Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019
Kantor Polisi
Setidaknya, untuk hari itu, Kevin percaya.
Sayangnya, rasa percaya bukan sesuatu yang langsung menetap.
Dua hari setelah nama Kevin dibersihkan, sekolah memang kembali berjalan seperti biasa. Adrian tidak lagi muncul di kantin. Grup kelas lebih sepi. Beberapa siswa yang dulu ikut menyebarkan rumor mulai menyapa Kevin dengan canggung, seolah satu kata "maaf" cukup untuk menghapus cara mereka menatapnya.
Kevin tidak membalas banyak.
Ia tetap menunggu Sekar di gerbang, tetap membawakan tasnya, tetap memastikan ia makan. Namun Sekar bisa melihat sesuatu di balik diamnya. Setiap kali ada bisikan di koridor, bahu Kevin menegang sebelum ia memaksa diri terlihat tidak peduli.
Pada Jumat sore, Sekar harus tinggal di sekolah lebih lama untuk rapat kecil program tutor. Kevin ingin menunggu, tetapi Pak Arief memanggilnya untuk latihan basket tambahan bersama Bryan dan Rio.
"Aku pulang sama Yola nanti," kata Sekar.
Kevin tidak suka, tetapi ia mengangguk. "Kabarin."
"Iya."
"Kalau rapat selesai, jangan lewat gerbang belakang."
"Iya."
"Kalau hujan, tunggu gue."
Sekar tersenyum. "Kev."
Kevin berhenti.
"Aku akan kabari."
Ia akhirnya pergi bersama Bryan. Rio mengikuti di belakang, membawa bola basket dan wajah malas seperti biasa.
Latihan selesai saat langit mulai gelap. Rio pulang lebih dulu karena ada urusan keluarga. Kevin dan Bryan berjalan ke parkiran motor, tubuh masih lengket oleh keringat dan debu lapangan.
"Bro, lo sadar nggak sejak pacaran, checklist keselamatan Sekar lebih panjang dari tata tertib sekolah?" kata Bryan sambil mengelap leher dengan handuk.
"Lo iri?"
"Gue? Iri disuruh laporan tiap lima menit? Nggak, makasih."
Kevin membuka kunci motor. "Kalau lo punya pacar, kasihan pacar lo."
"Serangan pribadi."
Mereka baru keluar dari jalan kecil belakang sekolah ketika tiga pemuda muncul dari arah ruko. Salah satunya memakai topi hitam.
Bryan langsung berhenti bercanda.
Kevin mengenali wajah itu.
Pemuda dari tempat biliar.
Pergelangan tangannya mungkin sudah sembuh. Harga dirinya jelas belum.
"Wah," pemuda bertopi itu tersenyum miring. "Pahlawan sekolah lewat."
Kevin tidak berhenti. "Minggir."
Salah satu temannya berdiri di depan motor, memaksa Kevin mengerem.
Bryan turun dari motor. "Kalau mau cari ribut, cari tempat lain."
"Kemarin sok jago di biliar," kata pemuda bertopi. "Sekarang katanya sudah jadi anak baik karena pacarnya cantik?"
Tangan Kevin mengeras di setang.
Bryan segera melangkah di sampingnya. "Bro, jangan."
Pemuda itu tertawa. "Oh, jadi benar. Cewek itu yang bikin lo jinak?"
Kevin mematikan mesin motor.
Udara di jalan kecil itu berubah.
"Jangan sebut dia."
"Kenapa? Dia pacar lo, kan? Anak baik, rok pendek, masuk biliar cari perhatian..."
Kalimat itu belum selesai ketika Kevin sudah berdiri di depannya.
Bryan menangkap lengan Kevin. "Kev."
Pemuda bertopi justru maju, sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Kevin. "Kenapa? Mau mukul? Ayo. Biar semua orang lihat anak sekolah kesayangan itu masih preman."
Kevin tidak memukul.
Ia mendorong pemuda itu menjauh dari motornya dengan satu tangan di dada. Dorongan itu kuat, tetapi tidak sampai membuatnya jatuh.
Masalahnya, teman pemuda itu langsung menarik kerah Bryan dari belakang.
Bryan tersentak. "Eh!"
Kevin berbalik.
Kali ini, ia tidak sempat berpikir panjang.
Ia menarik tangan yang mencengkeram Bryan, memutar pergelangan pemuda itu, lalu mendorongnya ke dinding ruko. Satu pukulan dari pihak lawan melayang ke arah wajahnya. Kevin menghindar setengah, tetapi ujung kepalan tetap mengenai tulang pipinya.
Rasa panas meledak di wajahnya.
Bryan berteriak, "Kev, stop!"
Namun jalan kecil sudah kacau. Motor berhenti. Pedagang di ujung gang menoleh. Pemuda bertopi mencoba memukul lagi, dan Kevin menahan tangannya sebelum membalas satu pukulan ke bahu, bukan wajah, cukup untuk membuatnya mundur.
Lalu peluit terdengar.
"Berhenti!"
Dua polisi patroli datang dari arah jalan besar. Salah satunya turun dari motor dinas, wajahnya keras.
"Apa-apaan ini?"
Semua orang langsung mundur, kecuali Kevin yang masih berdiri di depan Bryan.
Pemuda bertopi memegang bahunya dan langsung memasang wajah korban. "Pak, dia yang mulai. Dia mukul teman saya."
Bryan menunjuknya. "Dia yang ganggu duluan!"
Polisi itu mengangkat tangan. "Semuanya ikut ke Polsek. Jelaskan di sana."
Kevin menghapus darah kecil di sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Pak, saya..."
"Di sana."
Nada itu tidak memberi ruang.
Bryan menatap Kevin, panik mulai naik di wajahnya. "Bro, kita telepon Sekar."
"Jangan."
"Lo gila? Kalau dia tahu dari orang lain, gue mati."
Kevin menatap jalan yang mulai dipenuhi orang. Beberapa sudah mengangkat ponsel. Ia bisa membayangkan berita baru menyebar. Baru dua hari namanya dibersihkan, sekarang ia kembali berdiri di tengah keributan.
Anak kayak Kevin memang nggak berubah.
Kalimat dari grup lama muncul di kepalanya.
Kevin menunduk.
"Jangan kasih tahu dia dulu."
Bryan menatapnya tidak percaya. "Dia pacar lo."
"Makanya."
Polisi meminta mereka naik ke motor masing-masing dan mengikuti ke Polsek terdekat. Bryan masih menggenggam ponselnya. Kevin naik ke motor dengan wajah tertutup bayangan sore.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di halaman Polsek kecil dekat jalan raya. Bangunannya sederhana, cat putihnya sedikit kusam, dengan beberapa kursi plastik di ruang tunggu. Seorang petugas meminta semua yang terlibat duduk terpisah dan menyerahkan kartu pelajar.
Pemuda bertopi langsung banyak bicara.
"Dia terkenal suka ribut, Pak. Tanya aja anak sekolahnya."
Bryan hampir berdiri. Kevin menahan bahunya.
"Duduk."
"Dia fitnah lo lagi."
"Duduk, Bryan."
Petugas mencatat nama mereka satu per satu. Ketika sampai pada Kevin, ia melihat sudut bibir Kevin yang sedikit berdarah, lalu bertanya, "Orang tua bisa dihubungi?"
Kevin diam.
Bryan tahu pertanyaan itu selalu menjadi titik yang tidak enak. Kevin tidak punya orang tua yang akan datang dengan wajah khawatir. Tidak ada wali yang mudah ditelepon. Hanya nomor kos, bengkel, dan orang-orang yang terbiasa melihat Kevin mengurus dirinya sendiri.
"Saya bisa tanda tangan sendiri," kata Kevin.
Petugas menatapnya. "Kamu masih siswa."
"Saya tidak mau merepotkan siapa-siapa."
Bryan menggenggam ponsel lebih kuat. Di kepala Bryan, nama Sekar langsung menyala. Kalau ada satu orang yang akan datang tanpa menghitung repot, itu Sekar.
Namun Kevin menoleh seolah membaca pikirannya.
"Jangan."
Bryan menahan napas. "Bro..."
"Gue nggak mau dia lihat gue di sini."
Kalimat itu pelan, tapi lebih menyakitkan daripada benturan pukulan tadi. Bryan melihat wajah Kevin yang menunduk, melihat bagaimana ruang tunggu Polsek membuat seluruh tuduhan lama menempel lagi di bahunya.
Anak nakal. Tukang berantem. Masalah.
Bryan akhirnya tidak tahan.
Ia membuka WhatsApp dan mengetik pesan dengan tangan gemetar.
Bryan: Kak Sekar, jangan panik.
Ia menatap kalimat itu, sadar tidak ada cara agar Sekar tidak panik setelah membaca kata-kata berikutnya.
Bryan: Kevin dibawa ke Polsek. Gue sama dia. Datang sekarang.