NovelToon NovelToon
I'M A Villain

I'M A Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Usu dedek

Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.

Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.

Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkena tembakan.

Timah panas itu langsung menembus bahu kiriku dan menyemburkan darah segar hingga memenuhi wajah Aldrik. Jas birunya di kotori oleh darahku yang menyebar sampai menembus kulit dadanya. Pertahananku rubuh. Tubuhku mulai terhuyung.

Aku lemas. Aldrik menjerit keras memanggil namaku sembari menangkap tubuhku yang mulai melemah, tapi aku tak begitu mendengarnya. Pandangan mataku mulai kabur. Aku terhempas ke dalam pelukan hacker yang hampir merebut ciuman pertamaku itu. Jantungku rasanya hampir berhenti. Peluru cepat itu menyerempet tepat di pangkal jantungku.

Aku berusaha melindungi Aldrik dari serangan, aku tak tahu, apakah itu pembunuh bayaran atau orang kiriman organisasi atau musuh dari keluarga Starling. Tubuhku bergerak sendiri seolah jadi perisai baginya.

"Apa yang ku lakukan? Apa aku melindunginya? Apa aku akan mati?"

 Tubuhku bersimbah darah. Aldrik memetik keras dengan suara menggema penuh kecemasan. Sementara Mike mengirim sinyal bahaya tahap 1 kepada satelit Phantoms tanpa sepengetahuanku.

"Irish... Irish... buka matamu, buka matamu, jangan tinggalkan aku, Irish...!!" Teriak Aldrik cemas.

 "Syukurlah .... kau se ... la ... mat tuan ha ...cker." Ucapku terbata-bata sebelum mataku tertutup.

Sayup-sayup ku dengar tuan hacker itu terus meneriakkan suaranya, dia menepuk pipiku berulang kali agar aku tidak pingsan. Aku hanya tersenyum pasrah.

Semua kenangan saat berlatih di organisasi mulai terbayang di benakku. Otakku hanya mengirim sinyal kesedihan.

Darahku terus menyucur dari lubang timah panas itu. Luka tembakan itu mengaga. Aldrik sangat panik dan berteriak minta tolong. Sebelum mataku benar-benar tertutup, aku melihat beberapa orang berduyun-duyun mendekat. Mengerumuniku dan berusaha membantu. Aldrik beruraian air mata. Aku hanya pasrah dengan keadaan saat ini.

"Apakah ini adalah akhir hidupku? tidak mungkin,kan? Apa hidupku setragis itu? Perangku belum di mulai, apa aku sudah kalah?"

Aku sudah beberapa kali tertembak saat menjalankan misi, namun kali ini rasanya sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan bagiku karena aku harus tergeletak di tangan target ku sendiri. Kenapa aku malah melindunginya? tubuhku bergerak sendiri, aku pun tidak tahu apa yang terjadi. Kejadian itu begitu cepat. Aku tak tahu, peluru itu di arahkan ke siapa.

Aku tersenyum melihat takdir di langit, sungguh ironis nasibku ini. Misiku baru berjalan dua puluh persen, tapi maut sudah hampir datang menjemputlu. Rasanya perlahan jantungku mulai berhenti berdetak.

Mike terus memanggil namaku di microphone telinga ini, namun aku tak bisa mendengar jelas suaranya lagi. Bahkan suara Aldrik sampai serak tak terdengar lagi ke telingaku.

Aku di gotong ke mobil sport Aldrik yang terparkir jauh di area resort. Aldrik sampai ngos-ngosan membawaku berlari menuju parkiran mobilnya. Salah seorang satpam di sana membantu membukakan pintu mobilnya, sementara Aldrik terus memelukku di bangku sebelah.

Mobil sport mewah yang biasanya hanya untuk dua orang, kini malah jadi transportasi darurat untukku. Kami berdesakan. Aldrik memangku tubuhku yang melemah. Darahku merembes mengotori jok mobilnya. Aldrik terus mendekapku yang telah tak sadarkan diri.

Aldrik mengeluarkan handphone dari sakunya, tangannya gemetaran hebat. Dia menelpon dengan keras dan tergesa-gesa.

"Markus ... siapkan ruang operasi sekarang juga!!"

"Apa yang ... "

"Jangan tanya apapun, siapakan ruang operasi dan penanganan terbaik dari keluarga Starling!!"

Dia langsung mematikan telpon. Markus keheranan mendengar suaranya yang panik. Tapi sang dokter bedah itu tau, pasti terjadi sesuatu yang serius.

 Darah terus menetes dari lubang besar bekas tembakan itu, setiap titis darah yang menetes di dalam mobil itu, menjadi titik-titik pertanyaan, siapa yang mengirim penembak itu?

"Cepat ..!! cepat sedikit!! Kita harus sampai di rumah sakit Sg Markus!" Teriaknya panik sendiri.

Aldrik menekan pedal gas tak terkira, entah berapa kecepatan kilometer yang ditempuhnya, untuk melewati jalanan sepanjang jalan dia terus membunyikan klakson. Air mata Aldrik beruraian, entah apa yang dia tangisi.

Sayangnya aku tak bisa melihat airmatanya yang tampak tulus itu. Sayangnya aku tak memandang ekspresi wajahnya yang lucu saat panik.

Sriiìiiitttt. Suara desit ban mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Sesampainya disana, pria itu tak ingin buang waktu. Dia berlari menggendongku menuju kamar operasi.

Markus dengan sigap menyambutku di depan pintu ruang operasi.

"Apa yang terjadi?" tanya Markus cemas.

"Jangan buang waktu dengan pertanyaan... cepat operasi dia. Selamatkan dia sekarang juga!" Teriak Aldrik membuat Markus tanda tanya besar.

Markus dengan cepat membuka ruang operasi dan menutup pintu. Aldrik terduduk lesu di depan ruang operasi itu. Jas birunya berubah warna merah pekat. Dia terus menyalahkan dirinya. Rambutnya acak-acakan dan berkali-kali menghentamkan kepalanya di dinding.

Berselang lima belas menit, lampu ruang operasi itu masih menyala. Aldrik mondar mandir di depan ruangan yang sepi itu. Lorong sepanjang puluhan meter itu terasa dingin, Lampu sangat redup. Dia merasa kesepian dalam keadaan terburuknya.

"Siaalll ... setiap kali aku keluar rumah ada saja bahaya yang mengincar! Tapi kenapa? Kenapa harus sekarang?"

 Dia melampiaskan amarahnya dengan meninju pintu ruang operasi. Detak jam yang terus ber berdetik di dinding seolah itu adalah bom waktu yang akan meledak, hacker itu semakin gelisah menatap lampu merah di atas kamar operasi yang masih terus menyala.

Dia menelpon beberapa kali, suaranya saat menelpon dengan amarah dan kecemasan luar biasa. Tak lama setelah itu, terdengar langkah berat dari arah lorong. Zane dan Caspian datang menghampirinya ke rumah sakit.

"Bro apa yang terjadi?" tanya Zane.

"Aku tidak tau siapa yang mengincar ku, aku hanya pergi ke resort dan menghabiskan waktu bersama Irish... dia menahan tembakan timah panas itu untukku. Aku ... aku ... " suaranya terputus. "Aku gagal melindunginya, Zane." Aldrik terisak.

Aldrik tak bisa mengekspresikan pengalaman menakutkannya hari ini di depan dua saudaranya. Zane yang mendengar cerita itu langsung mengeluarkan handphone.

"Cepat selidiki siapa penembak itu? Periksa semua cctv yang ada di resort. Dalam waktu 5 menit aku ingin tahu siapa pelakunya! sisir seluruh area resort dan dapatkan jejak pembunuh itu."

"Berani-beraninya dia mengusik keluarga starling," ujar Caspian yang tampak memikirkan sesuatu.

Aldrik memasang wajah murka. Dia sangat marah.

"Selama menyandang nama Starlings, hidupku tidak pernah tenang!"

"Apa kau yakin penembak itu menargetkan dirimu?"tanya Caspian.

"Mereka pasti menargetkanku, karena hari ini aku tidak membawa pengawal. Itu pasti mata-mata dari organisasi black sword yang selalu melincir keluarga starling."

"Tapi sudah beberapa tahun ini mereka tidak bergerak. Sangat kebetulan jika hari ini mereka mengetahui keberadaanmu."

"Apa kau mencurigai Irish?"

"Tidak mungkin wanita dengan identitas biasa, mempunyai musuh seperti itu." Bela Zane.

"Fine! Tapi ini terlalu janggal! Kita akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas. " Tambah Caspian.

Dibalik kekacauan yang terjadi hari ini, tidak ada satupun yang tahu bahwa penembak jitu tadi bukanlah suruhan dari organisasi black sword musuh Starling Gruop. Penembak bayaran itu juga bukan ahli, tampak dia masih setengah amatir.

Setelah dia selesai mengerjakan tugas, penempak itu di ternyata meninggal dalam keadaan tergantung di atas plafon kontrakannya yang tampak sedehana. Ibu jarinya di potong, itu agar tidak bisa melakukan sidik jari untuk mengetahui identitas aslinya.

Wajahnya di penuhi oli dan di bakar. Jejaknya benar-benar di hapus. Seluruh rekaman cctv resort sudah di hapus oleh seseorang dari dalam resort. Tembakan yang di tahan Irish, menyisakan misteri.

 Siapa yang mengincarnya?

1
sinnox
berani bgt ni cewe bjir😭
sinnox
10 juta dollar lenyap nih? 😭
sinnox
Jangan mau irish, kmu di jadiin bahan taruhan doang😭
sinnox
Weh baru juga ketemu, Zane sat set bgt 🤣
sinnox
Siapa ituuu🫣
sinnox
Alamak🫣
azza Binury: 🤭🤭🤭 tq
total 1 replies
sinnox
bahaya mbak masuk Phantom😰
sinnox
Di bunbun😰
sinnox
Yang sabar irish😭
azza Binury: terimakasih udah mampir kak. jangan lewatkan update terbaru
total 1 replies
𝜚⍣⃝𝄞®™Maxime😈
semangat 💪
azza Binury: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!