NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Pagi menjelang siang, Abi tampak sudah rapi dengan kemeja kasualnya, bersiap menuntun sepeda motor dari samping rumah. Ia melangkah mendekati teras tempat Bu Marni sedang duduk menemani kedua cucunya.

"Bu, Abi titip Akbar sama Aqil sebentar nggih," pamit Abi seraya menyalami tangan ibunya. "Abi mau ke kota sebentar, mau beli beberapa keperluan anak-anak yang habis sekalian ada hal penting yang mau Abi urus."

"Iya, Le, gampang. Hati-hati di jalan, ndak usah ngebut-ngebut," pesan Bu Marni.

"Ayah jangan lama-lama ya..." cicit Akbar pelan sambil memegang ujung celana Abi.

Abi berlutut di hadapan putra sulungnya, menyamakan tinggi badan mereka. Jemari kekarnya mengusap lembut pipi Akbar, lalu beralih merapikan rambut Aqil yang ikut mendekat.

"Anak pinter ndak boleh rewel, ya," nasihat Abi.

"Mas Akbar kan sudah besar, harus jaga Adik baik-baik di rumah. Jangan nakal, nurut sama nenek. Nanti kalau pesanan Ayah di kota sudah selesai semua, Ayah langsung pulang bawa oleh-oleh buat kalian."

"Oleh-olehnya roti manis ya, Ayah?" sahut Aqil.

Abi terkekeh pelan lalu mengecup kening kedua buah hatinya bergantian. "Iya, nanti Ayah belikan. Ingat pesan Ayah ya, Mas Akbar sama Aqil harus saling sayang, ndak boleh berantem."

"Siap, Ayah!" jawab Akbar dan Aqil kompak.

Setelah memastikan kedua anaknya mengangguk paham, Abi berdiri, menyunggingkan senyum pamit pada ibunya, lalu melangkah menuju motornya untuk segera berangkat ke kota.

Setibanya di kota, Abi memarkirkan sepeda motornya di pekarangan sebuah cafe yang lumayan tenang. Sebenarnya, tujuan utamanya ke kota bukan sekadar membeli keperluan anak-anak, melainkan untuk menemui Dinda.

Semalam, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya. Dinda mengirimkan pesan singkat berisi ajakan bertemu, entah dari mana wanita itu mendapatkan nomor telepon barunya. Awalnya Abi ingin mengabaikannya, namun Dinda terus mendesak dan mengancam akan kembali mendatangi rumah ibunya di desa jika Abi menolak. Tak ingin ketenangan anak-anaknya kembali terganggu, Abi akhirnya mengalah dan menyetujui pertemuan ini.

Abi melangkah masuk ke dalam kedai kopi, matanya langsung menangkap sosok Dinda yang duduk di sudut ruangan dekat jendela. Wanita itu tampil elegan dengan pakaian barang bermerek dan kacamata hitam yang terangkat di atas kepalanya.

"Mau ngomong apa lagi, Din?" tanya Abi tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan datar.

"Saya ndak punya banyak waktu."

Dinda menghentikan aktivitas jemarinya yang sedang bermain ponsel. Ia menatap Abi yang kini duduk di depannya, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang tak semangkas kemarin.

"Mas... kita bicara baik-baik dulu, ya?" ujar Dinda pelan.

"Soal kemarin... aku minta maaf. Aku cuma emosi dan kaget lihat kondisi Aqil."

Abi terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Minta maaf buat yang mana? Yang kemarin, atau yang bertahun-tahun lalu?"

Dinda mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya memucat mendengar sindiran telak dari Abi. Kacamata hitam bermerek yang ada di kepalanya ia turunkan, lalu diletakkan di atas meja.

"Mas, tolong... jangan bahas masa lalu terus," cicit Dinda.

"Aku tahu aku salah. Aku ngaku aku dosa sama kamu dan anak-anak. Tapi sekarang aku mau perbaiki semuanya, Mas. Aku mau kembali..."

"Kembali?" potong Abi sinis sambil menggeleng tegas. "Abi tak mau, Din. Nggak akan pernah."

Abi menatap Dinda lekat-lekat, menyilangkan tangan di dada. "Lagian, ke mana suamimu? Ke mana anakmu yang dari laki-laki itu? Kenapa tiba-tiba kamu sibuk nyariin Akbar sama Aqil lagi?"

Dinda menunduk dalam-dalam, menghembuskan napas panjang bercampur penyesalan.

"Aku... aku sudah lama bercerai sama dia, Mas," akui Dinda

Mendengar pengakuan itu, Abi seketika tertegun. Teka-teki kedatangan Dinda yang mendadak kemarin langsung terjawab terang di kepalanya. Abi mulai paham maksud terselubung Dinda. Wanita ini datang bukan murni karena merindukan anak-anak, melainkan karena hidupnya sedang hancur, kesepian, dan berencana memanfaatkan rasa iba Abi agar bisa balikan serta membina rumah tangga seperti dulu lagi.

Abi tertawa pelan.

"Oalah... jadi karena kamu diceraikan dan ditinggal anakmu, makanya kamu baru ingat punya Akbar sama Aqil?" tembak Abi telak tanpa keraguan.

"Dengar ya, Din," lanjut Abi dengan nada suara yang begitu dingin dan menusuk. "Rumah saya bukan tempat penampungan saat kamu dibuang sama orang lain. Saya sama anak-anak sudah bahagia, dan saya ndak sudi nampung kamu lagi."

"Mas... tolonglah. Aku ini ibunya anak-anak. Apa nggak ada kesempatan sedikit pun buat aku memperbaiki semuanya?" bisik Dinda dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba menaruh belas kasihan.

"Kesempatan itu sudah habis waktu kamu memilih pergi bertahun-tahun lalu," jawab Abi lugas.

"Kamu pikir kamu siapa, Mas?!" bentak Dinda seraya menggebrak meja hingga cangkir kopi di atasnya berdenting keras. Beberapa pengunjung kedai kopi mendadak menoleh ke arah mereka.

"Kamu itu cuma laki-laki kampung yang hidupnya pas-pasan!" cerceh Dinda dengan telunjuk mengacung ke arah wajah Abi. "Harusnya kamu sadar diri! Aku ini sudah mau menurunkan gengsiku buat kembali ke kamu dan anak-anak, tapi kamu malah sok jual mahal! Tanpa aku, anak-anakmu itu ndak bakal dapat masa depan yang layak!"

Abi tidak bergeming sedikit pun. Ia hanya menatap Dinda dengan raut tenang namun dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh ledakan emosi wanita di depannya.

"Masa depan anak-anak saya dijamin oleh kerja keras saya sendiri, bukan dari belas kasihan kamu." sahut Abi datar.

"Kamu jahat, Mas! Kamu egois!" teriakan Dinda makin tak terkontrol, matanya melotot menahan amarah yang membumbung tinggi. "Aku bakal pastikan kamu menyesal sudah nolak aku hari ini!"

Abi berdiri santai dari kursinya, merapikan kemejanya tanpa menghiraukan tatapan tajam dan amukan Dinda.

"Terserah kamu mau marah atau teriak-teriak seperti apa, Din. Keputusan saya sudah bulat," ujar Abi dingin. "Jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumah desa lagi. Kalau kamu nekat bikin ulah di depan anak-anak, saya ndak akan segan-segan bawa hal ini ke pihak berwajib."

Tanpa membuang waktu atau membalas makian Dinda lebih lanjut, Abi berbalik dan melangkah keluar dari kedai kopi, meninggalkan Dinda yang berdiri mematung sambil mengepalkan tangan menahan amarah yang meluap-luap.

Keluar dari kedai kopi, Abi menghela napas panjang menetralkan kekesalannya akibat amukan Dinda. Ia tidak ingin emosi itu terbawa saat bertemu anak-anak. Abi segera memacu sepeda motornya menuju supermarket dan apotek terdekat di pusat kota.

Tujuan pertamanya adalah apotek. Di sana, Abi membeli persediaan susu formula khusus pertumbuhan untuk Aqil dan Akbar, serta beberapa strip vitamin anak dan suplemen penambah nafsu makan yang direkomendasikan dokter agar daya tahan tubuh kedua buah hatinya tetap terjaga, terutama untuk luka di kepala Aqil.

Setelah dari apotek, Abi mampir ke sebuah minimarket besar. Di area rak mainan, langkahnya sempat terhenti. Matanya tertuju pada sebuah mobil-mobilan pemadam kebakaran berwarna merah menyala dan set alat melukis sederhana. Mengingat betapa penurutnya Akbar dan Aqil beberapa hari ini, Abi memutuskan untuk membelikan kedua mainan tersebut sebagai hadiah.

Tak lupa, sebelum meninggalkan kawasan kota, Abi memutar arah motornya menuju toko roti langganannya. Ia membeli satu kotak besar roti manis beraneka rasa cokelat, keju, dan kismis seperti yang dijanjikannya sebelum berangkat tadi.

Dengan kantong belanjaan yang bergantung rapi di stang dan bagasi motor, Abi mengendarai motornya kembali menuju desa dengan hati yang jauh lebih tenang dan puas.

Sore harinya, deru mesin motor Abi memasuki pekarangan rumah Bu Marni.

"Ayah pulang!" pekik Aqil gembira yang sedang duduk di teras bersama sang kakak.

Akbar dan Aqil langsung berlari menyambut Abi. Raut lelah di wajah Abi seketika sirna berganti senyuman lebar begitu melihat mata berbinar kedua putranya yang menatap kantong-kantong belanjaan yang dibawanya.

1
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
D_wiwied
cieee yg khawatir, lupa deh kalo lg ngambek 😆😆
D_wiwied
wkwkwk pengen ketawa liat kelakuan anak2 nya mas Abi tp ntar si Aqil mlh nangis kenceng lagi 😆😆🤣🤣🤣
Sartini 02
bagus jalan ceritanya, sering2 up ya
Lisa
Cpt sembuh y Akil..
Fitri Yah
jadi sediihh bacanya /Sweat/
falea sezi
lanjut cpet nikah sat set
Tang Bin
jodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!