NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 — Kehangatan Ayah-Anak dan Bayangan Masa Lalu

Larasati berdiri dengan rekam medis di satu tangan dan pesan es krim di tangan lain. Raka memilih pulang kepada seorang anak yang belajar bahwa makanan hangat tidak harus ditebus dengan rasa takut.

"Ayah, telurnya gosong."

Sasa duduk di meja kecil kontrakan, mengawasi Raka membalik telur dadar. Satu sisinya memang terlalu cokelat karena ia menjawab pesan klien selama beberapa detik.

"Namanya karamelisasi," kata Raka.

"Bu Nani bilang namanya gosong."

"Bu Nani terlalu jujur."

Sasa tertawa. Nindya, yang sedang memotong pepaya di dekat pintu terbuka, menahan senyum. Ia semakin sering datang pada jam makan, tetapi Raka selalu menghitung bagiannya dalam belanja bersama. Tak ada makan malam yang dibiarkan berubah menjadi utang tak bernama.

Setelah sarapan, Dinas Sosial menyelesaikan kunjungan mingguan. Petugas memeriksa catatan kesehatan, ruang tidur, jadwal kerja, dan kondisi emosi Sasa. Tidak ada pelanggaran. Pengasuhan sementara dilanjutkan sampai evaluasi berikutnya.

Siang hari, Raka menyalakan live untuk membahas cara menghitung biaya mural. Kamera hanya mengarah ke meja dan tangannya. Sasa duduk di luar bingkai dengan buku gambar; identitas serta latar perlindungannya tidak dibahas.

Komentar mengalir cepat.

Harga segitu cuma semen sama cat. Tukang kampung juga bisa.

Raka baru hendak menjawab ketika suara Sasa masuk dari samping.

"Kalau gampang, Om itu bikin sendiri saja. Kenapa marah sama Ayah?"

Komentar dipenuhi tanda tertawa.

"Sasa," tegur Raka lembut, "orang boleh bertanya."

"Dia tidak tanya. Dia bilang Ayah bohong."

"Kalau begitu kita jawab dengan angka, bukan marah."

Raka menuliskan biaya bahan, luas, tenaga, perlindungan lokasi, desain, pengujian, pajak, dan garansi pada papan. Sasa menghitung lingkaran biaya memakai pensil warna. Penonton menyebutnya asisten kecil.

"Bukan asisten," kata Sasa. "Aku bos kecil."

Nama Bos Cilik Sasa langsung melekat di kolom komentar. Raka membiarkannya hanya sebagai panggilan siaran, tanpa membuka wajah atau kisah masa lalunya.

Seusai live, jumlah pesan pesanan bertambah. Namun satu pesan tidak membahas karya.

Akun itu memakai foto aula lama rumah keluarga Wijaya. Tidak ada nama asli.

Jangan menjual cerita seolah kau dibuang tanpa alasan. Bu Marlina sudah menerima hasil laboratorium sebelum mengusirmu. Penerus yang ia pilih sudah kembali. Liontin itu pun bukan bukti kau berhak memakai nama Wijaya.

Raka membaca kalimat tersebut sampai layar meredup.

Ia tidak pernah menyebut liontin di siaran.

Informasi itu hanya diketahui sedikit orang dari rumah lama, termasuk perempuan tua dari rumah sakit yang menyerahkan liontin kepadanya pada malam pengusiran.

Raka mengambil tangkapan layar, menyalin tautan akun, lalu mengunduh data pesan sebelum membalas.

Hasil laboratorium apa? Dan dari mana Anda tahu soal liontin?

Pesan tidak terkirim. Akun itu telah menghilang.

Nindya melihat wajah Raka berubah. "Ada masalah?"

Raka menunjukkan tangkapan layar, tetapi menutup bagian informasi pengguna Sasa yang masih terlihat pada notifikasi lain.

"Bu Marlina ibu yang membesarkan Mas?"

"Dulu. Ia mengusir saya saat kuliah dan mengatakan saya bukan darahnya. Beberapa waktu sebelumnya, saya ingat ada amplop laboratorium di ruang kerja. Saya tidak pernah melihat isinya."

"Lalu siapa penerus yang dipilih?"

"Seorang pemuda yang tiba-tiba tinggal di kamar saya. Setelah saya pergi, ia mengambil tempat saya di keluarga Wijaya."

"Mas pernah mencari tahu?"

Raka menatap Sasa yang sedang memberi warna pada tulisan Bos Cilik. "Saat itu saya sibuk bertahan hidup. Setelah menikah, saya sibuk mempertahankan keluarga yang tidak pernah benar-benar menjadi milik saya."

Nindya tidak menawarkan investigator, uang, atau akses basis data yang sebenarnya dapat ia buka dalam sehari. Ia hanya berkata, "Sekarang Mas sudah mulai punya ruang untuk bertanya."

Ketukan keras terdengar. Bagas masuk membawa kotak material dan nyaris bertabrakan dengan seorang perempuan yang datang dari arah berlawanan.

"Hei, lihat jalan," kata perempuan itu.

"Lo yang berdiri di tengah pintu."

"Saya membawa dokumen bisnis. Anda membawa batu berdebu ke rumah yang ada anaknya. Setidaknya tutup kotaknya."

Bagas menatap blazer kasual, tablet, dan map Kirana di tangannya. "Mbak siapa, satpam debu?"

"Prita. Koordinator lepas untuk acara Kirana." Ia beralih kepada Raka dengan senyum profesional. "Pak Raka, saya membawa revisi kontrak sesuai catatan Anda."

Bagas memindahkan kotak ke luar lalu menyeka tangannya. "Bagas. Pemasok batu, bukan pembawa penyakit."

Prita melirik debu pada lengannya. "Perbedaannya belum terlihat."

Sasa menutup mulut agar tawanya tidak terdengar.

Raka menerima kontrak. Ketentuan keselamatan, pembayaran pajak, dan batas hak tayang telah direvisi. Ia belum menandatangani; dokumen tetap akan diperiksa Pengacara Wisnu.

Bagas melihat logo Kirana. "Restoran langit itu memilih Raka? Selera mereka ternyata lumayan."

"Tim kurasi memilihnya tanpa nama," kata Prita. "Bukan karena teman berisiknya."

"Gue belum bilang apa-apa soal seleksi."

"Wajah Anda sudah bilang banyak."

Pertengkaran kecil berlanjut sampai Prita berpamitan. Bagas berdiri di pintu, menatap perempuan itu menaiki ojek online yang sudah menunggu.

"Koordinator lepas galak sekali," gumamnya.

Nindya menunduk agar tak terlihat tersenyum. Prita tidak tahu Bagas dibesarkan keluarga Adiwangsa. Bagas juga tidak tahu perempuan yang baru mengejek debunya adalah tangan kanan direktur utama Wibisana.

Setelah Bagas pergi, Sasa hendak memindahkan gelas air kuas dan tanpa sengaja menumpahkannya ke sketsa pesanan. Wajah kecilnya seketika pucat. Ia menjatuhkan tubuh ke lantai, kedua tangan melindungi kepala.

"Maaf, Ayah. Jangan pukul. Sasa tidak makan juga tidak apa-apa."

Raka segera meletakkan kuas dan berjongkok tanpa menyentuhnya. "Lihat Ayah. Air bisa dikeringkan. Kertas bisa diganti. Tidak ada makan malam yang dicabut."

Sasa menurunkan tangan perlahan. Raka memberinya kain, lalu mereka membersihkan meja bersama. Bagian sketsa yang terkena air berubah menjadi noda biru. Raka mengambil pensil dan mengubah noda itu menjadi awan.

"Kesalahan kadang bisa diperbaiki," katanya. "Kalau tidak bisa, kita membuat ulang."

Nindya berdiri di pintu dengan kantong sayur. Matanya memerah, tetapi ia tidak membuat momen itu tentang dirinya. Ia hanya masuk, menggulung lengan baju, dan membantu mengeringkan lantai.

Raka mencatat respons trauma tersebut dalam buku pengasuhan dan mengirim laporan singkat kepada pekerja sosial. Cinta tidak menggantikan penanganan profesional; keduanya harus berjalan bersama.

Malamnya, setelah Sasa tidur di balik partisi, Raka mengeluarkan liontin giok. Ujung jarinya mengikuti ukiran naga dan tulisan yang terputus.

Semoga putraku...

Marlina mengetahui hasil laboratorium. Seseorang di rumah Wijaya mengetahui liontin. Seorang penerus telah disiapkan sebelum Raka benar-benar diusir.

Untuk pertama kalinya, semua pecahan itu tidak terasa seperti kebetulan terpisah.

Raka memotret liontin dari enam sisi, menyimpan berkas terenkripsi, lalu menulis satu pertanyaan di bawah tangkapan layar pesan:

Apa alasan sebenarnya keluarga Wijaya membuangku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!