NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Satu jam berlalu.nSuasana daycare yang semula tenang mulai kembali ramai. Satu per satu anak terbangun dari tidur siangnya. Ada yang masih mengucek mata, ada yang langsung mencari pengasuh, dan ada pula yang masih berguling di atas kasur kecil mereka.

Arjun termasuk yang terakhir bangun.nBocah itu duduk sambil mengusap kedua matanya yang masih mengantuk. Begitu menoleh ke ruang bermain, matanya langsung berbinar.

"Kak Azel!"

Ia berlari kecil menghampiri Azel yang sedang menyusun balok-balok warna bersama beberapa anak.

Azel menoleh dan langsung tersenyum. "Hai, anak ganteng."

Arjun langsung memeluk pinggang Azel. "Kak Azel!"

Azel mengusap pelan rambut bocah itu. "Nyenyak nggak tidurnya?"

Arjun mengangguk. "Lumayan."

"Alhamdulillah."

Arjun kemudian menarik tangan Azel. "Yuk main, Kak."

Azel terkekeh melihat tingkahnya. "Ayo."

Baru saja mereka hendak menuju sudut bermain, salah seorang pengasuh menghampiri sambil tersenyum.

"Ning."

"Iya, Mbak?"

"Biasanya jam segini Arjun sudah dijemput ayahnya."

Arjun langsung menggeleng cepat. "Tapi aku masih mau main dulu." Nada bicaranya terdengar seperti merengek.

Pengasuh itu tersenyum maklum. "Nanti kalau Ayah datang gimana?"

"Bilang aja sebentar lagi."

Azel tertawa kecil mendengar jawaban polos itu. "Ya sudah."

Ia berjongkok hingga sejajar dengan tinggi badan Arjun. "Sambil nunggu Ayah datang, kita main sebentar, ya."

Mata Arjun langsung berbinar. "Oke, Kak!"

"Mau main apa?"

Arjun berpikir sejenak. "Puzzle!"

"Boleh."

Atau... "Mau gambar juga?"

"Boleh!"

"Main mobil?"

"Boleh!"

Azel tertawa geli. "Semuanya aja Arjun."

"Iya!"

"Ya ampun, semangat banget."

Arjun mengangguk antusias. "Kalau sama Kak Azel, semuanya seru."

Ucapan polos itu membuat beberapa pengasuh saling tersenyum. Salah seorang di antara mereka bahkan berbisik pelan kepada temannya.

"Pantes aja Arjun selalu nyari Ning Azel."

"Iya. Soalnya Ning Azel sabar banget sama anak-anak."

Tanpa menyadari percakapan para pengasuh, Azel sudah duduk bersila di atas karpet, sementara Arjun sibuk menyusun potongan puzzle di sampingnya.

Sesekali Arjun berseru riang setiap berhasil memasang satu keping puzzle, dan Azel tak lupa memberinya pujian.

"Masya Allah... pintar banget."

Arjun langsung tersenyum bangga.

Beberapa anak lain yang melihat mereka bermain pun ikut bergabung, hingga sudut bermain kembali dipenuhi tawa dan celoteh khas anak-anak.

Sekitar lima belas menit kemudian, pintu depan daycare terbuka. Bel pintu berbunyi pelan. Salah seorang pengasuh yang sedang merapikan mainan segera menghampiri.

"Selamat sore, Pak."

"Selamat sore." Pria itu mengangguk singkat. "Saya mau menjemput putra saya, Arjun."

"Iya, Pak. Sebentar ya."

Pengasuh itu tersenyum ramah. "Arjun masih bermain di ruang aktivitas Pak, dia masih ingin bermain katanya."

Ibra melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Tapi ini sudah lewat dari jamnya pulang."

Pengasuh itu mengangguk memahami. "Baik, Pak. Saya panggilkan dulu Arjun."

"Iya."

Pengasuh tersebut segera berjalan menuju ruang bermain.

Sementara Ibra berdiri di area lobi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Tak lama kemudian, suara riang anak-anak terdengar dari dalam ruangan.

"Arjun."

Bocah itu menoleh. "Iya, Bu?"

"Ayah kamu sudah datang menjemput."

Senyum Arjun perlahan memudar. "Hah... Udah datang?"

"Iya."

Arjun langsung memeluk lengan Azel. "Tapi aku masih mau main sama Kak Azel."

Azel mengusap pelan kepala Arjun. "Besok kan masih bisa main lagi."

"Tapi sekarang belum puas."

Salah seorang pengasuh tersenyum geli melihat tingkah Arjun. "Kasihan Ayah kamu. Beliau sudah menunggu."

Arjun mengerucutkan bibirnya. "Sebentar aja."

Azel berjongkok hingga sejajar dengan Arjun. "Anak saleh nggak boleh bikin Ayah nunggu lama."

Arjun terdiam beberapa detik. "Kalau Arjun pulang sekarang... Besok Kak Azel ada lagi?"

Azel mengangguk sambil tersenyum. "Insya Allah ada."

"Janji?"

"Janji."

Barulah Arjun mengulurkan jari kelingkingnya. "Kelingking."

Azel tertawa kecil. "Iya."

Ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Arjun. "Besok ketemu lagi."

Arjun akhirnya mengangguk pelan. "Oke."

Dengan langkah yang masih berat, bocah itu menggenggam tangan Azel menuju lobi.nBegitu sampai di sana, Ibra yang sedari tadi menunggu langsung mengalihkan pandangannya.

Tatapannya jatuh pada Azel. Begitu pula sebaliknya. Mereka sama-sama terdiam beberapa saat.

Azel hanya bisa bergumam dalam hati. "Ya Allah... ketemu lagi sama dosen es batu."

Ibra melangkah mendekat dengan wajah yang tetap datar. Tatapannya beralih kepada Arjun yang masih menggenggam erat tangan Azel.

"Arjun."

Bocah itu mendongak pelan.

"Sudah waktunya pulang."

Arjun menggeleng. "Sebentar lagi, Yah."

"Tidak."

"Ayah..."

Ibra mengembuskan napas pelan. "Jangan mengulur waktu hanya untuk terus bermain." Nada bicaranya tetap tenang, tetapi terdengar tegas.

Arjun langsung menundukkan kepala. Melihat raut wajah bocah itu berubah murung, Azel spontan angkat bicara.

"Pak, lima menit lagi aja nggak apa-apa, kan? Dia lagi senang nyusun puzzle."

"Tidak." Jawaban Ibra singkat. "Saya masih ada urusan."

"Tapi anak kecil kalau lagi asyik main kan sayang kalau langsung diputus."

"Itu bukan alasan untuk mengabaikan jadwal."

Azel menghela napas pelan.n"Ya, tapi sesekali—"

"Saya sudah mengatakan tidak."

Suasana lobi mendadak hening. Para pengasuh saling melirik, khawatir perdebatan kemarin akan terulang lagi.

Azel menatap Ibra beberapa detik. Dalam hati ia kembali menggerutu. "Ya ampun... kaku banget, sih."

Namun kali ini ia memilih menahan diri. Ia berjongkok di hadapan Arjun.

"Arjun."

"Iya, Kak?"

"Kata Kak Azel tadi apa?"

Arjun berpikir sejenak. "Anak saleh nggak boleh bikin Ayah nunggu."

"Nah." Azel tersenyum lembut. "Berarti sekarang Arjun harus gimana?"

Bocah itu menghela napas kecil. "Pulang..."

"Iya. Besok kalau Kak Azel ke sini lagi, kita lanjut main puzzle."

"Janji?"

"Insya Allah."

Arjun akhirnya mengangguk pelan, meski wajahnya masih terlihat kecewa. "Ya udah."

Ia berjalan menghampiri ayahnya. Ibra memperhatikan bagaimana hanya dengan beberapa kalimat, Azel berhasil membujuk Arjun tanpa tangisan ataupun rengekan. Hal yang bahkan terkadang sulit ia lakukan sendiri.

Sebelum pergi, Arjun kembali melambaikan tangan. "Bye, Kak Azel."

Azel membalas dengan senyum lebar. "Assalamu'alaikum, Arjun."

"Wa'alaikumussalam."

Ibra menggenggam tangan putranya, lalu menoleh kepada Azel. "Terima kasih."

Azel sedikit terkejut. Ia tidak menyangka dua kata itu keluar dari mulut dosen yang menurutnya sangat dingin tersebut.

"Eh... sama-sama."

Ibra mengangguk singkat. "Selamat sore."

"Selamat sore, Pak."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Ibra mengajak Arjun menuju mobil.

Di tengah perjalanan menuju parkiran, Arjun mendongak menatap ayahnya.

"Ayah."

"Apa?"

"Kalau Kak Azel jadi Mama Arjun boleh nggak?"

Ibra menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan polos putranya. Ibra menatap wajah kecil Arjun beberapa saat. Tatapannya melembut, meski hanya sesaat.

"Kenapa tiba-tiba minta seperti itu, Arjun?"

Arjun memainkan ujung bajunya. "Arjun suka main sama Kak Azel."

Ibra tetap diam, membiarkan putranya melanjutkan.

"Arjun suka sama Kak Azel."

"..."

"Arjun maunya punya Mama yang baik kayak Kak Azel."

Napas Ibra terasa berat. Ia berjongkok hingga sejajar dengan tinggi badan putranya.

"Arjun... Bukannya Arjun punya Mama?"

Bocah itu justru menggeleng kuat.n"Kalau Arjun punya Mama... Mana, Yah?"

Suara Arjun mulai bergetar. "Dari dulu yang selalu sama Arjun cuma Ayah sama Nenek."

Kalimat itu membuat Ibra membeku. Dadanya kembali terasa sesak. Ingatannya seketika melayang pada masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur.

Lima tahun yang lalu...

Rumah tangganya hancur bahkan sebelum sempat benar-benar dimulai.

Celine.

Perempuan yang pernah begitu ia cintai justru memilih meninggalkannya demi laki-laki lain yang dianggap mampu memberinya kehidupan lebih mewah.

Ia masih mengingat pintu rumah yang tertutup sore itu. Celine pergi hanya dengan satu koper. Bahkan tak sempat menoleh kepada bayi yang terus menangis di gendongannya.

Sejak hari itu, Arjun tumbuh hanya bersama Ibra dan almarhum ibunya.

4 tahun kemudian, Celine kembali. Bukan untuk meminta maaf. Melainkan menuntut hak asuh Arjun. Bukan karena cinta seorang ibu. Melainkan karena kedua orang tuanya menginginkan Arjun menjadi pewaris keluarga mereka. Namun pengadilan memutuskan hak asuh tetap berada di tangan Ibra.

Fakta bahwa Celine meninggalkan suami dan anaknya sejak bayi menjadi pertimbangan utama. Setelah putusan itu Celine kembali menghilang. Tak pernah datang lagi.

"Aku cuma mau punya Mama, Yah..." Suara Arjun mematahkan lamunan Ibra.

Bibir pria itu bergerak, tetapi tak satu kata pun keluar.

Apa yang harus ia jawab?

Bahwa ibu kandungnya pernah meninggalkannya?

Bahwa tidak semua anak seberuntung teman-temannya?

Ia tidak sanggup.

"Ayah... Aku cuma mau Mama." Air mata mulai mengalir di pipi Arjun.

Ibra hendak meraih tangan putranya. "Arjun..."

Namun bocah itu lebih dulu melepaskan genggaman ayahnya. "Aku nggak mau pulang!"

"Arjun!"

Bocah itu berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju pintu daycare.

"Arjun!"

Di saat yang bersamaan... Pintu daycare terbuka.

Azel baru saja keluar setelah berpamitan kepada para pengasuh. Belum sempat menuruni anak tangga, ia melihat seorang anak kecil berlari ke arahnya sambil menangis tersedu-sedu.

"Arjun?"

Bocah itu langsung memeluk pinggang Azel erat-erat.

"Kak Azel..." Tangisnya pecah.

Azel yang sama sekali tidak tau apa yang terjadi langsung berjongkok dan memeluk Arjun dengan lembut.

"Ya Allah... Kenapa, Sayang? Siapa yang bikin Arjun nangis?"

Arjun hanya menggeleng sambil terus menangis di pelukan Azel.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki Ibra terdengar mendekat. Tatapan Azel bertemu dengan tatapan pria itu.

Untuk pertama kalinya, Ia tidak melihat wajah dingin yang sama seperti biasanya. Yang ia lihat justru sorot mata seorang ayah yang dipenuhi rasa bersalah dan kebingungan.

Azel mengusap pelan punggung Arjun yang masih terisak. "Arjun... tenang dulu, ya."

Bocah itu menggeleng sambil memeluk Azel semakin erat. "Aku mau Mama."

Azel mengernyit bingung. "Hah?"

Azel tidak mengerti apa yang diucapkan Arjun. Kenapa ia meminta Mama. Memangnya kemana mamanya?

Arjun mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Ayah nggak bisa ngasih aku Mama."

Kalimat itu membuat Azel terdiam. Ia refleks menoleh ke arah Ibra yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Pria itu hanya memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.

Azel kembali menatap Arjun. "Lho... memangnya Mama Arjun ke mana?"

Arjun hanya menggeleng. "Nggak ada."

Jawaban singkat itu justru membuat Azel semakin bingung. "Nggak ada?"

Selama ini ia mengira ibu Arjun hanya sibuk bekerja. Karena itu yang sering terjadi pada beberapa anak di daycare tersebut.

Namun melihat reaksi Arjun dan ekspresi Ibra... Sepertinya kenyataannya jauh berbeda.

"Apa... mamanya sudah meninggal?" batin Azel.

"Atau..." Ia mengurungkan pikirannya.

Azel tidak ingin berprasangka macam-macam terhadap kehidupan keluarga orang lain.

Ia kembali mengusap kepala Arjun. "Sayang... Kak Azel tahu Arjun lagi sedih. Tapi sekarang Arjun jangan nangis dulu, ya. Ayah juga pasti sedih kalau lihat Arjun nangis."

Arjun menggeleng keras. "Tapi Arjun mau Mama." Suara bocah itu kembali bergetar.

Azel menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di keluarga kecil itu.

Sementara Ibra yang sedari tadi diam akhirnya melangkah mendekat.

Tangannya beberapa kali terangkat ingin memeluk putranya, tetapi kembali turun karena Arjun terus bersembunyi di balik Azel.

"Arjun."

Bocah itu tidak menoleh.

"Arjun, pulang."

"Nggak mau."

"Arjun."

"Nggak mau!" Suara Arjun meninggi. "Aku maunya sama Kak Azel."

Suasana mendadak hening. Beberapa pengasuh yang melihat dari dalam daycare hanya saling berpandangan.

Mereka tahu Arjun memang sangat dekat dengan Azel, tetapi baru kali ini mereka melihat bocah itu menangis seperti ini.

Azel menatap Ibra dengan ragu. "Pak... Kalau boleh, saya bujuk Arjun dulu."

Ibra mengangguk pelan. "Silakan."

Azel kembali memfokuskan perhatiannya pada Arjun. "Arjun."

"Iya..."

"Kalau Arjun terus nangis, Kak Azel ikut sedih."

Bocah itu perlahan mengangkat kepalanya. "Arjun nggak mau Kak Azel sedih."

"Kalau begitu jadi anak hebat dulu, ya. Temenin Ayah pulang. Besok kalau Kak Azel ke daycare lagi, kita main lagi."

Arjun terdiam cukup lama. Matanya bergantian menatap Azel dan ayahnya. Sementara itu, Ibra memandang Azel tanpa berkata apa pun.

Dalam hati, ia tidak bisa memungkiri satu hal. Hanya dalam waktu dua bulan... Perempuan itu telah menjadi sosok yang mampu menenangkan putranya, sesuatu yang bahkan sering kali sulit ia lakukan sendiri.

"Kak..."

"Iya?"

"Kakak ke rumah Arjun aja."

Azel terkekeh kecil. "Eh, mana bisa begitu."

"Kenapa?"

"Soalnya Kak Azel juga punya rumah."

"Tapi rumah Arjun lebih besar."

Azel menahan tawa. "Bukan soal besar rumahnya."

"Terus?"

"Kita mainnya di daycare aja, ya. Besok juga Kak Azel datang lagi, insya Allah."

Arjun masih tampak ragu. "Janji?"

"Janji."

Azel kembali mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Arjun. "Kalau gitu sekarang kakak antar Ayah ke mobil. Gimana?"

Arjun mengangguk pelan. "Tapi..."

"Hm?"

"Gendong, ya, Kak."

Belum sempat Azel menjawab, suara Ibra lebih dulu terdengar. "Arjun, tidak."

Bocah itu langsung mengerucutkan bibir. "Tapi capek."

Azel tersenyum. "Nggak apa-apa, Pak. Saya kuat, kok."

"Tidak usah."

"Serius, nggak berat."

"Saya bilang tidak usah."

Azel mengangkat sebelah alis. "Lho, Pak. Yang mau gendong saya. Bukan Bapak."

Ibra menatap datar. "Arjun itu berat untuk ukuran kamu yang kecil."

"Jangan meremehkan kecilnya tubuh saya. Saya kuat!"

"Yasudah."

Arjun langsung mengangkat kedua tangannya. "Kak..."

Azel pun akhirnya menggendong Arjun.

"Horeee!" Arjun langsung tertawa riang sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Azel.

"Nah, kan. Ringan."

Ibra hanya memandang tanpa ekspresi. Azel berjalan beberapa langkah sambil tersenyum.

"Eh... Arjun."

"Iya, Kak?"

"Kamu kok lama-lama berat, ya?"

Arjun langsung membulatkan matanya. "Hah?"

"Apa Arjun makan batu."

"Hahaha!" Arjun tertawa lepas. "Nggak! Aku makan nasi!"

"Nasinya satu panci?"

"Nggak!"

"Tiga panci."

"Hahaha...." Tawa Arjun menggema di halaman daycare.

Azel pura-pura mengaduh. "Ya Allah... pulang-pulang kayaknya Kak Azel encok."

"Encok itu apa, Kak?"

Azel berpikir sejenak. "Encok itu..."

Belum sempat ia menjawab, Ibra menyela dengan wajah datarnya. "Patah tulang."

Azel langsung berhenti melangkah. Ia menoleh tajam ke arah Ibra. "Pak!"

"Hm?"

"Jangan ngaco, dong. Wajah Bapak serius banget, nanti Arjun percaya."

Arjun langsung memegang lengan Azel. "Kak... jangan patah tulang."

"Nah, kan!" Azel kembali menatap Ibra. "Ini gara-gara Bapak."

Ibra tetap tenang. "Saya hanya menjawab."

"Itu bukan jawabannya."

"Kalau begitu, jawabannya apa?"

"Ya... encok itu pegal."

"Oh."

"Lho, 'oh' doang?"

Ibra mengangguk tipis. "Saya baru tahu."

Azel mendelik. "Masa dosen nggak tahu arti encok?"

"Itu bukan istilah medis."

"Bapak dosen perpajakan, bukan dokter."

Ibra terdiam beberapa detik. "Itu benar."

Azel tersenyum penuh kemenangan. "Nah... Ternyata Bapak bisa salah juga."

Sudut bibir Ibra bergerak nyaris tak terlihat. "Bisa. Tapi tidak sesering kamu."

Mata Azel langsung membulat. "Lho!"

Arjun yang berada di gendongan Azel justru tertawa melihat keduanya saling membalas.

"Kak Azel sama Ayah lucu."

Keduanya spontan berhenti berdebat.

"Lucu?" tanya Azel.

Arjun mengangguk semangat. "Iya."

"Kalian kayak anak kecil."

Untuk sesaat, Azel dan Ibra saling pandang. Lalu sama-sama mengalihkan wajah ke arah lain.

Azel berdeham pelan. "Kakak nggak kayak anak kecil."

Ibra menjawab datar. "Ayah juga."

Namun entah mengapa, suasana yang tadinya dipenuhi tangisan kini berubah jauh lebih ringan berkat celetukan polos Arjun.

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!