Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kael kemudian meluruskan tubuhnya dan menatap Aurora tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
"Duduk," ucapnya singkat namun tegas. "Biarkan upacara ini segera dimulai."
Perintah itu terdengar tenang, tetapi cukup kuat untuk membuat Aurora membeku beberapa saat sebelum perlahan kembali menuju kursinya, diiringi tatapan penasaran seluruh tamu yang memenuhi ruangan.
Dari kejauhan, Adrian menangkap perubahan raut wajah adiknya. Sebagai seorang kakak, ia dapat melihat ketegangan yang berusaha disembunyikan Aurora. Meski tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia yakin penyebab kegelisahan itu adalah Kael, pria yang kini berdiri sebagai calon adik iparnya.
Prosesi akad pun dimulai.
Dengan suara mantap dan tanpa sedikit pun keraguan, Kael mengucapkan janji pernikahan dengan fasih. Setiap kata terlontar jelas, seolah ia telah mempersiapkan momen itu sejak lama. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa emosi, tidak menunjukkan sedikit pun tanda gugup. Sorak tepuk tangan para tamu setelah prosesi selesai pun tak mampu mengubah ekspresinya.
Tak lama kemudian, pembawa acara mempersilakan kedua mempelai menuju pelaminan sederhana yang telah dihias dengan nuansa elegan.
Aurora berjalan perlahan di samping Kael. Langkahnya terasa berat, berbanding terbalik dengan antusiasme para tamu yang memenuhi ruangan.
Begitu keduanya tiba di pelaminan, teman-teman Aurora mulai bersorak riang.
"Cium!"
Seruan itu disambut gelak tawa dan tepuk tangan para tamu. Semua mengira Kael tidak akan memenuhi permintaan tersebut.
Namun, Kael justru melakukan sesuatu yang sama sekali di luar dugaan.
Ia menatap Aurora beberapa detik, lalu mengangkat dagu gadis itu dengan lembut menggunakan jemarinya. Sebelum Aurora sempat memahami apa yang akan terjadi, Kael mengecup bibirnya singkat.
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa tamu menahan napas karena terkejut, sementara yang lain saling berpandangan tak percaya. Adrian pun membelalakkan mata, begitu pula orang-orang kepercayaan Kael yang tidak menyangka pria berhati dingin itu akan melakukan tindakan di luar kebiasaannya.
Aurora sendiri hanya mampu mematung. Wajahnya memerah, pikirannya kosong, sementara detak jantungnya berdentum semakin kencang, menjadi satu-satunya suara yang mampu ia dengar di tengah keheningan yang menyelimuti ruangan.
Cukup lama Kael mempertahankan kecupan singkat itu. Tangannya terangkat perlahan, menahan lembut sisi wajah Aurora agar gadis itu tidak spontan menjauh.
Aurora membeku.
Bukan karena ia menikmati perlakuan itu, melainkan karena rasa terkejut dan cemas yang menguasai dirinya. Ia memilih diam, khawatir setiap bentuk perlawanan justru memancing tindakan Kael yang lebih sulit diprediksi.
Saat tubuh mereka masih berdekatan, Aurora merasakan sesuatu yang keras terselip di balik jas pria itu. Benda itu jelas bukan telepon genggam ataupun dompet. Dari bentuknya yang tegas, ia segera menyadari bahwa Kael sengaja membawa senjata api.
Kesadaran itu membuat jantungnya berdegup semakin kencang.
Tak lama kemudian, prosesi pernikahan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Para tamu yang hadir memilih menikmati jalannya acara tanpa lagi mempermasalahkan pergantian mempelai pria yang terjadi secara mendadak.
Sementara itu, Aurora masih berdiri kaku di pelaminan. Tubuhnya terasa begitu berat untuk digerakkan, bahkan bibirnya yang masih menyisakan rasa gugup nyaris tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Di tengah suasana yang mulai tenang, Adrian melangkah mendekati kedua mempelai.
Tatapan pria itu berpindah dari wajah adiknya menuju Kael. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan, tetapi semuanya ia telan demi menjaga suasana tetap damai.
Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata dengan sopan,
"Tuan... saya tidak mengerti mengapa takdir mempertemukan kita dengan cara seperti ini. Namun, saya hanya memiliki satu harapan. Tolong perlakukan adik saya dengan baik dan jagalah dia sebagaimana mestinya."
Meski kini Kael telah menjadi menantunya, Adrian tetap menunjukkan rasa hormat yang sama seperti saat ia masih bekerja di bawah kepemimpinan pria itu. Status keluarga mereka telah berubah, tetapi jarak dan wibawa Kael tetap membuatnya menjaga tutur kata dengan penuh kehati-hatian.
"Hm." balas Kael singkat.
Aurora berharap seandainya ia memiliki kemampuan untuk menghilang saat itu juga. Berada begitu dekat dengan Kael membuat rasa takutnya semakin menjadi. Bayangan senjata yang sempat ia rasakan tersimpan di balik jas pria itu terus menghantui pikirannya.
"Semoga nyawaku aman malam ini." gumam Aurora pelan.
Tanpa menunggu reaksi Kael, ia buru-buru membuka pintu kamarnya. Begitu berhasil masuk, ia segera menutup pintu rapat-rapat, memutar kunci, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu sambil mengembuskan napas panjang.
Ia membutuhkan tempat berlindung.
Aurora tak mengerti mengapa Kael masih mengikutinya sampai ke lantai atas. Bukankah pesta pernikahan telah usai? Seharusnya pria itu sudah meninggalkan rumah, bukan justru berdiri di depan kamarnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan yang berat terdengar dari balik pintu.
"Aurora, buka pintunya. Jangan bersikap seperti ini padaku." ujar Kael dengan suara tenang, tetapi mengandung tekanan yang sulit diabaikan.
Aurora memejamkan mata, berusaha menguatkan diri.
"Pergilah! Tolong jangan ganggu aku!" balasnya dengan suara bergetar dari balik pintu.
Keheningan hanya berlangsung beberapa detik.
Lalu suara Kael kembali terdengar, kali ini lebih rendah dan jauh lebih tegas.
"Aurora, buka pintunya sekarang."
Tak ada jawaban.
Kesabaran Kael mulai menipis.
"Jangan memaksaku menggunakan cara lain. Jika kau tetap menguncinya, aku akan mendobrak pintu itu."
Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Dari nada suaranya saja, Aurora tahu Kael benar-benar mampu melakukannya. Jantungnya kembali berpacu, sementara kedua tangannya mengepal gugup di balik pintu yang kini terasa sebagai satu-satunya penghalang di antara dirinya dan pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya.
Aurora mematung di balik pintu kamarnya. Napasnya masih berantakan, sementara ancaman Kael terus menggema dari luar. Nada suara pria itu tidak terdengar meninggi, tetapi justru ketenangannya membuat setiap kata terasa jauh lebih mengintimidasi.
"Kalau kau tidak membuka pintu sekarang, aku sendiri yang akan membukanya." ucap Kael dingin. Tidak ada sedikit pun kesan bahwa ia sedang menggertak.
Aurora memejamkan mata rapat. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia tahu pria itu bukan seseorang yang gemar mengucapkan ancaman kosong. Apa pun yang keluar dari bibir Kael hampir selalu berubah menjadi kenyataan.
Dengan langkah pelan, Aurora menjauh dari daun pintu. Ia memilih tidak membalas sepatah kata pun. Perdebatan hanya akan memperkeruh keadaan.
Pandangannya jatuh ke meja rias. Pantulan wajahnya di cermin membuatnya nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan pengantin yang sejak pagi menghiasi wajahnya kini terasa seperti topeng yang ingin segera ia lepaskan. Tangannya meraih kapas dan cairan pembersih, lalu mulai menghapus lapisan demi lapisan riasan dengan gerakan perlahan, seolah ingin menghapus seluruh kejadian yang baru saja menimpanya.
Di luar kamar, suara Kael kembali terdengar.
"Aurora... jangan memaksaku mengulang perkataanku."
Nada suaranya tetap datar, namun sarat tekanan.
Aurora menghentikan gerakan tangannya sesaat. Ia menggigit bibir bawah, berharap pria itu akhirnya menyerah dan pergi.
Keheningan hanya berlangsung beberapa detik.
Brak!
Suara benturan keras menggelegar dari arah pintu, membuat seluruh tubuh Aurora tersentak.
"Aaah!"
Seruan kaget lolos begitu saja dari bibirnya. Kapas yang ia genggam jatuh ke lantai, sementara jantungnya terasa seolah berhenti berdetak sesaat.
Ia menoleh dengan mata membelalak ke arah pintu kamar, menyadari bahwa Kael benar-benar sedang berusaha masuk. Ancaman pria itu ternyata bukan sekadar kata-kata.
...****************...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
maap,unfollow dan unsubscribe