NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Kembali dari Neraka

Pintu besi Lapas Porong terbuka tepat ketika langit Surabaya mulai memucat.

Ardi Pratama berdiri beberapa detik di ambang gerbang, membawa satu tas kain lusuh dan map cokelat berisi surat bebas. Udara pagi menampar wajahnya dengan bau debu, asap knalpot, dan hujan semalam yang belum benar-benar kering di aspal.

Dua tahun.

Selama dua tahun, dunia di luar tembok itu berjalan tanpa menunggunya.

Istrinya pergi. SIP-nya dicabut. Namanya dikubur di bawah satu kalimat yang lebih tajam daripada vonis hakim: dokter malpraktik.

Ardi menunduk, membuka dompet tua yang pinggirnya sudah mengelupas. Di balik plastik buram, ada selembar foto kecil yang lecek. Gatra berdiri dengan senyum lebar, memeluk Sari yang masih bulat pipinya. Foto itu sudah berkali-kali basah oleh keringat dan air mata, tapi wajah dua anak itu masih jelas.

Ibu jarinya menekan lipatan di tengah foto.

“Ayah pulang, Nak,” bisiknya.

Tidak ada yang menjemput.

Dia sudah tahu. Meski begitu, kakinya tetap membawanya ke rumah berpagar hijau di kawasan lama Surabaya, rumah tempat Dewi tinggal bersama ibunya setelah cerai gugat selesai. Motor ojek berhenti di ujung gang. Ardi turun, membayar dengan uang pas, lalu berdiri di depan pagar yang dulu pernah ia buka tanpa ragu.

Belum sempat ia mengetuk, pintu depan terbuka.

Ibu Sumiati muncul dengan kerudung rapi dan wajah yang langsung mengeras.

“Untuk apa kamu datang?”

Ardi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Saya cuma mau lihat Gatra dan Sari, Bu.”

“Jangan panggil saya Bu.” Ibu Sumiati melangkah mendekat, suaranya rendah tapi tajam. “Anak-anak tidak perlu melihat mantan napi seperti kamu.”

Jari Ardi bergerak ke dompetnya. Ia tidak mengeluarkan foto itu. Tidak di depan perempuan yang selama ini mengajari cucunya untuk takut pada ayah sendiri.

“Saya ayah mereka.”

“Ayah?” Ibu Sumiati tertawa pendek. “Ayah macam apa yang masuk penjara? Yang bikin keluarga malu satu RT? Dewi sudah mulai hidup baru. Jangan ganggu.”

Dari dalam rumah, suara kecil sempat terdengar.

“Nenek, siapa?”

Jantung Ardi seperti diremas.

Gatra.

Ia maju satu langkah. “Gatra, ini Ayah.”

Pintu langsung ditarik setengah tertutup. Wajah Ibu Sumiati berubah panik, lalu marah. “Pulang, Ardi. Kalau kamu bikin keributan, saya panggil satpam komplek.”

“Lima menit saja.”

“Tidak.”

Pintu tertutup.

Di balik kayu itu, suara Gatra memanggil sekali lagi, samar dan bingung. “Ayah?”

Ardi berdiri lama di depan pagar. Tangannya menggenggam besi sampai ruas jarinya memutih. Ia bisa menendang pagar itu. Ia bisa berteriak sampai satu gang keluar. Tapi kalau ia melakukannya, besok Dewi akan punya alasan baru untuk bilang pada hakim bahwa ia tidak stabil.

Jadi Ardi mundur.

Setiap langkah terasa seperti menelan pecahan kaca.

Siang itu, ia kembali ke RSUD Soetomo.

Gedung rumah sakit tidak banyak berubah. Koridornya tetap penuh, bau antiseptik bercampur keringat pasien tetap menempel di udara, dan suara roda brankar masih berdecit di lantai yang terlalu sering dipel. Namun ketika Ardi melewati pintu IGD, beberapa orang yang mengenalinya langsung menoleh.

Lalu memalingkan wajah.

Seorang perawat yang dulu sering minta bantuannya memasang akses vena tiba-tiba sibuk menunduk. Dua dokter muda berbisik di dekat ruang triase. Kata yang mereka tahan tidak benar-benar tertahan.

“Itu kan...”

“Mantan napi.”

Ardi pura-pura tidak mendengar.

Di ujung koridor, Dokter Fajar menunggunya dengan jas putih terbuka dan mata yang sama lelahnya seperti dulu. Pria itu tidak tersenyum berlebihan. Ia hanya mengulurkan tangan.

“Selamat datang kembali, Ardi.”

Kalimat sederhana itu hampir membuat dada Ardi retak.

Ia menjabat tangan atasannya. “Terima kasih, Pak Fajar.”

“STR kamu masih valid. SIP masih harus diproses ulang, jadi sementara kamu masuk sebagai tenaga kontrak. Kamu tidak boleh mengambil keputusan operasi sendiri. Semua tindakan besar harus di bawah DPJP. Paham?”

“Paham.”

Dokter Fajar menyerahkan map tipis. “Kontrak awal tiga bulan. Gaji tidak besar.”

Ardi melihat angka di lembar itu. Rp 6.000.000 per bulan.

Kost Gubeng: Rp 1.500.000. Makan. Transport. Cicilan utang pengacara Rp 200.000.000. Biaya untuk memperjuangkan hak asuh nanti.

Angka itu seperti mengejeknya.

Tapi ia tetap mengambil pulpen.

“Saya terima.”

“Pikirkan dulu.”

“Saya sudah pikirkan dua tahun, Pak.”

Dokter Fajar menatapnya agak lama, lalu mengangguk. “Kalau begitu, mulai malam ini kamu ikut shift IGD.”

Belum sempat Ardi menjawab, suara lain memotong dari belakang.

“Pak Fajar serius?”

Hendro Cahyono berjalan mendekat dengan lengan terlipat. Jas putihnya licin, ID card-nya tergantung rapi, dan senyumnya dingin seperti lampu ruang operasi.

“Kita kekurangan tenaga, bukan berarti harus mengambil risiko nama baik rumah sakit.” Hendro memandang Ardi dari ujung kepala sampai kaki. “Mantan napi kok bisa kembali ke IGD?”

Beberapa orang berhenti pura-pura sibuk.

Rudi Setiawan, dokter muda yang berdiri dekat meja perawat, ikut menoleh. Ia tidak bicara, tapi matanya jelas menunggu jawaban.

Ardi memegang map kontrak lebih erat.

Dokter Fajar menjawab datar, “Keputusan ini sudah saya bicarakan dengan direktur.”

“Kalau dia bikin masalah, siapa yang bertanggung jawab?” Hendro menunjuk Ardi dengan dagu. “Pasien kita manusia, Pak. Bukan bahan percobaan untuk dokter yang baru keluar penjara.”

Udara koridor mendadak berat.

Ardi bisa merasakan semua mata menempel di punggungnya. Dulu, di tempat yang sama, para residen berebut masuk tim operasinya. Dulu, namanya disebut dengan hormat. Sekarang satu label membuat semua tahun kerja keras itu seperti tidak pernah ada.

Ia mengangkat wajah.

“Saya tidak akan menyentuh pasien di luar kewenangan saya, Dokter Hendro.”

Hendro tersenyum miring. “Bagus kalau kamu sadar posisi.”

“Tapi kalau pasien di depan saya berhenti bernapas,” lanjut Ardi, suaranya tetap rendah, “saya tetap akan menolong.”

Senyum Hendro menipis.

Dokter Fajar menyelipkan map ke dada Ardi. “Cukup. Ardi, ikut saya.”

Shift pertama berjalan seperti berjalan di atas kaca.

Pasien pertama hanya pria paruh baya dengan luka robek di lengan akibat kecelakaan kecil di bengkel. Perawat ragu menyerahkan alat. Keluarga pasien sempat bertanya pelan, “Dokter yang itu aman, kan?”

Ardi mendengar. Tangannya tidak gemetar.

Ia membersihkan luka, memeriksa kedalaman, memastikan tidak ada kerusakan tendon, lalu menjahit dengan rapi. Tidak cepat mencolok, tidak pamer. Hanya bersih, stabil, dan tepat.

Rudi yang tadi diam akhirnya mendekat setelah pasien pergi.

“Jahitannya halus juga,” katanya, seolah tidak sengaja.

Ardi melepas sarung tangan. “Terima kasih.”

Rudi menggaruk kepala, canggung. “Gue cuma bilang fakta.”

Sebelum pembicaraan bisa lanjut, Hendro lewat sambil membawa berkas. “Jahitan sederhana saja jangan dibanggakan. Di IGD, satu kesalahan kecil bisa membunuh orang.”

Ardi tidak menjawab.

Malam turun. Hujan tipis mengetuk kaca ruang istirahat. Setelah shift berakhir, Ardi pulang ke kost kecil di Gubeng, kamar sempit dengan kasur tipis, kipas angin tua, dan kamar mandi bersama di ujung lorong.

Ia duduk di tepi kasur, membuka sepatu, lalu menghitung uang di dompet.

Tidak sampai Rp 300.000.

Ponselnya menyala. Ada pesan dari nomor Dewi.

Jangan datang lagi tanpa izin. Anak-anak sudah mulai lupa. Jangan rusak hidup mereka.

Ardi menatap layar lama sekali.

Lalu ia membuka foto Gatra dan Sari, meletakkannya di atas meja kecil di samping kontrak kerja.

“Ayah pasti akan menjemput kalian,” katanya pelan. “Bukan dengan marah-marah. Bukan dengan memohon. Ayah akan datang dengan nama yang sudah bersih, pekerjaan yang kuat, dan putusan yang tidak bisa mereka robek.”

Kipas angin berputar dengan suara serak.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lapas, mata Ardi terasa panas. Tapi tidak ada air mata yang jatuh. Penjara sudah mengajarinya satu hal: menangis tidak membuka pintu.

Pukul 02.13, ponselnya berdering.

Nama Dokter Fajar muncul di layar.

Ardi langsung mengangkat. “Pak?”

“Kembali ke IGD sekarang. Ada pasien VIP rujukan darurat. Anak perempuan, sepuluh tahun. Kondisi jantung sangat buruk. Tim jantung dari beberapa rumah sakit sudah dihubungi, tapi kasusnya rumit.”

Ardi sudah berdiri sebelum panggilan selesai. “Saya berangkat.”

“Ardi.” Suara Dokter Fajar menahan napas. “Ini bukan kasus biasa.”

Di luar, hujan makin deras. Ardi menyambar jaket, memasukkan foto anak-anak ke saku dada, lalu menyalakan motor tuanya menembus jalan Surabaya yang basah.

Ketika ia tiba di RSUD Soetomo, lampu IGD menyala putih menyilaukan. Sebuah ambulans hitam berhenti mendadak di depan pintu. Beberapa pengawal berjas turun lebih dulu. Di belakang mereka, seorang pria besar dengan wajah pucat berlari mengikuti brankar kecil.

Di atas brankar itu, seorang anak perempuan terbaring dengan bibir kebiruan.

Monitor portabel berbunyi cepat.

Dokter Fajar berdiri di tengah kekacauan, wajahnya tegang. Hendro ada di sisi lain, kali ini tidak sempat menyindir. Bahkan ia tampak takut.

“Transplantasi jantung paralel kiri,” kata Fajar pelan ketika Ardi mendekat. “Kalau menunggu tim luar kota, anak ini tidak akan bertahan.”

Ardi melihat dada kecil anak itu naik turun lemah.

Pria besar tadi mencengkeram lengan Fajar. “Dokter, selamatkan anak saya. Berapa pun biayanya.”

Fajar melepaskan genggaman itu perlahan, lalu menatap Ardi.

Semua suara di IGD seperti menjauh.

Ardi merasakan foto Gatra dan Sari menekan dadanya dari balik saku. Anak di brankar itu bukan anaknya. Tapi napas kecil yang hampir putus itu mengingatkannya pada satu hal yang tidak bisa dicabut oleh penjara, vonis, atau hinaan siapa pun.

Ia masih dokter.

Dokter Fajar mendekat setengah langkah.

“Kamu berani?”

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!