Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sore itu, Bu Ami kembali datang ke gubuk Alya seperti biasanya. Di tangannya ia membawa sebungkus makanan hangat yang masih mengepul, serta sebuah bantal tipis yang ia katakan dulu pernah dipakai oleh anaknya.
Alya duduk diam di sudut ruangan, pandangannya tertunduk pada lantai kayu yang mulai kusam. Ia tidak banyak bergerak, seolah seluruh tenaganya terkuras untuk sekadar bertahan dalam pikirannya sendiri.
Alya menatap Bu Ami lama, matanya sembab dan suaranya nyaris pecah ketika akhirnya ia berbicara.
"Bu..." ucapnya pelan, ragu-ragu. "Kalau Ibu ada di posisi saya... apa Ibu akan memilih untuk tidak melanjutkan kehamilan ini?"
Bu Ami terdiam cukup lama, menatap Alya dengan sorot mata yang lembut namun penuh pertimbangan. Wajahnya tidak menunjukkan penilaian, hanya keprihatinan yang dalam.
Bu Ami menghela napas pelan, pandangannya tetap tertuju pada Alya dengan penuh kehati-hatian.
"Ibu tidak bisa menjawab dengan sederhana," ucapnya lirih. "Setiap orang punya batas dan cara masing-masing untuk bertahan." Ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Kalau sebuah kehidupan hadir dari hal yang indah, mungkin akan lebih mudah untuk menerimanya dengan hati yang ringan. Tapi kalau awalnya berasal dari luka, hanya orang yang mengalaminya sendiri yang tahu seberapa kuat dia bisa bertahan."
Alya kembali menundukkan kepalanya, dan perlahan matanya mulai dipenuhi air yang berkilat. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan perasaan yang kembali naik ke permukaan.
Bu Ami menarik napas pelan sebelum menjawab, suaranya terdengar lembut namun mantap.
"Kalau kamu tanya Ibu secara pribadi, Nak," ucapnya hati-hati, "Ibu tidak akan pernah memilih untuk menolak kehidupan yang sudah ada."
Ia menatap Alya dengan penuh empati, seakan ingin memastikan setiap kata yang ia ucapkan sampai dengan baik.
"Karena pada dasarnya, anak itu tidak pernah memilih untuk hadir," lanjutnya pelan. "Dia hanya mengikuti takdirnya, tumbuh di dalam tubuh ibunya tempat pertama sekaligus satu-satunya yang ia kenal sebagai rumah."
Alya terdiam lama setelah mendengar ucapan itu. Kata-kata Bu Ami terasa begitu dalam, seakan menyentuh bagian hatinya yang paling rapuh.
Di satu sisi, ia merasa lelah dan ingin menyerah pada semua beban yang terus menekannya. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang kecil namun kuat yang mulai tumbuh dalam dirinya sebuah dorongan yang membuatnya ragu untuk benar-benar berhenti berjuang.
*****
Hujan turun perlahan malam itu, menimpa atap seng gubuk yang beberapa bagiannya sudah mulai bocor. Suara tetesan air berpadu dengan angin dingin yang masuk melalui celah dinding kayu, membuat suasana semakin sunyi.
Alya duduk di dekat tungku yang sudah lama padam, memeluk lututnya erat di balik selimut tipis yang terlihat usang. Tubuhnya masih terasa lemah, namun bukan itu satu-satunya alasan ia tidak keluar memulung hari ini.
Ia hanya diam, menatap lantai tanah yang lembap, seolah kehilangan semangat untuk melangkah seperti biasanya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya memilih tetap berada di tempat itu, tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa banyak bergerak.
Hari itu Alya tidak ingin melakukan apa pun selain diam. Ia membiarkan dirinya duduk tanpa tujuan, membiarkan pikirannya berjalan pelan mengikuti arus yang tak menentu.
Pikirannya perlahan kembali pada percakapan sore tadi dengan Bu Ami. Ucapan-ucapan itu masih terngiang jelas, seperti tidak ingin pergi dari benaknya.
"Karena pada dasarnya, anak itu tidak pernah memilih untuk hadir. Dia hanya mengikuti takdirnya, tumbuh di dalam tubuh ibunya tempat pertama sekaligus satu-satunya yang ia kenal sebagai rumah."
Alya mengusap perutnya perlahan, masih terasa rata tanpa perubahan yang terlihat. Namun, sentuhan itu kini terasa berbeda di benaknya, seolah menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar gerakan refleks.
Di dalam benaknya, Alya membayangkan sesuatu yang masih begitu samar sebuah kehidupan kecil yang belum mengenal dunia luar, yang bahkan belum memahami apa pun tentang realitas di sekitarnya.
Sosok itu terasa begitu tenang dalam imajinasinya, seolah sedang beristirahat dalam sunyi yang hanya ia sendiri yang bisa rasakan. Belum melihat cahaya dunia, belum mengenal baik dan buruk, namun sudah menjadi bagian dari dirinya yang paling dalam.
Alya menunduk dalam, suaranya hampir tidak terdengar, seperti tercekat di tenggorokan.
"Aku bahkan tidak mampu menjaga diriku sendiri dengan baik," bisiknya lirih, penuh getar. "Bagaimana aku bisa melindungi kamu nanti?"
Ia terdiam lama, menahan napas yang terasa berat di dadanya.
"Tapi kalau sampai aku memilih untuk mengakhiri ini..." lanjutnya pelan, air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan, "berarti aku akan menjadi lebih buruk dari semua orang yang pernah melukai aku."
Air mata Alya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Pipinya basah, namun kali ini bukan hanya karena rasa takut yang menyesakkan, melainkan karena pergulatan batin yang begitu dalam di dalam dirinya.
Ia duduk diam, membiarkan perasaan itu memenuhi dadanya. Keputusan yang mulai tumbuh di kepalanya bukanlah keputusan yang mudah, lahir dari hati yang penuh luka dan kelelahan.
Namun di balik semua itu, masih ada secercah harapan kecil yang belum sepenuhnya padam. Sesuatu yang membuatnya ragu untuk benar-benar menyerah, seolah masih ada alasan untuk terus bertahan, meski sangat samar.
*****
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Alya terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya pagi yang masuk melalui celah dinding gubuk menyentuh wajahnya yang masih pucat.
Rasa mual masih sesekali datang, dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda sebuah dorongan kecil di dalam dirinya yang membuatnya perlahan bergerak, bukan hanya diam seperti hari-hari sebelumnya.
Ia meneguk air hangat yang sebelumnya diberikan Bu Ami, lalu duduk sejenak untuk mengatur napas. Setelah itu, dengan tenaga yang masih terbatas, ia mulai merapikan sedikit demi sedikit isi gubuknya. Gerakannya pelan, tetapi ada usaha untuk kembali menata hidupnya, walau hanya dari hal-hal kecil di sekelilingnya.
Pagi itu terasa sedikit berbeda bagi Alya. Meski hidupnya belum benar-benar berubah, ada perasaan baru yang perlahan mengisi ruang kosong di dalam dirinya.
Saat Alya keluar untuk memulung, suasana sekitar terasa sedikit berbeda dari biasanya. Beberapa warga yang ia temui memberikan sapaan singkat, ada yang tersenyum ringan, ada pula yang hanya mengangguk tanpa banyak kata.
Tidak semua menunjukkan keramahan yang sama, namun tidak ada lagi perlakuan yang menyingkirkan atau merendahkannya. Kehidupan di sekitarnya tetap berjalan seperti biasa, tidak berubah secara tiba-tiba menjadi lebih mudah atau lebih baik.
Namun bagi Alya, ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Meski dunia tidak sepenuhnya ramah, ia mulai memiliki alasan kecil untuk tetap melangkah dan bertahan menjalani hari-harinya.
Ia memilih untuk terus bertahan, meski hidup terasa semakin berat dari hari ke hari. Setiap langkah yang ia ambil bukan lagi karena mudah, melainkan karena ia tidak punya pilihan lain selain tetap berjalan.
Ia akan berusaha melindungi kehidupan yang ada di dalam dirinya, meski dengan segala keterbatasan yang ia miliki.
Tak peduli siapa sosok di balik semua ini, dan tak peduli seberapa terjal jalan yang menanti di depan, Alya mulai mencoba meneguhkan hatinya.
Alya berjalan pelan sambil memanggul karung kosong di pundaknya. Langkahnya masih lemah, tetapi terasa sedikit lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.
Ia menunduk, lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri, seolah berbicara kepada sesuatu yang hanya ia pahami.
"Aku janji..." suaranya hampir tak terdengar. "Kamu tidak akan menjalani hidup seberat yang aku lalui dulu."
*****
Di tempat lain, pagi masih gelap ketika Rayan sudah terbangun di apartemen mewahnya. Ia duduk di tepi ranjang, terdiam cukup lama tanpa benar-benar fokus pada sekelilingnya.
Belakangan ini, tidurnya tidak lagi nyenyak. Setiap pagi ia terbangun dengan perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan, seolah ada beban yang terus mengikuti sejak hari-hari sebelumnya.
Ia mengusap pelipisnya pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Ruangan yang tenang dan tertata rapi itu tidak cukup untuk meredakan kekacauan di dalam pikirannya.
Ia sudah berusaha memperbaiki pola hidupnya. Makan lebih teratur, mengurangi kebiasaan minum kopi, bahkan mulai mengonsumsi vitamin seperti yang disarankan. Namun, perubahan itu belum memberikan hasil yang ia harapkan.
Setiap pagi, Rayan tetap terbangun dengan perasaan tidak nyaman yang sama. Tubuhnya seolah menolak untuk diajak memulai hari, meninggalkan rasa lelah yang sulit dijelaskan meski ia belum benar-benar beraktivitas.
"Aneh…" gumam Rayan pelan sambil memijat pelipisnya, matanya menatap kosong ke arah jendela kamar.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengingat kembali beberapa hari terakhir yang terasa tidak seperti biasanya.
"Sudah hampir dua minggu kondisi ini berulang."
*****
Beberapa jam kemudian, suasana berpindah ke gedung tinggi milik Wirajaya Corp. Rayan baru saja duduk di kursi kerjanya, masih dengan raut wajah yang tampak sedikit lelah dari pagi yang tidak biasa.
Pintu ruangannya diketuk pelan, lalu terbuka. Arka, asistennya, masuk dengan langkah teratur sambil membawa tablet di tangannya yang berisi agenda kegiatan hari itu.
“Selamat pagi, Pak Rayan,” ujar Arka sambil membuka tablet di tangannya. “Ini agenda untuk hari ini. Rapat bersama dewan direksi dijadwalkan pukul sebelas.”
Ia berhenti sejenak untuk memastikan Rayan memperhatikan, lalu melanjutkan, “Setelah itu, pukul tiga sore ada sesi evaluasi proyek bersama PT Sami.”
Rayan mengangguk pelan, tanpa benar-benar menunjukkan ketertarikan. Tatapannya menerawang, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain yang jauh dari ruang kerja itu.
Di tangannya, sebuah cangkir teh hangat masih tergenggam. Uapnya sudah mulai berkurang, menandakan minuman itu sejak tadi tidak tersentuh.
Arka sempat menahan ragu sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara. Ia memperhatikan wajah Rayan yang tampak tidak segar sejak tadi.
“Maaf, Pak,” ucapnya hati-hati. “Bapak terlihat kurang sehat. Perlu saya panggilkan dokter pribadi?”
Rayan menggeleng pelan, menolak kekhawatiran asistennya.
“Tidak perlu,” ucapnya singkat. Ia mengusap pelipisnya sebentar sebelum melanjutkan, “hanya mual sejak pagi, mungkin masuk angin biasa.”
Arka terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya sebelum kembali berbicara dengan hati-hati.
“Maaf, Pak,” ucapnya pelan. “Sudah beberapa hari saya memperhatikan kondisi Bapak tidak terlalu stabil.”
Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang, “Kalau boleh menyarankan, mungkin ada baiknya dilakukan pemeriksaan. Bisa saja ini efek dari kelelahan atau tekanan pekerjaan yang menumpuk.”
Rayan perlahan meletakkan cangkir teh di atas meja kaca di depannya. Gerakannya tenang, namun sorot matanya terlihat jauh, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.
Rayan akhirnya membuka suara setelah beberapa saat terdiam. Tangannya bertumpu ringan di meja, sementara pandangannya tetap lurus ke depan.
“Tekanan kerja bukan hal baru, Arka,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku sudah terbiasa dengan itu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas pendek.
“Tapi yang kali ini berbeda,” lanjutnya dengan nada lebih rendah. “Gejala ini terasa aneh… tidak seperti biasanya.”
Arka tidak menambahkan komentar apa pun. Ia hanya menundukkan kepala dengan sopan, lalu melangkah keluar dari ruang kerja Rayan dengan tenang, menutup pintu perlahan di belakangnya.
Kini ruangan itu kembali hening.
Rayan bersandar di kursinya, membiarkan pandangannya kosong ke arah meja kerja. Ia terdiam cukup lama, seperti sedang mencoba memahami sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Ada rasa tidak nyaman yang belakangan ini semakin sering muncul, bukan hanya di tubuhnya tetapi juga di kepalanya. Sensasi itu membuatnya sulit fokus, seolah ada sesuatu yang perlahan mengacaukan ritme hidupnya yang biasanya teratur.
*****
Sore itu, di kediaman utama keluarga Wirajaya, sebuah mobil putih berhenti dengan halus di depan rumah besar bergaya klasik modern yang megah. Suasana sekitar tampak tenang, hanya terdengar samar suara angin yang menyapu halaman luas.
Pintu mobil terbuka, dan Rayan melangkah keluar dengan tenang. Ia mengenakan kemeja gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memberi kesan formal namun tetap santai.
Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian beraktivitas, namun sorot matanya tetap tegas seperti biasa. Ia menatap sekilas ke arah rumah besar di depannya sebelum melangkah menuju pintu utama, membawa dirinya kembali ke lingkungan keluarga yang tidak kalah rumit dari dunia kerjanya.
Hari itu, Rayan memutuskan untuk tidak kembali ke apartemennya seperti biasa. Ia memilih langsung menuju rumah utama keluarga Wirajaya, tempat yang jarang ia singgahi kecuali ada urusan penting.
Kabar kepulangan adiknya, Nayla Wirajaya, setelah menyelesaikan studi di luar negeri menjadi alasan berkumpulnya keluarga malam ini. Sang ibu bahkan sejak pagi sudah memastikan semua persiapan makan malam berjalan sempurna.
Begitu memasuki rumah, para pelayan segera membuka pintu dengan sikap hormat dan rapi. Suasana di dalam rumah utama terasa hangat dan tertata seperti biasa, mencerminkan kehidupan keluarga besar yang terjaga dengan baik.
Dari arah dapur, aroma masakan yang baru selesai dimasak langsung tercium dan memenuhi lorong masuk. Wangi itu menyambut kedatangan Rayan, menandakan bahwa persiapan makan malam keluarga sudah hampir selesai.
Namun bagi Rayan, aroma yang tercium itu tidak benar-benar terasa menenangkan. Justru ada sesuatu yang samar membuatnya sedikit tidak nyaman, meski ia sendiri tidak bisa menjelaskan alasannya.
Aroma hidangan mewah memenuhi ruangan wagyu ribeye steak, lobster thermidor, dan truffle risotto bercampur menjadi satu di udara ruang makan keluarga Wirajaya.
Biasanya, wangi seperti itu terasa menggugah selera bagi Rayan. Namun sore ini, reaksinya berbeda. Ia hanya menarik napas pelan, merasakan ketidaknyamanan yang sulit ia jelaskan setiap kali mencium aroma makanan tersebut.
Ia berhenti sesaat di ambang pintu ruang makan, tidak langsung masuk seperti biasanya. Rayan menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri dan mengatur kembali ritme napasnya yang terasa sedikit tidak stabil.
“Kak Rayan.”
Suara itu membuat langkah Rayan sedikit terhenti di ambang ruang makan. Ia menoleh perlahan ke arah sumber suara, mendapati Nayla sudah duduk di salah satu kursi dengan senyum tipis yang hangat.
Nayla langsung berdiri begitu melihat Rayan masuk ke ruang makan. Tanpa ragu, ia menghampiri kakaknya dengan langkah cepat, lalu memeluknya erat seperti melepas rindu yang tertahan cukup lama.
“Finally!” ucapnya dengan nada ringan bercampur antusias. “Kita akhirnya dinner bareng juga. Aku bosan banget makan sendiri di sana, tiap malam cuma roti dingin.”
“Selamat datang kembali.” ucap Rayan akhirnya, suaranya tenang namun terdengar lebih lembut dari biasanya. Ia mencoba membentuk senyum kecil di wajahnya, meski tidak terlalu lama bertahan.
Mereka mulai duduk mengelilingi meja makan panjang yang sudah ditata rapi. Hidangan mewah tersaji satu per satu, tertata elegan di atas meja berlapis kain putih bersih.
Di sisi minuman, deretan gelas kaca berisi rosemary lychee dan matcha latte tersusun rapi, memantulkan cahaya lampu gantung di atasnya. Suasana ruang makan terasa formal namun tetap hangat, seperti tradisi keluarga besar yang selalu dijaga.
Namun begitu Rayan duduk, aroma masakan yang memenuhi meja kembali terasa kuat di sekelilingnya. Berbagai hidangan yang tersaji dengan rapi itu seolah menyatu dalam satu kesan yang intens.
Ia segera memalingkan wajahnya, berusaha menguasai diri saat sensasi tidak nyaman itu kembali muncul. Rayan menarik napas pelan melalui hidung, mencoba menstabilkan keadaan agar tidak terlihat oleh orang lain di meja makan.
Nayla mencondongkan tubuh sedikit ke arah Rayan, memperhatikan perubahan raut wajah kakaknya yang sejak tadi terlihat kurang fokus.
“Kak, kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan dengan nada khawatir. “Kok kelihatan agak lesu dari tadi?”
Rayan hendak menjawab, namun baru saja ia membuka mulut, sensasi mual kembali datang dengan lebih kuat dari sebelumnya. Ia terdiam sejenak, mencoba menahan diri agar tetap tenang di depan keluarganya.
Aroma makanan di meja makan yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa semakin intens di indranya, membuat fokusnya perlahan buyar. Ia menarik napas pelan, berusaha mengendalikan reaksi tubuhnya yang tidak ia harapkan muncul di saat seperti ini.
"Hueeekkk! "
Rayan refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan reaksi yang tidak bisa ia kendalikan. Wajahnya perlahan memucat, kontras dengan suasana ruang makan yang tetap hangat dan penuh percakapan.
Semua orang yang berada di meja makan langsung menoleh ke arah Rayan, suasana yang semula hangat seketika berubah menjadi hening sesaat.
“Rayan!” seru Nyonya Salsabila, suaranya penuh keterkejutan dan kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tanpa menjawab pertanyaan siapa pun, Rayan langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat. Ia mendorong kursi sedikit ke belakang, lalu melangkah tergesa meninggalkan ruang makan.
Langkahnya terburu-buru menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur, melewati koridor sempit rumah utama. Dalam kondisi yang tidak stabil, ia hampir saja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa hidangan, membuat pelayan itu terkejut dan segera menepi.
Brakkk!
Pintu kamar mandi tertutup rapat, sementara dari dalam terdengar suara samar yang menunjukkan Rayan sedang berjuang mengendalikan dirinya.
Nayla langsung berdiri dari kursinya, wajahnya berubah panik saat mendengar suara dari arah kamar mandi.
Ia menoleh cepat ke ibunya, matanya dipenuhi kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
“Ma… Kak Rayan muntah?” suaranya bergetar. “Ya Tuhan, dia kenapa, Ma?”
Tuan Wirajaya perlahan meletakkan serbet di atas pangkuannya, gerakannya tenang seperti biasa, namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak ia sembunyikan. Ia menatap ke arah orang di depannya sejenak, lalu berkata pelan, “Padahal tadi pagi dia tidak tampak menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali.”
Nyonya Salsabila menghela napas kecil, lalu bersandar santai pada kursi makan dengan raut wajah yang sulit ditebak, seolah menyimpan pikiran yang tak ingin ia ucapkan.
“Astaga, jangan-jangan dia… seperti orang hamil.” ucapnya pelan hampir berbisik, ragu dan tak sepenuhnya yakin, namun pikirannya terlanjur melompat ke dugaan yang membuatnya sendiri terdiam sejenak.
Nayla langsung menoleh cepat, tatapannya tajam penuh penolakan. “Mamah, itu Kak Rayan laki-laki. Mana mungkin begitu.” ucapnya tegas, suaranya meninggi sedikit karena tidak bisa menerima dugaan itu.
Nyonya Salsabila hanya mengangkat bahunya pelan, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak terlalu peduli dengan dugaan yang baru saja muncul di ruangan itu.
Beberapa pelayan saling bertukar pandang, kebingungan bercampur cemas terlihat jelas di wajah mereka. Ada yang menahan napas, sementara suasana ruang makan berubah hening dan terasa menekan.
Dari arah kamar mandi, suara air masih terdengar mengalir pelan. Tak lama kemudian, langkah Rayan terdengar mendekat, berjalan perlahan menyusuri lorong dengan suasana yang masih terasa berat.
Beberapa menit kemudian, ia muncul dari ruangan itu dengan wajah yang tampak lebih pucat dari sebelumnya. Sorot matanya terlihat kosong sesaat, seperti masih membawa sisa keterkejutan yang belum sepenuhnya ia kendalikan.
Nayla segera melangkah mendekat, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang sulit disembunyikan. “Kak, serius, kamu kenapa? Kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya.” tanyanya pelan, suaranya bergetar tipis menahan cemas.
Raya hanya menggeleng pelan dengan lemah, lalu menghela napas panjang seolah menahan sesuatu yang berat di dadanya.
“Maaf,” ucapnya pelan, suaranya terdengar berat dan lelah. “Aku cuma butuh istirahat sebentar.” lanjutnya singkat sebelum mengalihkan pandangan, seolah tak ingin ada pertanyaan lanjutan.
Tanpa memberi penjelasan sedikit pun, ia langsung melangkah menuju lantai atas dan masuk ke kamarnya, meninggalkan suasana yang masih dipenuhi tanda tanya di belakangnya.
Tuan Zayan memandangi kepergiannya cukup lama dalam diam, sementara Nyonya Salsabila hanya berdecak pelan sambil mengangkat gelas minumannya, seolah tak terlalu ambil pusing dengan situasi yang baru saja terjadi.
“Benar-benar aneh.” gumamnya lirih sambil menggeleng kecil, lalu kembali menyesap minumannya dengan tenang, seolah mencoba menyingkirkan pikirannya sendiri.