NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suasana kamar masih remang‑remang, diterangi hanya oleh satu lampu kecil di sudut ruangan dan cahaya samar dari layar televisi yang kini suaranya sudah dikecilkan hingga hampir berbisik. Waktu sudah lewat tengah malam, namun kedekatan di antara mereka belum mereda sedikit pun. Di balik selimut tebal yang melindungi dari hawa dingin sisa hujan, kebersamaan itu terasa semakin hangat, semakin akrab, dan perlahan berubah menjadi lebih lembut serta penuh perhatian.

Tangan Elio yang sedari tadi beristirahat santai di pinggiran kain perlahan bergerak lebih dalam, meluncur halus masuk ke bawah selimut seolah berjalan perlahan menyusuri jalan yang sudah dikenalnya namun selalu ingin disentuh lagi. Gerakannya sangat lambat dan hati‑hati, seolah takut sedikit saja terburu‑buru akan merusak ketenangan yang terbentuk. Pertama jari‑jemari itu menyentuh pinggang ramping Alena—tempat yang selalu terasa pas dan nyaman di genggamannya—mengelus bolak‑balik dengan sentuhan ringan namun pasti, mengikuti lekukan halus tubuh di balik kain pakaian yang tipis dan lembut.

Merasakan sentuhan itu, Alena tak bergerak menjauh; sebaliknya tubuhnya perlahan menjadi lebih santai dan lunak, seolah mengikuti irama gerakan tangan itu. Matanya perlahan terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka dan napasnya menjadi lebih lambat serta teratur, tanda bahwa ia benar‑benar menerima dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan dengan penuh kasih sayang.

Dari pinggang, gerakan itu perlahan meluncur turun—menyusuri sisi paha yang halus dan hangat, berjalan naik‑turun perlahan seolah ingin mengingat setiap garis lembut yang ada di sana. Sentuhan itu tak kasar maupun mendesak; hanya lembut, menyelidik namun penuh perhatian, seolah setiap jengkal kulit yang disentuhnya adalah bagian yang paling berharga baginya. Semakin jauh tangan itu bergerak, semakin erat Alena memejamkan mata, kepalanya sedikit miring ke samping dan bahunya bersandar lebih nyaman ke bantal empuk.

“Kamu selalu terasa begitu… lembut dan hangat,” bisik Elio sangat pelan, suaranya rendah dan bergetar halus tepat di dekat telinganya. “Seolah dibuat khusus agar terasa pas di bawah tanganku.”

Tanpa melepaskan sentuhan itu, Elio perlahan mengangkat sedikit ujung selimut yang menutupi mereka, membiarkan udara kamar yang hangat menyapa kulit sekaligus memberi ruang untuk mengubah posisi agar lebih nyaman dan dekat. Dengan gerakan perlahan dan terukur, ia menggeser tubuhnya hingga kini berada tepat di atas Alena—berbaring menopang berat badan dengan kedua siku agar tidak menindihnya, namun cukup dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan dan setiap hembusan napas saling bercampur hangat di udara sempit di antara mereka.

Sekarang posisi mereka sejajar sempurna: bentuk tubuh Elio yang kokoh dan ramping berada tepat di atas sosok yang lebih kecil dan lembut di bawahnya, hingga bagian depan tubuh mereka saling berhadapan rapat namun masih terpisah sedikit jarak yang cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain sepenuhnya. Di sana, Elio berhenti sejenak, menatap wajah Alena yang kini terlihat lebih tenang dan lebih cantik dari biasanya di bawah cahaya remang—mata tertutup rapat, bulu mata panjang menyentuh pipi halus, bibir sedikit merona dan terbuka lembut.

Hati‑hati, didorong oleh rasa ingin tahu yang jujur namun juga keinginan untuk semakin dekat, Elio perlahan menggesekkan tubuhnya sedikit ke depan dan ke belakang—gerakan yang sangat pelan dan halus, hanya cukup untuk merasakan bagaimana permukaan tubuh mereka saling bersentuhan dan bergerak selaras satu sama lain tanpa ada tekanan berlebih.

Ia benar‑benar hanya ingin tahu—seperti yang diakui dalam hatinya—bagaimana rasanya berada sejauh ini dekat, bagaimana sensasi setiap sentuhan yang berjalan serentak dari bahu hingga ke pinggang dan paha, bagaimana gerakan kecil yang selaras ini membuat detak jantung berpacu lebih cepat namun tetap terasa damai dan aman.

Gesekan itu lembut, perlahan, dan terukur—hanya cukup untuk mengirimkan getaran halus menyebar ke seluruh tubuh keduanya. Alena mengerang sangat pelan, suara yang hampir hilang bercampur keheningan malam, tangannya yang tergeletak di samping perlahan naik dan menempel di bahu serta punggung Elio seolah ingin memeluknya lebih erat—bukan untuk menahan, melainkan untuk mengikuti gerakan itu dan menyampaikan bahwa ia pun merasakan hal yang sama: kedekatan yang indah dan penuh rasa.

“Begini… rasanya seperti kita menyatu sepenuhnya,” bisik Elio hampir tak terdengar, menundukkan wajahnya sedikit hingga dahi mereka bersentuhan halus. “Lebih dekat dari sekadar berdampingan—seolah tidak ada batas lagi antara kamu dan aku.”

Ia melanjutkan gerakan halus itu sebentar lagi—perlahan, teratur, dan lembut—hanya menikmati sensasi kebersamaan itu tanpa terburu‑buru melangkah lebih jauh. Sesekali ia berhenti sejenak hanya untuk mencium kening atau sudut bibir Alena dengan sangat halus—seolah mengingatkan bahwa setiap gerakan ini bukan sekadar keinginan fisik semata, melainkan ungkapan kasih sayang yang telah tumbuh perlahan namun kokoh sejak hari‑hari awal mereka bertemu.

Di sela‑sela momen itu, senyum kecil yang khas dan sedikit nakal namun tetap sangat tulus tak pernah hilang dari bibir Elio. Saat ia menyadari bagaimana Alena perlahan mengikuti irama gerakan itu dengan tubuh yang makin santai dan menerima, ia tak bisa menahan bisikan lucu namun penuh makna:

“Ternyata rasa ingin tahu bisa membawa kita ke tempat yang paling nyaman di dunia…” bisiknya sambil mengelus pipi gadis itu dengan ibu jari yang hangat. “Dan aku senang sekali tempat itu adalah di sini—bersamamu saja.”

Alena membuka mata perlahan, menatap tepat ke dalam manik mata Elio yang bersinar lembut namun jelas di remang‑remang cahaya, lalu tersenyum balik—senyum yang malu namun bahagia dan penuh kepercayaan mutlak. “Kamu memang selalu punya cara untuk mengubah hal sederhana menjadi sesuatu yang… tak terlupakan.”

“Karena hal sederhana yang dilakukan bersamamu selalu menjadi hal yang paling istimewa,” jawab Elio singkat namun tegas, lalu kembali menunduk untuk mencium bibirnya—kali ini lembut, pendek, dan manis seperti biasa—seolah mengakhiri rasa penasaran itu dengan jawaban yang paling sederhana sekaligus paling indah: bahwa kebersamaan dan kelembutan adalah sensasi terindah yang bisa dirasakan.

Gerakan perlahan itu perlahan melambat hingga akhirnya berhenti sama sekali, diganti dengan kedudukan yang lebih tenang namun tetap sangat dekat—Elio kini berbaring menyamping di sampingnya namun masih menutupi sebagian ruang di atasnya, satu lengan melingkar erat di pinggang agar tak ada jarak yang tercipta kembali. Selimut ditarik kembali rapat hingga menutupi bahu mereka berdua, menjaga kehangatan yang telah terjalin di antara kulit dan napas yang saling berdekatan.

1
Tri Wahyuni
Semngat terus ya.
Tri Wahyuni
DONE ya kak🤭👍
Yuri: thanks kak 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!