"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hening.
Ruang ekskul band yang biasanya penuh dengan kebisingan instrumen musik, kini senyap layaknya kuburan. Jika ada jarum yang jatuh ke lantai, suaranya pasti akan terdengar menggema.
Bastian mematung dengan mulut setengah terbuka. Nino dan Darren saling berpandangan dengan horor. Heera menatap Akram dengan raut wajah yang tak bisa didefinisikan—antara terkejut, bingung, dan marah. Sementara Reyhan, sang alumni, hanya mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi tertarik.
Dan Almeera? Gadis itu merasa nyawanya baru saja terbang meninggalkan raga. Cengkeraman tangan Akram di pergelangannya terasa panas, seolah mengalirkan setrum bervoltase tinggi ke seluruh sarafnya.
"Maksud lo... apa, Kram?" Bastian akhirnya memecah kesunyian, suaranya bergetar. "Lo... ngelarang Almeera keluar malam? Atas dasar apa lo ngomong gitu?"
Otak jenius Akram yang sempat mengalami overheat akibat cemburu buta, langsung melakukan reboot dalam hitungan detik. Ia menyadari tatapan curiga dari Heera dan anak-anak band. Ia harus merangkai kebohongan. Sekarang.
Akram membuang napas kasar, melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Almeera, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ekspresi wajahnya kembali datar, sedingin es, menutupi amarah yang masih bergolak di dadanya.
"Nyokapnya Almeera teman arisan nyokap gue," jawab Akram santai, suaranya mantap tanpa nada ragu sedikit pun. Ia menatap Bastian. "Nilai matematika cewek urakan ini jeblok, dan dia lagi dihukum grounded sama orang tuanya. Karena nyokap-bokapnya lagi ke luar kota, nyokap gue dimintai tolong buat ngawasin dia. Dan tebak siapa yang disuruh jadi babysitter gratisan buat mastiin cewek ini nggak keluyuran?"
Akram menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya, memasang wajah sangat menderita. "Gue. Kalau dia ketahuan keluyuran malam-malam, nyokap gue yang bakal kena semprot, dan ujung-ujungnya gue yang dimarahi di rumah. Lo pikir gue peduli dia mau jalan sama siapa? Gue cuma peduli sama ketenangan hidup gue di rumah."
Hembusan napas lega terdengar serentak di ruangan itu.
Kebohongan Akram begitu mulus, masuk akal, dan disampaikan dengan nada menyebalkan yang sangat khas. Tidak ada celah untuk curiga.
Reyhan tertawa renyah, mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, jadi lo babysitter-nya sekarang? Ketat juga ya aturan main keluarga kalian."
"Bukan urusan lo," balas Akram dingin. Ia menoleh ke arah Almeera, menatap gadis itu dengan tatapan memperingatkan. "Beresin barang lo, Almeera. Lo pulang sekarang. Jadwal latihan udah selesai dari sepuluh menit yang lalu."
Almeera memelototi Akram. Gengsinya terluka karena direndahkan di depan cowok idamannya. "Gue bisa pulang sendiri! Nggak usah sok ngatur-ngatur gue!"
"Oh ya?" Akram melangkah maju, kembali meraih pergelangan tangan Almeera. Kali ini cengkeramannya lebih kuat namun tidak menyakiti. "Gue nggak mau ambil risiko lo kabur ke kafe Kemang dan bikin nyokap gue murka. Cabut sekarang, atau proposal budget band lo besok pagi gue robek di depan muka lo."
Mata Almeera membelalak. Ancaman itu sangat mematikan. Ia melirik anak-anak NOISE yang memberikan isyarat pasrah padanya.
"Kak Reyhan, sori banget ya! Kapan-kapan aja kita bahas aransemennya!" seru Almeera sambil dengan terpaksa membiarkan dirinya ditarik oleh Akram keluar ruangan.
"Kram! Inspeksi perpus gimana?!" teriak Heera dari ambang pintu, wajahnya terlihat kesal melihat Akram pergi membawa Almeera.
"Lo urus sama Bastian, Ra! Gue harus ngurusin anak macan ini dulu!" balas Akram tanpa menoleh.
Sepanjang koridor hingga ke area parkir sekolah, tidak ada yang bersuara. Akram terus menarik tangan Almeera dengan langkah lebar, membuat gadis itu harus setengah berlari untuk mengimbanginya.
Begitu sampai di samping motor sport hitamnya, Akram melepaskan cengkeramannya.
"Lepasin! Sakit tahu!" semprot Almeera, mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Ia mendongak, menatap Akram dengan nyalang. "Lo apa-apaan sih?! Bikin malu gue aja di depan Kak Reyhan! Alasan macam apa itu, hah?! Babysitter?!"
Akram tidak langsung menjawab. Ia membuka helm dari spion dan menyodorkannya ke dada Almeera dengan agak kasar. Rahang cowok itu mengeras, napasnya memburu, dan kilat di mata hitamnya terlihat jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Pakai helm lo," perintah Akram rendah.
"Nggak! Gue mau balik ke dalem! Gue mau—"
BAM!
Akram memukul pelan jok motornya dengan sebelah tangan, memotong ucapan Almeera. Suara hantaman itu membuat Almeera terkesiap dan langsung bungkam.
Cowok itu maju selangkah, mengikis jarak di antara mereka berdua. Ia mengurung Almeera di antara tubuhnya dan badan motor. Udara sore di tempat parkir yang sepi itu mendadak terasa menyesakkan. Aroma mint dan keringat Akram menyelimuti penciuman Almeera, mengunci seluruh kewarasannya.
"Lo mau balik ke dalem? Mau ngapain?" desis Akram tajam, wajahnya menunduk, menatap lurus ke kedalaman mata Almeera. "Mau pegangan tangan lagi sama cowok urakan itu? Mau senyum-senyum salah tingkah lagi di depan dia?"
"Dia nggak urakan! Kak Reyhan itu musisi! Dan dia cuma... cuma ngajarin gue main drum!" bantah Almeera, meski suaranya mulai bergetar karena intimidasi dari jarak mereka yang terlalu dekat.
"Ngajarin main drum nggak butuh rangkulan dari belakang, Almeera," potong Akram, nada suaranya berubah sinis. "Lo sadar nggak sih lo kelihatan kayak cewek gampangan yang baper cuma gara-gara disentuh dikit sama cowok modal tampang bad boy?"
Plak!
Sebuah tamparan ringan, namun cukup keras, mendarat di lengan atas Akram. Almeera memukulnya dengan mata berkaca-kaca menahan marah.
"Jaga mulut lo, Akram!" seru Almeera, dadanya naik-turun. "Kak Reyhan itu idaman gue dari SMP! Wajar kalau gue seneng bisa dekat sama dia! Dan apa hak lo ngelarang gue?! Ingat kesepakatan kita, lo urus urusan lo, gue urus urusan gue! Lo aja boleh makan sup iga dari Heera, masa gue nggak boleh diajak ngopi sama Kak Reyhan?!"
Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa filter. Namun, efeknya pada Akram sungguh luar biasa.
Tatapan Akram yang tadinya dipenuhi amarah, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif. Ia menyandarkan sebelah tangannya di setang motor, mencondongkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Lo nanya apa hak gue?" bisik Akram. Suara baritonnya kini terdengar serak, menggetarkan gendang telinga Almeera. "Hak gue adalah kertas bermaterai yang ditandatangani bokap lo. Hak gue adalah cincin yang sekarang lo sembunyiin di balik seragam lo itu."
Almeera menelan ludah. Tubuhnya terpaku. Jantungnya berdetak begitu gila hingga ia merasa seolah ada drummer lain yang sedang memukul bass drum di dalam dadanya.
"Idaman lo cowok kayak dia?" lanjut Akram, matanya turun menatap bibir Almeera sejenak sebelum kembali menatap matanya. "Bangun, Al. Di mata hukum dan agama, cowok yang berhak atas diri lo itu... gue. Bukan dia."
Hening.
Tidak ada balasan dari Almeera. Gadis yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata untuk mendebat itu, kini hanya bisa menatap Akram dengan mulut sedikit terbuka. Ia terlalu syok, terlalu terpana oleh intensitas emosi yang terpancar dari mata sang Ketua OSIS.
Melihat Almeera yang terdiam, Akram menarik napas panjang, berusaha mengendalikan dirinya sendiri yang nyaris kelepasan. Ia menegakkan tubuhnya, memberi jarak yang membuat Almeera akhirnya bisa bernapas lega.
"Naik," perintah Akram singkat, suaranya sudah kembali normal, meski masih terdengar kaku.
Kali ini, Almeera tidak membantah. Tanpa sadar, tubuhnya menuruti perintah itu. Ia memakai helmnya dan naik ke boncengan dalam diam.
Sepanjang perjalanan menembus kemacetan Jakarta, tidak ada satu kata pun yang terucap. Almeera memegang ujung jaket OSIS Akram erat-erat. Di kepalanya, kalimat Akram terus berputar-putar.
Kenapa dia marah banget? Apa dia cuma gila kontrol? Atau... dia beneran cemburu?
Pertanyaan itu membuat perut Almeera dilanda badai kupu-kupu yang jauh lebih brutal daripada saat tangannya disentuh oleh Reyhan tadi. Ia membenci fakta bahwa sentuhan Reyhan memang membuatnya gugup, namun tatapan posesif Akram baru saja sukses melumpuhkan seluruh sistem sarafnya.
Pukul 19.00 WIB, Apartemen 2507.
Suasana di dalam apartemen terasa seperti zona perang dingin. Sejak tiba, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan saling mengabaikan. Almeera mengurung diri di kamar sambil mendengarkan musik menggunakan headphone, sementara Akram duduk di ruang tamu, memaksakan diri membaca proposal yang sama sekali tidak masuk ke otaknya.
Akram menutup laptopnya dengan kasar. Ia mengusap wajahnya, merutuki dirinya sendiri. Lo tadi beneran kehilangan kendali, Kram. Goblok, makinya dalam hati.
Ia berdiri, berjalan ke arah dapur dan menuangkan segelas air es. Ia meminumnya tandas, berharap suhu dingin itu bisa memadamkan api kecemburuan yang masih membara sejak sore tadi.
Akram melirik ke arah pintu kamar yang tertutup. Ia tahu, egonya yang setinggi langit pantang untuk meminta maaf. Lagipula, ia tidak merasa salah. Ia tidak suka melihat istrinya didekati cowok lain. Titik.
Namun, rasa bersalah karena telah menyebut Almeera 'gampangan' perlahan merayap di hatinya.
Akram mengambil sebuah paper bag kecil dari atas kulkas—berisi martabak manis keju yang tadi ia beli diam-diam saat perjalanan pulang. Ia berjalan menuju pintu kamar dan mengetuknya pelan.
Tidak ada jawaban.
Akram memutar kenop pintu. Tidak dikunci. Ia membuka pintu perlahan.
Almeera sedang duduk bersila di atas karpet berbulu, menghadap ke jendela kaca besar yang menampilkan lampu kota Jakarta. Headphone besar menutupi telinganya. Cewek itu sudah mandi, mengenakan piyama panjang bermotif beruang yang kebesaran, membuat aura garangnya menguap tak bersisa.
Akram melangkah masuk dan berdiri di belakang Almeera. Ia menyentuh pundak gadis itu dengan ujung jarinya.
Almeera tersentak, refleks menoleh dan melepas headphone-nya. Wajahnya kembali memasang ekspresi defensif saat melihat Akram. "Mau apa lo? Mau ngatain gue lagi?"
Akram tidak menjawab. Ia meletakkan paper bag martabak itu di lantai, tepat di sebelah Almeera, lalu ikut duduk bersila di depan cewek itu. Jarak mereka kembali dekat, hanya dipisahkan oleh martabak.
"Makan. Lo belum makan malam," kata Akram datar, membuang pandangannya ke luar jendela.
Almeera menatap kotak martabak yang sudah terbuka itu. Aroma mentega dan keju yang manis langsung menusuk hidungnya. Ia menelan ludah, tapi gengsinya masih bertahan.
"Gue nggak laper," bohong Almeera, memalingkan wajahnya.
Akram mendesah pelan. Ia menoleh, menatap wajah Almeera yang diterangi cahaya remang lampu kamar.
"Gue tarik omongan gue tadi sore," ucap Akram tiba-tiba. Suaranya rendah, tanpa nada arogan yang biasa ia gunakan. "Lo bukan cewek gampangan. Gue tahu lo cuma excited ketemu idola lo. Gue... yang salah ngomong."
Mata Almeera membelalak. Ia menatap Akram tidak percaya. Seorang Akram Pradana, Ketua OSIS yang paling anti mengakui kesalahan, baru saja meminta maaf padanya?
"Lo... minta maaf?" cicit Almeera ragu.
"Gue nggak bilang kata maaf. Gue cuma ralat omongan," kilah Akram cepat, telinganya sedikit memerah. Ia berdeham salah tingkah.
Almeera menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi canggung dari suaminya itu. Tiba-tiba, rasa marah di dadanya menguap begitu saja. Ia mencomot sepotong martabak keju itu dan menggigitnya.
"Oke. Gue maafin," kata Almeera dengan mulut penuh. Ia mengunyah pelan, lalu menatap Akram lurus-lurus. "Tapi jujur sama gue, Kram. Lo marah banget tadi sore itu... karena lo takut rahasia kita ketahuan, atau... karena alasan lain?"
Udara di kamar itu mendadak berhenti mengalir.
Pertanyaan telak dari Almeera menembus tepat ke ulu hati Akram. Cowok itu terdiam lama. Mata hitamnya mengunci pandangan Almeera. Di dalam kepalanya, otak rasionalnya berteriak untuk mengatakan 'karena rahasia kita' dan menyudahi percakapan berbahaya ini.
Namun, Akram sudah lelah membohongi dirinya sendiri.
Akram mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mengangkat tangannya, dan kali ini, jari-jarinya tidak menyentuh sudut bibir Almeera, melainkan menyelipkan anak rambut yang jatuh ke belakang telinga gadis itu. Sentuhannya sangat lambat, dan memabukkan.
Bulu kuduk Almeera meremang. Jantungnya berdetak liar.
"Gue cabut," bisik Akram pelan.
Almeera mengerutkan kening bingung. "C-cabut apa? Lo mau pergi?"
"Aturan ketiga," jawab Akram, suaranya parau namun penuh ketegasan absolut. "Aturan untuk nggak boleh jatuh cinta. Gue cabut aturan itu mulai malam ini."
Napas Almeera tertahan. Matanya membulat sempurna. "K-Kram..."
"Jangan deket-deket cowok itu lagi, Al," Akram menatap bibir Almeera sejenak, lalu kembali menatap matanya dengan intensitas yang membuat Almeera nyaris pingsan. "Atau gue bakal beneran bikin satu sekolah tahu... kalau lo itu milik gue."