NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Handphone jatuh dari tangan Zuraida. Tubuh mungil itu lumbung lalu ambruk di atas lantai dekat kaki meja. Kepalanya tersandar tertunduk dengan air mata yang kian deras. Video itu sangat menghancurkan hatinya. Ia benar-benar hancur berkeping.

Pria yang sudah sangat dicintainya mengkhianatinya untuk yang kedua kalinya dan ini jauh lebih sadis. Tak ada bagian dari tubuhnya yang tak sakit karena video itu.

Air matanya terus jatuh semakin deras namun tanpa suara. Bukan karena tenang tetapi tenaga dan kepercayaannya sudah hilang pada suaminya. Tak ada alasan yang bisa diterima akal sehatnya.

Pintu kamar terbuka. Langkah Arfan segera menghampirinya istrinya yang masih duduk di lantai dengan kepala bersandar pada kaki meja.

"Kamu sakit sayang?." Menarik dagu Zuraida. Wajah itu sembab, matanya sayu dan air matanya terus menetas. Arfan memegangi kening Zuraida, tidak demam.

"Kamu kenapa sayang?." Arfan menghapus air mata istrinya. Namun air mata itu kian deras saja.

Zuraida masih terdiam. Ia tak berniat bicara sebab terlalu sangat menyakitkan. Lalu kemudian Arfan berniat mengangkat tubuh Zuraida supaya duduk di sofa namun tangan Zuraida semakin erat memegangi kaki meja.

Lalu pandangan Arfan tertuju pada handphone Zuraida yang menyala. Jantungnya berdetak berkali-kali lipat dari sebelumnya. Video itu sudah dilihatnya. Arfan segera duduk bersimpuh memegangi tangan Zuraida.

"Aku minta maaf Zuraida tapi sungguh aku tak tahu aku melakukan kekhilafan lagi." Ucap Arfan.

"Tolong maafkan aku Zuraida." Ucap Arfan lagi menciumi tangan Zuraida.

Zuraida masih diam, masih setia dengan air matanya yang semakin tak mau berhenti menetes.

"Yang kamu lihat memang diriku tapi sungguh aku tak tahu kenapa aku bisa melakukannya lagi Zuraida." Arfan menatap istrinya yang terus diam. Semakin membuatnya sakit juga. Lebih baik Zuraida memarahi atau memukul atau apa pun daripada harus diam.

"Malam itu aku minum bersama mama dan Wilona. Aku tak tahu berakhir seperti itu." Lanjutnya lagi menjelaskan.

"Aku mau bicara jujur padamu tapi aku takut kamu nggak memanfaatkan aku Zuraida. Bukannya aku nggak mau jujur tapi aku sangat takut kamu pergi dari aku." Katanya lagi. Matanya sudah berkaca-kaca.

"Tolong maafkan aku Zuraida." Arfan kembali bicara.

Hening

Arfan tak lagi bicara. Tak ada lagi yang bisa disampaikannya. Video itu telah bicara terlalu banyak sehingga Zuraida pasti sulit mempercayainya.

Kring Kring

Zuraida mengabaikan suara telepon. Ia masih sangat sakit. Arfan yang mengambil alih dengan menekan tombol hijau pada layar handphone dan menggunakan pengeras suara supaya Zuraida ikut mendengarnya.

"Ada apa Firman?." Nada bicaranya sangat tegas.

"Maaf, Pak Arfan, saya mau mengabarkan kondisi ayah Zuraida yang tak sadarkan diri."

"Ayah" lirih Zuraida. Air matanya kian tak terbendung saja. Lalu Zuraida bangkit.

"Mau ke mana sayang?," tanya Arfan memegangi tangan Zuraida.

Di saat ini Zuraida berani menatap suaminya.

"Saya harus pulang!."

"Bersama aku Zuraida, kita pulang sekarang."

"Tidak! Biarkan saya pulang sendiri."

"Tidak, Zuraida. Kamu tidak akan pulang tanpa aku."

Arfan bersikukuh.

Zuraida tak bisa apa-apa selain menurut. Malam itu juga Arfan dan Zuraida melakukan perjalanan ke desa. Tak ada yang bicara, sesekali isak tangis Zuraida pecah. Arfan tak tahu harus mengatakan apa. Salah satu kenapa istrinya terisak karena dirinya.

Sesampainya Zuraida di desa terdengar pengumuman dari pengeras suara yang menyatakan berita duka cita atas nama ayahnya. Tubuh mungil Zuraida tak kuat lagi berdiri. Rasa sakitnya berkali-kali lipat, Zuraida tak siap menanggungnya. Dalam hitungan detik tubuh Zuraida jatuh namun segera ditangkap oleh Arfan. Arfan menggendong istrinya yang pingsan.

Pemakaman ayah telah selesai saat Zuraida sadar dari pingsannya. Cukup lama juga perempuan itu tidak sadarkan diri sampai menjelang pagi. Zuraida bangun, duduk sambil memeluk lututnya. Tatapannya kosong, air matanya tak lagi menetes.

"Ayah menitipkan ini untukmu." Ibu menyodorkan surat pada Zuraida. Perempuan itu hanya menatapnya.

"Ayahmu nggak mau kamu tahu sakitnya. Jadi jangan salahkan ibu dan kakakmu."

Zuraida masih diam. Lalu bangkit sambil mengambil suratnya dan berjalan keluar.

"Mau ke mana sayang?." Arfan menahan langkah Zuraida.

"Aku mau ke rumah ayah."

"Aku antar."

Zuraida tak merespon. Ia berjalan sendiri menolak bantuan Arfan yang hendak memeganginya. Zuraida duduk di atas tanah merah. Menatap pusara ayahnya.

"Aku pulang, Yah." Suaranya bergetar.

"Kenapa nggak pamit sama aku kalau ayah mau pergi." Suaranya semakin bergetar.

"Ayah pergi kenapa nggak ngajak aku. Aku mau ikut sama ayah." Wajah lelah itu menelungkup di atas pusara ayahnya. Dunia runtuh, kedua kakinya tak mampu berpijak di mana pun.

Arfan hanya memperhatikannya. Rasa bersalah kian menggerogoti hatinya. Istrinya kehilangan ayahnya dan juga ia mengkhianatinya.

"Sayang, kita pulang. Kamu harus istirahat."

Zuraida bangun lalu duduk.

"Aku masih mau di sini."

"Kamu harus jaga kesehatan juga."

Zuraida menggeleng.

"Mas pulang aja. Biar saya di sini."

"Aku tahu aku salah tapi aku mohon kamu jangan begini."

Zuraida diam.

Zuraida kembali ke rumah saat sudah sore. Ia mandi lalu duduk di tepi ranjangnya. Arfan datang menemuinya membawa makanan.

"Kamu belum makan."

"Saya nggak lapar."

"Nanti kamu sakit sayang."

"Saya udah sakit Mas." Menatap suaminya.

"Kehilangan kamu lalu kehilangan ayah."

Arfan segera menaruh makanannya di meja. Ia berlutut di hadapan Zuraida.

"Tolong maafkan aku Zuraida. Aku tahu aku salah tapi jujur saja aku nggak tahu kenapa bisa terjadi." Arfan sangat frustasi. Ia salah tapi bukan kesalahannya.

"Tolong beri saya waktu sendiri. Saya mau tinggal di sini. Mas pulang karena di sini mas tak ada urusan."

"Jangan hukum aku seperti ini Zuraida." Arfan memohon.

Zuraida tetap pada pendiriannya.

Semalam dua malam sampai satu minggu Arfan masih menemani Zuraida di rumah ayahnya. Tapi Arfan juga tak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya. Belum lagi orang tuanya dan anak-anaknya terus saja meneleponnya. Arfan akhirnya pulang sendiri, membiarkan Zuraida menenangkan diri.

"Kalian lagi ada masalah?," tanya kakak tiri Zuraida.

Zuraida segera menggeleng.

"Tapi aku perhatikan kamu terus menghindari suamimu."

Zuraida diam tak lagi menyangkal.

"Ibuku sama ayahmu saja sering bertengkar tapi mereka tetap bersama." Kata kakak tirinya.

"Kamu mau lama tinggal di sini?." Tanyanya lagi penasaran.

"Belum tahu."

"Kalau bisa jangan lama-lama, aku takut Firman berubah pikiran. Sebentar lagi kami akan menikah."

"Iya, aku nggak akan lama di sini."

Ke mana Zuraida harus pergi?. Gubuk di dekat hutan sudah tak ada. Dijadikan tempat ronda warga. Pulang ke rumah suaminya pun tak mau. Zuraida masih ingin sendiri, berpikir tenang tentang pernikahannya.

Zuraida menatap ATM dan sejumlah uang yang ditinggalkan Arfan. Ia bisa menggunakan uang itu untuk pergi.

"Kamu mau pulang ke rumah suamimu?," tanya ibu yang melihat Zuraida keluar rumah dengan pakaian rapi.

"Iya." Jawabnya singkat supaya tak ada lagi pertanyaan.

Bersambung

1
Elina thea
fix~~~ Zuraida wanita paling bodoh kalo sampai kembali sama suami yg suka celap celup kayak Arfan,harusnya si Arfan merasa beruntung nikah sama Zuraida... statusnya aja duda anak dua,eh masih aja suka celap celup sama mantan yg dah membuang dia lagi,ih amit-amit...
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!