Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghangat
Jarum jam dinding di koridor belakang telah menunjuk tepat ke angka satu dini hari. Keheningan malam menyelimuti seluruh sudut rumah megah itu dengan begitu pekat. Setelah menyelesaikan sapuan terakhir di atas kanvas kolaborasi mereka, rasa lelah yang intens perlahan-lahan mulai merayap dan menguasai tubuh Alfa serta Senja.
Senja menyandarkan punggungnya pada kursi tinggi, mengamati jemarinya yang kini ternoda oleh jejak cat minyak berwarna burnt sienna dan cobalt blue. Kelopak matanya terasa berat, namun ada perasaan tenang yang asing mengalir di dalam dadanya, sebuah rasa lega yang sudah lama tak pernah ia rasakan usai bergelut dengan tekanan pekerjaan dan tuntutan papanya.
Alfa, yang baru saja selesai merapikan kuas dan menutup tabung-tabung cat, menoleh ke arah Senja. Pria itu menyunggingkan senyum tipis saat melihat wajah kuyu istrinya.
"Sudah jam satu dini hari" Ujar Alfa lembut, suaranya terdengar agak serak karena kantuk.
"Kita melukis terlalu larut, Senja."
"Tapi hasilnya sepadan, Mas." Senja mendongak, mengulas senyum tipis.
"Ayo kita bersihkan tangan dulu, lalu istirahat!" Ajak Alfa.
Mereka melangkah bersama menuju wastafel kecil yang terletak di sudut ruangan rahasia tersebut. Wastafel itu memang dipasang khusus untuk membersihkan peralatan melukis dan tangan yang kotor.
Namun, membersihkan noda cat minyak berbahan dasar kimia dari kulit ternyata tidak semudah yang dikira. Sabun biasa tidak mampu meluruhkan pigmen warna pekat yang sudah terlanjur mengering di sela-sela jari mereka.
"Pakai minyak zaitun ini" Kata Alfa seraya mengambil sebuah botol kecil dari rak di atas wastafel.
"Kalau cuma pakai air dan sabun biasa, kulitmu bisa iritasi."
Alfa memutar kran air. Pria itu menuangkan sedikit minyak zaitun ke telapak tangannya sendiri, lalu tanpa ragu membagi minyak itu ke telapak tangan Senja.
Dini hari yang sepi itu diwarnai oleh momen sederhana saat mereka berdiri berdampingan di depan wastafel, menggosok jemari masing-masing di bawah kucuran air hangat yang mengalir pelan.
"Tanganmu makin belepotan warna biru, Mas" Goda Senja pelan saat melihat noda di punggung tangan Alfa yang justru makin melebar.
Alfa terkekeh renyah, sebuah suara yang terdengar begitu ramah dan menenangkan di tengah sunyinya malam.
"Ini akibat menuruti idemu untuk memercikkan cat secara spontan tadi."
Usai membersihkan tangan dan mengeringkannya dengan handuk bersih, mereka melangkah keluar dari ruangan rahasia tersebut. Alfa mengunci pintu kayu tebal itu rapat-rapat, mengembalikan suasana koridor belakang menjadi sunyi kembali.
Saat berjalan menyusuri koridor lantai satu menuju tangga utama, perut Senja mendadak berbunyi pelan, sebuah suara halus yang langsung tertangkap oleh pendengaran Alfa di tengah heningnya malam.
Langkah Senja terhenti seketika. Pipinya mendadak berdesir hangat karena rasa malu yang teramat sangat. Seorang Senja Kala Anjasmara, wanita yang selalu dilatih untuk menjaga tata krama dan tampil sempurna di segala situasi, baru saja dipermalukan oleh bunyi perutnya sendiri di depan suaminya.
Alfa menghentikan langkahnya dan menoleh. Bukannya tertawa atau mengejek, mata pria itu justru memancarkan binar geli yang hangat.
"Ternyata melukis membuat Nyonya Arghantara lapar" Tebak Alfa dengan nada bergurau yang halus.
"Maaf, Mas..." Cicit Senja pelan, menundukkan pandangannya seraya mengusap perutnya canggung.
"Sepertinya proses berpikir tadi membakar kalori terlalu banyak."
"Sama, aku juga mendadak lapar" Sahut Alfa santai. Pria itu memutar arah langkahnya menuju dapur utama yang luas.
"Ayo ke dapur. Kita cari sesuatu yang bisa dimakan sebelum tidur."
"Mas Alfa mau makan jam satu malam?" Tanya Senja heran seraya mengekor di belakangnya.
"Kenapa tidak? Tidak ada aturan yang melarang orang makan mie instan di jam satu dini hari, kan?" Balas Alfa seraya membuka salah satu kabinet dapur dan mengeluarkan dua bungkus mie instan kuah rasa kaldu ayam.
"Mie instan?" Senja terperangah kecil.
Bagi Senja, mie instan adalah makanan yang hampir tidak pernah menyentuh piringnya sejak kecil. Mamanya melarang keras konsumsi makanan instan demi menjaga kesehatan dan bentuk tubuhnya, sementara Papanya menganggap makanan itu tidak mencerminkan kelas sosial mereka.
"Kenapa? Kamu tidak boleh makan mie instan oleh orang tuamu?" Tanya Alfa seolah bisa membaca keraguan di wajah Senja. Pria itu menyalakan kompor dan memanaskan air di panci kecil.
"Bukan tidak boleh... hanya saja sudah bertahun-tahun aku tidak pernah memikirkannya" Aku Senja jujur, duduk di atas kursi pantry berdesain modern.
"Malam ini, lupakan dulu semua aturan dari orang tuamu" Tutur Alfa lembut seraya menatap Senja lurus-lurus.
"Di rumah ini, di jam satu malam ini, kamu bebas menjadi Senja yang biasa. Bukan Senja sang eksekutif Anjasmara."
Kalimat sederhana dari Alfa itu merambat masuk ke dalam benak Senja, menghangatkan bagian paling dingin di dalam jiwanya. Senja mengangguk pelan, membiarkan pertahanannya runtuh satu tingkat lagi di hadapan Alfa.
Tak butuh waktu lama, aroma gurih dan asap tipis membumbung dari dua mangkuk keramik putih yang disajikan Alfa di atas meja pantry. Pria itu bahkan menambahkan potongan cabai rawit dan telur setengah matang di atasnya.
"Selamat menikmati makan malam yang teramat sangat terlambat" Ujar Alfa sembari menyodorkan sendok dan garpu pada Senja.
Mereka berdua duduk berhadapan di meja pantry yang remang, menyantap mie kuah hangat di tengah dinginnya udara dini hari. Setiap suapan terasa begitu nikmat bagi Senja, bukan hanya karena rasa gurih dari makanan itu sendiri, melainkan karena atmosfer kebebasan yang menyertainya.
"Bagaimana?" Tanya Alfa memperhatikan ekspresi Senja.
"Sangat enak, Mas" Jawab Senja tulus setelah menelan kuahnya.
"Ternyata makan mie instan di jam satu malam rasanya senikmat ini."
"Ini adalah rahasia kecil kita. Jangan sampai Papa Prasetya tahu kalau putri cantiknya aku suapi mie instan malam-malam begini." Alfa tertawa pelan.
Senja ikut terkekeh. Tawa mereka menyatu dalam kehangatan dapur yang tenang. Tidak ada pembahasan mengenai konflik bisnis, tidak ada tekanan mengenai status pernikahan, dan tidak ada bayangan Dila yang menghantui. Di ruang dan waktu yang sempit itu, mereka bertindak layaknya dua orang teman dekat yang saling berbagi kenyamanan.
Usai merapikan mangkuk bekas makan ke dalam mesin pencuci piring, mereka berjalan berdampingan menaiki tangga menuju lantai dua. Suasana kembali hening, namun hening yang kali ini terasa begitu menenangkan dan hangat.
Langkah kaki mereka membawa mereka tiba di depan pintu kamar utama. Alfa memutar gagang pintu kayu mahogany itu, lalu mendorongnya perlahan. Kamar tidur berukuran sangat luas itu menyambut mereka dengan pencahayaan remang dari lampu dinding yang dibiarkan menyala redup sejak sore.
Senja melangkah masuk terlebih dahulu, melepaskan kain selendang yang melilit bahunya dan meletakkannya di atas sofa. Sementara itu, seperti kebiasaan yang terjadi sejak malam pertama pernikahan mereka, Alfa langsung berjalan menuju lemari pakaian.
Pria itu merogoh bagian bawah lemari, mengambil sebuah bantal cadangan serta selimut tebal, lalu berbalik melangkah menuju sofa panjang yang terletak di sudut ruang tidur tersebut.
Selama ini, meski mereka tidur di kamar yang sama demi menjaga formalitas di depan para asisten rumah tangga, Alfa selalu mengalah. Pria itu secara sukarela menempati sofa keras yang ukurannya bahkan tidak cukup panjang untuk menampung porsi tubuh tingginya, demi membiarkan Senja menguasai ranjang sendirian tanpa merasa terintimidasi.
Senja berdiri diam di dekat tepi ranjang berukuran king size yang membentang begitu luas di tengah ruangan. Sprei katun berkualitas tinggi berwarna krem membungkus kasur tebal itu dengan amat rapi.
Matanya menatap punggung Alfa yang membelakanginya, sibuk menata bantal di atas lengan sofa.
Desakan aneh yang begitu kuat mendadak merayap di dalam dada Senja. Usai lelah melukis bersama, tertawa di ruangan rahasia, serta berbagi semangkuk mie instan di dapur tadi, melihat Alfa harus meringkuk kembali di sofa keras itu mendadak menimbulkan rasa bersalah yang teramat dalam di hatinya.
Mengapa pria itu harus terus-menerus mengorbankan kenyamanan fisiknya hanya demi sebuah jarak tak kasat mata?
"Mas Alfa" Panggil Senja memecah sunyinya kamar. Suaranya terdengar lembut, namun ada ketegasan tipis di dalamnya.
Alfa menghentikan tangannya yang sedang merapikan lipatan selimut. Pria itu menolehkan kepala, menatap Senja dengan alis sedikit terangkat.
"Iya, Senja? Ada yang kurang? Kamu butuh sesuatu sebelum tidur?"
Senja meremas jemari tangannya sendiri di depan tubuh, mencoba mengusir kecanggungan yang mendadak menyeruak. Ia menatap ranjang luas di sampingnya, lalu mengalihkan pandangannya tepat pada manik mata Alfa.
"Mas tidak perlu tidur di sofa lagi" Ucap Senja pelan.
Alfa tertegun. Pria itu berbalik sepenuhnya membelakangi sofa, menatap istrinya dengan raut wajah penuh tanya.
"Maksudmu?"
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃