Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PATUNGAN YANG BIKIN NANGIS!
Pagi telah tiba diselimuti cuaca yang sedikit mendung. Sang awan kelabu seolah ikut menyuarakan duka mendalam dan kesedihan yang merundung Raka serta Dimas—dua jiwa yang harus merelakan uang tabungan impian mereka terkeruk habis demi klub.
Jam baru menunjukkan pukul 06.00 pagi, tapi Dimas sudah terbangun di atas kasurnya dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar.
Ia bergumam lemas, "Aduh... sial banget nasib gue. Padahal tabungan itu mau gue pake buat beli wishlist gue... Haah..."
Sementara Dimas sedang meratapi nasib dompetnya, di tempat lain Raka justru masih tertidur pulas. Hawa dingin pagi ini tampaknya sukses membuat Raka mengaktifkan 'mode malas' tingkat maksimal.
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 06.30, hujan deras mendadak mengguyur bumi. Suara gemericik air yang menghantam atap seakan menjadi lagu pengantar tidur yang makin sempurna. Di saat bersamaan, sebuah notifikasi pesan WhatsApp grup sekolah berdenting dari ponsel Raka. Pesan itu datang langsung dari Kepala Sekolah:
[PEMBERITAHUAN]
Dikarenakan hujan deras, seluruh siswa-siswi diperbolehkan datang terlambat sedikit. Namun, batas toleransi kedatangan tidak boleh lebih dari pukul 08.00 WIB.
Raka yang sempat terbangun sejenak membaca pesan tersebut tersenyum tipis. Tanpa pikir panjang, ia mematikan layar ponsel, menarik selimut tebalnya sampai ke leher, dan kembali masuk ke alam mimpi.
Melihat Raka yang tak kunjung keluar kamar padahal jam terus berjalan, sang ibu melangkah menuju lantai dua dengan raut wajah mulai bersungut-bersungut kesal.
Cklek!
Pintu kamar didobrak pelan, dan sosok ibu muncul di ambang pintu dengan tangan berkacak pinggang.
"Raka! Kenapa malah tidur lagi, sih?!" tegur Ibunya galak.
Raka mengerjapkan mata, menguap lebar. "Huaamm... Katanya telat dikit gak papa, Bu..."
"Ya setidaknya mandi dan bersiap-siap dulu, biar gak ada belekan di mata kamu tuh!" omel sang ibu menggeleng-gelengkan kepala.
Raka menghela napas pasrah. "Haa... iya, iya..."
Raka perlahan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Begitu ia meregangkan badan, terdengar bunyi nyaring dari punggungnya.
KREKK!
"Uhh... sakit," ringis Raka memegangi pinggangnya yang mendadak encok. "Yaudah lah, gue mandi dulu."
Raka berjalan gontai turun dari lantai dua menuju kamar mandi dengan mata yang masih setengah terpejam. Namun, karena nyawanya belum terkumpul seratus persen, Raka baru menyadari kesalahan fatalnya tepat saat sudah memutar kran air.
"Aduh... gak bawa handuk lagi!" gerutu Raka menepok jidatnya sendiri.
Ia terpaksa membuka sedikit celah pintu kamar mandi dan berteriak, "Bu! Bawain handuk, Bu!"
Ibunya yang sedang di dapur mengelus dada. "Aduh, kamu ini gimana sih? Hal sepele gitu aja pake lupa!"
Sambil mengomel, sang ibu mengambilkan handuk bersih dari jemuran lalu berjalan menuju kamar mandi dan menyerahkannya lewat celah pintu.
"Nih!"
"Makasih, Bu," sahut Raka menyambar handuknya.
"Ya. Lain kali jangan pikun gitu lagi!"
"Iya, Bu..."
Selesai mandi dan berganti pakaian seragam, Raka melangkah menuju meja makan dengan perasaan yang cukup tenang. Mangkuk nasi yang beruap panas sudah menyambutnya di meja, lengkap dengan guyuran hujan deras di luar sana yang menjamin bahwa ia tak perlu terburu-buru berpacu dengan waktu.
"Gimana sekolah kamu belakangan ini?" tanya Ibunya sambil menyodorkan segelas air putih.
"Hmm... biasa aja, Bu," sahut Raka mengunyah lauknya santai.
Sang ibu menaikkan sebelah alisnya. "Biasa gimana? Gak ada hal seru atau rame gitu di sekolah?"
Raka menghela napas pendek. "Ada sih... tapi ya ujung-ujungnya cuma bikin pusing yang ada."
Ibunya tertawa kecil memecah suasana pagi. "Hahaha! Pasti kamu dapet temen-temen yang rusuh ya di sekolah?"
Raka tersentak pelan. "Lho, kok Ibu tahu?"
"Ya tahulah! Ibu kan dulu juga pernah muda dan sekolah," jawab sang ibu memutar bola matanya jenaka.
"Iya juga ya..." gumam Raka membenarkan.
"Yaudah, jangan banyak ngomong melulu! Makan yang cepat, tuh liat jam udah mau jam delapan!" omel ibunya menunjuk jam dinding.
"Iya, Bu."
Begitu jarum jam makin mendekati pukul 08.00, Raka bergegas membawa piring kotornya ke tempat pencucian, lalu menyambar kunci kendaraan di meja. Ia melangkah menuju garasi, mengeluarkan sepeda motornya, dan membelah rintik hujan yang mulai mereda untuk berangkat ke sekolah.
Tepat saat Raka selesai memarkirkan motornya di area parkir siswa, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di depan gerbang utama. Pintu mobil terbuka, dan sosok Alya melangkah keluar dengan anggun memegang payung.
"Mencolok banget... tapi ya wajar sih, dia kan anak orang kaya," batin Raka menggeleng pelan. "Daripada bengong, mending gue samperin ah."
Raka melangkah mendekat. "Halo, Al. Lu udah bawa uang tabungannya?"
Alya menoleh dan menyunggingkan senyum tipis. "Halo juga, Raka. Udah kok, nih aman di dalam tas."
"Ohh, oke. Kalau gitu kita jalan bareng ke kelas yuk," tawar Raka.
"Yup."
Mereka berdua mulai berjalan berdampingan melintasi koridor sekolah. Di sepanjang perjalanan, perbincangan mengalir begitu saja—mulai dari hal-hal lucu yang konyol sampai topik yang sedikit serius. Suara gemericik air hujan yang menerpa atap seng koridor memberi efek relaksasi yang begitu menenangkan, membuat suasana di antara mereka terasa makin hangat dan intim.
Namun, karena terlalu asyik mengobrol dan terbawa suasana romantis tipis-tipis itu, Raka dan Alya mendadak linglung. Tanpa sadar, mereka melangkah terus sampai... melewati pintu kelas mereka sendiri!
Raka mendadak menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. "Lho, pintu kelas kita bukannya udah lewat di belakang ya?"
Sadar akan kekonyolan mereka, wajah Alya mendadak merona merah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka berdua kompak berjalan mundur dengan langkah cepat dan kaku—berharap tak ada satu pun siswa lain yang menyaksikan momen linglung nan memalukan tersebut!
Cklek!
Begitu berhasil masuk dan duduk di kursi masing-masing, aura hangat Alya seketika menguap, berganti menjadi mode ketua yang tegas. Tanpa mengulur waktu, Alya langsung membalikkan badan menatap tiga temannya.
"Aira, Dimas, Raka... serahin tabungan kalian sekarang buat pembaruan perabotan markas!" tuntut Alya tegas sambil mengulurkan telapak tangannya.
Dimas yang mendadak panik langsung memajukan tubuhnya, membesarkan pupil matanya seluas mungkin demi memasang raut wajah paling mengasihkan di dunia. "Aduhh... jangan tega dong, Alya yang cantik dan gemoy~ Ya? Ya? Kasihanin gue..."
"Gak." Alya menjawab singkat, padat, dan sangat dingin tanpa kompromi.
Raka yang melihat kepasrahan itu cuma bisa tertawa geli. "Terima aja lah nasib lu, Mas! Hahaha!"
Dimas menoleh ke Raka dengan tatapan layu dan dramatis. "Alah! Gue ini lagi sedih mendalam, Rak! Jangan coba-coba hibur gue!"
"Hahaha! Yaudah maaf, maaf..." Raka terkekeh melihat kepasrahan Dimas yang meratapi nasib tabungannya.
Tak lama kemudian, bel pelajaran pertama berbunyi nyaring. Guru yang ditunggu-tunggu masuk ke dalam kelas untuk memulai jam pelajaran—dan sialnya bagi Raka dan Dimas, hari ini pelajaran pertama adalah Bimbingan Konseling (BK).
Sepanjang sesi, pembahasan materi BK entah kenapa malah didominasi oleh 'sindiran halus' mengenai Raka dan Dimas yang sering berkelakuan seenaknya di dalam klub. Merasa ada yang 'mewadul' ke pihak sekolah, Raka dan Dimas kompak melayangkan tatapan tajam nan penuh curiga ke arah Alya.
Namun, harapan mereka untuk mengintimidasi langsung kandas. Alya menoleh santai, lalu membalas tatapan mereka dengan tatapan super dingin dan tajam yang jauh lebih menusuk. Efeknya luar biasa—mental Raka dan Dimas seketika ciut! Tanpa syarat, kedua cowok itu langsung menundukkan kepala dalam-dalam ke atas meja, berpura-pura menjadi murid paling teladan di kelas.
Beruntung bagi mereka, jam pelajaran BK hari ini hanya berlangsung satu jam. Seluruh murid di kelas langsung bersorak semangat karena itu artinya waktu istirahat datang lebih cepat dari hari-hari biasanya.
Ting tong!
Begitu bel istirahat bergema di seluruh koridor, Dimas yang tadinya lemas mendadak bangkit dari duduknya. Tubuhnya berdiri tegap bak seorang prajurit tentara yang siap berangkat ke medan perang demi menyelamatkan perutnya!
Sementara itu, Raka tetap santai. Ia perlahan menyelesaikan goresan sketsanya di buku gambar, lalu merapikan alat tulisnya tanpa terburu-buru.
Dimas melesat cepat ke meja Raka, bermaksud mengajak sahabatnya itu berpacu menuju kantin sebelum antrean mengular. "Rak, ay—"
Kalimat Dimas terhenti di udara. Di belakang tubuhnya, sosok Alya sudah berdiri dengan aura kegelapan yang siap memangsanya hidup-hidup.
"Tunggu dulu! Sebelum ke mana-mana, kita bagi tugas dulu sekarang!" potong Alya tegas.
Dimas menepuk jidatnya lemas. "Aduhh... padahal gue udah mau kabur..." bisiknya meratapi nasib.
Alya menaikkan sebelah alisnya, penangkap gelombang kebohongan Dimas. "Ohh... jadi kamu berniat mau kabur?!"
Ctek!
Tanpa ampun, jemari Alya mendarat mulus dan mencubit pinggang Dimas.
"Auw! Auww! Sakit dong, Alya yang cantik dan menggemaskan~!" ringis Dimas sambil mengaduh kepanasan.
"Pujian receh begitu gak mempan!" balas Alya dengan ekspresi datar tanpa dosa. Ia lalu menoleh pada gadis kecil di sampingnya. "Aira, gantikan aku cubit dia!"
Mata Aira berbinar jahat. "Siap, Laksanakan!"
Alya kemudian mengalihkan pandangannya pada Raka sambil menyerahkan amplop tebal berisi uang patungan mereka. "Nih, ini uang buat beli rak dan perabotan lainnya. Nanti kamu yang bagian urus beli raknya sama Dimas ya, Raka."
Raka menerima amplop itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya sih... tapi agak bingungin ya, soalnya kata 'rak' berasa kayak manggil nama gue sendiri."
Dimas yang masih dicubit Aira mendadak menyambar gurauan Raka. "Ya iya ya, Rak! Btw, Rak... ada bukunya gak, Rak? Hahaha!"
Raka menatap Dimas heran. "Apalah lu... udah dicubit beruntun gitu masih sempat-sempatnya ketawa? Gak sakit apa?"
"Gak lah! Cubitan Aira mah biasa aja, jauh lebih sakitan cubitan Alya tadi!" celetuk Dimas polos tanpa menyadari bahaya yang mengintainya.
"Wah, wah, Aira, Dimas nantangin tuh!" seru Aira melotot, merasa harga dirinya diremehkan.
"Ohh... nantangin?!" Aira menyipitkan mata, lalu makin mengencangkan jepitannya. "Nih, gue tambahin cubitannya!"
"ADUH! AUWW! Udah lah woy, sakit beneran ini!" jerit Dimas meronta-ronta.
Aira tetap menahan lengan Dimas. "Bentar! Belum diizinin dilepas sama Kak Alya!"
Dimas menatap langit-langit kelas dengan mata berkaca-kaca. "Ya Tuhan... sampai kapan gue disiksa begini?!"
Raka tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan temannya. "Sampai kiamat kali, Mas! Hahaha!"
"Ngawur banget lu, Rak!" gerutu Dimas melotot.
Alya akhirnya mengangkat tangannya, memberi sinyal pada Aira untuk berhenti. "Udah, udah, jangan malah ribut! Nanti kalian lakukan tugas kalian masing-masing setelah aku berikan catatan lengkap sama uang patungan tadi."
"SIAP!" jawab Raka dan Dimas serentak dengan posisi siap gerak.
Meskipun hari itu dibuka dengan riak kesedihan atas jebolnya tabungan pribadi, proses pengumpulan dana klub akhirnya resmi tuntas. Di balik jeritan kepasrahan Dimas yang terus-menerus menjadi korban cubitan dan ketidakberdayaan Raka menolak ketegasan Alya, sebuah fondasi baru bagi markas mereka telah diletakkan. Uang patungan sudah berada di tangan, daftar belanja perabotan telah tercatat rapi, dan kini tugas besar telah menanti mereka di hari libur. Latihan mental dan fisik melalui drama patungan ini hanyalah awal, karena perburuan sesungguhnya akan segera dimulai di pasar perabotan besok!