NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pulang ke Awal yang Berbeda

Pagi itu, Argan terbangun lebih awal dari biasanya. Ia menatap langit-langit kamarnya sejenak, lalu menoleh ke arah jendela yang sedikit terbuka, tempat udara segar menyelinap masuk membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari taman. Hari ini ada sesuatu yang mendorongnya untuk kembali ke tempat di mana semuanya bermula—rumah lamanya, tempat ia tumbuh besar, tempat ia mengalami kecelakaan yang mengubah seluruh hidupnya, dan tempat di mana ia pernah berpikir harapannya telah musnah sepenuhnya.

“Kau bersedia menemaniku ke suatu tempat?” tanyanya saat Aruna masuk membawa sarapan. Suaranya tenang namun menyiratkan makna yang dalam. “Ke rumah tempat aku tinggal sebelum kecelakaan itu. Sudah lama aku tidak kembali ke sana.”

Aruna meletakkan nampannya pelan, lalu mengangguk lembut. “Tentu saja. Ke mana pun Anda ingin pergi, saya ikut.”

Perjalanan menuju rumah itu memakan waktu hampir satu jam. Di sepanjang jalan, Argan menatap ke luar jendela, menyusuri jalanan yang dulu sering ia lalui dengan mobil sendiri, dengan langkah tegap, dengan keyakinan bahwa masa depannya cerah dan tak tergoyahkan. Kini semuanya tampak sama, namun baginya terasa berbeda—karena ia berbeda.

Sesampainya di sana, rumah besar itu berdiri megah di atas bukit kecil, dikelilingi pohon-pohon rindang yang masih sama seperti dulu. Pagar besi tempa yang kokoh tertutup lumut tipis, dan halamannya luas namun terawat rapi. Saat pintu mobil dibuka dan Aruna mendorong kursi roda Argan masuk perlahan, suasana hening dan damai menyambut mereka.

“Di teras ini aku biasa duduk membaca buku sore hari,” cerita Argan pelan, menunjuk ke arah bangku kayu di sudut teras. “Di taman itu aku berlari kecil setiap pagi sebelum berangkat kuliah. Dan di jalan menuju gerbang itulah semuanya berakhir.”

Aruna mendorong kursi rodanya menyusuri jalan setapak yang dulu sering ia jalani. “Rumah ini terasa penuh kenangan, bukan? Sebagian bahagia, sebagian lagi menyakitkan.”

“Dulu aku takut kembali ke sini,” akui Argan jujur. “Karena setiap sudutnya seolah menertawakan apa yang hilang dariku. Aku datang ke sini dengan rasa malu, seolah aku telah mengecewakan tempat ini.”

Ia berhenti di depan ruang kerja lamanya, tempat di mana ia dulu bermimpi membangun perusahaan besar dan berguna bagi banyak orang. Dengan bantuan Aruna, ia masuk perlahan. Semua perabotan masih sama, namun debu tipis mulai menutupi permukaannya.

“Tapi hari ini saat aku berdiri di sini—meski di kursi roda—aku tidak lagi merasa kalah,” lanjutnya dengan suara yang makin tegas. “Aku pulang bukan sebagai orang yang hancur, Aruna. Aku pulang sebagai orang yang telah bangkit kembali. Dan aku pulang tidak sendirian.”

Aruna berdiri di sampingnya, meletakkan tangan di bahunya dengan lembut. “Anda pulang sebagai pemenang, Argan. Bukan karena Anda tidak pernah jatuh, tapi karena Anda berani berdiri kembali meski semua orang berpikir Anda sudah selesai.”

Mereka berjalan berkeliling ke setiap sudut, menyentuh benda-benda yang menyimpan cerita lama, namun kini melihatnya dengan mata yang berbeda. Yang dulu terlihat seperti penanda kehilangan, kini menjadi bukti perjalanan panjang yang telah ia lalui.

Di ruang tengah, Argan meminta berhenti tepat di tempat di mana dulu ia menerima telepon dari Aisyah yang mengatakan betapa beruntungnya mereka akan bersatu. Tempat yang dulu sempat terasa indah itu kini hanya tinggal kenangan kosong yang tak lagi berdaya melukainya.

“Dulu di sini aku merasa bahagia,” ucapnya tenang. “Tapi ternyata kebahagiaan itu palsu. Kebahagiaan yang sejati baru aku temukan saat semua kemewahan dan kepura-puraan itu hilang, dan yang tersisa hanyalah seseorang yang tetap tinggal walau tak ada apa pun yang bisa ditawarkan.”

Ia menoleh ke arah Aruna, menatapnya penuh kasih sayang yang tulus. “Dan orang itu ada di sampingku sekarang.”

Saat matahari mulai turun, mereka duduk bersama di beranda belakang menghadap ke lembah yang hijau. Angin berhembus lembut menyapu wajah mereka.

“Awal yang dulu kuharapkan ternyata tidak pernah terjadi,” kata Argan pelan sambil menggenggam tangan Aruna. “Tapi awal yang baru justru jauh lebih indah, karena di dalamnya ada kejujuran, kesetiaan, dan cinta yang tumbuh perlahan tanpa dipaksakan.”

“Kita menulis ulang ceritanya,” jawab Aruna lembut sambil tersenyum. “Dengan akhir yang jauh lebih baik dari apa pun yang pernah Anda bayangkan.”

Malam itu mereka pulang bukan ke tempat yang sama seperti saat berangkat. Mereka pulang dengan hati yang lebih lapang, lebih tenang, dan lebih utuh. Argan kembali ke tempat di mana ia pernah hancur, namun ia tidak membawa kepahitan pulang. Ia membawa kesadaran bahwa pulang ke awal yang berbeda bukan berarti gagal—melainkan berarti ia telah tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dan lebih berharga.

 

Lanjut ke Bab 19?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!