NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:130.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 | HOTEL ROM

Elara mengikuti mobil hitam itu hingga berhenti di depan The Obsidian Palace, sebuah hotel privat yang menjadi markas rahasia Dante di pusat kota. Begitu ia melangkah masuk ke penthouse di lantai teratas, suhu ruangan terasa turun drastis.

​Di sana, Dante berdiri memunggungi pintu, memandang cakrawala kota melalui kaca patri yang besar. Ia menyesap cerutunya dengan tenang, sementara di dekat kakinya, tergeletak sosok pria yang tak lagi bernyawa dengan genangan darah pekat yang masih menguap.

​Elara merasa oksigen di ruangan itu lenyap. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan menggenggam erat pisau lipat yang ia bawa. Ia melangkah masuk, langkahnya pelan dan tanpa suara, matanya terkunci pada leher Dante yang terbuka.

​"Kau sangat berisik, Letnan," Dante bersuara tanpa menoleh. "Langkah kakimu terdengar seperti guntur di telingaku."

​Dante berbalik. Saat melihat Elara dengan mata yang berkilat penuh dendam, ia tidak menunjukkan keterkejutan. Ia justru membuang cerutunya ke lantai, menginjaknya hingga padam. Matanya yang tajam menangkap pergerakan tangan Elara yang tidak wajar di balik punggungnya.

​Elara tidak tahan lagi. Ia menerjang maju, melayangkan tamparan sekuat tenaga ke wajah pria itu.

PLAK ! Suara itu menggema di ruangan yang luas tersebut. Wajah Dante tertoleh ke samping. Sesaat, ruangan hening total.

​"Kau pembunuh!" teriak Elara, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah.

"Kau membunuh nenekku! Kau merampas satu-satunya orang yang menyayangiku, hanya demi ambisimu yang busuk!"

​Dante perlahan kembali menatap Elara. Wajahnya tidak lagi dingin; ada gurat amarah yang gelap dan berbahaya di sana. Ia meraih pergelangan tangan Elara dan memuntir tubuh gadis itu hingga Elara terpaksa menjatuhkan pisau yang disembunyikannya. Pisau itu berdenting keras di atas lantai marmer.

​Dante menarik tubuh Elara hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menatap lekat ke dalam mata Elara yang basah.

​"Dendam adalah bahan bakar yang buruk, Elara," bisik Dante, suaranya sedingin es.

" Kau datang ke sini membawa pisau, berharap bisa menjadi algojo? Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."

​"Aku tahu semuanya!" balas Elara dengan suara parau. "Dave memberitahuku! Semuanya! Kau meracuni Grandma!"

​Dante tertawa, namun tawa itu terdengar seperti suara besi yang beradu. Ia tidak melepaskan cengkeramannya, justru semakin mengunci Elara. Dante menarik pisau yang tadi Elara jatuhkan, menggenggam bilah tajamnya dengan telapak tangan hingga darah segar menetes membasahi lantai marmer.

​Elara tersentak melihat tindakan gila itu. Darah Dante menetes, mencampur dengan darah pria yang tergeletak di lantai sebelumnya.

​"Kau pikir aku yang meracuninya?" Dante mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. Napas pria itu memburu, panas, dan berbau besi. "Jika aku ingin membunuhnya, aku akan melakukannya di depan matamu supaya kau tahu siapa penguasa takdirmu. Tapi nenekmu dia mati karena dia tahu terlalu banyak tentang rahasia agenmu sendiri."

​Mata Elara membelalak. "Jangan berbohong!"

​"Aku tidak perlu berbohong pada bidakku sendiri," Dante menekan pisau yang berdarah itu ke tangan Elara, memaksanya menggenggam gagang pisau tersebut dengan tangannya sendiri yang juga berlumuran darah Dante.

​"Jika kau ingin membalas dendam, lakukan sekarang. Tusuk jantungku. Tuntaskan apa yang kau mulai," tantang Dante dengan tatapan yang sangat liar, penuh dengan keinginan untuk dihancurkan oleh wanita yang ia gila-gilai. "Tapi ingat, begitu kau menusukku, kau akan menghancurkan satu-satunya orang yang memegang kebenaran tentang siapa yang sebenarnya membunuh Eleanor."

​Elara membeku. Pisau itu terasa berat di genggamannya. Ia menatap darah Dante yang mengalir di tangannya, merasa seolah dunia sedang menertawakannya. Ia tidak tahu apakah ia harus membenci pria ini atau mencari tahu kebenaran yang lebih kelam di balik kematian neneknya.

Elara bergeming di tempatnya berdiri, mencengkeram gagang pisau yang kini telah basah oleh darah pekat pria itu. Gila. Dante Moretti benar-benar pria gila yang tidak memiliki rasa takut, bahkan terhadap kematiannya sendiri.

​"Kau mau tahu rasanya kehancuran, Elara? Ini harganya," bisik Dante, melangkah maju hingga ujung pisau yang dipegang Elara melubangi kemeja hitamnya, tepat di atas detak jantungnya.

​Bilah logam itu bergeser, memotong jarak di antara mereka hingga tak ada lagi ruang untuk bernapas. Elara bisa melihat pantulan dirinya di mata kelam Dante seorang agen yang telah kehilangan kompas moralnya, tersesat di dalam labirin dendam yang sengaja diciptakan oleh pria di depannya.

​"Tusuk aku," perintah Dante, suaranya parau namun penuh penekanan yang mutlak. "Selesaikan misimu di sini, lalu kembalilah ke agensimu sebagai pahlawan yang membawa kepala Moretti. Tapi kau akan hidup seumur hidupmu dalam kebohongan yang manis."

​Elara menarik napasnya dengan tajam. Jemarinya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam karier militernya, ia tidak sanggup menekan pemicu keadilan. Kilasan ingatan tentang Grandma Eleanor yang terbujur kaku mendadak buram, digantikan oleh keraguan masif yang disuntikkan Dante ke dalam kepalanya.

​Dengan sentakan kasar, Elara melempar pisau itu hingga terpelanting jauh ke sudut ruangan, mendarat tepat di samping jasad pria yang tak bernyawa.

​"Aku tidak akan membunuhmu sebelum aku mendapatkan nama yang sebenarnya, Dante," desis Elara, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan.

​Dante menatap pisau yang terbuang, lalu kembali menatap Elara. Perlahan, senyum sinis yang penuh kemenangan terbit di bibirnya yang pucat. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah, bergerak menuju wajah Elara. Secara refleks, Elara memejamkan mata dan mengeraskan rahangnya, bersiap menerima tamparan keras atau cekikan maut sebagai balasan atas kelancangannya tadi.

​Namun, yang ia rasakan justru sebaliknya.

​Sentuhan kulit yang kasar dan hangat mendarat di pipinya. Dante mengusap sisa air mata di wajah Elara dengan ibu jarinya, meninggalkan jejak darah yang samar di kulit bersih gadis itu. Gerakannya begitu pelan, begitu kontradiktif dengan statusnya sebagai monster dunia bawah.

​Elara membuka matanya dengan ragu, menatap Dante yang kini memperhatikannya seolah ia adalah mahakarya yang paling berharga.

​"Kau unik, Elara," bisik Dante tepat di depan bibirnya. "Setiap wanita yang kukenal akan merangkak memohon ampun jika berada di posisi ini. Tapi kau? Kau justru menumpahkan darahku dan menatapku seolah kau adalah hakim atas hidupku."

​"Jangan salah paham. Aku masih membencimu," sahut Elara dingin, mencoba menjauhkan wajahnya dari pesona mematikan pria itu.

​"Kebencian adalah awal yang baik," Dante terkekeh rendah, suara baritonnya merayap naik dan memicu debaran aneh di dada Elara. "Itu artinya kau akan terus memikirkanku, mencariku, dan terikat denganku. Kau tidak akan bisa lepas, Letnan."

​Sebelum Elara sempat membalas, Dante maju dan mengunci pinggangnya dengan tangan yang tidak terluka. Detik berikutnya, Dante menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut bukan ciuman lembut yang menenangkan, melainkan sebuah klaim kepemilikan yang agresif. Ciuman itu sarat dengan rasa anyir darah dan dominasi yang pekat.

​Elara memukul dada bidang Dante, mencoba melepaskan diri dari pemicu gairah yang menyesakkan ini. Namun, tubuh Dante sekokoh dinding batu. Perlahan, perlawanan Elara melemah saat rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya terbuai dalam cengkeraman sang predator.

​Tiba-tiba, aroma darah yang semakin menyengat dari telapak tangan Dante menyadarkan Elara. Ia memutus tautan mereka dengan paksa, napasnya tersengal-sengal saat ia mendorong dada Dante.

​"Tanganmu," ucap Elara dengan suara parau, matanya tertuju pada darah segar yang terus mengalir dari telapak tangan Dante, menetes ke lantai marmer putih.

" Kau bisa mati kehabisan darah jika terus bersikap bodoh."

​Dante melirik tangannya yang terluka dengan tatapan bosan, seolah luka robek itu hanyalah goresan kecil tak berarti.

"Aku sudah biasa dengan yang lebih parah dari ini."

​"Aku tidak peduli kau biasa atau tidak. Aku tidak mau kau mati sebelum menjawab pertanyaanku," ketus Elara, mencoba menyembunyikan rasa cemas yang mendadak muncul tanpa izin. "Di mana kau menyimpan kotak obat?"

​"Di dalam kamar utama. Pintu ganda di ujung lorong," jawab Dante santai, menyandarkan tubuhnya di sofa mewah sambil terus memperhatikan gerak-gerik Elara.

​Elara memutar tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan ruang tamu yang berbau maut itu. Ia melintasi lorong penthouse yang luas hingga tiba di depan pintu kayu ek besar yang setengah terbuka. Tanpa mengetuk, Elara langsung mendorong pintu tersebut dan melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama yang bernuansa gelap dan maskulin.

​Namun, langkah kaki Elara langsung terhenti di ambang pintu. Seluruh tubuhnya menegang seketika.

​Di sana, di depan cermin besar berbingkai emas, berdiri seorang wanita yang sangat familiar. Melisa. Wanita berambut pirang itu sedang merapikan lipstik merah menyalanya, penampilannya tampak sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di luar.

​Mendengar suara pintu yang terbuka kasar, Melisa memutar tubuhnya dengan anggun. Begitu pandangan mata mereka bertemu, ekspresi bosan di wajah Melisa langsung berubah menjadi kilatan amarah yang murni. Matanya menyipit tajam, menatap Elara dengan pandangan yang siap mencabik-cabik.

​"Mau apa lagi kau ke sini, jalang murahan?" desis Melisa dengan suara melengking yang dipenuhi racun.

●●●

1
Anonim
cieeee nyaman😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
pokoknya harus😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Adalah
😍😍😍
Adalah
next😍😍😍
Adalah
lanjut😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍 pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
lama-lama jadi cinta😍😍
Biruku: terima kasih atas komentar😍😍
total 1 replies
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya harus lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
cieee😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Biruku: terimakasih👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!