NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.

Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.

Seharusnya ia ikut kabur.

Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.

“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”

Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Menjelang siang, Sebastian akhirnya datang. Elena turun ke lantai bawah dan menemukan pria itu sudah berdiri di ruang tamu, menunggunya dengan tenang.

"Aku pikir kau baru akan datang sore nanti," sapa Elena.

"Pekerjaanku selesai lebih cepat." Sebastian memandangnya dari atas sampai bawah, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kau sudah siap?"

Elena mengangguk. "Siap."

Mereka berjalan keluar bersama menuju mobil. Namun sebelum Elena masuk ke dalam mobil, ia tiba-tiba teringat pesan misterius yang diterimanya tadi pagi.

"Sebastian."

"Hm?" Pria itu berbalik menatapnya.

"Aku boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu saja."

"Hotel Grand Palace itu... apakah kau ada urusan di sana besok?"

Sebastian mengerutkan kening, bingung. "Hotel Grand Palace?"

"Iya."

"Aku tidak ada acara apa pun di sana." Sebastian menatapnya heran. "Kenapa? Ada apa?"

Elena tersenyum lega sekaligus bingung. "Tidak apa-apa. Hanya bertanya saja." Ia memutuskan untuk tidak menceritakan pesan itu dulu. Belum saatnya.

Mereka pergi ke sebuah restoran tenang untuk makan siang. Elena duduk berhadapan dengan Sebastian, memperhatikan pria itu yang sedang sibuk membaca menu.

"Sebastian."

"Hm?" Ia mengangkat wajah.

"Kalau makan malam keluarga besok, siapa saja yang akan datang?"

"Orang tua kita. Beberapa kerabat dekat."

"Elena juga akan datang?"

Sebastian mengangkat alis. "Kau?"

Elena tertawa kecil. "Maksudku... Isabella."

Sebastian langsung meletakkan menunya di atas meja, tatapannya berubah sedikit lebih dingin. "Tidak."

"Kenapa?"

"Itu makan malam keluarga kita saja."

Elena mengangguk pelan. "Oh, begitu."

Sebastian menatapnya lekat. "Kau khawatir dia akan datang?"

"Tidak kok."

"Benarkah?"

Elena tersenyum. "Aku hanya bertanya saja."

Sebastian tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun beberapa saat kemudian, tangannya bergerak menyilang meja dan menggenggam tangan Elena yang tergeletak di atas meja. Elena terkejut, matanya membelalak.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tidak apa-apa."

"Lalu kenapa pegang tanganku?"

Sebastian menjawab dengan santai, seolah hal itu adalah hal yang paling wajar di dunia. "Karena aku mau."

Elena menahan senyum yang ingin merekah. "Dasar kamu..."

***

Sore menjelang malam. Setelah mengantar Elena pulang, Sebastian masih berdiri di depan pintu rumahnya, berbincang sejenak.

"Besok aku akan datang menjemputmu," ucapnya pelan.

"Untuk makan malam keluarga?"

"Iya."

Elena mengangguk. "Baik. Aku akan menunggumu."

Sebastian hendak berbalik pergi, namun Elena tiba-tiba memanggil namanya. "Sebastian!"

Pria itu berhenti dan menoleh. "Ya?"

Elena tersenyum lembut. "Besok kita masih tunangan."

"Hm."

"Lusa sudah jadi suami istri."

Sebastian tersenyum kecil. "Benar."

"Cepat sekali ya..."

"Menyesal?" tanyanya setengah bercanda.

Elena langsung menggeleng mantap. "Tidak sama sekali.. Malah bagus!"

Elena berdiri di ambang pintu, menatap sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.

Malam itu, ponsel Elena kembali berdering. Pesan baru dari nomor misterius itu. Besok pukul tiga sore. Hotel Grand Palace. Tak lama kemudian muncul pesan kedua: Kalau kau tidak datang, kau akan menyesal setelah menikah.

Elena menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Kali ini ia tidak langsung menghapusnya. Sebaliknya, senyum tipis justru muncul di bibirnya. "Jadi kau benar-benar ingin aku datang?" gumamnya pelan.

Jari-jarinya bergerak membuka kontak Sebastian. Ia hampir saja mengetik pesan untuk memberitahunya. Namun tangannya berhenti di tengah jalan.

'Tidak. Kalau aku memberi tahu Sebastian, orang itu mungkin tidak akan menunjukkan dirinya.'

Elena meletakkan ponselnya di meja, lalu mengambil tas kecilnya. "Baiklah. Aku akan datang."

Namun bukan sendirian. Ia membuka kontak salah satu pengawal keluarga yang dipercayainya, mengetik pesan singkat: Besok ikuti aku diam-diam. Jangan sampai ketahuan.

Elena tersenyum dingin. "Kalau mereka ingin bermain..." Tatapannya berubah tajam dan tegas. "...aku juga ingin tahu siapa yang berada di balik semua ini."

1
MomRea
lanjut Thor... makin penasaran 😊
mauza
next😘😘😘😘😘
mauza
up
mauza
ditunggu upnya thor 😘😘
mauza
next
mauza
nah kan..
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘
mauza
pinisirin ttp lanjut
mauza
up
mauza
😘😘😘😍😍😍/Rose//Rose//Rose//Rose/
mauza
lanjut trussss💪💪
mauza
lanjut kk
mauza
hati" dan ttp semangat
mauza
next
mauza
up
mauza
/Determined//Determined//Determined//Determined/
mauza
next😘😘
mauza
lanjutkan thorrr👍😘😘
mauza
up
mauza
lanjuttt👍💪
mauza
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!