"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025 - Tikus di Gudang
Lima hari berikutnya, Arya hidup dalam dua jadwal.
Pagi sampai sore, ia menjadi direktur utama PT Surya Teknologi.
Malam sampai lewat tengah malam, ia menjadi auditor.
Kirana tidak suka melihatnya tidur kurang.
Setiap pukul sepuluh malam, ia mengetuk pintu ruang kerja.
"Minum."
Arya menerima air hangat.
"Sepuluh menit lagi."
"Kamu bilang begitu sejak sejam lalu."
"Data ini hampir selesai."
"Anak-anak butuh ayah hidup. Mereka tidak butuh spreadsheet berjalan."
Arya langsung menutup laptop setengah.
Kata yang nyaris lolos dari mulut Kirana membuat ia melirik. Kirana sendiri sadar, lalu menunjuknya.
"Aku sedang marah. Jangan koreksi gaya bahasa."
Arya menahan senyum.
"Baik."
Ia belajar menutup laptop sebelum Kirana benar-benar marah. Setelah Kirana tidur, ia pindah ke tablet di sofa, volume cahaya paling rendah.
Sistem bekerja seperti pisau bedah.
Setiap transaksi finance dipasangkan dengan bukti operasional.
Setiap vendor dicocokkan dengan alamat, rekening, pemilik, dan pola pembayaran.
Setiap nama karyawan dicocokkan dengan absensi, email kantor, akses gedung, dan log pekerjaan.
Hasilnya buruk.
Hari pertama, Arya menemukan PT Sinar Abadi.
Di laporan, perusahaan itu menerima pembayaran konsultasi IT bulanan selama dua tahun.
Total: Rp 1.400.000.000.
Output: tiga dokumen PDF berisi template umum yang bahkan mencantumkan nama perusahaan lain di halaman akhir.
Pemilik terdaftar: sepupu Herman Wijaya.
Arya meminta Mega menelepon nomor kantor yang tertera.
Nomor itu aktif.
Yang mengangkat seorang pria dengan suara mengantuk.
"PT Sinar Abadi?"
"Salah sambung."
"Ini nomor yang terdaftar di kontrak PT Surya Teknologi."
Sambungan langsung putus.
Mega menatap Arya.
"Vendor konsultasi senilai satu koma empat miliar tidak punya resepsionis."
"Catat."
Hari kedua, PT Maju Jaya muncul.
Kontraknya untuk pengadaan perangkat jaringan.
Harga router dua kali lipat dari harga pasar.
Nomor seri barang yang diklaim dibeli ternyata dipakai juga di invoice berbeda.
Total kerugian sementara: Rp 1.900.000.000.
Hari ketiga, PT Karya Mandiri.
Jasa pelatihan internal.
Daftar peserta berisi lima puluh nama.
Mega memeriksa HR.
"Pak, dua puluh nama di daftar ini sudah resign sebelum tanggal pelatihan."
Arya menatap layar.
"Foto acara?"
"Ada."
Mega membuka file.
Foto itu diambil di ruang rapat kecil dengan spanduk editan. Sistem mendeteksi metadata lama dari acara kantor lain.
Mega menghela napas.
"Berani sekali."
"Karena selama ini tidak ada yang membuka."
Hari keempat, ghost employee.
Tujuh belas nama menerima gaji rutin.
Tidak ada kartu akses.
Tidak ada email aktif.
Tidak ada absensi.
Rekening penerima terhubung ke tiga nomor telepon yang dipakai keluarga Herman.
Pak Budi membaca daftar itu lama sekali.
"Saya pernah menanyakan empat nama ini. Finance bilang mereka remote contractor."
"Ada hasil kerja?"
"Tidak pernah saya lihat."
"Mulai hari ini semua pembayaran gaji diverifikasi HR dan operasional."
"Siap, Pak."
Hari kelima, bukti paling memuakkan muncul.
Vina Susanti.
Di HR, ia tercatat sebagai staf administrasi.
Gaji bulanan masuk rutin.
Kartu aksesnya hanya dipakai empat kali dalam setahun.
Namun reimburse atas namanya muncul puluhan kali.
Tas mewah.
Hotel Bali.
Spa.
Restoran mahal.
Semua diberi label: relasi klien.
Arya menatap satu invoice hotel.
Nama tamu: Herman Wijaya & Vina Susanti.
Pak Budi berdiri di sampingnya, wajahnya merah.
"Uang itu bisa dipakai menaikkan gaji tim support."
"Berapa lama tim support minta tambahan orang?"
"Setahun."
"Ditolak siapa?"
"Finance."
Rani dari support mengirim laporan internal malam itu.
Enam puluh dua tiket besar tertunda karena tim kurang orang.
Tiga klien mengancam berhenti.
Ada catatan rapat lama: permintaan tambahan lima staf support ditolak finance dengan alasan kas ketat.
Arya membaca catatan itu dua kali.
Kas ketat.
Di bulan yang sama, Herman mengajukan reimburse hotel Bali.
Di bulan yang sama, Vina menerima bonus proyek yang tidak pernah ia kerjakan.
Arya menutup mata sebentar.
Ini pencurian angka dan tenaga orang yang masih bekerja jujur.
Arya menutup file.
"Total?"
Mega membaca ringkasan.
"Estimasi sementara Rp 8.120.000.000. Itu belum termasuk kerugian tidak langsung dari keterlambatan proyek."
Ruangan hening.
Sistem menampilkan peta transaksi.
Tiga shell company.
Tujuh belas ghost employee.
Vendor mark-up.
Reimburse pribadi.
Transfer kecil berulang ke rekening yang terhubung dengan Vina.
Satu cabang garis mengarah ke catatan kalender Herman.
Meeting: DH, basement parking.
DH.
Denny Hartono.
Arya menyimpan layar itu.
"Pak Budi, hubungi auditor eksternal. Pilih firma yang tidak pernah bekerja sama dengan Herman."
"Sudah ada nama?"
"Saya punya tiga kandidat. Mega, kirim NDA dan minta mereka standby."
Mega mengangguk. "Hari ini?"
"Satu jam."
"Baik."
Mega bekerja tanpa banyak bicara. Lima belas menit kemudian, tiga email keluar. Tiga puluh menit kemudian, dua firma menjawab. Satu firma menolak karena pernah menangani proyek Herman. Mega langsung mencoretnya.
"Kenapa dicoret?" tanya Pak Budi.
"Konflik kepentingan."
Arya mengangguk. "Pilihan bagus."
Pak Budi memandang Arya.
"Pak, kalau ini dibuka, Herman akan melawan."
"Saya berharap begitu."
Pak Budi terkejut.
Arya menyusun folder bukti.
"Orang seperti Herman selalu merasa dirinya pusat perusahaan. Kalau ia panik, ia akan mencari pelindung. Saat itu kita lihat siapa yang muncul."
Kirana menelepon tepat saat folder final selesai.
"Kamu masih di kantor?"
"Sebentar lagi pulang."
"Kalau 'sebentar' lewat satu jam, aku telepon Pak Budi."
Pak Budi yang mendengar namanya langsung duduk lebih tegak.
Arya menjawab, "Aku pulang setelah satu hal terakhir."
Sore itu, auditor eksternal datang diam-diam melalui lift servis. Mereka memeriksa data mentah dan mengunci salinan digital.
Pukul delapan malam, laporan awal selesai.
Kesimpulan: indikasi penggelapan sistematis.
Panel sistem menyala.
【Terdeteksi: host menyelesaikan audit internal tahap pertama.】
【Hadiah: analisis keuangan Lv.4.】
【Hadiah: pengumpulan bukti Lv.3.】
【Gelar sementara: Hakim Besi.】
【Catatan: bukti kuat hanya bernilai jika dipakai pada waktu yang tepat.】
Arya membaca pesan itu.
Waktu yang tepat sudah dekat.
Ia keluar dari kantor bersama Pak Budi. Parkiran basement sudah sepi.
Di dekat pilar C, Herman Wijaya berdiri dengan ponsel di tangan.
Di depannya, sebuah Porsche Cayenne hitam berhenti.
Jendela turun.
Denny Hartono duduk di dalam.
Herman menunduk sedikit, menyerahkan amplop cokelat.
Denny mengambilnya.
Arya berhenti di balik pilar.
Pak Budi ikut membeku.
Mereka tidak mendengar isi percakapan.
Namun kamera ponsel Arya sudah menyala.
Klik.
Satu foto.
Dua foto.
Denny menoleh sebentar, seolah merasakan sesuatu.
Arya sudah menarik Pak Budi mundur ke bayangan.
Porsche itu pergi.
Herman memasukkan ponsel ke saku, wajahnya tenang.
Pak Budi berbisik, "Mereka benar-benar terhubung."
Arya melihat foto di ponsel.
"Besok rapat seluruh kepala divisi dan perwakilan karyawan."
"Tema?"
"Evaluasi Kinerja."
Pak Budi mengerti.
Besok, tikus itu keluar dari gudang.