"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN SINGKAT DIANTARA JARAK
Sementara itu, di dalam kamar yang cukup luas dan hening, Isma meregangkan jemarinya yang terasa kaku. Layar monitor laptopnya menyala terang, menampilkan pemberitahuan dari platform penerbitan digital yang menyatakan bahwa tiga bab baru dari novel terbarunya yang baru saja dirilis resmi terpublikasi.
Isma menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja yang empuk. Hanya dalam hitungan jam sejak perilisan perdana, angka pembaca novel barunya melonjak sangat drastis. Ribuan komentar pujian dan antusiasme dari para pembaca setia membanjiri kolom ulasan, menempatkan karyanya langsung menduduki peringkat teratas di kategori cerita terpopuler.
Ia lalu membuka aplikasi perbankan di ponselnya untuk memeriksa pembaruan saldo. Sebuah notifikasi pembayaran royalti berturut-turut masuk ke rekening khususnya. Angka puluhan juta rupiah mengalir mulus, menambah pundi-pundi tabungan pribadinya yang sudah menyentuh angka ratusan juta. Semuanya murni hasil dari ketajaman pikiran, kreativitas, dan ketekunannya merangkai kata demi kata di saat orang-orang di rumah ini menganggapnya tidak melakukan apa-apa.
Isma memandangi deretan angka di layar ponselnya dengan senyum tipis yang sarat akan arti. Ibu mertua dan adik iparnya selalu menganggapnya sebagai beban yang hanya menghabiskan uang Yoga. Mereka tidak pernah tahu bahwa uang yang tersimpan di rekening Isma bahkan sanggup untuk membeli rumah baru secara tunai tanpa perlu mengandalkan gaji suaminya sama sekali.
Ponsel Isma bergetar pelan, menampilkan pesan dari editor penerbitannya yang memberikan ucapan selamat atas kesuksesan karya barunya, sekaligus menanyakan jadwal peluncuran buku fisik dalam waktu dekat. Isma membalas pesan tersebut dengan tenang.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela kamar, dan menatap ke luar. Isma sadar, rahasia besarnya ini adalah benteng pertahanan terbaiknya. Di saat orang lain meremehkan dan menyudutkannya, Isma tahu bahwa ia memegang kendali penuh atas masa depannya sendiri.
Isma menghela napas pelan usai menutup obrolannya dengan sang editor. Ia memandangi ponsel di genggamannya. Jam dinding di kamar telah menunjukkan pukul satu siang lewat, menandakan waktu istirahat kantor suaminya hampir usai.
Sejak awal pernikahan, Isma memang tidak pernah membuatkan bekal makan siang untuk Yoga. Bukan karena malas atau tidak perhatian, melainkan karena ia sangat tahu tabiat suaminya itu. Yoga tidak suka membawa makanan rumahan ke kantor; ia lebih memilih makan di luar bersama rekan-rekannya atau sekadar menikmati suasana restoran di sekitar tempat kerja untuk melepaskan penat. Isma selalu menghargai pilihan itu dan tidak pernah memaksakan kehendaknya.
Namun, perhatian Isma sebagai seorang istri tak pernah surut. Meski hubungan mereka sedang diliputi hawa dingin akibat perdebatan uang belanja pagi tadi, Isma tetap menyisihkan gengsingnya. Jemarinya dengan lincah mengetikkan sebuah pesan singkat di aplikasi perpesanan:
Mas, sudah makan siang belum? Jangan lupa makan ya, biar maag-mu tidak kumat.
Ia menatap layar ponselnya sejenak sebelum menekan tombol kirim. Di balik ketegasannya menghadapi perlakuan mertua dan adik iparnya, Isma tetap menyimpan rasa peduli yang tulus untuk Yoga. Bagaimanapun juga, lima tahun membina rumah tangga bukanlah waktu yang singkat, dan Yoga adalah pria yang pernah berjanji untuk menjaganya.
Sementara itu di ruang istirahat kantor, ponsel Yoga yang tergeletak di atas meja bergetar singkat. Yoga melirik layarnya. Nama "Isma" tertera di sana, membawa pesan perhatian yang sederhana namun terasa tulus.
Sedikit rasa bersalah mendadak menyenggol dada Yoga. Ia menatap pesan itu, lalu melirik Gladis yang masih duduk di hadapannya sambil tersenyum manis dan membersihkan kotak makan siang mereka. Yoga terpaku sejenak, memegang ponselnya dengan rapat. Ada penyesalan kecil karena sempat meragukan ketulusan istrinya, namun di sisi lain, kenyamanan hangat yang diberikan Gladis siang ini terlanjur merayap halus ke dalam hatinya.