NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Sayembara dan Sepasang Mata Cemburu

Janji Bram tentang Pak Rusdi tidak membuat masa lalu Laras lenyap.

Namun pada pagi berikutnya, saat ia membuka dua lembar kertas kosong di meja kamar, nama itu tidak lagi memenuhi seluruh kepalanya. Ada garis, warna, dan sebuah tenggat sayembara yang menuntut perhatian lebih nyata daripada ketakutan.

Laras membagi kertas menjadi dua konsep.

Konsep pertama menonjolkan kehangatan oleh-oleh keluarga. Warna merah bata dan krem mengingatkan pada dapur serta rumah. Konsep kedua lebih muda, dengan bidang warna berani yang akan terlihat jelas di foto marketplace. Keduanya memakai identitas Sari Boga, tetapi berbicara kepada pembeli yang berbeda.

Kinan duduk bersila di lantai sambil memegang dua bungkus produk lama.

"Yang ini terlihat mahal," katanya menunjuk konsep pertama. "Yang satu lagi membuatku ingin foto dan unggah."

"Berarti pesannya terbaca."

"Kenapa tidak mengirim satu yang paling bagus saja?"

"Karena saya belum punya data penjualan mereka. Dua konsep memberi pilihan strategi, bukan sekadar pilihan gambar."

Kinan mengangguk serius, lalu menulis kalimat itu di buku catatan.

"Untuk apa dicatat?"

"Biar nanti kalau aku membuat usaha teknologi, aku tidak cuma menjual benda. Aku menjual strategi."

Laras tersenyum. "Kamu cepat belajar."

"Gurunya galak."

"Aku belum mulai galak."

Bram muncul di ambang pintu, sudah berpakaian dinas. Tatapannya menyapu meja yang dipenuhi pensil pendek, penghapus hampir habis, dan kertas yang bagian sudutnya mulai melengkung.

"Kamu butuh alat baru," katanya.

"Yang ada masih bisa dipakai."

"Pensil warna birumu tinggal sepanjang jari kelingking."

"Masih bisa diraut."

"Kalau diraut lagi, yang kamu pegang cuma serpihannya."

Kinan menutup mulut agar tidak tertawa. Laras melirik pensil tersebut, lalu mendecakkan lidah.

"Aku akan beli setelah honor sayembara masuk."

"Kalau tidak menang?"

"Aku menang."

Keyakinan itu membuat Bram berhenti sejenak. Kemudian ia mengangguk, seolah menerima laporan yang memuaskan.

"Baik. Sore ini kita beli alat yang pantas untuk pemenang."

***

Toko alat gambar di pusat Malang penuh mahasiswa dan rak warna.

Laras mengambil satu set pensil kelas menengah, dua pena hitam, serta kertas gambar yang cukup untuk final. Bram justru menambahkan penggaris logam, cutting mat, dan satu set marker profesional ke keranjang.

"Terlalu mahal," protes Laras.

"Berapa lama bisa dipakai?"

"Kalau dirawat, bertahun-tahun."

"Berarti bukan pemborosan."

"Aku belum punya penghasilan."

"Kamu sedang membangun penghasilan. Alat kerja adalah modal."

Laras menahan jawaban. Kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah.

Di kasir, ia tetap mengeluarkan buku kecil dan mencatat seluruh harga.

"Utang?" tanya Bram.

"Ya."

"Saya kira bunganya makan malam."

"Makan malam hanya untuk kertas dan pensil. Marker ini masuk utang pokok."

Bram menatap daftar tersebut. "Kamu berniat membayar suamimu kelak dengan cicilan?"

"Calon suami," koreksi Laras. "Dan utang tetap utang."

"Kalau begitu saya akan menagihnya setelah akad."

Nada rendah itu membuat pipi Laras panas. Ia buru-buru memasukkan nota ke tas.

***

Selama empat hari berikutnya, kamar tamu berubah menjadi ruang kerja kecil.

Kinan membantu memotret kemasan pesaing di beberapa toko. Laras menyusun perbandingan ukuran huruf, warna, harga, dan posisi rak. Ia menggambar ulang dua konsep berdasarkan temuan, bukan selera semata. Bu Rahayu sesekali masuk membawa buah, lalu keluar tanpa mengganggu.

Bram pulang malam dan selalu berhenti di ambang pintu untuk melihat kemajuan. Ia tidak memberi pujian kosong. Ia bertanya mana yang lebih mudah dibaca, mengapa satu logo dipindahkan, dan bagaimana kemasan itu akan terlihat saat difoto dari ponsel.

Laras menyukai cara lelaki itu menghormati pekerjaannya dengan pertanyaan sungguhan.

Pada malam terakhir, dua desain final berdiri berdampingan. Konsep keluarga terasa hangat dan tepercaya. Konsep digital terlihat segar tanpa memutus identitas lama Sari Boga.

Kinan memotret keduanya. "Kalau mereka tidak memilih salah satu, jurinya perlu periksa mata."

"Jangan kutuk calon klienku."

"Aku cuma memberi diagnosis."

Laras tertawa. Untuk beberapa menit, hidup terasa sederhana.

Keesokan paginya, mereka mencetak mockup dan memasangnya pada dua kotak contoh. Kinan membantu membuat foto simulasi untuk layar ponsel, sementara Laras menulis penjelasan konsep tidak lebih dari satu halaman.

"Kenapa pendek sekali?" tanya Kinan. "Risetmu banyak."

"Juri tidak perlu membaca semua isi kepalaku. Mereka perlu melihat masalah, solusi, dan hasil yang bisa diukur. Data lengkap kubawa kalau masuk presentasi."

Bram yang baru selesai sarapan mengambil kedua kotak. Ia meletakkannya di ujung meja, lalu berjalan mundur beberapa langkah.

"Yang ini lebih terbaca dari jauh," katanya menunjuk konsep digital. "Tapi yang satu membuat produknya terlihat lebih mapan."

"Itu targetnya."

"Berarti kirim keduanya. Jangan memilihkan strategi untuk klien sebelum mendengar kebutuhan mereka."

Laras menatapnya dengan sedikit kagum. "Kamu cepat belajar."

"Gurunya galak," balas Bram, mencuri kalimat Kinan.

Mereka mengantar berkas ke tempat penerimaan sayembara sebelum Bram berangkat ke satuan. Petugas memberi tanda terima dan memastikan hasil seleksi diumumkan dua minggu lagi.

Di halaman, Laras memotret tanda terima tersebut. Bukan untuk diunggah, melainkan sebagai bukti bahwa kerja pertamanya di Malang benar-benar sudah dimulai.

Ia juga menyimpan salinan desain dan seluruh catatan riset dalam map terpisah di rumah.

"Gugup?" tanya Bram.

"Tidak."

"Bohong."

"Sedikit. Tapi kegugupan tidak mengubah kualitas desain."

"Bagus. Simpan tenaga untuk menang."

***

Di ruang istirahat rumah sakit, Tania menatap foto dua desain yang diunggah Kinan ke status WhatsApp dengan keterangan singkat: `Calon pemenang di rumah kami.`

Kata `kami` menusuk lebih dalam daripada foto Laras.

Tania membuka percakapan dengan seorang kenalan lama di Surabaya. Sejak melihat Laras di rumah Adiprawira, ia sudah menanyakan perempuan itu kepada siapa saja yang mungkin tahu. Informasi yang terkumpul sedikit, tetapi membentuk pola yang membuatnya tersenyum.

Tidak ada keluarga yang mengantar Laras.

Tidak ada teman lama yang datang ke rumah Adiprawira.

Dokumen kependudukannya baru dipulihkan melalui Dukcapil. Alamat sebelumnya berubah-ubah, dari kos murah ke tempat kerja konveksi. Di media sosial, namanya nyaris tidak punya jejak keluarga.

Ponsel Tania bergetar. Kenalannya menelepon.

"Aku sudah tanya orang yang pernah satu tempat kerja," kata suara di ujung. "Laras memang pintar, tapi tertutup. Katanya tidak pernah bicara soal orang tua. Kalau pindah kerja, ya pindah begitu saja."

"Tidak ada saudara?"

"Tidak pernah kelihatan. Bahkan waktu sakit dulu, teman kos yang mengurus. Kenapa kamu cari dia?"

"Cuma penasaran."

Tania memutus panggilan sebelum pertanyaan lain muncul.

Ia memandang lagi status Kinan. Laras berdiri di samping meja desain, memakai pakaian pinjaman keluarga Adiprawira, tersenyum seolah sudah menjadi bagian dari mereka.

Jari Tania mengencang di ponsel.

"Jadi... dia tidak punya siapa-siapa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!