Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THE EVENT - Part 1
Salah satu acara besar tahunan yang dibuat oleh anggota baru himpunan Arsitektur akhirnya resmi berjalan. Dimulai dengan seminar yang mengangkat isu mengenai pengaruh penurunan tanah terhadap struktur bangunan, serta implementasi sustainable dan green architecture. Dilanjutkan dengan aksi donor darah, kegiatan mengajar anak-anak marginal, dan ditutup dengan festival musik dan pengumuman lomba fotografi.
Jumat siang, ruang auditorium sudah dipenuhi oleh ratusan peserta seminar. Di saat pemateri sudah mulai membeberkan materinya di depan podium, Gea yang bertugas sebagai anggota divisi humas tampak sibuk membantu juniornya di bagian registrasi. Mereka sedang mencetak nama-nama peserta pada sertifikat yang sebelumnya sudah disiapkan polosan oleh divisi publikasi dan dokumentasi.
Di kepanitiaan ini, posisi penting mulai dari ketua hingga kepala divisi sengaja diserahkan kepada mahasiswa baru sebagai pembelajaran pertama mereka. Sementara itu, para senior seperti Gea mengisi posisi sebagai anggota sembari memberikan masukan dan arahan yang diperlukan.
“Sorry, mau tanya dong, toiletnya dimana, ya?” sebuah suara bariton yang lembut memecah fokus Gea. Seorang peserta seminar bertubuh tegap mendatangi meja registrasi, menghampiri Gea yang kebetulan sedang berdiri tak jauh dari pintu masuk auditorium.
“Oh, masnya lurus, nanti belok kiri. Di ujung lorong, toiletnya ada di sebelah kanan,” katanya ramah dan memberikan senyum pada pria itu.
“Oke, makasih ya,” balas pria itu dengan anggukkan sopan sebelum berlalu.
Tak lama setelah pria itu pergi, Risa yang berdiri tak jauh darinya dengan kamera DSLR di tangan kirinya langsung menyenggol lengan Gea.
“Ganteng, ya,” bisik Risa jahil, menunjukkan hasil hasil jepretan candid-nya barusan. “Anak Neo kan dia?”
Gea mengingat-ingat wajah itu saat registrasi tadi pagi, kemudian menganggukkan kepalanya, berkata, “lo kenal?”
Risa menganggukkan kepalanya dan berkata, “temennya Daniel.”
Mulut Gea membentuk huruf ‘O’ tanpa suara sembari mengangguk-angguk paham.
“Kenapa muka lo senyam-senyum gitu?” tanya Risa saat mendapati tatapan meledek dari Gea.
“Awas kepincut,” goda Gea terkekeh.
Risa memukul bahu Gea pelan, “sembarangan lo!”
“Sampe di foto habisnya.”
“Gue cuma menjalankan tugas dokumentasi untuk mengabadikan cowok cakep yang lewat,” balas Risa asal sembari terkekeh, membuat matanya membentuk seperti kucing yang sedang tertawa.
Mereka berdua pun saling pukul pelan dan tertawa tertahan. Berusaha tidak membuat kegaduhan di saat jalannya seminar di dalam auditorium.
Di hari lain, saat kegiatan donor darah berlangsung di dalam auditorium, pria yang kemarin menanyakan arah toilet kembali menampakkan batang hidungnya. Kali ini, dia tidak sendiri. Pria itu datang bersama wajah yang familier bagi Gea, Daniel, kekasih Risa. Daniel saat ini sedang duduk mengantre untuk menjalankan pemeriksaan tensi darah.
“Heh. Dateng juga lo,” sapa Gea begitu menghampiri Daniel yang duduk di kursi antrean.
“Udah ketemu sama Risa?”
“Udah tadi di depan. Lo gak ikutan donor, Ge?” tanya Daniel.
“Gak dulu, makasih,” jawab Gea tertawa hambar. "Tadi udah ikut antre. Tapi pas cek hemoglobin,
darah gue di bawah standar, jadi gak diboleh ikut donor.”
“Ooo, banyakin makan buah naga atau ati ayam, Ge, kalo mau naikin HB. Eh iya, kenalin, ini temen gue, Kaisar,” Daniel menunjuk dengan jempol pria di sebelahnya.
Gea menatap pria bernama Kaisar itu, berkata, “eh, mas yang kemaren ya? Hai, Gea,” Gea menjulurkan tangannya.
Pria itu menyambut jabat tangan Gea dengan genggaman yang mantap. “Kaisar.”
“Lo arsi, kan, ya?” tanya Gea ke Kaisar.
“Iya, Gea,” jawab Kaisar dengan suaranya yang rendah, tenang, dan ramah.
“Kok kalian bisa kenal?” tanya Gea mengingat kekasih sahabatnya itu bukan anak Arsitektur di
Universitas Neo.
“Satu club. Gue sama dia sama-sama ikut club panahan di kampus,” jawab Kaisar, mendahului Daniel untuk menjelaskan.
“Ooh, pantes. Gue kira tadi Kaisar sejurusan sama lo, tapi kemaren pas seminar dia ada,” sahut Gea mengangguk-anggukkan kepalanya.
Obrolan diantara mereka terus berlanjut hingga Risa ikut bergabung untuk menemani Daniel yang mendapat giliran diambil darahnya. Sementara Daniel berada di bilik donor, Gea memilih mendekati Kaisar yang sedang duduk di area pemulihan, menikmati semangkuk bubur kacang hijau yang disediakan panitia.
“Thank you, ya, udah ikutan donor darah,” kata Gea tulus pada Kaisar.
Kaisar mendongak, lalu tersenyum, berkata, “sama-sama, Gea.”
“Lo udah biasa donor darah gini sebelumnya?”
“Enggak sini, ini baru pertama kali juga buat gue.”
Percakapan ringan di antara mereka pun terus mengalir dengan kasual dan nyaman, hingga Daniel selesai mendonorkan darahnya dan ikut duduk bersama mereka. Merasa tugasnya menyambut teman dari sahabatnya sudah selesai, Gea pun pamit undur diri kembali bertugas mengkondisikan antrean peserta.
Hari itu berjalan dengan sangat panjang dan melelahkan. Acara donor darah berlanjut dengan evaluasi dan persiapan untuk acara besok, mengajar anak-anak marginal. Para panitia memastikan semua bahan peraga edukasi dan alat tulis yang dibutuhkan adik-adik sudah siap.
“Ngantuk ya?” Jay mengelus puncak kepala Gea saat perjalanan mereka pulang.
Gea yang menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, mengangguk lemah. Sepasang matanya terlihat sayu, menahan kantuk yang luar biasa berat.
“Besok aku jemput jam enam ya, Ya,” ucap Jay lagi.
Gea mengangguk pasrah. Jay terkekeh pelan melihat kekasihnya yang sudah setengah sadar itu dan berkata, “tidur gih. Nanti kalo udah sampe rumah kamu, baru aku bangunin.”
“Gak ah. Nanti aku malah bablas tidurnya, terus susah dibangunin,” jawabnya dengan nada lembut.
Memberikan senyum tipis di wajah lelahnya. “Aku mau nemenin kamu nyetir aja.”
Jay tersenyum mendengar jawaban itu. Untuk menjaga agar Gea tetap terjaga, Jay mulai bercerita tentang hal-hal yang tadi dia alami. Walau sama-sama menjadi panitia, tapi karena berbeda divisi, Gea dan Jay tidak banyak berinteraksi siang tadi. Selang beberapa menit, Jay menyadari perempuan yang duduk di sebalahnya sudah tidak memberikan respon. Dia menolehkan kepalanya sekilas. Tersenyum lembut melihat sang kekasih yang sudah tertidur pulas.
...****************...