Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Ke Apartemen Adrian
"Kamu dengar kata ibu kost, kan? Dia usir kamu. jadi ayo kita pergi aja!" tantang Adrian dengan senyuman sinisnya.
"Oh, orang kaya kamu?" tanya ibu kost lebih sinis. "Kalau udah punya tempat untuk Rina, bawa aja dia malam ini juga!"
"Ok! Ayo, Rin." ulang Om Adrian begitu manly.
“Kita mau kemana?” tanya Rina dengan suara bergetar.
“Ah! Aku punya banyak rumah untukmu. Tenang saja,” kata Adrian dengan suara yang begitu percaya diri.
Rina akhirnya merapikan barang-barangnya dan bergegas keluar dari kamar kos malam itu juga.
Sikap Adrian yang begitu jantan membuat Rina kembali jatuh cinta pada pria tampan ini.
Mereka tiba di apartemen Adrian yang lain. Dengan teliti, Rina merapikan barang-barangnya karena khawatir ada yang tertinggal di kamar kos lama.
“Sudah semua?” tanya Adrian dengan lembut setelah Rina selesai menyapu kamarnya.
“Sudah, Om. Terima kasih.”
Rina memeluk tubuh Adrian yang terasa begitu hangat malam itu. “Kalau tidak ada Om, entah apa jadinya aku malam ini.”
“Ya, kamu yang nyaman di sini. Kalau ada apa-apa, bilang saja. Om pasti akan memenuhi semua kebutuhanmu.”
Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada perkataan pria matang seperti itu? Rina lalu memeluk erat Adrian, tanpa peduli lagi siapa sosok om-om mapan yang sedang bersamanya saat ini.
Merasa nyaman dengan pelukan Rina tentu saja Adrian tidak mau pulang begitu saja. Dia lalu mengajak Rina masuk ke kamar untuk melepas lelah.
“Om menginap di sini?” tanya Rina polos.
“Ya iyalah, masa mau pulang? Kan Om malam ini belum peluk dan cium kamu.”
Rina tersenyum senang.
Adrian yang sudah tidak tahan dengan gairah di tubuhnya segera melepas pakaian dan membaringkan Rina di atas tempat tidur. Rina tidak menolak.
Dia tahu Adrian pantas mendapatkan malam yang hangat bersamanya setelah penyelamatan om tampan ini dari kemarahan ibu kostnya yang menyeramkan.
Malam yang luar biasa indah untuk kedua pasangan yang sedang mabuk kepayang ini. Namun, mereka lupa bahwa di rumah kost yang di tinggalkan Rina sudah ada mata yang mengintai mereka.
Keesokan harinya, Rina kembali ke kampus.
Tatapan mata tajam mulai mengarah kepadanya. Awalnya Rina tidak peduli, sampai Uci, mantan teman kosnya mendekat sambil berbisik, “Kayaknya aku tahu siapa om-om yang semalam cium kamu, Rin.”
“Kenapa memangnya?” tanya Rina sinis.
“Ah, itu kan suaminya Bu Prof. Jangan-jangan kamu ada main ya sama suaminya?”
“Ih, kamu ini. Kami cuma atasan dan bawahan!”
“Oh! Kamu yang di atas atau dia yang di atas, nih?” Uci tertawa meledek. “Keringatan enggak tuh kalau kamu yang di atas?”
“Apa sih!” kesal Rina, lalu melangkah meninggalkan temannya.
“Jangan sok suci, Rin. Mana ada atasan membela bawahannya segitunya kalau kamu enggak naik ranjang. Uhhh! Om!” ledek Uci, membuat Rina semakin naik pitam.
Rina berjalan cepat menghindari Uci. Namun, cerita tentang dirinya yang dibela oleh Adrian di kosan lamanya terlanjur menyebar luas.
Semua orang mulai memandang Rina sebagai wanita simpanan, dan hal itu membuatnya semakin makan hati.
“Uhh!” Rina melangkah masuk ke dalam apartemen milik Adrian sambil melempar tas kuliahnya.
Adrian yang sudah berada di dalam lebih dulu memandangi gadisnya dengan bingung. “Kamu kenapa, sayang?”
“Om, mereka pada tahu kalau aku simpananmu!”
“Ah, santai saja. Seperti apa pun dunia memandang kita, yang penting kan kita menikmatinya.”
“Tapi gimana kalau Ibu Profesor tahu kita pacaran?”
“Tenang aja, aku udah bilang kok.”
“Bilang?! Bilang apa?!” tanya Rina dengan wajah kebingungan.