sempat mengumpulkan keberanian untuk bicara jujur, Raka sudah lebih dulu mendengar kabar itu dari sumber yang tidak terduga.
"Aku dengar kau bertemu mantan tunanganmu minggu lalu," Raka berkata suatu sore, nada suaranya terdengar berusaha netral namun jelas menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Mereka sedang duduk di teras rumah keluarga Wijaya, momen yang biasanya hangat kini terasa canggung.
Kirana merasakan jantungnya berdebar kencang, kaget mendengar Raka sudah tahu. "Dari mana kau dengar itu?"
"Kota ini kecil, Kirana," Raka menjawab, matanya menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata langsung. "Seorang perawat di rumah sakit kebetulan melihat kalian berdua di kedai kopi, dan tidak butuh waktu lama bagi gosip untuk menyebar."
"Raka, aku bisa jelaskan—"
"Kenapa kau tidak cerita padaku?" potong Raka, nada suaranya kini menunjukkan kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Kita sudah membicarakan soal hubungan kita, soal membangun sesuatu yang serius bersama. Tapi kau diam-diam bertemu mantan tunanganmu tanpa bilang apa-apa padaku?"
Kirana merasakan rasa bersalah membebani dadanya, meski ia tahu situasinya jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan. "Aku seharusnya cerita padamu, kau benar. Tapi ini bukan seperti yang kau pikirkan, Raka. Aku bertemu dengannya bukan untuk membuka kembali hubungan lama."
"Lalu untuk apa?" Raka akhirnya menatapnya, matanya penuh pertanyaan yang menuntut jawaban jujur.
Kirana menghela napas panjang, menyadari inilah saatnya untuk benar-benar terbuka, meski informasi yang akan ia bagikan cukup sensitif. "Fajar menghubungiku lagi setelah delapan tahun. Awalnya aku pikir dia hanya ingin penutupan yang layak atas cara aku mengakhiri hubungan kami dulu. Tapi setelah bertemu, aku dan Sari menemukan bahwa dia sebenarnya bekerja untuk perusahaan investasi yang berencana mengakuisisi bisnis keluarga kami, bekerja sama dengan Ratna."
Ekspresi Raka berubah drastis mendengar penjelasan itu, dari kecewa menjadi terkejut. "Jadi ini soal bisnis, bukan soal perasaan lama?"
"Awalnya aku juga tidak yakin," Kirana mengakui. "Tapi setelah menemukan koneksi dengan Ratna, aku dan Sari memutuskan aku perlu bertemu dengannya lagi minggu depan, untuk mencari tahu lebih jauh soal rencana mereka. Ini bukan soal romansa, Raka. Ini soal melindungi keluargaku."
Raka terdiam sejenak, mencerna seluruh informasi baru itu. "Kenapa kau tidak cerita ini semua dari awal? Aku bisa saja membantu, atau setidaknya mengerti situasinya dengan lebih baik."
"Aku takut," Kirana mengakui jujur. "Takut kau akan salah paham, takut ini akan merusak hubungan kita yang baru saja mulai berkembang dengan indah. Ironisnya, ketakutan itu sendiri yang justru menciptakan kesalahpahaman ini."
Kata-kata itu, meski jujur, membuat Raka merenung dalam diam. "Kau tahu, keluargamu baru saja belajar betapa berbahayanya menyimpan rahasia, sekecil apa pun alasannya. Aku kira kau akan menerapkan pelajaran itu juga dalam hubungan kita."
Kirana merasakan sindiran halus itu menohok tepat sasaran. "Kau benar. Aku minta maaf, Raka. Aku seharusnya lebih terbuka sejak awal, bukan menunggu sampai kau mendengar dari orang lain."
Raka menghela napas panjang, amarahnya perlahan mereda menjadi sesuatu yang lebih menyerupai kelelahan emosional. "Aku mengerti situasinya rumit, Kirana. Dan aku percaya kau tidak berniat menyembunyikan ini dengan maksud jahat. Tapi aku butuh kau untuk lebih terbuka ke depannya, terutama soal hal-hal yang bisa memengaruhi kita berdua."
"Aku janji," Kirana menjawab tulus, menggenggam tangan Raka yang masih terasa sedikit kaku. "Tidak akan ada lagi rahasia semacam ini di antara kita."
Mereka duduk dalam keheningan yang canggung untuk beberapa saat, mencoba menemukan kembali kenyamanan yang sempat terganggu oleh kesalahpahaman ini.
"Soal pertemuanmu minggu depan dengan Fajar," Raka akhirnya berkata, suaranya lebih tenang. "Aku tidak bisa berpura-pura tidak khawatir. Tapi aku percaya padamu, Kirana. Dan aku mengerti ini penting untuk melindungi keluargamu."
"Terima kasih sudah percaya padaku," Kirana menjawab lega, meski masih ada sedikit ketegangan yang tersisa di antara mereka. "Aku janji akan cerita semuanya setelah pertemuan itu, tanpa menyembunyikan apa pun."
Malam itu, setelah Raka pulang dengan suasana hati yang masih sedikit berat meski sudah lebih baik dibanding awal percakapan mereka, Kirana duduk sendirian merenungkan betapa rapuhnya kepercayaan yang baru saja mereka bangun. Ia menyadari bahwa membangun kembali hubungan, baik dengan keluarga maupun dengan orang yang ia cintai, membutuhkan komitmen konsisten pada kejujuran—bukan hanya dalam momen-momen besar, tapi juga dalam detail-detail kecil yang mudah diabaikan.
Ponselnya bergetar, pesan dari Fajar mengonfirmasi waktu dan tempat pertemuan mereka minggu depan. Kirana menatap pesan itu dengan perasaan yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya—kini bercampur dengan tekad untuk melindungi keluarganya, kewaspadaan terhadap manipulasi yang mungkin sedang berlangsung, dan komitmen baru untuk tetap jujur pada Raka, apa pun hasil dari pertemuan itu nantinya.
Ia meletakkan ponselnya, menatap keluar jendela kamar yang menampilkan pemandangan malam kota yang tenang. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Raka sore tadi, pada bagaimana kejujuran, meski awalnya terasa canggung dan menyakitkan, ternyata justru memperkuat fondasi hubungan mereka alih-alih meruntuhkannya.
Keesokan paginya, Kirana bangun dengan tekad yang lebih jelas. Ia menghubungi Sari untuk memberi kabar bahwa Raka sudah mengetahui seluruh situasi, dan bahwa hubungan mereka tetap solid meski melalui ujian kesalahpahaman semalam.
"Aku senang mendengar itu," Sari menjawab lega di telepon. "Hubungan yang bisa bertahan melalui kejujuran yang sulit biasanya menjadi hubungan yang paling kuat."
"Aku belajar itu dari kalian semua," Kirana menjawab tulus, teringat pada perjalanan panjang keluarganya menuju kejujuran yang telah menjadi pelajaran berharga bagi caranya menjalani setiap hubungan dalam hidupnya sekarang, baik dengan keluarga maupun dengan orang yang ia cintai.
Hari-hari menjelang pertemuan dengan Fajar berlalu dengan campuran kesibukan mempersiapkan strategi dan momen-momen kecil kebersamaan dengan Raka, yang meski masih menyimpan sedikit kekhawatiran, memilih untuk mendukung Kirana sepenuhnya dalam menghadapi tantangan yang akan datang.
Setiap sore, Raka menyempatkan diri mampir ke rumah keluarga Wijaya, tidak hanya untuk memeriksa kondisi Bapak, tapi juga untuk memastikan Kirana tidak menghadapi persiapan yang melelahkan itu sendirian. Kehadirannya yang konsisten, meski tanpa banyak kata, memberi Kirana rasa aman yang ia butuhkan menjelang pertemuan yang penuh ketidakpastian itu.
"Aku ingin kau tahu," Raka berkata suatu sore ketika mereka duduk berdua di teras, "meski aku masih merasa sedikit tidak nyaman dengan situasi ini, aku lebih mengkhawatirkan keselamatanmu dibanding hal lainnya. Berjanjilah untuk selalu waspada."
"Aku janji," Kirana menjawab, menyandarkan kepalanya di bahu Raka sejenak, menikmati ketenangan yang jarang mereka rasakan di tengah kesibukan yang mendominasi hari-hari mereka belakangan ini.
---
*Bersambung ke Bab 31...*