Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Pertarungan Pertama
Malam yang terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhenti berembus, meninggalkan kesunyian yang mencekam di tengah desa mati yang mereka datangi. Di bawah langit tanpa bintang, tanah hitam tempat mereka berpijak seolah bersiap menyerap malapetaka yang akan datang.
Di dalam hutan, cairan hitam di atas tanah terus menerus berkumpul dan menggumpal membentuk siluet tubuh dengan wajah tanpa rupa.
"Lawan kita kali ini bukanlah manusia," bisik Rayn, sihir api di tangannya menyala merah dan biru. Sihir api level dua.
"Gunakan cahaya dan api untuk menyerang, lainnya sebagai pertahanan," bisik suara Zharvion menggema di kepala Eliya.
"Rayn dan Elio, kalian akan berada di garis depan bersamaku," ucap Eliya menyiapkan dua elemen sihir sekaligus sesuai arahan Zharvion.
Elio memperkuat pelindungnya, di kedua tangannya dua bilah pedang terbentuk dari cahaya digenggam erat. Begitu juga dengan Rayn, sebilah pedang besar dari energi api sudah bersiap menyerang.
Eliya berdiri di paling depan menggenggam dua elemen sekaligus. Cahaya di tangan kanannya, dan api di tangan kiri. Sementara Kael dan Darian, membelakangi mereka membuat perlindungan dari air dan tanah.
Makhluk-makhluk hitam tanpa wajah itu meraung, dan melolong bagai serigala di malam purnama. Seketika angin kematian berhembus kencang, menerbangkan rerumputan kering dan puing-puing rumah yang berjatuhan.
Eliya menghentakkan kaki bersamaan dengan Darian membentuk dinding tinggi dari tanah. Dinding itu mengurung mereka dari serangan pertama makhluk tersebut.
"Bersiaplah! Kita akan menyerang bersama-sama," ucap Eliya seraya menurunkan dinding tanah itu kembali.
Ia mengulurkan tangan ke depan, menerbangkan serpihan batu dan tanah untuk menyerang. Hal yang sama pun dilakukan oleh Darian, berkat bantuan angin dari Kael, serangannya semakin kuat.
Tanah-tanah itu menghantam para makhluk hitam, membuat bayangan mereka memudar, tapi tak lama bersatu lagi.
"Ini tidak berhasil!" gimam Kael membeku melihat kebangkitan makhluk itu lagi.
Eliya mengepalkan tangan, sebuah bola cahaya terbentuk. Bersamaan dengan Elio, mereka berdua mengulurkan tangan dengan telapak terbuka. Bola-bola cahaya itu melesat dengan kecepatan tinggi berkat dorongan sihir angin Eliya.
Boom!
Beberapa makhluk yang terkena serangan hancur dan melebur bersama cahaya itu.
"Behasil!" gumam Elio.
"Tapi mereka terlalu banyak," sahut Darian yang kewalahan melawan.
"Giliranku!" Rayn mengangkat pedang apinya ke langit, bibirnya komat-kamit membaca mantra.
Lalu, ia membelah udara, bilah-bilah pedang dari percikan api tercipta dan melesat dengan cepat memotong bayangan-bayangan itu.
Mereka melebur bersama api, Eliya tak tinggal diam. Ia melayang dengan sihir angin, mengangkat kedua tangannya ke langit. Gemuruh dari dalam tanah terdengar begitu keras, bercampur dengan raungan makhluk bayangan itu.
Tanah berguncang, getarannya menciptakan gempa cukup besar.
"Kael, gunakan sihir anginmu untuk membuat perisai! Rayn, bantu aku!" perintah Eliya.
Kael mengangguk dan mengangkat kedua tangan sejajar dengan tubuhnya. Kubah angin terbentuk, menghalau pandangan mereka. Eliya melempar sihir air, menyerap air dari embun-embun yang tersisa. Angin dan air bertemu, membentuk dinding es yang kokoh.
"Luar biasa!" Kael menatap takjub.
Getaran di tanah semakin terasa kuat, rasa panas mulai merayap ke seluruh tubuh mereka. Eliya memanggil magma dari dalam tanah, itulah sebabnya ia meminta Kael membentuk perisai angin.
Lava merah naik ke permukaan, mengelilingi mereka. Membentuk ombak besar yang siap menggulung makhluk itu. Bersama dengan rayn, Eliya melemparkan ombak magma itu pada makhluk bayangan.
Baass!
Swoosh!
Bayangan-bayangan itu melebur bersama magma yang kembali masuk ke dalam tanah. Eliya mendarat pelan, napasnya tersengal. Rayn membantunya berdiri, perisai es perlahan melebur, berhasil melindungi mereka dari panasnya magma.
"Kita berhasil," ucap Darian seraya mengusap keringat di dahinya.
Namun, belum sempat beristirahat, sesosok bayangan muncul dari balik kegelapan. Mereka waspada, tapi tenaga mereka sudah terkuras setidaknya lima puluh persen.
Makhluk itu berukuran mengerikan, setinggi tiga meter dengan tubuh yang seolah terbuat dari asap hitam pekat yang bergulung-gulung. Makhluk itu tidak memiliki mata, hidung, atau telinga, sama seperti sebelumnya. Di bagian kepala, hanya ada sebuah lubang hitam besar yang menganga lebar. Di dalam lubang itu, barisan gigi tajam keperakan berkilat-kilat menantang malam.
"Penguasa segala elemen." Suaranya menggema langsung di dalam kepala mereka, bukan lewat udara. Suara itu terasa berat, dingin, dan mengikis kesadaran. "Tuan kami menunggumu."
Situasinya adalah lima lawan satu.
Di posisi mereka ada Rayn yang menguasai elemen api, Kael dengan kendali anginnya, Elio yang membawa kekuatan cahaya, dan Darian sang ahli tanah. Bersama Sang Badai yang bisa mengendalikan air, mereka adalah para Putra Jenius yang ditakuti di seluruh benua.
Di dalam bayangan, pertempuran ini seharusnya menjadi kemenangan yang mudah bagi mereka.
Namun, kenyataan menghancurkan kesombongan itu dalam sekejap.
Rayn maju lebih dulu, melepaskan gelombang api neraka yang membubung tinggi. Kael menyusul dengan menciptakan naga angin raksasa dari kelembapan udara. Elio membutakan pandangan dengan tombak cahaya suci yang mengarah tepat ke dada makhluk itu.
Bayangan itu tidak menghindar. Ia hanya membuka lubang hitam di wajahnya lebih lebar.
Seketika itu juga, api merah milik Rayn mendadak padam seperti tersiram air. Naga angin milik Kael menguap menjadi kabut tipis sebelum sempat menyentuh target. Bahkan tombak cahaya Elio yang murni langsung diserap habis, lenyap masuk ke dalam kegelapan tubuh si makhluk tanpa sisa.
"Mustahil!" teriak Darian dengan wajah pucat beralih memandang tangannya yang gemetar.
Dinding batu yang ia panggil dari dalam tanah runtuh begitu saja menjadi debu sebelum sempat menyerang.
Melihat teman-temannya mulai putus asa, Eliya tidak bisa tinggal diam. Ia melompat ke depan, memosisikan dirinya di garis paling depan. Eliya menarik napas dalam-dalam, memanggil seluruh energi yang tersisa di dalam tubuhnya. Ini adalah kartu as miliknya.
Ia menggabungkan kelima elemen yang ada dalam satu pusaran energi yang dahsyat.
BADAI 6 MAHKOTA.
Pusaran angin badai bercampur petir, api, air, cahaya, dan pecahan batu raksasa tercipta di sekelilingnya. Energi itu berputar sangat cepat, menciptakan raungan keras yang membelah keheningan malam. Bumi bergetar hebat di bawah kakinya saat ia mengarahkan seluruh badai itu langsung ke arah makhluk setinggi tiga meter tersebut.
Namun, Bayangan itu justru tertawa. Suara tawa yang keluar dari kepala Eliya terdengar seperti gesekan besi berkarat.
Tanpa ragu, makhluk itu mengayunkan lengan hitamnya yang panjang lalu meninju tepat ke tengah-tengah pusat badai buatan Eliya
BRAKK!
Pertahanan sihir Eliya hancur berkeping-keping seolah hanya terbuat dari kaca tipis. Kekuatan hantaman itu melemparkannya ke belakang dengan kecepatan tinggi.
Tubuhnya menghantam batang pohon tua yang kokoh dengan sangat keras hingga pohon itu tumbang. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadanya saat mendengar suara retakan yang mengerikan. Tulang rusuknya patah, membuat napasnya terengah-engah mencari udara sembari memuntahkan darah segar.
Dalam kondisi setengah sadar, Eliya melihat makhluk itu melesat maju untuk menghabisinya.
Sebelum cakar hitamnya menyentuh kulit gadis itu, sebuah raungan keras membelah malam. Zharvion, naga penjaga bintang, muncul dari lingkaran sihir darurat. Ia memosisikan tubuh raksasanya di depan Eliya, menjadikannya perisai hidup demi melindunginya yang sudah tidak berdaya.
Cakar Bayangan itu menebas dengan kejam, menembus pertahanan magis yang dibangun Zharvion. Sisik-sisik naga yang biasanya sekeras baja terkelupas dengan mudah, meninggalkan luka robek yang sangat besar di dadanya. Zharvion mengerang kesakitan, tubuhnya limbung ke tanah hitam.
Di bawah temaram sisa-sisa sihir yang meredup, mereka menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Darah emas naga menetes perlahan, jatuh membasahi tanah hitam yang gersang, menyala redup di tengah kegelapan yang perlahan mulai menelan mereka semua.