Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Harapan
Berhasil.
Satu kata itu terus berdengung di kepala Joe, menjadi pencapaian terbesar yang menyapu bersih semua rasa frustrasinya hari ini.
Setelah berkali-kali dipaksa menelan kekecewaan karena mangsanya lolos, rentetan usaha kerasnya yang pantang menyerah akhirnya terbayar lunas.
Pisau buruannya bergerak lincah—sret... sret...—memisahkan kulit tebal dari daging buruan segar di hadapannya.
Aroma amis darah dan tanah basah menguar di udara, namun Joe tak peduli. Setiap kali otot tangannya menarik lapisan kulit itu, sudut bibirnya tertarik ke atas.
Bayangan kebahagiaan keluarga kecilnya, terutama binar mata Cate saat melihat daging ini terhidang di meja, terus menari-nari di pelupuk matanya. Euforia itu membuatnya tak sabar ingin segera berlari menembus hutan untuk memamerkan hasil tangkapannya.
Namun, saking asyiknya melamunkan senyum sang putri, fokusnya sedikit goyah.
Sret!
Bilah pisau yang licin oleh lemak tak sengaja meleset, menyayat cukup dalam jari telunjuk Joe. Darah segar seketika menetes deras, jatuh bercampur dengan darah hewan buruannya di atas tanah.
Joe hanya mendesis pelan. Ia menarik tangannya, menatap luka yang menganga itu sejenak, lalu tanpa ragu mengisap darahnya dan mengusapkan sisa lukanya ke celana kain yang ia kenakan.
Bagi seorang pria yang masa lalunya penuh dengan pertempuran mematikan bersama mendiang teman-temannya, sayatan kecil ini bahkan tak pantas disebut luka. Ia kembali meraih pisaunya dengan tenang, melanjutkan pekerjaannya seolah tak terjadi apa-apa.
Setelah beberapa menit berjibaku, proses pengulitan itu selesai dengan sempurna. Lembaran kulit telah terpisah sepenuhnya, menyisakan gumpalan daging utuh mentah yang padat dan berat.
"Baiklah!" cetusnya bersemangat. "Saatnya pulang ke rumah!"
Tanpa membuang waktu memotongnya menjadi bagian kecil, Joe langsung mengangkat daging utuh yang masih meneteskan sisa darah itu ke atas bahunya. Otot punggungnya meregang menahan beban yang luar biasa, namun langkah kakinya terasa ringan.
Dengan senyum lebar yang tak luntur, pria paruh baya itu mulai membelah hutan menuju Desa Veria, diiringi siulan dan nyanyian riang yang memecah kesunyian Hutan Kaliev.
Sementara Joe tengah menempuh perjalanan pulang, di sudut lain desa, cahaya matahari sore mulai memudar menyinari sebuah gudang tua yang usang termakan usia.
***
Di dalamnya, debu-debu halus berterbangan tertiup angin yang masuk dari celah dinding kayu. Bee, Cynthiara, dan Cate baru saja selesai menata kotak-kotak berisi telur segar dan sisa buah hasil panen yang siap dikirim ke Kota Terrovia esok pagi.
Pekerjaan berat itu diiringi oleh gelak tawa yang menggema di dalam gudang. Mereka tengah menertawakan kekonyolan yang terjadi beberapa jam lalu.
Salah satu pekerja tanpa sengaja terpeleset dan tercebur masuk ke dalam kolam pembuangan kotoran unggas.
Saking menyengatnya bau amonia yang menempel, pakaian pekerja malang itu sampai harus dibuang ke tempat sampah karena sudah tak bisa diselamatkan lagi.
Setelah sapu terakhir dikembalikan ke sudut ruangan, Bee menyeka keringat di dahinya. Ia melihat Cynthiara dan Cate sudah bersiap melangkah ke arah pintu keluar.
"Cynthiara, Cate."
Mendengar nama mereka dipanggil, langkah kedua gadis itu terhenti serentak. Tanpa menjawab, mereka memutar tubuh menghadap pria paruh baya tersebut.
"Tunggu sebentar, aku ada sesuatu untuk kalian," lanjut Bee.
Kata 'sesuatu' itu langsung membuat Cynthiara dan Cate saling bertukar pandang. Kening mereka berkerut bingung. Sejak awal bekerja, mereka hanya berniat membantu tenaga sekadarnya. Tak ada satupun dari mereka yang mengharapkan hadiah atau imbalan ekstra dari pemilik peternakan ini.
Bee berbalik dan masuk ke bilik belakang tumpukan boks kayu raksasa. Cukup lama kedua gadis itu menunggu dengan canggung, hingga akhirnya Bee muncul kembali dengan langkah sedikit gontai, membawa dua bingkisan berukuran cukup besar di kedua tangannya.
Mata Cynthiara dan Cate spontan membelalak lebar. Mulut mereka sedikit terbuka. Bentuk dan ukuran bingkisan itu benar-benar di luar prediksi mereka.
"Ini." Bee menyodorkan bingkisan besar itu, memaksa kedua gadis itu menerimanya dengan kedua tangan. "Sebagai imbalan karena sudah membantuku hari ini."
Beban di tangan mereka terasa berat. Cate menatap bingkisan itu, lalu menatap wajah Bee dengan ragu.
"Ta-tapi, Paman Bee... ki-ta—"
Belum sempat Cynthiara menyelesaikan kalimat penolakannya, Bee sudah melangkah maju. Tangannya yang kasar memegang kedua pundak gadis itu dan memutar tubuh mereka pelan, lalu mendorong punggung mereka dengan lembut menuju ambang pintu gudang.
"Aku tahu, kalian pasti tidak ingin terima imbalan ini, kan? Kalian ikhlas membantu, dan aku ikhlas memberi. Jadi, kita impas untuk hari ini. Tidak ada pemenangnya!"
Tepat sebelum mendorong mereka keluar, Bee tersenyum. Senyum tulus yang membuat kerutan di sudut mata rentanya terlihat jelas, tanpa ada setitik pun paksaan atau kebohongan.
Pemandangan itu sukses menyentuh titik kelembutan di hati kedua gadis tersebut, membuat mereka membeku di ambang pintu, tak sanggup lagi melontarkan kata penolakan.
"Sudah, sana pulang... hari sudah mulai gelap, jangan buat orang tua kalian jadi khawatir."
Tak punya pilihan lain untuk membantah, Cynthiara dan Cate menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka membungkuk hormat dengan sangat sopan, menyalurkan rasa terima kasih yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata atas kemurahan hati pria itu.
Perjalanan pulang menyusuri jalanan desa yang mulai temaram terasa hening. Tak ada lagi tawa atau obrolan ringan. Sesekali, kedua sahabat itu menunduk, menatap bingkisan besar di pelukan mereka. Ini adalah pertama kalinya Bee memberikan sesuatu sebesar ini.
Ada kehangatan rasa syukur yang mekar di dada karena mereka bisa pulang membawa sesuatu untuk keluarga. Namun, di saat bersamaan, ujung bibir mereka tergigit resah.
Perasaan bersalah diam-diam menyusup, merasa tak enak hati karena menerima barang berharga dari seorang pria tua yang bisnisnya sedang butuh banyak perputaran modal.
***
Malam akhirnya turun sepenuhnya menyelimuti wilayah Terrovia, menggantikan langit jingga dengan kanvas hitam pekat.
Di titik pertigaan tanah kering yang memisahkan jalur ladang dan area pedesaan, sosok Joe akhirnya muncul. Perjalanannya dari Hutan Kaliev benar-benar menguras sisa kewarasannya.
Rasa lelah yang meremukkan tulang, dahaga yang membuat kerongkongannya terasa seperti amplas, dan rasa lapar yang melilit perut berkolaborasi menjadi sebuah siksaan yang absolut.
Sepasang kakinya diseret paksa. Keseimbangannya hancur berantakan, tubuhnya oleng ke kiri dan ke kanan, menahan beban daging besar di pundaknya yang kini terasa seberat bongkahan batu asahan.
"Se-di-kit... la-gi," rintihnya parau, napasnya tersengal parah.
Seorang pria berambut uban yang sedang bersantai di teras rumahnya menangkap pergerakan aneh di jalanan. Saat matanya menyipit dan mengenali sosok yang terhuyung-huyung itu, rasa iba langsung menyergapnya.
Pria itu tak buang waktu hanya untuk berteriak 'Joe. Kamu kenapa?' dari jauh. Ia segera melompat dari kursinya, berlari menghampiri Joe, dan tanpa basa-basi langsung menyusupkan lengannya ke bawah ketiak Joe untuk membopong tubuh lemas pria beranak satu itu menuju kursi panjang di depan rumahnya.
Joe membiarkan dirinya dijatuhkan ke atas kayu kursi. Daging buruannya disandarkan dengan hati-hati di sisinya. Begitu bokongnya menyentuh alas duduk, napas Joe terlepas putus-putus. Setelah menceritakan singkat dari mana asalnya ia hingga berakhir setragis ini, raut wajah tetangganya itu kian prihatin.
"Tunggu sebentar di sini, akan kuambilkan sesuatu untukmu."
"Terima... kasih."
Mendengar janji air minum itu, Joe menyandarkan kepalanya ke dinding kayu rumah. Ia akhirnya bisa meraup oksigen dengan sedikit lebih lega berkat kesigapan warga tersebut.
Lampu minyak dari rumah-rumah tetangga menyorot wajah Joe yang pucat pasi, menampilkan peluh dingin yang membasahi pelipis dan lehernya—sebuah bukti nyata betapa brutalnya hutan Kaliev menguras habis batas fisiknya hari ini.
Meski matanya setengah terpejam menahan kantuk dan letih, pandangan Joe mendongak, menatap taburan bintang di langit malam Desa Veria yang gelap. Sebuah senyum tipis, lelah namun sangat puas, kembali terbit di bibirnya yang pecah-pecah.
'Cate, tunggu Ayah di rumah, Nak. Ayah punya kejutan spesial untukmu malam ini.'