Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2, Langit setelah lulus
Sore itu, langit Yogyakarta dihiasi semburat jingga keemasan yang perlahan meleleh menjadi warna ungu keabuan. Angin sepoi-sepoi berembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon mangga yang berderet rapi di sepanjang jalan kompleks.
Seperti biasa, pos ronda di ujung jalan itu kembali menjadi saksi bisu dari jutaan percakapan tak terarah milik dua remaja
Arga Fernansyah dan Alya Nadira Adhitama.
Di atas meja kayu tua yang penuh coretan nama dan tanggal, tergeletak dua plastik es teh yang mulai mencair, beberapa bungkus gorengan yang sudah dingin, serta tumpukan buku pelajaran kelas dua belas yang sejak satu jam lalu hanya menjadi pajangan.
Mereka lebih banyak mengobrol dan melempar lelucon ketimbang menatap rumus-rumus rumit di depan mata.
Arga merebahkan tubuh tingginya di atas bangku panjang, menggunakan tas ransel sebagai bantal seraya memandangi langit malam yang perlahan merayap naik.
"Capek banget, asli... Baru aja masuk kelas dua belas udah berasa mau rontok," keluh Arga sambil mengusap wajahnya kasar.
Nadira terkekeh kecil, merapikan letak kacamata tipisnya. "Baru juga awal semester, Ga. Perjalanan masih panjang."
"Justru itu! Bayangin nanti kalau udah masuk musim ujian nasional, terus tryout beruntun... Bisa gila gue."
"Ya makanya belajar, bukannya malah rebahan terus sambil ngitungin burung lewat."
"Belajar mulu, pusing. Otak gue butuh istirahat," balas Arga dengan nada santai yang menjadi ciri khasnya.
Nadira hanya menggelengkan kepala pelan. Sudah bertahun-tahun berteman rapat dengan Arga, cowok itu memang tidak pernah berubah. Selalu santai, selalu punya cara untuk meringankan suasana berat, dan tidak pernah membiarkan tenggat waktu merusak suasana hatinya.
Hening menyelinap sebentar di antara mereka. Hanya terdengar derik jangkrik dari balik semak-semak dan riuh samar suara anak-anak kompleks yang dipanggil pulang oleh ibu mereka.
Nadira menoleh ke arah Arga yang masih betah menatap langit sore. Ada keraguan di matanya sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.
"Em... Ga?"
"Hm?"
"Kita kan udah kelas dua belas, ya?"
"Iya, tahu. Kan tadi gue yang sambatan."
"Bentar lagi... kita mau lulus."
Arga mengangguk kecil, pandangannya masih tertuju pada garis-garis awan di atas sana. "Iya..."
"Abis ini... kita bakal melangkah ke jenjang yang beda. Kuliah... atau kerja."
"Hmm."
Nadira menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian sebelum melontarkan pertanyaan yang menggantung di kepalanya sejak lama. "Lu... serius nggak mau ngejar cita-cita lu buat masuk ITB?"
Pertanyaan itu seketika membuat Arga mengalihkan pandangannya dari langit. Tatapannya berubah total. Tidak ada lagi pendar jenaka yang biasanya selalu menghiasi wajah cowok itu.
Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa begitu paksain dan berat.
"Mau, lah... Siapa yang nggak mau?" bisik Arga pelan.
Nadira bergeming, menunggu kelanjutan kalimat sahabatnya.
"Apalagi gue emang pengen banget masuk jurusan Arsitektur di sana. Itu impian gue dari SMP, Nad."
"Makanya... kan emang itu yang lu mau dari dulu. Kampusnya bagus, jurusannya juga salah satu yang terbaik."
"Iya, gue tahu," Arga menghela napas panjang, menatap tutup botol minuman yang ia pilin di jemarinya. "Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Pengen sih pengen, tapi ortu gue pasti nggak bakal ngizinin."
Nadira mengernyitkan dahi. "Kenapa gitu? Tante sama Om kan selalu dukung lu?"
"Bukan masalah dukung nggak dukung, Nad. Ayah pengennya gue tetep di Jogja," jawab Arga halus, ada kekecewaan yang tersirat di suaranya. "Beliau mau gue langsung bantu ngurus usaha furnitur dan bengkel keluarga setelah lulus."
"Lah, tapi kan bisa kuliah dulu? Nanti ilmu arsitek lu malah bisa dipakai buat ngembangin usaha Ayah kamu, kan?"
Arga tersenyum hambar, menggelengkan kepala pelan. "Kalau Ayah gampang diyakinin, dari kemarin gue udah sibuk ikut bimbingan belajar buat tembus ITB. Ayah itu keras kalau udah menyangkut masa depan bisnis keluarga."
Nadira ikut terdiam. Ia tahu betul karakter Ayah Arga. Beliau memang sosok penyayang dan sangat royal pada anak-anaknya, tapi dalam urusan prinsip dan masa depan... beliau punya garis tegas yang sulit ditawar.
Nadira menatap Arga selama beberapa detik, memperhatikan raut ketidakberdayaan di wajah cowok yang biasanya paling ceria itu.
"Kalau Ayah nggak setuju..." gumam Nadira pelan.
Arga menoleh. "...kenapa?"
"...kita bilang baik-baik."
"Kita?" Arga membelalakkan mata.
"Iya. Gue ikut ngomong sama Ayah lu."
Arga terkekeh kecil, menyandar lemas di sandaran kayu. "Lu pikir Ayah gue bakal dengerin omongan anak SMA kayak kita?"
"Ya dicoba dulu! Kita jelasin pelan-pelan kalau cita-cita lu itu berharga."
"Susah, Nad. Percaya sama gue."
"Belum dicoba udah nyerah!" tegas Nadira gemas.
"Nanti malah lu yang dimarahin Ayah gue, gimana?"
"Yaudah, dimarahin doang. Nggak bakal bikin gue patah tulang ini," sahut Nadira mantap.
Arga tertawa geli, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat kenekatan gadis di depannya. "Lu enak banget ngomongnya, kayak nggak tahu galaknya Ayah gue aja."
"Gue serius, Arga," potong Nadira cepat. Matanya menatap tepat ke dalam manik mata Arga dengan kepastian yang utuh. "Kalau masalah biaya yang bikin lu ragu... kita bisa kerja berdua di sana nanti."
"Hah? Maksud lu gimana?"
"Iya. Kita bisa cari kerja part-time bareng di Bandung. Buat nambah biaya hidup, buat bayar kontrakan, atau bantu-bantu biaya kuliah. Kita usahain bareng-bareng."
Arga memandang Nadira seolah gadis itu baru saja mengusulkan ide paling gila di muka bumi. "Lu... beneran mau repot-repot gitu cuma buat gue?"
"Ya mau," jawab Nadira pelan. Ia menundukkan kepala, memainkan sedotan di dalam gelas es tehnya yang mulai berembun. "Soalnya... gue juga pengen kuliah di luar Jogja, Ga."
"Lah, emang siapa yang ngelarang lu? Lu kan pinter, pasti gampang dapet beasiswa."
"Bapak," bisik Nadira.
Arga mengernyit. "Maksudnya?"
"Kalau kuliahnya masih di sekitaran Jogja... Bapak
izinin. Tapi kalau mau merantau keluar kota..."
Nadira menggeleng pelan dengan mata redup.
"...Bapak nggak bakal pernah kasih izin."
"Alasannya?"
"Katanya anak perempuan kalau jauh dari orang tua bikin pikiran. Khawatir."
Arga terdiam. Kata-kata Nadira seolah mengunci rapat mulutnya.
"Makanya..." Nadira mengangkat kepalanya kembali, tersenyum kecil menatap Arga. "Kalau nggak merantau bareng lu... gue nggak bakal pernah dibolehin keluar dari Jogja."
Ucapan polos namun bermakna dalam itu sukses membuat jantung Arga berdesir halus. "Gimana... gimana?"
"Iya. Bapak udah pernah bilang langsung ke gue kemarin lusa." Nadira menirukan nada bicara ayahnya yang berat. 'Kalau Nadira merantaunya ada Arga, Bapak masih tenang.'
Arga sampai kehilangan kata-kata untuk beberapa detik. "Seriusan Bapak lu bilang gitu?"
Nadira mengangguk pelan. "Beliau percaya banget sama lu."
"Lah, kok bisa gitu, sih?"
"Soalnya dari kecil kita tumbuh bareng. Rumah cuma berjarak satu pagar, orang tua kita udah kayak saudara. Bapak bilang... Arga itu anak baik, bertanggung jawab."
Seketika rasa canggung bercampur bangga membuat wajah Arga memerah. Cowok itu menyeringai lebar sambil membusungkan dadanya.
"Wah... gila. Gue baru aja dipuji sama calon mertua nih ceritanya?"
PLAK!
"ARGA!" Nadira refleks memukul lengan Arga cukup keras hingga cowok itu teraduh pelan. "Apaan sih! Nggak jelas banget!"
"Bercanda, Nad! Astaga, galak banget sih lu!" Arga mengusap-usap lengannya sambil tertawa lepas.
"Dikit-dikit bercanda! Nggak usah kepedean ya!"
"Iya, iya, ampun! Oke, maap!"
Suasana di pos ronda itu kembali hening setelah tawa mereka mereda. Namun, keheningan kali ini terasa hangat dan penuh harapan.
Di balik candaan konyol dan godaan tak bertepi, ada mimpi-mimpi besar yang perlahan mulai menenun jalannya sendiri. Mimpi untuk menembus batas kota lahir mereka, mimpi untuk merantau, dan mimpi untuk saling menjaga di tanah asing.
Dan mungkin... sebuah tekad terselubung untuk tetap berjalan berdampingan, apa pun yang terjadi nanti.
Arga menatap langit yang kini sepenuhnya telah gelap, berganti menjadi hamparan tirai hitam bertabur bintang tipis.
"Nad."
"Hm?"
"Kalau nanti... kita beneran takdirnya kuliah di Bandung bareng..."
"Iya?"
"Janji ya, jangan pernah ninggalin gue di sana."
Nadira menoleh, menatap garis rahang Arga dari samping sebelum tersenyum manis. "Gue yang harusnya bilang gitu ke lu."
"Kenapa gitu?"
"Soalnya lu kan anak basket, gampang akrab sama orang baru, temen lu di mana-mana. Kalau gue..." Nadira tertawa pelan, agak sumbang. "...gue takut sendirian di kota orang."
Arga duduk tegak, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dengan jari kelingking yang terulur tegak lurus.
"Yaudah. Makanya... janji."
Nadira menatap jari kelingking itu sejenak, lalu ikut mengacungkan jari kelingking kecilnya