Temmy Lynn, seorang dokter cantik super jenius tapi sangat plenger, ceplas ceplos dan omongannya kadang sepedas seblak level 100. dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit tanpa terkecuali. Dia hanya peduli dengan uang, baginya itu sangat realistis.
Kailendra Adyaksa, tuan muda dingin yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan mobil yang dialaminya dua tahun yang lalu. Dia menolak semua pengobatan dan orang-orang yang mencoba mendekat termasuk orang tuanya. Apa yang terjadi jika kedua manusia beda karakter ini bertemu? Yuk kepoin keseruan mereka di sini guys..!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaeyunie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
p"Bagaimana mereka bisa selamat sedangkan kita sudah mengirim banyak orang kesana?"
"Mereka mendapat bantuan nyonya dan lagi dokter yang bersama mereka benar-benar diluar dugaan, kemampuannya diatas kami semua"
"Kalian kalah oleh seorang gadis? Benar-benar pecundang, percuma aku membayar kalian mahal" ucap Rahayu sambil seraya memecahkan vas bunga di depannya"
"PERGI KALIAN SEMUA....!" teriaknya frustasi.
"Sekarang apa rencana mama?" tanya Sandy.
"Biarkan mereka merasa menang untuk sementara, sekalian saja kita bantai habis-habisan. Heran dari dulu mau nyingkirin anak sialan itu gagal terus" geram Rahayu.
Tok..tok..tok....
"Nyonya ada berita penting"
"Ada apa?"
"Sepertinya tuan Prayoga dan nyonya Monica berada di pihak lawan. Menurut info yang saya dapatkan, tuan dan nyonya adalah orang yang mempekerjakan dokter muda itu untuk tuan muda Kai" ujar asisten Rahayu. Wanita tua itu semakin dibuat naik pitam dengan berita yang ia dapatkan.
"Siapa lagi yang terlibat? Apakah Eland juga?"
"Belum ada info tentang tuan muda Eland nyonya" ujarnya lagi.
Rahayu segera mengambil ponselnya dan menghubungi cucu kesayangannya itu.
"Ya Oma?" Jawab Eland.
"Kamu dimana El?"
"Aku sedang bersenang-senang dengan temanku, Oma jangan menggangguku hari ini, karena sebentar lagi aku akan bekerja di perusahaan" ucapnya. Suara music terdengar jelas oleh Rahayu.
"Kau tahu berita tentang Kailendra?" pancing Rahayu
"Tidak memangnya kenapa Oma? Dia celaka tau apa?"
"Katany dia diserang?"
"Bagus lah, bagaimana keadaannya? Apa sedang koma di RS?" tanya Eland.
"Sayangnya dia baik-baik saja" jawab Rahayu frustasi.
"Oma tenang saja, kita masih ada banyak waktu. Oma aku tutup dulu telfonnya ya? Dadah Omaku sayang, Come on guys tambah lagi, senang senang kita malam ini, gue yang traktir" teriak Elandra. Pria muda itu pun langsung memutuskan panggilan telfonnya tanpa menunggu jawaban Rahayu.
"Kau tahu dimana keberadaan Elandra?" tanya Sandy yang dari tadi hanya terdiam.
"Menurut informasi dan juga GPS kendaraannya, tuan muda Eland sedang berada di sebuah bar dengan teman-temannya tuan" jawabnya lagi.
"Bagus lah. Kurasa dia bersih, bagaimana proses pengalihan saham?"
"Sudah selesai nyonya. Sekarang tuan muda Elandra menjadi pemegang saham terbesar"
"Bagus, dengan begitu sampai kapan pun perusahaan tidak akan pernah menjadi milik anak dari perempuan murahan itu"
Rahayu sangat ingat ketika Prayoga membawa Anindya ke rumah dan diperkenalkan sebagai calon istrinya. Saat itu menjadi orang yang paling keras menentangnya karena menurutnya Anindya adalah gadis miskin yang tidak jelas asal usulnya. Walaupun dia pintar dan mandiri tapi tidak cukup untuk bersanding dengan keluarga Adiyaksa. Namun satu kalimat dari tuan Adiyaksa membuatnya bungkam.
"Kau tidak berhak menentukan pantas atau tidak pantas Rahayu, ingat dari mana aku membawamu dulu"
Rahayu sama seperti Anindya. Dia anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Namun dia tidak sadar diri posisinya. Tuan Adiyaksa sendiri sangat menerima Anindya karena beliau melihat kepribadian dan karakter Anindya, beliau yakin Anindya bisa mendampingi dan mengimbangi Prayoga.
Bukannya sadar, Rahayu malah semakin membenci Anindya, apalagi setelah kepergian suaminya, ia bebas untuk melalukan apapun terhadap menantunya itu. Pada saat itu perusahaan sampai hampir bangkrut. Sandy sama sekali tidak bisa diandalkan. Prayoga lah dan Anindya yang berjuang keras mengembalikan keadaan perusahaan. Dengan keahlian Prayoga mencari investor dan kecerdasan Anindya yang menganalisa pasar, keduanya berhasil membuat bangkit dalam waktu 6 bulan. Namun Rahayu sudah ditutup mata hatinya.
Sementara itu di kediaman Kai, Elandra dan yang lainnya sedang tertawa terbahak bahak menyaksikan kekonyolan putra Prayoga tersebut.
Flash back on.
Ponsel Eland bergetar, pria itu segera melihat siapa yang menghubunginya. Ia tampak sangat terkejut melihat siapa yang menghubunginya.
"Mang Asep,..." panggilnya dengan kencang.
"Siap Aya naon den?" (siap ada apa, den)
"Mang bawa speaker active sama siap-siap puter lagu dugem, cepetan ini nek lampir udah manggil" Amang Asep segera membawa apa yang Erland suruh.
"Ya Oma?"
"Aku sedang bersama teman-temanku...."
"Tidak, memangnya kenapa Oma? Dia celaka atau apa?" Ucap Eland sambil melihat ke arah Kai. Kakaknya pun terlihat sudah memasang muka sangat tidak bersahabat kepadanya.
"Bagus lah, bagaimana keadaanya? Apa dia koma di RS?" ucap Elandra lagi agar Rahayu tidak curiga, namun hal itu justru membuat Kai semakin meradang. Pria itu sontak berdiri dari kursinya dan bersiap ke arah Eland. Namun Eland sudah lebih dulu menjauh. Lynn menahan tangan Kai sambil berusaha menahan tawa, begitu pun yang lainnya.
Mang Asep dan yang lainnya dari tadi memasang musik dengan keras dan membuat suara seolah sedang berada di bar. Suara gelas dan piring yang beradu seolah mereka sedang minum-minum. Setelah menutup telfonnya baru lah mereka tertawa. Eland sendiri sangat gugup karena dia takut ketahuan. Untunglah dia sudah mengelabui orang yang suka mengikutinya. Ia tahu kendaraannya sudah dipasang GPS, oleh karena itu Eland sengaja menyimpan motornya di Bar langganannya. Di sana sudah ada orang yang akan berperan sebagi dirinya sementara dia sendiri pergi membantu Kai yang di serang.
Tak hanya itu ia juga sudah menyiapkan baju ganti untuknya. Untungnya pemilih Bar tersebut adalah orang yang pernah Eland tolong yang membuat dia merasa berhutang budi kepada Eland. Makanya waktu Eland meminta bantuannya ia dengan senang hati membantunya.
"Kau mendoakan aku koma?" tanya Kai kepada adiknya itu.
"Astagfirullah acting doang kak, biar gak curiga si emak" bantah Eland.
"Jelaskan maksudmu yang tadi...!!" perintah Kai dengan menahan emosi.
"Ya gitu lah Kak, begitu tahu kakak punya perusahaan aku langsung investasi karena yakin pasti bakalan maju dan pastinya cuan" ujarnya dengan penuh percaya diri. Kai pun si tidak bisa berbuat apa melihat kekonyolan adiknya.