Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 – LATIHAN YANG SESUNGGUHNYA
Belum sempat Haruto mengatur napas kembali, bayangan Ryuusen tiba-tiba lenyap dari tempatnya berdiri.
Prak!
Sebuah cambuk air yang padat melesat begitu cepat, hampir menyambar bahu Haruto jika ia tidak melompat menghindar sepersekian detik sebelumnya.
"Akh.. Master! Apa yang kau lakukan?!" seru Haruto terkejut, kakinya tersandung permukaan tanah yang licin namun kokoh.
Sial... ini bukan latihan! Ini pembunuhan berencana! teriaknya dalam hati saat serangan kedua datang bertubi-tubi.
Tiga butiran air yang memanjang bagaikan jarum tajam melesat ke arahnya dari tiga sisi berbeda. Haruto berputar menghindar, keringat dingin langsung membasahi punggungnya.
"Jangan hanya menghindar!" Suara Ryuusen terdengar dingin namun tegas, seolah datang dari segala arah sekaligus. "Berusahalah melawan dengan sihir air yang sudah kau pelajari!"
Seketika itu juga, gelombang air setinggi dua meter meluncur deras ke arahnya. Haruto mengumpat pelan, lalu dengan refleks yang belum terlatih, ia mengangkat kedua tangannya.
"Water Ball!"
Tiga bola air seukuran kepala muncul di hadapannya, namun sebelum sempat terlempar, gelombang itu menghantamnya duluan.
Brak!
Haruto terpental mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding kabut yang terasa padat seperti batu. Napasnya tercekat, rasa sakit menjalar di seluruh tubuh.
"Kau memanggil air, tapi kau tidak memerintahnya," suara Ryuusen kini terdengar tepat di hadapannya.
Haruto mendongak. Sang Master berdiri tegak tanpa goyah sedikit pun, tatapannya tajam menembus jiwa.
"Air tidak membutuhkan teriakan atau mantra panjang. Air mengikuti irama hatimu. Jika hatimu gemetar, airmu akan buyar. Jika kau ragu, airmu akan melemah. Tenangkan dirimu. Konsentrasikan pada aliran mana di dalam tubuhmu, bukan pada serangan yang datang."
Sekali lagi Ryuusen mengangkat tangan. Kali ini ratusan lembing air melayang mengelilingi mereka, berkilauan memantulkan cahaya langit biru pucat.
"Rasakan aliran mana itu... ikuti detak jantungmu... biarkan dirimu menjadi bagian dari air itu sendiri."
Lembing-lembing itu melesat bersamaan. Haruto tidak lagi berusaha menghindar sekuat tenaga. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata, dan mencoba merasakan aliran hangat yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Dulu ia selalu panik dan selalu merasa sihir adalah hal yang asing. Namun kini...
Tenang... pelan saja...
Saat lembing pertama hampir menyentuh wajahnya, Haruto membuka mata. Telapak tangannya bergerak perlahan seolah mengajak menari.
Air di sekelilingnya berputar cepat, membentuk perisai bening yang menangkis serangan itu satu per satu.
Duar! Duar! Duar!
Setiap benturan menimbulkan percikan cahaya, namun perisai itu tidak bergeming.
Ryuusen sedikit mengangkat alis, samar terlihat senyum bangga di sudut bibirnya.
"Bagus... tapi belum cukup."
Serangan berikutnya datang jauh lebih ganas.
...****************...
Tanpa aba-aba, Ryuusen melambaikan tangan kembali. Kali ini bukan sekadar lembing atau gelombang—puluhan cambuk air yang ujungnya setajam belati melesat ke segala arah, mengurung setiap celah yang bisa dilalui Haruto.
"Jangan hanya bertahan!" bentak Ryuusen di tengah gemuruh suara air. "Air yang diam akan menjadi keruh dan mati! Bergeraklah, mengalirlah, dan balaslah!"
Haruto menyadari bahwa menghindar atau sekadar memasang perisai tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia menekan rasa sakit di dadanya, membiarkan napasnya berirama seirama dengan aliran mana yang kini terasa semakin nyata di dalam dirinya.
Aku adalah air... Air adalah aku...
Saat tiga cambuk air meluncur mendekat, Haruto tidak menangkisnya. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan dan menggerakkannya seolah membelah arus sungai yang deras.
"Arahkan..." bisiknya pelan.
Cambuk-cambuk itu tiba-tiba berbelok arah seolah ditarik oleh tangan tak kasat mata, lalu menghantam satu sama lain hingga memercik menjadi butiran-butiran halus.
Mata Ryuusen melebar sesaat.
"Benar sekali. Air tak melawan kekuatan dengan kekuatan—ia mengalir mengelilingi, atau membelah apa yang menghalanginya."
Haruto tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang lebih luwes, ia mengumpulkan mana di telapak tangannya. Bukan lagi sekadar bola air sederhana—kini butiran-butiran itu berputar kencang, memanjang, dan berubah wujud menjadi cambuk air yang kokoh namun lentur.
"Ini!"
Ayunan pertamanya masih kaku, namun ia berhasil menangkis serangan Ryuusen hingga menciptakan ledakan uap yang memutarkan sejenak pemandangan di sekitar mereka.
"Teruskan!" tantang Ryuusen sambil menyerang dengan kecepatan yang semakin meningkat. "Jangan biarkan keraguanmu merusak aliranmu!"
Keringat dingin membasahi pelipis Haruto, namun kini ia tidak lagi panik. Setiap serangan yang datang justru mengajarkannya di mana celah berada, bagaimana merasakan pergerakan air di sekitarnya, dan bagaimana mengubah bentuk pertahanan menjadi serangan dalam sekejap.
Pochi yang sedari tadi menempel erat di pundak Haruto tiba-tiba memancarkan cahaya biru samar, seolah membantu menstabilkan aliran mana temannya. Setiap kali Haruto hampir kehilangan kendali, energi itu mengalir pelan, mengembalikan ketenangan yang sempat goyah.
Satu per satu kesalahan yang dulu sering ia lakukan—terlalu memaksakan kehendak, terlalu cepat, atau terlalu ragu—perlahan hilang. Gerakannya mulai menyatu dengan desiran angin dan aliran air di dimensi itu.
Hingga pada satu momen, saat Ryuusen meluncurkan serangan terkuatnya berupa tombak air raksasa, Haruto tidak menangkisnya. Ia melangkah maju, menyentuh permukaan tombak itu dengan telapak tangan terbuka, dan...
Mengubahnya.
Tombak raksasa itu seketika melebur menjadi ribuan butiran air yang melayang, lalu berputar mengelilingi tubuh Haruto bagaikan perisai tak terlihat.
Keheningan seketika menyelimuti tempat itu.
Ryuusen berhenti bergerak. Tatapan tajamnya perlahan melembut, berganti dengan rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kau akhirnya paham," ucapnya pelan namun jelas. "Kekuatan sihir air bukanlah tentang seberapa besar gelombang yang kau ciptakan. Melainkan seberapa dalam kau memahami dirimu sendiri."
Haruto menghela napas panjang, lututnya terasa lemas namun hatinya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Pochi memantul ke pipinya.
"Pyoo!"
"Terima kasih, Pochi..." bisiknya sambil tersenyum tipis.
Namun senyum itu belum sempat mengembang sempurna, saat tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya biru yang menyelimuti dimensi itu mulai berkedip tak menentu.
Ryuusen mendongak, sorot matanya kembali serius.
"Mereka menemukan cara untuk mengganggu pintu gerbang. Waktu kita lebih sempit dari yang kukira."
Ia menatap Haruto lekat-lekat.
"Kau baru mempelajari dasarnya. Tapi sekarang, kau harus siap menggunakannya dalam pertarungan nyata."
...****************...
Di dunia luar, di tepi danau yang menyembunyikan gerbang dimensi...
Benturan sihir terus menggetarkan udara hingga dedaunan di sekelilingnya berguguran tak henti. Mizuna berdiri tegak, tubuhnya diselimuti cahaya biru pucat yang makin lama makin meredup. Julukan “Dewi Air” yang selama ini dikenal luas, kini terasa tak berarti di hadapan kekuatan yang dipimpin Kael.
Zirah air yang ia bentangkan berkali-kali retak, lalu harus ia perbaiki kembali dengan sisa tenaga yang ada. Di sampingnya, Daichi sudah bernapas tersengal, pedangnya berkilau penuh goresan sementara luka di lengannya terus mengalirkan darah.
"Mizuna... kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi," desis Daichi di sela-sela pertahanan yang ia pasang. "Mereka terlalu banyak, dan sihir Kael... tingkatannya jauh di atas kita."
Mizuna mengatupkan gigi, menahan rasa sakit saat sebuah tombak sihir hampir menembus pertahanannya.
"Aku tahu... tapi kita tidak boleh membiarkan mereka menyentuh gerbang itu. Haruto belum siap."
Di hadapan mereka, ratusan pasukan Orde Air Kuno berdiri berbaris rapi, memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Dan di barisan paling depan, Kael berdiri tenang seolah tak tersentuh perang sedikit pun. Jubahnya berkibar pelan, sorot matanya tajam menatap permukaan danau yang berkilau samar.
"Kalian sudah melakukan yang terbaik," ucap Kael datar, suaranya terdengar jelas meski di tengah gemuruh suasana. "Menyerahlah. Aku hanya membutuhkan anak itu dan makhluk di sisinya. Kalian tidak perlu terluka lebih jauh."
"Mimpi kau!" bentak Daichi, lalu kembali melesatkan tebasan ke arah pasukan yang mulai maju selangkah.
Namun pertahanan mereka semakin tipis. Satu per satu benteng sihir Mizuna runtuh. Pasukan Orde Air Kuno kini sudah berdiri tepat di tepi danau—tepat di atas gerbang yang menyembunyikan Haruto dan Ryuusen.
Kael mengangkat tangannya perlahan.
"Karena kalian tak mau memberi jalan... aku akan mengambilnya dengan paksa."
Cahaya biru pekat mulai berkumpul di telapak tangannya, berputar kencang bagaikan lubang pusaran air raksasa.
"Buka gerbang itu... atau hancur bersama tempat ini."
Sementara itu di dalam Dimensi Arus Murni...
Getaran yang makin hebat kini terasa seperti gempa dahsyat. Cahaya langit yang indah itu mulai memudar, berganti dengan retakan-retakan gelap yang menyebar di mana-mana.
Ryuusen menatap ke arah ruang kosong seolah bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Wajahnya yang tenang kini berubah tegang.
"Mereka sudah di ambang pintu. Mizuna dan Daichi tak akan mampu menahannya lebih lama."
Haruto mengepalkan tangannya erat. Bayangan Mizuna dan Daichi yang terluka terlintas seketika di benaknya. Rasa takut sempat muncul, namun kali ini tak berubah menjadi kepanikan—melainkan berubah menjadi api tekad yang menyala di dalam dadanya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti siapa pun," ucapnya lantang, matanya menatap tajam ke arah Ryuusen. "Guru... keluarkan aku."
Ryuusen mengangguk pelan.
"Ingat apa yang baru saja kau pelajari. Jangan melawan dengan amarah... melaluilah, alirkanlah, dan lindungilah."
Ia melambaikan tangan, dan seketika pusaran air yang membawa mereka masuk kembali terbuka di hadapan Haruto.
"Pergilah. Dan tunjukkan pada mereka... bahwa kekuatan air sejati bukanlah milik mereka yang sombong akan aturan kuno."
Haruto melangkah maju. Pochi di pundaknya memancarkan cahaya biru terang seolah merespons tekad temannya.
"Ya... ayo kita berhadapan dengan mereka, Pochi."
"Pyoo!"
Dan saat itu juga, sosok mereka perlahan lenyap tersedot ke dalam pusaran air, menuju pertarungan sesungguhnya yang menanti di luar sana.