Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Baru dan Undangan Masa lalu
Dua bulan telah berlalu sejak badai di gedung konvensi mereda. Kehidupan di PT Dirgantara Megah Karya bergulir dengan irama baru yang lebih harmonis. Lantai 12, yang dahulu menjadi panggung intrik dan kecemburuan, kini diselimuti atmosfer kerja yang jauh lebih segar.
Kepemimpinan Alina di Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) membawa angin perubahan yang nyata; keberadaannya yang rendah hati namun tegas dihormati oleh seluruh staf, dari jenjang pemula hingga jajaran manajer senior.
Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui dinding kaca ruang kerja baru Alina di lantai 18. Ruangan itu didesain dengan sentuhan minimalis hangat, beberapa pot tanaman monstera segar di sudut ruangan, meja kayu jati terang, dan rak buku tebal yang menampung draf program bantuan pendidikan serta pemberdayaan UMKM.
Siska, yang kini diangkat menjadi asisten pribadi Alina di Divisi CSR, melangkah masuk membawa secangkir teh chamomile dan sebendel berkas program baru.
"Selamat pagi, Bu Alina," sapa Siska dengan senyum mengembang. Meski Alina telah berulang kali memintanya memanggil nama biasa seperti dulu jika sedang berdua, Siska tetap menjaga profesionalitasnya di area kantor.
"Selamat pagi, Siska. Bagaimana laporan persiapan penyaluran beasiswa untuk anak-anak pekerja tambang di Kalimantan?" tanya Alina sambil menggeser laptopnya.
"Semuanya sudah siap, Bu. Tim verifikasi lapangan baru saja mengirimkan draf final dua ratus penerima bantuan. Pak Devan juga sudah menandatangani alokasi anggarannya tadi pagi sebelum beliau berangkat ke rapat direksi," terang Siska, meletakkan berkas tersebut di meja.
Alina tersenyum tipis mendengar nama suaminya disebut. Pernikahan mereka yang kini berjalan terbuka membawa kenyamanan yang tak ternilai harganya.
Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi di tangga darurat, tidak ada lagi rasa cemas setiap kali amplop dokumen kependudukan datang, dan tidak ada lagi bayangan kecurigaan dari rekan kerja.
Devan tetaplah sosok CEO yang dingin dan sangat berwibawa di depan publik, namun di balik pintu rumah mereka, pria itu adalah suami yang teramat hangat dan penuh perhatian.
"Terima kasih, Siska. Tolong jadwalkan peninjauan lapangan minggu depan, ya. Saya ingin turun langsung memastikan bantuannya tepat sasaran," ujar Alina.
"Baik, Bu. Oh iya, ada satu surat fisik lagi yang masuk pagi ini. Tanpa cap resmi perusahaan, tapi ditujukan khusus untuk nama pribadi Ibu," Siska menyerahkan sebuah amplop kertas berwarna krem elegan dengan segel lilin berwarna biru tua.
Alina mengerutkan dahi. Ia meraih amplop tebal itu, mengamati ukiran segel lilin yang membentuk inisial dua huruf yang sangat elegan: R.G.
(Rekso Group.)
Jantung Alina berdesir halus. Dengan perlahan, ia membuka segel lilin tersebut dan mengeluarkan selembar kertas kalkir tebal dengan tulisan tangan bergaya kaligrafi yang sangat anggun:
[Kepada Yth.
Nyonya Alina Dania Dirgantara,
Melalui surat ini, saya secara pribadi ingin menyampaikan undangan makan malam terbatas di Galeri Seni Rekso, Menteng, pada Jumat malam ini pukul sembilan belas WIB.
Tidak ada agenda korporat, tidak ada media, dan tidak ada representasi keluarga besar. Hanya sebuah perbincangan jujur antara dua wanita yang pernah berada di persimpangan yang sama.
Saya sangat berharap Anda berkenan hadir.
Salam hangat,
Arimbi Rekso
]
Alina terpaku memandangi goresan tinta di kertas tersebut. Nama Arimbi Rekso seolah memanggil kembali kenangan masa-masa menegangkan saat pernikahan rahasianya berada di ujung tanduk.
Sejak malam pengakuan terbuka Devan dua bulan lalu, Arimbi menarik diri sepenuhnya dari panggung publik. Berita kepindahannya ke London untuk mengurus divisi seni keluarga Rekso sempat beredar tipis di media, namun kini wanita itu kembali, dan secara mengejutkan mengirimkan undangan pribadi langsung kepada Alina.
"Bu Alina? Surat dari siapa?" tanya Siska cemas melihat perubahan raut wajah atasannya.
Alina menarik napas panjang, merapikan kembali kertas kalkir tersebut ke dalam amplopnya. "Dari Nona Arimbi Rekso, Siska."
"Nona Arimbi?!" Siska terbelalak, menutup mulutnya refleks. "Aduh, Bu ... untuk apa beliau berkirim surat pribadi? Apa beliau mau buat masalah lagi? Ibu harus beri tahu Pak Devan sekarang juga!"
Alina menatap amplop krem itu lama. Ada nada kejujuran dan kerapuhan yang tersirat di antara baris-baris kalimat tulisan tangan Arimbi, sebuah nuansa yang sangat berbeda dari sosok wanita angkuh yang dulu berdiri menantangnya di lantai 12.
"Saya akan bicarakan ini dengan Devan nanti malam," kata Alina pelan.
****
Pukul delapan malam. Ruang keluarga di griya Menteng diselimuti kehangatan lampu pijar. Devan duduk di sofa kulit panjang, menyesap kopi hitamnya sementara Alina menyandarkan tubuhnya di samping suaminya. Di atas meja kaca di depan mereka, surat undangan berwarna krem dari Arimbi tergeletak terbuka.
Raut wajah Devan mengeras saat matanya membaca lembar undangan tersebut. Garis tegas di rahangnya mengencang, memancarkan naluri protektif yang seketika membumbung tinggi.
"Kamu tidak perlu datang, Alina," kata Devan tegas, meletakkan kembali cangkir kopinya. "Arimbi dan keluarganya sudah selesai di kehidupan kita. Aku tidak akan membiarkan dia mencoba mengintimidasi atau menekanmu lagi dalam bentuk apa pun."
Alina memegang tangan Devan yang terkepal di atas paha suaminya. Jemari halus Alina mengusap lembut punggung tangan Devan, mencoba mencairkan ketegangan yang merayap di tubuh pria itu.
"Devan, tatap aku," bisik Alina lembut.
Devan memalingkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya.
"Dulu, saat Arimbi datang ke kantor, saya memang merasa takut dan minder karena saya merasa tidak punya tempat di duniamu," ujar Alina tulus. "Tapi sekarang situasinya sudah berbeda. Saya adalah istrimu yang sah, berdiri di sampingmu dengan penuh kepercayaan diri. Surat ini ditulis secara pribadi dari seorang wanita kepada wanita lain, tanpa membawa-bawa nama perusahaan atau faksi pamanmu."
"Tetap saja ini berisiko, Alina. Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakannya," sela Devan cemas.
"Jika dia berniat jahat, dia tidak akan menggunakan surat tulisan tangan yang bisa kita lacak dengan mudah," senyum Alina terkembang manis. "Beri saya kesempatan untuk menghadapi masa lalu ini dengan kepala tegak, Devan. Saya ingin menyelesaikan segala bentuk simpul canggung yang tersisa dari keputusan pernikahan kita."
Devan menatap Alina dalam-dalam. Dilihatnya keteguhan dan kedewasaan yang kini memancar kuat dari diri wanita yang sangat dicintainya ini. Pria itu menghela napas panjang, menyerah pada tatapan lembut istrinya. Ia meraih jemari Alina dan mengecupnya lama.
"Baik," kata Devan mengalah. "Tapi dengan satu syarat: Pak Bagas dan dua pengawal pribadi akan mengantarmu sampai ke pintu galeri, dan mereka akan tetap bersiaga di luar selama kamu berada di dalam."
Alina tertawa halus, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Devan. "Terima kasih, Suamiku."
Jumat malam tiba. Rintik hujan gerimis membasahi kawasan jalanan berpepohonan rimbun di Menteng. Sebuah sedan hitam menghentikan jalurnya di depan sebuah bangunan bergaya tropis modern dengan dinding kaca besar dan pencahayaan artistik: Galeri Seni Rekso.
Pak Bagas membukakan pintu mobil untuk Alina. Alina melangkah turun mengenakan setelan busana muslimah formal berwarna hijau zamrud yang sangat elegan, dipadukan dengan selendang halus bercorak perak. Langkahnya mantap, tanpa ada lagi getaran ketakutan seperti beberapa bulan lalu.
"Saya akan menunggu di lobi depan, Ibu Alina," ujar Pak Bagas sopan.
"Terima kasih, Pak Bagas."