Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Dirancang dengan Sangat Sempurna
Ruangan redaksi portal gosip Kabar Selebriti dipenuhi asap rokok dan bau kopi sisa semalam.
Pemimpin redaksi menatap layar laptopnya dengan mata membelalak lebar. Di dalam video berdurasi dua menit itu, seorang model cantik bernama Clarissa sedang menangis tersedu-sedu. Baju bagian kerahnya sengaja dibuat robek paksa. Rambut panjangnya berantakan. Riasan matanya luntur oleh air mata palsu yang dipersiapkan dengan sangat matang.
"Stefanus Mahendra memaksa saya masuk ke kamar hotelnya," ucap Clarissa dengan suara bergetar di dalam video rekamannya. "Dia bilang dia butuh hiburan setelah rapat bisnis."
Pemimpin redaksi memutar kursinya perlahan.
Di depannya duduk Theo, asisten pribadi Sebastian Mahendra. Pria berjas rapi itu menyesap kopi hitamnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Theo meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kaca.
"Tuan Sebastian ingin video eksklusif ini menjadi berita utama nasional siang ini juga," kata Theo tenang.
Pemimpin redaksi itu menelan ludah melihat ketebalan amplop di depannya. "Ini tuduhan yang sangat berat. Stefanus adalah anggota keluarga Mahendra. Apakah Tuan Sebastian yakin ingin menghancurkan adiknya sendiri?"
"Stefanus sudah memilih jalan untuk menjadi musuh." Theo menyilangkan kakinya. "Informasi dari mata-mata baru kita sangat akurat. Jadwal rapat Stefanus di Hotel Grand Batavia kemarin sore benar-benar valid. Rekaman CCTV hotel juga sudah kami amankan dan potong sesuai kebutuhan cerita."
Pemimpin redaksi itu tersenyum rakus. Ia langsung meraih amplop cokelat tersebut.
"Berita ini akan tayang di semua platform kami dalam sepuluh menit."
Theo bangkit berdiri dan merapikan jasnya. Tugasnya selesai. Genderang perang sudah ditabuh.
Fitnah adalah senjata paling murah bagi Sebastian, dan ia sangat mahir memainkannya.
Sementara itu, di lantai delapan sebuah apartemen yang tenang.
Stefanus meletakkan dua cangkir teh kamomil di atas meja kayu. Aroma bunga yang menenangkan langsung mengusir hawa dingin pagi Jakarta. Shaquena duduk di seberangnya. Plester cokelat kecil masih menempel rapi di jari telunjuk wanita itu.
Stefanus menatap plester itu cukup lama. Tangannya bergerak maju, menyentuh pelan punggung tangan istrinya.
"Masih perih lukanya?" tanya Stefanus pelan.
Shaquena menggeleng pasti. Ia menarik napas panjang dan membalas dengan senyuman.
"Tidak terasa sakit sama sekali."
Momen ini sangat sederhana. Mereka hanya duduk berhadapan ditemani dua cangkir teh panas. Namun, bagi Stefanus, melihat istrinya bisa bernapas lega tanpa tekanan keluarga Mahendra adalah sebuah kemewahan tertinggi.
"Hari ini aku akan menemui beberapa kepala serikat pekerja di pelabuhan," ucap Stefanus membuka obrolan. "Kita butuh dukungan mereka untuk menekan jalur distribusi logistik milik Sebastian."
Shaquena mengangguk setuju. "Langkah yang bagus. Sebastian selalu meremehkan orang-orang di lapangan. Itu titik buta terbesarnya."
Wanita itu menyesap tehnya perlahan. "Lalu bagaimana dengan Daniel?"
Stefanus meletakkan cangkirnya. "Pemuda itu mengirimkan analisis kelemahan logistik pelabuhan tadi malam. Datanya sangat tajam. Dia memang seorang jenius di bidang angka."
"Kamu percaya padanya?"
"Aku membagikan jadwal pertemuan rahasiaku di Hotel Grand Batavia kepadanya kemarin," jawab Stefanus tenang. "Hanya dia orang baru yang mengetahui lokasiku. Kita akan lihat apakah dia bisa menjaga rahasia itu."
Shaquena terdiam sesaat. Insting bisnisnya mulai bekerja merangkai kemungkinan. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk membalas, ketenangan pagi itu pecah berkeping-keping.
Ponsel Stefanus bergetar panjang menyuarakan nada dering panggilan darurat.
Layar ponsel menampilkan nama Pak Hartono.
Stefanus langsung menekan tombol jawab. "Pagi, Pak Hartono."
"Tuan Muda, tolong segera buka televisi atau portal berita di internet sekarang juga."
Nada suara pria tua itu terdengar sangat panik. Sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi selama puluhan tahun ia mengabdi pada keluarga Mahendra.
"Ada apa?" Stefanus mengerutkan keningnya.
"Tuan Sebastian baru saja melepaskan serangan. Dia menargetkan Anda secara langsung."
Stefanus segera meraih remot televisi di atas meja. Ia menekan tombol daya. Layar kaca langsung menyala menampilkan saluran berita gosip nomor satu di ibu kota.
Wajah seorang model bernama Clarissa memenuhi layar. Tulisan besar berwarna merah berjalan cepat di bagian bawah layar televisi.
SKANDAL PELECEHAN SEKSUAL PEWARIS KEDUA MAHENDRA GROUP DI HOTEL GRAND BATAVIA.
Shaquena langsung meletakkan cangkirnya dengan keras. Teh di dalamnya sedikit tumpah menodai taplak meja. Wajah wanita itu memucat melihat berita bohong tersebut.
Di dalam layar, Clarissa sedang menceritakan detail kejadian palsu itu dengan tangisan yang sangat meyakinkan.
Stefanus menatap layar televisi dengan rahang mengeras rapat. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang mendidih.
Video itu menyebutkan lokasi dan jam yang sangat presisi. Lorong lantai lima Hotel Grand Batavia. Pukul empat sore.
Itu adalah waktu dan tempat yang sama persis saat Stefanus mengadakan pertemuan tertutup dengan pemasok logistik.
Hanya ada satu orang baru yang mengetahui jadwal spesifik tersebut.
Daniel.
"Bastian menyerang balik dengan cara paling rendah," bisik Shaquena tajam. Tangannya mengepal kuat di atas meja.
Stefanus mematikan televisi itu seketika. Ruangan kembali sunyi, tetapi tekanan udaranya terasa mencekik.
"Dia menyewa model bayaran itu untuk merangkai fitnah ini," ucap Stefanus dingin. "Dia sengaja mencocokkan waktu pertemuanku di hotel dengan rekaman CCTV yang sudah dimanipulasi."
Shaquena memejamkan matanya rapat-rapat. Dada wanita itu naik turun mengatur napas. Trauma masa lalunya hampir terpancing keluar. Ia sangat mengenal pola serangan kotor ini.
Di kehidupan pertamanya, Sebastian juga menggunakan taktik pembunuhan karakter yang sama persis untuk menghancurkan kompetitor nya. Sebastian tidak pernah peduli pada fakta dan kebenaran. Mantan suaminya itu hanya butuh satu narasi kuat untuk menggiring opini publik dan menghancurkan mental korbannya.
"Sebastian ingin membuatmu terlihat kotor dan hina di mataku," kata Shaquena membuka mata. Sorot matanya kini berubah menjadi sekeras baja murni. "Dia ingin memutus semua sekutu bisnis yang baru saja kita bangun."
Stefanus menoleh menatap istrinya. "Jadwal itu bocor dari Daniel. Anak itu ternyata memilih mengambil uang dari Sebastian."
Shaquena menarik napas panjang. Rasa kecewa sempat melintas di hatinya, tetapi segera ia redam. Ia sudah memprediksi kemungkinan terburuk ini sejak awal. Orang yang kelaparan memang selalu mudah dibeli kesetiaannya.
"Ini belum berakhir," kata Shaquena mantap. "Kita bisa membuktikan bahwa kau berada di dalam ruang rapat saat jam kejadian itu berlangsung."
Stefanus menggeleng pelan. "Pemasok logistik yang kutemui kemarin adalah orang-orang yang sangat takut pada ancaman Mahendra Group. Mereka pasti tidak akan berani bersuara untuk membelaku sekarang."
Situasi ini dirancang dengan sangat sempurna oleh Sebastian. Tanpa ada saksi mata yang berani bicara, Stefanus akan langsung dihakimi oleh publik sebagai pelaku kejahatan seksual. Saham perusahaan mana pun yang berhubungan dengannya akan anjlok drastis. Reputasi Stefanus akan hancur sebelum ia sempat membangun kerajaannya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Shaquena ikut berdering tanpa henti. Notifikasi berita masuk bertubi-tubi dari berbagai grup pesan singkat. Berita skandal itu menyebar secepat api liar yang membakar padang rumput kering.
Suara bising mulai terdengar sayup-sayup dari arah jalan raya di bawah gedung apartemen mereka.
Awalnya hanya terdengar seperti suara klakson biasa. Namun, volume suara bising itu semakin lama semakin membesar dan riuh. Terdengar teriakan banyak orang yang saling bersahutan.
Stefanus berjalan mendekati jendela kaca ruang tamu. Pria itu menyingkap sedikit tirai kain penutup jendela untuk melihat keadaan di luar.
Matanya langsung menyipit tajam merespons pemandangan di bawah sana.
Beberapa mobil van dengan logo stasiun televisi nasional terparkir berantakan memblokir jalan masuk utama gedung. Cahaya kilat dari puluhan lampu kamera menyambar berkali-kali menembus rintik hujan pagi.
Para pencari berita itu saling dorong dengan petugas keamanan apartemen. Mikrofon dari berbagai media diacungkan tinggi-tinggi ke arah balkon lantai delapan.
Sebastian benar-benar tidak memberikan mereka ruang untuk bernapas sama sekali. Pria licik itu langsung mengirimkan pasukan media untuk menyudutkan mereka berdua secara langsung.