NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 TERNYATA DIA CEO

Bab 4

Beberap  bulan kemudian...

Kehidupan Kayla perlahan kembali berjalan seperti semula. Luka akibat pengkhianatan Damar memang belum benar-benar hilang, tetapi rasa cintanya telah lenyap tanpa sisa. Anehnya, kini justru wajah pria asing yang ditemuinya malam itu terus menghantui pikirannya. Wajah tampan itu muncul setiap kali ia memejamkan mata, membuat jantungnya berdebar sekaligus dipenuhi rasa cemas.

"Kay... Kay, cepat! Kita harus segera berbaris. Hari ini direktur baru akan datang," seru Lisa, sahabat sekaligus rekan kerja Kayla, sambil menarik pelan lengan wanita itu.

Kayla yang sudah mengenakan seragam kerja tampak begitu anggun. Jas berwarna biru tua membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Rok selutut membuat penampilannya terlihat profesional, sementara rambut panjangnya disanggul rapi sesuai aturan hotel. Tanpa banyak bertanya, ia segera berlari mengikuti Lisa menuju barisan para karyawan.

Suasana hotel pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Aroma parfum mahal memenuhi udara, berpadu dengan wangi bunga segar yang menghiasi setiap sudut lobi. Selama satu bulan terakhir seluruh staf bekerja ekstra keras membenahi hotel karena pemilik baru dikabarkan akan datang untuk pertama kalinya. Tidak ada satu pun detail yang boleh terlihat kurang sempurna.

"Katanya pemilik hotel yang baru masih muda dan super tampan," bisik Lisa dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.

"Sudahlah. Mau tampan atau tidak, yang penting kita masih punya pekerjaan," jawab Kayla pelan sambil merapikan kerah jasnya yang sedikit bergeser.

Tak lama kemudian, dari luar hotel terdengar suara beberapa mobil mewah memasuki area parkir khusus. Semua karyawan langsung berdiri semakin tegak. Suasana mendadak hening karena semua orang tahu, orang yang mereka tunggu akhirnya telah tiba.

Seorang pria berpakaian jas hitam turun lebih dahulu dan membukakan pintu sebuah mobil Rolls-Royce yang berhenti tepat di depan pintu utama hotel. Beberapa detik kemudian, sosok lelaki bertubuh tinggi keluar dari dalam mobil dengan langkah tenang dan penuh wibawa.

Wajah tampannya seketika mencuri perhatian seluruh orang yang berada di sana. Tatapan matanya tajam, rahangnya tegas, dan setiap langkahnya memancarkan aura seorang pemimpin yang terbiasa berada di puncak kekuasaan.

"Ya ampun... kenapa Presiden Direktur kita setampan itu?" bisik Lisa dengan mata membulat.

"Iya... tampannya benar-benar keterlaluan."

Bisik-bisik kagum langsung terdengar di berbagai sudut barisan. Hampir semua karyawan perempuan tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya kepada pria yang baru saja datang itu.

Namun, hanya satu orang yang tidak ikut terpesona.

Mata Kayla membelalak lebar. Bibirnya terbuka tanpa suara. Wajahnya yang semula tenang berubah pucat dalam hitungan detik. Perutnya mendadak melilit, sementara keringat dingin mulai mengalir dari pelipis hingga tengkuknya.

"Kenapa... kenapa gigolo itu yang jadi Presiden Direktur? Astaga... habislah aku," jerit Kayla dalam hati sambil menahan napas.

Semakin Adrian berjalan mendekati barisan mereka, semakin keras pula detak jantung Kayla. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan tanpa henti.

"Jangan-jangan dia mengenaliku. Astaga... kalau dia memecatku, bagaimana aku membiyai hidupku? Aku benar-benar bisa jadi gelandangan," batinnya panik.

Adrian berhenti tepat di depan barisan tempat Kayla berdiri. Tatapan mereka sempat bertemu selama beberapa detik. Kayla langsung menundukkan kepala dengan gugup, berusaha menghindari sorot mata pria yang tidak pernah ia bayangkan akan ditemuinya lagi.

"Kalian kembali bekerja di tempat masing-masing."

Suara Adrian terdengar rendah, tenang, tetapi penuh wibawa. Kalimat sederhana itu langsung membuat seluruh karyawan bergerak serempak tanpa berani membantah.

"Siap, Tuan."

Jawaban mereka menggema hampir bersamaan. Kayla menjadi orang pertama yang membalikkan badan. Dengan langkah tergesa-gesa, ia segera meninggalkan barisan, berharap Adrian tidak memanggil namanya dan tidak mengingat perempuan yang pernah mengacaukan satu malam dalam hidupnya.

Sepanjang hari itu Kayla bekerja dengan pikiran yang benar-benar kacau. Meski begitu, ia tetap berusaha bersikap profesional. Sebagai wakil manajer, ia berkeliling memeriksa setiap kamar hotel, memastikan seluruh staf menjalankan tugas masing-masing sesuai standar yang telah ditetapkan.

Sesekali Kayla mencatat hasil pemeriksaannya pada papan daftar pemeriksaan yang selalu dibawanya. Tidak ada satu pun kesalahan kecil yang luput dari pengamatannya. Ia tahu, sedikit saja melakukan kesalahan, posisinya bisa menjadi taruhan.

Setelah seluruh pemeriksaan selesai, Kayla kembali ke ruang kerjanya. Baru saja ia melangkah masuk sambil membawa papan checklist, suara Lisa langsung menyambutnya dengan wajah penuh semangat.

"Gosip baru!"

Kayla mengangkat wajah dan menatap Lisa dengan bingung. Ia meletakkan papan checklist di atas meja sebelum mendekati sahabatnya yang tampak tidak sabar untuk bercerita.

"Bos baru datang, langsung ada PHK besar-besaran," ujar Lisa dengan nada berbisik meski wajahnya tampak begitu antusias.

Deg!

Jantung Kayla seolah ditusuk sesuatu. Wajahnya langsung berubah tegang. Pikiran buruk yang selama ini berusaha ia singkirkan kembali muncul memenuhi kepalanya.

"Jangan-jangan... aku yang akan dipecat," batinnya mulai gelisah.

"Katanya beliau tidak puas dengan laporan keuangan perusahaan. Banyak staf bagian keuangan yang akan diberhentikan. Semua yang kinerjanya buruk atau masuk karena orang dalam bakal disingkirkan. Kabarnya hampir tiga puluh persen karyawan akan terkena PHK," cerocos Lisa tanpa memberi kesempatan Kayla menyela.

"Serius? Sebanyak itu yang akan dipecat?" tanya Kayla dengan mata membulat.

Lisa menganggukkan kepala penuh keyakinan. Wajahnya terlihat serius, seolah berita itu sudah pasti akan terjadi.

"Serius. Sepupuku kerja di bagian HR. Katanya yang sudah menikah tapi belum punya anak, ditambah yang performanya jelek, bakal jadi prioritas untuk diberhentikan," lanjut Lisa sambil mengecilkan suaranya agar tidak terdengar oleh karyawan lain.

Mendengar penjelasan itu, wajah Kayla langsung berubah muram. Rasa takut dalam dadanya semakin membesar. Namun, yang paling membuatnya gelisah bukanlah isu PHK itu sendiri, melainkan keberadaan Adrian sebagai pemilik baru hotel tersebut.

Ia hanya berharap Adrian benar-benar melupakan kejadian satu bulan lalu. Terlebih lagi, malam itu ia sempat menghina pria tersebut habis-habisan. Bahkan tanpa rasa bersalah ia mengatakan kalau kemampuan Adrian biasa-biasa saja. Jika pria itu masih mengingat semuanya, habislah nasibnya.

"Hei, Kay. Kenapa kamu panik begitu? Kamu belum menikah, kinerjamu juga bagus. Tenang saja, aku yakin kamu aman."

Lisa menyodorkan segelas teh hangat ke hadapan Kayla. Ia berharap minuman itu bisa sedikit meredakan kepanikan sahabatnya yang sejak tadi terlihat pucat.

"Terima kasih," ucap Kayla pelan sambil menerima gelas tersebut.

Lisa tiba-tiba mengernyitkan dahi seperti baru mengingat sesuatu. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Kayla yang masih tampak gelisah.

"Kay, kalau tidak salah biasanya kita haid bareng, kan? Kok bulan ini kamu belum pernah minta pembalut ke aku. Memangnya kamu sudah haid belum?"

Pertanyaan sederhana itu membuat tubuh Kayla langsung menegang. Tangannya yang sedang memegang gelas teh berhenti di udara. Wajahnya perlahan berubah pucat karena baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya.

"Iya juga... biasanya memang selalu bersamaan. Kenapa bulan ini belum datang?" gumamnya dalam hati dengan dada mulai terasa sesak.

Pikiran yang jauh lebih mengerikan daripada ancaman dipecat tiba-tiba muncul begitu saja.

"Apa jangan-jangan aku hamil? Ah, tidak mungkin... bukannya dokter bilang aku sulit punya anak? Mana mungkin aku bisa hamil hanya karena satu malam itu."

"Kay..."

Suara Lisa membuyarkan seluruh lamunannya.

"Kay, kenapa kamu melamun terus? Dari tadi kupanggil juga tidak dengar."

Kayla tersentak dan buru-buru memaksakan seulas senyum. Meski wajahnya tampak tenang, jantungnya justru berdetak semakin kencang. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, rasa takut benar-benar menguasai seluruh isi kepalanya.

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!