NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa

​Matahari pagi baru saja mengintip di sela-sela kabel listrik yang semrawut di atas gang pemukiman padat penduduk di daerah Tambora. Arya terbangun bukan karena suara alarm ponselnya, melainkan karena suara bapaknya yang sedang sibuk mengajak ngobrol burung perkututnya yang sudah tiga tahun tidak pernah mengeluarkan suara satu ketukan pun.

​"Ayo dong bunyilah, min-minimal berdehem gitu kayak bapak-bapak komplek," terdengar suara Pak Surya dari arah teras rumah yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu.

​Arya bangkit dari kasur lantai tipisnya sambil meregangkan otot-ofot tubuhnya. Dia hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana pendek kain. Di balik pakaian sederhananya itu, tubuh Arya tampak sangat proporsional. Otot dada dan lengannya yang kencang terbentuk bukan karena olahraga di pusat kebugaran mahal, melainkan karena hasil bertahun-tahun membantu ibunya mengangkat galon air isi ulang dan mendorong motor Supra-nya yang hobi mogok. Wajah bangun tidurnya, dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan rahang tegas yang dihiasi bayangan jenggot tipis, terlihat begitu menawan. Jika ada agensi model yang tersesat ke gang ini, Arya pasti sudah dikontrak menjadi bintang iklan parfum internasional.

​Namun, ketampanan kelas atas itu langsung buyar saat ibunya, Bu Aminah, masuk ke kamar sambil membawa sapu lidi.

​"Arya! Sudah jam enam lewat, ayo bangun! Itu motor sudah di-lap sama Bapak. Hari ini narik lagi, kan? Ini Ibu sudah buatkan nasi timbel pakai lauk sambal teri sama tahu potong," kata Bu Aminah dengan suara keibuannya yang renyah. Beliau menaruh sebuah bungkusan daun pisang yang rapi di atas meja kayu kecil.

​Arya tersenyum, hatinya mendadak hangat. Dia melangkah mendekati ibunya, lalu mencium tangan wanita yang wajahnya sudah dihiasi kerutan-kerutan halus itu. "Iya, Bu. Kemarin Arya dapet bonus seratus ribu dari penumpang. Uangnya sudah Arya taruh di bawah taplak meja makan buat tambahan beli beras."

​Bu Aminah tertegun sejenak. Matanya menatap Arya dengan binar penuh rasa syukur dan haru. Beliau mengelus pipi anak laki-lakinya itu dengan lembut. "Anak pintar... Meskipun kita hidup pas-pasan, yang penting uang yang kamu bawa pulang itu halal dan berkah, ya. Jangan pernah serakah di jalanan."

​"Siap, Bos Besar," canda Arya sambil memberi hormat militer yang membuat ibunya tertawa pelan.

​Di luar, Pak Surya yang melihat Arya sudah rapi memakai jaket ojol hijau lumutnya langsung menurunkan burung perkututnya. Pria tua itu menepuk pundak Arya dengan tangannya yang kasar. "Le, ingat pesan Bapak. Di jalanan itu kamu ketemu banyak orang. Ada yang baik, ada yang lagi pusing, ada yang galak. Kamu harus tetap sopan. Ketampananmu itu cuma bungkus, tapi isi di dalamnya—kejujuran dan caramu menghargai orang lain—itu yang bikin kamu jadi laki-laki sejati."

​Arya mengangguk dalam-dalam. Kata-kata bapaknya selalu menjadi obat penenang di tengah kerasnya jalanan ibu kota. "Iya, Pak. Arya berangkat dulu. Doakan hari ini akunnya gacor."

​Dua puluh menit kemudian, Arya sudah memarkirkan motor Supra Fit-nya di bawah pohon beringin rindang di samping Warkop Mbak Sri. Tempat ini adalah Markas "PODOMORO", basecamp para driver ojol lokal untuk melepaskan penat sembari menunggu notifikasi pesanan masuk.

​"Waaaaah, si Ganteng Tambora baru dateng nih!" seru Bang Jay, driver senior yang rambutnya sudah memutih setengah, sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam. "Gimana kemarin, Ya? Katanya lu dapet orderan terbang melompati tawuran? Beneran lu pake khodam penglaris dari daerah Banten yang gua saranin?"

​Arya terkekeh sambil duduk di bangku panjang kayu, meletakkan helmnya. "Kagak ada khodam-khodaman, Bang Jay. Itu murni karena motor Supra gua lagi kesurupan aja kemarin."

​Di sudut lain, Dedi "Gacor" sedang sibuk menatap tiga buah ponsel yang dijajarkan di atas meja warkop. Tangannya bergerak cepat menekan tombol refresh. "Gua heran sama lu, Ya. HP lu merek apaan sih itu? Kemarin gua lihat mengkilap banget kayak emas murni. Terus sinyalnya penuh mulu padahal kita lagi di bawah pohon beringin yang biasanya bikin HP lemot. Bagi-bagi dong apk mod-nya!"

​Arya hanya bisa tersesat dalam senyum kecut di balik cangkir kopi hitamnya. Dia melirik ke arah stang motornya, di mana ponsel gaib God-Phone 13 Pro Max terpasang dengan kokoh. Hanya mata Arya yang bisa melihat bahwa layar ponsel itu sedang menampilkan hitungan mundur performa mingguan dan statistik "Poin Kepuasan Bidadari". Arya masih mengira aplikasi ini adalah semacam program eksperimental rahasia milik pemerintah yang salah sasaran masuk ke ponselnya. Dia belum sepenuhnya paham mengapa takdir memilih dirinya.

​"Mas Arya... kok kopinya cuma diminum dikit? Mau Mbak buatin susu jahe biar makin berstamina main di jalanan?" goda Mbak Sri, sang pemilik warkop, sambil menyandarkan tubuhnya di meja counter dengan pose yang sengaja dibuat agak manja. Kemeja batiknya yang agak ketat sedikit memperlihatkan lekuk dada dan pinggulnya yang berisi.

​Arya buru-buru memalingkan wajahnya, menyeka dahi dengan canggung. "Gak usah, Mbak Sri. Kopi hitam aja cukup kok, makasih banyak."

​Bang Jay dan Dedi langsung tertawa terbahak-bahak melihat Arya yang selalu salah tingkah jika digoda wanita. "Lu mah lempeng banget jadi cowok, Ya! Padahal kalau lu mau, janda kembang komplek ini udah lu dapet dari kemarin-kemarin!" ledek Bang Jay.

​[PERUBAHAN SUDUT PANDANG: POV ALYA NINDITA]

​Sementara itu, beberapa kilometer dari basecamp ojol, di dalam sebuah kamar tidur yang luas dan bernuansa merah muda pastel di kawasan Kebayoran Baru, Alya Nindita sedang duduk di tepi ranjang king size-nya. Di tangannya, sebuah ponsel pintar berlogo buah apel tergenggam erat. Layarnya sedang menampilkan halaman riwayat transaksi aplikasi ojek online miliknya.

​Mata indahnya menatap foto profil seorang driver bernama Arya Prasetya. Di foto itu, Arya tampak tersenyum canggung ke arah kamera dengan latar belakang tembok semen yang belum dicat, namun struktur wajahnya yang sempurna tetap terlihat begitu menawan.

​Alya menyentuh bibir bawahnya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin sore di tengah guyuran hujan rintik-rintik. Kehangatan punggung tegap Arya, aroma tubuhnya yang maskulin bercampur wangi matahari yang anehnya sangat menenangkan, serta caranya berbisik dengan nada protektif yang begitu jantan di tengah kepungan tawuran warga... semuanya masih terekam jelas di benak Alya.

​Jantung Alya mendadak berdegup dua kali lebih cepat hanya dengan mengingat momen saat tubuhnya menempel tanpa celah di punggung Arya ketika motor bebek itu terbang melewati barikade separator beton. Kulitnya terasa berdesir, memberikan sensasi hangat yang belum pernah dia rasakan dari pria-pria kaya atau sesama mahasiswa kedokteran yang selama ini mencoba mendekatinya. Pria-pria itu biasanya hanya pamer mobil mewah atau kekayaan orang tua mereka, sangat berbeda dengan Arya yang mempertaruhkan nyawanya dengan berani demi keselamatan seorang pelanggan yang baru ditemuinya.

​"Arya Prasetya..." bisik Alya pelan, sebuah senyuman tipis yang penuh kerinduan mengembang di wajah cantiknya yang tanpa riasan. "Kenapa seorang ojol bisa punya karisma yang sekuat itu, sih? Kamu itu... sebenarnya siapa?"

​Alya menghela napas panjang, merapatkan kedua lututnya ke dada, lalu menyembunyikan wajahnya yang merona merah panas di balik bantalnya. Dia merasa sedikit malu pada dirinya sendiri karena telah memikirkan seorang driver ojol dengan cara yang begitu intim dan bergairah sepanjang malam.

​[KEMBALI KE POV ARYA]

​Di bawah pohon beringin Markas "PODOMORO", kedamaian Arya mampus seketika.

​BZZZZT!

​Ponsel gaib di stang motornya bergetar dengan frekuensi yang sangat kuat, hingga cangkir kopi di tangan Arya ikut bergetar. Suara asisten sistem wanita yang super ramah namun terdengar sangat mengancam kembali bergema secara eksklusif di dalam gendang telinga Arya.

​"Selamat pagi, Mitra Arya! Waktu bersantai Anda di bawah pohon keramat telah habis. Sistem GODJEK mendeteksi adanya pesanan premium yang baru saja masuk ke server reguler dari pelanggan cantik pilihan takdir! Waktu Anda untuk menekan tombol 'Terima' adalah sepuluh detik..."

​Arya mengumpat dalam hati, buru-buru meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi TAK! yang membuat Bang Jay dan Dedi tersentak bingung. "Ada apa lu, Ya? Akun lu jebol?" tanya Dedi.

​"Kagak, Bang! Gua dapet tarikan darurat!" seru Arya berbohong.

​Di dalam kepalanya, suara sistem kembali melanjutkan dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat sensual sekaligus penuh jika diabaikan. "Peringatan kepada Mitra Arya: Jika Anda sengaja mengabaikan atau menolak pesanan ini, sistem akan mengaktifkan Mode Penalti Instan. Celana pendek jins yang Anda kenakan saat ini akan diuapkan secara gaib, dan tubuh Anda akan dipaksa mengenakan rok mini ketat bermotif macan tutul seksi milik biduan dangdut keliling di depan rekan-rekan ojol Anda sekarang juga."

​Keringat dingin langsung mengucur deras di punggung Arya. Membayangkan dirinya yang bertubuh kekar dan tampan harus berdiri di depan Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri sambil memakai rok mini macan tutul adalah sebuah mimpi buruk yang bisa menghancurkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang pria sejati.

​"AMBIL! GUA AMBIL, JANGAN MACEM-MACEM LU SAMA ROK MACAN TUTUL!" teriak Arya histeris di dalam batinnya sambil jarinya menghantam layar God-Phone miliknya dengan kecepatan cahaya.

​TING-TONG!

​[ORDERAN KEDUA BERHASIL DI-INTERSEP & DI-UPGRADE!]

​Nama Pelanggan: Citra Kirana (Kategori: CEO Muda Cantik / Korban Penindasan Gengsi).

​Lokasi Penjemputan: Lobi Utama Grand Indonesia Mall (Kawasan Lobi Eksekutif Menara BCA).

​Misi: Menjelma menjadi pacar sewaan kelas atas untuk menyelamatkan Nona Citra dari intimidasi dan kesombongan mantan tunangannya dalam waktu 5 menit!

​Hadiah Awal (Dipinjamkan Sementara): Kekuatan: Karbo-Kinesis (Kemampuan mengendalikan kalori, lemak, dan kandungan karbohidrat makanan secara instan lewat tatapan mata).

​Arya ternganga menatap deskripsi misi di layar ponselnya. "Citra Kirana? CEO muda di Grand Indonesia? Terus ini apa lagi... Karbo-Kinesis? Mengendalikan kalori makanan secara instan buat apa di mall mewah?!" Arya menggelengkan kepalanya dengan pasrah, merasa logika dunia ini sudah benar-benar bergeser sejak aplikasi ini terpasang di HP-nya.

​Arya buru-buru memakai helm ink bututnya, mengambil bungkusan nasi timbel buatan ibunya yang penuh doa itu dan memasukkannya ke dalam bagasi motor bawah jok, lalu menghidupkan mesin Supra Fit-nya. Meskipun Knalpot Karismatiknya sudah berubah kembali menjadi besi berkarat, mesin motor itu entah bagaimana tetap terasa sangat responsif dan bertenaga berkat sisa energi sistem kemarin.

​"Bang Jay, Dedi, Mbak Sri! Gua cabut duluan ya! Ada panggilan negara di pusat kota!" seru Arya sambil menarik tuas gasnya kuat-kuat.

​"Yo! Hati-hati di jalan, Ya! Jangan lupa sapa khodam lu kalau ketemu di jalan!" teriak Bang Jay melambaikan tangan.

​Motor bebek tua itu melesat membelah jalanan Tambora, menuju kawasan megah Grand Indonesia Mall di pusat Jakarta. Arya merapatkan jaket ojolnya yang mulai diterpa angin kencang, bersiap menghadapi badai kesalahpahaman, komedi absurd, dan tensi romansa baru yang jauh lebih panas bersama sang CEO cantik bertubuh molek yang sedang menunggunya di lobi mewah.

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!