NovelToon NovelToon
Kontrak Yang Mengacaukan Hidupku

Kontrak Yang Mengacaukan Hidupku

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Aku hanya ingin lulus kuliah.
Sayangnya, hidup tidak pernah semudah itu.
Di tengah revisi skripsi yang tak kunjung selesai, aku menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi milikku.
Sejak saat itu, hal-hal aneh mulai muncul.
Bayangan yang bergerak sendiri.
Suara yang terdengar saat tidak ada siapa pun.
Dan seorang gadis bernama Zahra yang selalu muncul di saat yang tidak tepat.
Awalnya aku mengira semua itu kebetulan.
Sampai akhirnya aku menyadari satu hal.
Aku telah terikat pada sebuah kontrak yang tidak pernah kuingat pernah kusetujui.

[cerita ini tidak mewakili tempat dan hal lain cuma karangan fiksi]
[silakan komen, kalo suka ada tombol jempol]
[by al ghazali a.n]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Cincin dan Bayangan

Aku tidak tahu kapan tepatnya tertidur. Mungkin beberapa menit setelah percakapan itu. Mungkin lebih cepat—begitu kepalaku menyentuh bantal, begitu kelopak mataku menutup, begitu kesadaranku menyerah pada gravitasi kelelahan.

Karena untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir... sejak semua kekacauan ini dimulai, sejak kontrak yang tidak pernah kuminta, sejak monster yang menyamar sebagai gadis cantik...

Pikiranku terasa jauh lebih ringan. Bukan ringan karena masalahku selesai—masalahku masih sama, masih menumpuk, masih menggunung. Tapi ringan karena... entahlah. Karena sesuatu telah bergeser. Karena sebuah batu besar di dalam dadaku telah retak, dan meskipun belum hancur sepenuhnya, retakan itu sudah cukup untuk membuatku bisa bernapas.

Paginya, aku terbangun oleh suara yang sudah menjadi alarm keduakuku.

Ting.

Mataku masih setengah terbuka—dua celah kecil yang menolak untuk membuka sepenuhnya. Dunia di sekitarku masih buram, masih berupa kumpulan warna-warna yang belum terdefinisi. Tangan kiriku meraba-raba meja dengan gerakan zombie, mencari benda pipih yang terus berbunyi.

Gagal. Jemariku hanya menyentuh udara kosong.

Mencari lagi. Kali ini lebih ke kiri. Lebih lebar jangkauannya.

Gagal lagi. Yang kudapat hanya buku catatan yang terjatuh ke lantai.

Sampai akhirnya...

"Aduh."

Ponsel itu ternyata berada tepat di bawah bantal. Selama semalaman aku tidur di atasnya, dan benda malang itu—jika ponsel bisa merasa sakit—pasti sudah menderita.

Aku duduk perlahan. Gerakanku lambat, seperti seseorang yang baru saja dibangkitkan dari koma. Tulang punggungku berderak pelan. Leherku terasa kaku karena salah posisi tidur. Masih mengantuk. Masih setengah sadar. Masih mempertimbangkan untuk tidur lagi.

Kemudian membuka layar. Jempolku mengusap notifikasi yang muncul.

Pesan dari dosen pembimbing.

Aku langsung segar. Seratus persen. Seratus dua puluh persen. Seperti disiram air es yang dicampur dengan ekstrak ketakutan murni. Semua kantuk yang tadi menyelimutiku langsung lenyap, menguap, menghilang tanpa jejak.

"Kenapa?" suara Zahra terdengar dari dekat jendela. Posisinya tidak berubah sejak semalam. Masih duduk di kursi yang sama. Masih dengan postur tegak yang sama. Apakah dia tidur? Apakah dia butuh tidur? Aku bahkan tidak tahu.

Aku membaca pesan itu. Mataku memindai layar dengan kecepatan yang tidak sehat. Setiap kata. Setiap kalimat. Setiap tanda baca yang entah kenapa terasa seperti vonis.

Lalu menghela napas panjang. Bukan napas biasa. Tapi napas yang keluar dari dasar paru-paru, yang membawa serta seluruh harapan yang sempat kusimpan semalam.

"Pagi-pagi sudah dapat damage. Belum sarapan. Belum cuci muka. Belum apa-apa. Tapi damage sudah datang."

"Komentar revisi?"

"Iya."

"Banyak?"

Aku diam. Sangat diam. Diam yang lebih nyaring daripada kata-kata.

Kemudian menunjukkan layar ponsel ke arahnya. Tanganku terulur, mempersilakannya melihat sendiri.

Zahra melihatnya. Matanya memindai layar. Beberapa detik. Mungkin sepuluh. Mungkin lima belas.

Lalu berkata, dengan nada yang benar-benar datar, tanpa sedikit pun usaha untuk menghibur, "Itu memang banyak."

"Terima kasih atas validasinya. Terima kasih sudah mengonfirmasi apa yang sudah jelas. Aku sangat menghargai kejujuranmu."

"Sama-sama."

Setelah sarapan seadanya—mie instan yang dimasak dengan air panas setengah matang, roti tawar yang sudah mulai mengeras di bagian pinggirnya, dan kopi sachet yang lebih banyak ampasnya daripada rasanya—aku kembali membuka laptop. Layarnya menyala. Dokumen Bab 3 muncul lagi, menyapaku dengan latar putihnya yang kini sudah tidak polos lagi.

Penuh warna merah. Penuh komentar di margin kiri. Penuh pertanyaan di margin kanan. Penuh coretan di sana-sini. Penuh bagian yang harus diperbaiki, ditulis ulang, atau—dalam kasus terburuk—dihapus seluruhnya dan dimulai dari nol.

Tapi kali ini... rasanya berbeda. Bukan berbeda secara teknis—revisinya masih sama, komentarnya masih sama, pekerjaannya masih sama. Tapi berbeda secara... perasaan. Secara cara pandang. Secara sikap.

Kalau dulu aku melihat revisi seperti hukuman—seperti vonis yang menyatakan bahwa aku tidak cukup pintar, tidak cukup baik, tidak cukup layak—sekarang... aku mulai melihatnya sebagai petunjuk. Sebagai peta. Sebagai kompas yang menunjukkan arah yang benar.

Masih menyebalkan. Tentu saja masih menyebalkan. Revisi tidak akan pernah tidak menyebalkan, sama seperti hujan tidak akan pernah tidak basah. Tapi lebih... masuk akal. Lebih... ada tujuannya. Lebih... manusiawi.

Satu komentar. "Bagian ini kurang jelas, tolong dipertegas." Aku perbaiki. Kuurai kalimatnya. Kutambahkan penjelasan.

Komentar kedua. "Referensinya kurang kuat." Aku baca jurnal lagi. Kubuka Google Scholar. Kucari artikel-artikel terbaru.

Komentar ketiga. "Metodologinya tidak sesuai." Aku buka referensi lain. Kubandingkan dengan penelitian terdahulu. Kuperiksa setiap langkahnya.

Komentar keempat. "Ini salah konsep." Aku membaca ulang. Lalu membaca lagi. Dan baru sadar... ternyata memang salah. Kesalahannya begitu jelas, begitu mencolok, begitu... bodoh.

"Astaga..." Aku memegangi kepala dengan kedua tangan. Jemariku mencengkeram rambut yang sudah berantakan. "Kenapa dulu aku menulis begini? Ini bukan salah ketik. Ini bukan salah kecil. Ini... ini kesalahan konseptual. Ini fundamental. Bagaimana bisa aku tidak melihatnya?"

"Karena saat itu kamu belum tahu." jawab Zahra. Suaranya tenang. Tidak ada nada menghakimi. Tidak ada nada mengejek. Hanya pernyataan fakta.

Aku menoleh. Kepalaku masih dalam genggaman tanganku sendiri. "Kadang... kadang kamu memberikan jawaban yang terlalu bijak untuk seseorang yang baru belajar menjadi manusia."

"Itu observasi yang akurat."

Aku langsung tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang kontras dengan frustrasiku beberapa detik yang lalu.

Waktu berlalu cukup cepat. Terlalu cepat, seperti biasa. Jam di dinding bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah bisa kukejar.

Tanpa sadar sudah mendekati siang. Cahaya matahari yang tadinya miring dan lembut kini sudah tegak lurus, menyirami seluruh kamar dengan panas yang membuat kipas angin terasa tidak berguna. Lalu sore—cahaya kembali miring, kali ini dari arah yang berlawanan, membawa warna oranye keemasan yang selalu membuatku ingin tidur. Dan menjelang malam—langit mulai gelap, lampu kamar mulai terasa lebih terang, dan mataku mulai terasa perih.

Aku memang belum menyelesaikan semuanya. Jauh dari itu. Masih banyak komentar yang belum tersentuh. Masih banyak halaman yang masih berwarna merah. Masih banyak pekerjaan yang menunggu.

Namun ada sesuatu yang membuatku puas. Bukan puas karena selesai—aku belum selesai. Tapi puas karena... pemahaman.

Beberapa kesalahan yang dulu tidak kulihat—yang dulu terlihat benar, yang dulu terlihat masuk akal, yang dulu terlihat sempurna—sekarang mulai terlihat jelas. Seperti kacamata yang tiba-tiba dibersihkan. Seperti kabut yang perlahan terangkat.

Seolah perlahan... sangat perlahan... aku mulai memahami kenapa dosen memberikan catatan itu. Bukan untuk menyiksa. Bukan untuk memperlambat. Bukan untuk mempersulit. Tapi untuk mengajariku sesuatu yang tidak bisa kupelajari hanya dengan menyalin punya orang lain.

Dan untuk pertama kalinya... sepanjang hari itu, dari pagi sampai malam...

Aku tidak bertanya kepada Zahra. Sama sekali. Tidak satu kali pun. Tidak untuk petunjuk. Tidak untuk jawaban. Tidak untuk validasi.

Bukan karena aku tidak ingin. Tapi karena aku tidak perlu.

Malam harinya, ketika bulan sudah naik cukup tinggi dan lampu kamar sudah menjadi satu-satunya sumber cahaya, aku akhirnya menutup laptop. Bukan karena selesai—aku masih jauh dari selesai. Melainkan karena otakku mulai menyerah. Prosesorku mulai panas. RAM-ku penuh. Setiap kali aku membaca satu kalimat, kalimat itu langsung menguap sebelum mencapai otak.

Kalau dipaksa lagi... yang masuk bukan ilmu. Melainkan migrain. Sakit kepala yang berdenyut-denyut. Sakit kepala yang membuatku ingin membenturkan dahi ke meja.

Aku meregangkan badan. Kedua lenganku kuangkat ke atas. Punggungku melengkung. Sampai terdengar bunyi kecil—bukan bunyi yang mengkhawatirkan, tapi bunyi yang memuaskan.

"Krek."

"Nah. Itu. Itu tanda berhenti." gumamku pada diriku sendiri. "Tulang belakang sudah bicara. Tidak bisa diabaikan."

Kemudian aku melirik ke arah Zahra. Ia sedang membaca buku lagi—tentu saja. Entah buku keberapa yang sudah dibacanya minggu ini. Aku bahkan tidak bisa melacaknya lagi. Tumpukan buku di sampingnya terus berganti, seperti perpustakaan yang hidup.

Kadang aku curiga dia membaca lebih cepat daripada manusia normal. Jauh lebih cepat. Mungkin dia tidak membaca kata per kata seperti manusia biasa. Mungkin dia membaca seluruh halaman sekaligus—satu halaman dalam satu kedipan mata.

Mungkin memang begitu. Mungkin tidak. Aku tidak akan pernah tahu.

Namun ada satu hal yang membuatku penasaran. Satu hal yang menggelitik di sudut pikiranku, yang sudah ada sejak tadi tapi baru sekarang kusadari.

Sejak kapan... suasana di kamar ini terasa normal?

Aku terdiam. Memikirkannya. Benar-benar memikirkannya.

Dulu—beberapa minggu yang lalu—aku akan panik jika ada makhluk misterius tinggal di kos. Aku akan berlari keluar, mencari pertolongan, mungkin menghubungi pemuka agama atau ahli paranormal. Aku akan gemetar setiap kali melihatnya bergerak. Aku akan merinding setiap kali mendengar suaranya.

Sekarang?

Aku malah merasa aneh kalau Zahra tidak ada. Aku malah merasa ada yang kurang kalau kursi di dekat jendela itu kosong. Aku malah mencari-carinya begitu bangun tidur.

Sejak kapan monster menjadi bagian dari definisi "normal"-ku?

"Apa?" tanyanya tiba-tiba. Kepalanya tidak terangkat dari buku. Matanya masih tertuju pada halaman.

Aku berkedip. Beberapa kali. "Hah?"

"Kamu menatapku cukup lama. Tujuh menit, dua puluh tiga detik. Ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?"

Aku langsung memalingkan wajah. Begitu cepat sampai leherku hampir terkilir. "Sekadar berpikir. Tidak penting. Hanya lamunan kosong."

"Tentang apa?"

Aku mengangkat bahu. Gerakan yang dibuat sebiasa mungkin. "Tidak penting. Hanya... pikiran acak."

Zahra menutup bukunya. Suara 'debuk' yang lembut terdengar. Jemarinya menyelipkan pembatas buku di antara halaman. Lalu ia menoleh padaku—gerakan yang mengalir, seperti air yang berubah arah.

Lalu berkata pelan. Suaranya rendah, tapi ada sesuatu di dalamnya. "Itu biasanya berarti penting."

Aku langsung tertawa kecil. Tawa yang pendek. Tawa yang geli. "Sejak kapan kamu belajar membaca manusia? Sejak kapan kamu bisa mendeteksi kebohongan?"

"Sejak tinggal bersamamu." Jawabnya tanpa jeda. "Kamu adalah subjek observasi yang sangat... informatif."

"Itu terdengar mengkhawatirkan. Sangat mengkhawatirkan. Aku merasa seperti kelinci percobaan."

Beberapa saat kemudian... setelah tawa kecil itu mereda... suasana kembali tenang. Hening. Damai. Hanya suara kipas angin yang terdengar—bunyi 'wrrr' yang monoton, yang biasanya mengganggu tapi malam ini terasa seperti musik latar yang pas.

Namun entah kenapa... di tengah keheningan itu... aku teringat sesuatu. Sesuatu yang sudah lama tidak kupikirkan. Sesuatu yang tiba-tiba muncul ke permukaan, seperti gelembung udara dari dasar kolam.

"Zahra."

"Iya?"

"Dari enam pengguna sebelumnya... yang enam orang itu... yang enam takdir itu..."

"Hm?"

"Apakah ada yang benar-benar bahagia? Bukan bahagia karena menang. Bukan bahagia karena mencapai tujuan. Tapi... benar-benar bahagia. Di sini." Aku menunjuk dadaku. "Di dalam."

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa rencana. Tanpa dipikirkan. Tanpa disaring dulu oleh otakku yang biasanya terlalu banyak pertimbangan. Mungkin karena sudah terlalu lama terpendam. Mungkin karena keheningan malam membuat pertanyaan-pertanyaan seperti ini lebih mudah keluar.

Dan untuk pertama kalinya malam itu... Zahra tidak langsung menjawab. Tidak ada respons instan. Tidak ada data yang langsung keluar.

Ia terlihat mengingat sesuatu. Matanya menerawang ke kejauhan—bukan ke dinding kamar, tapi ke suatu tempat yang jauh. Sangat jauh. Sangat lama. Begitu lama sampai aku mulai berpikir dia tidak akan menjawab.

Kemudian berkata pelan. Hampir seperti bisikan. "Tidak."

Aku terdiam. Kata itu jatuh seperti batu ke dalam perutku.

"Bahkan satu orang pun? Tidak ada? Dari enam?"

"Tidak." Ulangnya. Suaranya tetap pelan, tapi tegas. Tidak ada keraguan di dalamnya.

Jawaban itu membuat kamar terasa lebih sunyi. Lebih berat. Lebih dingin.

"Mereka mendapatkan banyak hal." lanjut Zahra. Suaranya sekarang terdengar seperti sedang membacakan laporan. "Kekuasaan. Pengetahuan. Pengaruh. Kemenangan. Semua yang mereka inginkan, mereka dapatkan. Semua yang mereka kejar, mereka raih."

"Tetapi..." Ia berhenti sejenak. Matanya masih menerawang. "...semakin dekat mereka pada tujuan, semakin dekat mereka pada puncak, semakin jauh mereka dari diri mereka sendiri. Mereka tidak lagi mengenali wajah mereka di cermin. Mereka tidak lagi mengingat alasan mereka memulai perjalanan ini."

Aku tidak tahu kenapa. Tapi kalimat itu membuatku merinding. Bulu kudukku berdiri satu per satu. Bukan karena takut. Bukan karena ngeri. Tapi karena entah bagaimana... aku merasa itu bukan hanya tentang mereka. Enam orang asing dari masa lalu yang tidak pernah kutemui. Melainkan juga... sebuah peringatan. Untukku. Untuk jalan yang sedang kutempuh. Untuk pilihan-pilihan yang akan kuambil.

Malam semakin larut. Jarum jam di dinding sudah mendekati angka dua. Mataku sudah mulai terasa berat kembali—kantuk yang tadi sempat terusir oleh pertanyaan-pertanyaan berat kini kembali lagi, menagih janjinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari... setelah semua drama, semua kecemasan, semua pertanyaan yang tidak ada jawabannya...

Aku memilih untuk tidak memikirkan kontrak. Tidak memikirkan pengawas misterius yang mungkin masih mengintai. Tidak memikirkan kekuatan Persona Devour yang mengerikan. Tidak memikirkan pemilik kontrak lain yang mungkin sedang bergerak.

Besok saja. Besok saja semua itu. Hari ini cukup. Malam ini cukup.

Hari ini aku hanya ingin menjadi mahasiswa semester akhir yang sedang berusaha lulus. Yang sedang berjuang melawan revisi. Yang sedang mencoba memahami metodologi penelitian. Yang sedang bermimpi tentang wisuda dan toga dan foto bersama keluarga.

Tidak lebih. Tidak kurang.

Dan entah kenapa... saat akhirnya memejamkan mata malam itu, saat selimut kutarik sampai ke dagu, saat bantal menyesuaikan diri dengan bentuk kepalaku...

Aku tidak lagi merasa sedang berjalan sendirian. Tidak lagi merasa bahwa beban ini hanya ada di pundakku. Karena di kursi dekat jendela, di bawah cahaya lampu yang temaram, ada seseorang yang masih terjaga. Menjaga. Menemani.

Dan itu sudah cukup.

Kesadaranku perlahan tenggelam. Seperti batu yang dilepaskan ke dalam air. Seperti matahari yang perlahan terbenam di balik cakrawala.

Suara kipas angin menghilang—bunyi 'wrrr' yang tadi begitu jelas kini memudar, ditelan oleh keheningan yang semakin dalam. Suara kendaraan dari jalan raya memudar—bunyi klakson, bunyi mesin, bunyi roda di aspal, semuanya menjauh, seperti dunia luar perlahan-lahan melepaskan genggamannya padaku.

Lalu semuanya menjadi gelap. Sangat gelap. Gelap yang tidak menakutkan. Gelap yang... tenang.

Namun kali ini... aku tidak merasa takut. Tidak ada kepanikan. Tidak ada jantung yang berdetak kencang. Karena aku sudah mengenali tempat ini. Aku sudah pernah ke sini sebelumnya.

Hamparan tanah luas yang membentang sampai ke kaki langit. Kabut tipis yang menari-nari di atas permukaan tanah, seperti selendang raksasa yang tak kasat mata. Dan sebuah pohon beringin tua—sangat tua, mungkin lebih tua dari semua yang pernah kulihat—yang berdiri sendirian di tengah-tengah. Akar-akarnya menggantung seperti tirai. Daunnya lebat, menciptakan bayangan yang meneduhkan.

Di bawah pohon itu... seseorang sudah duduk lebih dulu. Menungguku. Seperti yang sudah-sudah.

Seorang kakek. Mengenakan pakaian Jawa yang sangat kental—bukan sekadar pakaian, tapi identitas, warisan, sesuatu yang mengalir dalam darahnya. Beskap tua berwarna gelap yang sudah lusuh di bagian siku. Kain batik yang dililit rapi dengan motif yang tidak kukenali. Blangkon di kepala, bertengger seperti mahkota kesederhanaan. Serta tongkat kayu yang sama—tongkat yang sama persis seperti yang pernah kulihat sebelumnya. Tongkat yang sepertinya sudah menjadi bagian dari tubuhnya.

Kakek pengemis itu. Atau siapa pun dia sebenarnya. Aku masih belum tahu.

Aku berjalan mendekat. Langkah-langkah kakiku tidak bersuara di atas tanah—tanah yang terasa padat tapi anehnya tidak meninggalkan jejak. Kabut tipis membelah saat aku melewatinya, lalu menyatu kembali di belakangku.

Dan anehnya... kali ini aku tidak merasa bingung. Tidak merasa takut. Tidak merasa waspada. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku. Justru merasa seperti sedang menemui kerabat yang sudah lama tidak kutemui. Seperti pulang ke rumah setelah perjalanan panjang.

"Kek."

Kakek itu menoleh. Gerakannya pelan, tidak terburu-buru—persis seperti gerakan orang tua yang sudah tidak dikejar waktu. Lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti sebelumnya. Senyum yang hangat. Senyum yang entah kenapa selalu membuatku merasa aman.

"Lha, Le. Akhire teko maneh." (Lho, Nak. Akhirnya datang lagi.)

Aku langsung duduk di dekatnya. Tanpa ragu. Tanpa canggung. Seperti duduk di samping kakek sendiri—meskipun kakek kandungku sudah meninggal sebelum aku lahir.

"Piye kabare, Kek?" (Bagaimana kabarnya, Kek?)

Entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja. Begitu alami. Begitu lancar. Padahal aku bahkan tidak terlalu bisa bahasa Jawa. Aku hanya mengerti sedikit—sisa-sisa pelajaran muatan lokal waktu SD, campur aduk dengan kata-kata yang sering diucapkan orang tuaku. Tapi di tempat ini, di hadapan kakek ini, bahasa Jawa terasa... pas. Seperti itulah seharusnya.

Kakek itu tertawa kecil. Tawa yang rendah, yang serak, yang penuh dengan pengalaman hidup. "Isih urip. Alhamdulillah. Isih bisa nyedhot udoro." (Masih hidup. Alhamdulillah. Masih bisa menghirup udara.)

Aku langsung tertawa. "Syukurlah, Kek. Kalau begitu kita sama."

Beberapa saat kami hanya duduk. Tidak bicara. Tidak bertanya. Hanya duduk. Menikmati angin yang berhembus pelan—angin yang tidak terlalu kencang, tidak terlalu dingin, tapi pas. Angin yang membawa aroma dedaunan dan tanah basah, aroma yang selalu mengingatkanku pada hujan pertama di musim kemarau.

Kemudian aku teringat sesuatu. Sesuatu yang menggelitik di pikiranku.

"Kek."

"Nggih?" (Ya?)

"Sebenernya... ini aneh. Aku yang harusnya khawatir. Aku yang punya kontrak. Aku yang dikejar-kejar makhluk aneh. Aku yang skripsinya belum selesai. Tapi kok rasanya aku malah khawatir sama Kakek. Kakek tidur di mana? Makan apa? Sehat apa enggak?"

Kakek itu tertawa. Kali ini lebih keras. Tawa yang membuat kerutan di wajahnya semakin terlihat—kerutan yang bercerita tentang tahun-tahun yang panjang, tentang musim-musim yang berganti, tentang hidup yang keras tapi dijalani dengan sabar.

"Le... sing kudune kuwatir kuwi dudu aku." (Nak... yang seharusnya khawatir itu bukan aku.)

"Lha terus siapa, Kek?"

"Kowe." (Kamu.)

Aku langsung menunjuk diri sendiri. Jariku menempel di dada. "Kenapa aku?"

"Kowe kuwi... kebacut mikir. Mikir terus. Ora tau mandheg. Otakmu ora tau leren." (Kamu itu... terlalu banyak berpikir. Berpikir terus. Tidak pernah berhenti. Otakmu tidak pernah istirahat.)

Aku menggaruk kepala. Agak malu. Karena memang benar. Seratus persen benar. Bahkan dalam tidur pun otakku masih bekerja, menciptakan mimpi-mimpi aneh, memproses kecemasan-kecemasan yang tidak selesai.

Kakek itu kemudian mengetukkan tongkatnya ke tanah. Pelan. Tiga kali. Tok. Tok. Tok. Suaranya dalam, seperti beresonansi dengan sesuatu di bawah tanah, sesuatu yang tidak bisa kulihat.

"Rungokna, Le." (Dengarkan, Nak.)

Aku langsung memperhatikan. Punggungku tegak. Mataku fokus. Karena aku tahu—dari pengalaman sebelumnya—setiap kali kakek ini berbicara dengan nada seperti ini, kata-katanya selalu bernilai. Selalu berarti. Selalu tepat sasaran.

Beliau berkata dengan bahasa Jawa halus—bahasa yang tidak sepenuhnya kupahami, tapi entah kenapa maknanya sampai ke dalam dadaku. Seperti musik yang tidak perlu diterjemahkan untuk bisa dirasakan.

"Le, urip iku ora perlu nyonto wong liya. Ora perlu niru-niru. Ora perlu mbanding-mbandingke." (Nak, hidup itu tidak perlu meniru orang lain. Tidak perlu membanding-bandingkan.)

"Sing penting ngerti dalanmu dhewe. Ngerti arahmu. Ngerti tujuane uripmu." (Yang penting mengerti jalanmu sendiri. Mengerti arahmu. Mengerti tujuan hidupmu.)

Aku terdiam. Mendengarkan dengan seluruh tubuhku.

"Yen wong liya bisa mlayu, kowe ora kudu mlayu. Ora kudu maksa. Ora kudu ngoyak." (Kalau orang lain bisa berlari, kamu tidak harus ikut berlari. Tidak perlu memaksa. Tidak perlu mengejar.)

"Yen kowe mung iso mlaku, ya mlakua. Mlaku wae. Ora usah isin. Ora usah rumangsa kalah." (Kalau kamu hanya mampu berjalan, maka berjalanlah. Jalan saja. Tidak perlu malu. Tidak perlu merasa kalah.)

"Sing penting tekan. Sing penting tekan tujuanmu. Ora peduli sepira alonmu." (Yang penting sampai. Yang penting mencapai tujuanmu. Tidak peduli seberapa lambatmu.)

Aku merasakan sesuatu menusuk dadaku. Bukan menusuk dengan sakit. Tapi menusuk dengan... ketepatan. Dengan kebenaran yang tidak bisa dibantah.

Karena entah kenapa... nasihat itu terasa sangat cocok dengan kondisiku sekarang. Tentang skripsi—aku selalu merasa orang lain lebih cepat, lebih pintar, lebih selesai. Tentang Zahra—aku selalu membandingkan diriku dengannya, dengan pengetahuannya yang luas, dengan kemampuannya yang luar biasa. Tentang kontrak—aku selalu merasa tidak cukup kuat, tidak cukup layak, tidak cukup hebat. Tentang semua hal yang terjadi akhir-akhir ini.

Kakek itu melanjutkan. Suaranya sekarang lebih rendah, lebih dalam, seperti sedang membocorkan rahasia yang sangat penting.

"Aja meksa dadi pahlawan, Le." (Jangan memaksa menjadi pahlawan, Nak.)

Aku mengangkat kepala. "Pahlawan, Kek?"

Beliau mengangguk. Anggukannya pelan, tapi pasti. "Saben uwong nduweni watese dhewe. Wates sing ora bisa dilangkahi. Wates sing kudu diajeni." (Setiap orang punya batasnya masing-masing. Batas yang tidak bisa dilangkahi. Batas yang harus dihormati.)

"Saben uwong nduweni kabisane dhewe. Kabisan sing beda-beda. Ora kabeh uwong iso dadi apa-apa." (Setiap orang punya kemampuannya masing-masing. Kemampuan yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa menjadi segalanya.)

"Sing bisa dipanggul wong siji, durung mesthi bisa dipanggul wong liyane. Ojo nganti pundhakmu pedhot mergo gowo beban sing dudu duwekmu." (Beban yang bisa dipikul seseorang belum tentu bisa dipikul orang lain. Jangan sampai pundakmu patah karena membawa beban yang bukan milikmu.)

Aku terdiam. Kata-kata itu melayang di udara, lalu mendarat di dalam dadaku. Berat. Tapi tidak menyakitkan.

Karena kalimat itu terdengar seperti peringatan. Atau mungkin nasihat. Atau mungkin... keduanya. Sebuah peringatan yang dibungkus dengan kelembutan. Sebuah nasihat yang disampaikan dengan cinta.

Kemudian... entah kenapa... kakek itu tiba-tiba tertawa lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Tawanya meledak, menggema di antara kabut, membuat pohon beringin seolah ikut bergetar.

Aku mengernyit. Alisku bertautan. "Kenapa malah ketawa, Kek? Ada yang lucu?"

"Kowe... kowe iki lucu, Le." (Kamu... kamu ini lucu, Nak.)

"Hah? Lucu? Bagian mananya?"

"Lucu. Tenan lucu. Aku nganti ora kuat nahan." (Lucu. Benar-benar lucu. Aku sampai tidak kuat menahan.)

Aku memegangi kepala. Jemariku memijat pelipis. "Bagian mananya yang lucu, Kek? Tolong dijelaskan. Aku serius."

Kakek itu menunjuk ke arahku. Jarinya yang keriput mengarah tepat ke wajahku. "Kowe diwenehi perkara gedhe. Perkara sing ora sembarangan. Perkara sing bisa ngobahke jagad." (Kamu diberi sesuatu yang besar. Perkara yang tidak sembarangan. Perkara yang bisa menggerakkan dunia.)

"Nanging sing mbok pikir saben dina... malah bocah wadon kuwi. Pikiranmu ora tau uwal saka dheweke."

(Tapi yang kamu pikirkan setiap hari... malah gadis itu. Pikiranmu tidak pernah lepas darinya.)

Aku langsung tersedak. Bukan tersedak makanan—tidak ada makanan di mimpi ini. Tapi tersedak kenyataan. "Itu... itu nggak sepenuhnya benar, Kek! Konteksnya beda! Dia partnerku! Dia yang bantuin skripsiku!"

Kakek itu justru semakin tertawa. Tawanya kini berubah menjadi tawa yang terbahak-bahak, tawa yang membuat bahunya berguncang. "Ngapusi. Ngapusi awakmu dhewe. Ora iso mblenjani kakek." (Bohong. Bohong pada dirimu sendiri. Tidak bisa membohongi kakek.)

Aku langsung menyerah. Kedua tanganku terangkat ke udara. "Ya udah lah. Terserah Kakek. Aku tidak bisa berdebat dengan kakek-kakek misterius di alam mimpi."

Kemudian perlahan... tawa beliau menghilang. Bukan menghilang tiba-tiba—tapi perlahan, seperti air yang surut, seperti matahari yang tenggelam. Tatapannya berubah. Menjadi lebih tenang. Lebih dalam. Lebih... serius.

"Le."

"Nggih, Kek?"

"Kowe ora salah. Kowe ora kliru. Kowe wis bener." (Kamu tidak salah. Kamu sudah benar.)

Aku terdiam. "Bab apa, Kek? Aku butuh spesifik."

"Kabeh. Kabeh sing mbok lakoni. Kabeh keputusanmu." (Semuanya. Semua yang kamu lakukan. Semua keputusanmu.)

"Kowe ngurusi dheweke kaya manungsa. Ora kaya alat. Ora kaya barang. Ora kaya senjata. Kaya manungsa. Kaya kanca. Kaya..." (Kamu memperlakukannya seperti manusia. Bukan alat. Bukan barang. Bukan senjata. Seperti manusia. Seperti teman. Seperti...)

Beliau tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi aku tahu apa yang dimaksud.

Dadaku terasa sedikit sesak. Bukan sesak yang menyakitkan. Tapi sesak yang... hangat. Sesak yang aneh. Sesak yang tidak bisa kujelaskan. Karena aku tahu siapa yang dimaksud. Tanpa disebut namanya pun, aku tahu.

Zahra.

Lalu kakek itu menatap ke kejauhan. Matanya yang tua—yang sudah melihat begitu banyak hal, begitu banyak musim, begitu banyak manusia—menatap ke arah sesuatu yang tidak bisa kulihat. Seolah sedang melihat seseorang. Seseorang yang berdiri di balik kabut, di luar jangkauan penglihatanku.

Dan beliau berkata pelan. Sangat pelan. Hampir seperti bisikan yang tidak dimaksudkan untuk didengar.

"Ngomongo marang dheweke, Le. Sampaikan pesen iki." (Bicaralah padanya, Nak. Sampaikan pesan ini.)

Aku langsung memperhatikan. Seluruh tubuhku tegang. Telingaku mendengarkan dengan intensitas penuh. "Sampaikan apa, Kek?"

Kakek itu tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang lebih... lembut. Lebih... penuh kasih. Kemudian berkata dengan suara yang sangat lembut—suara yang terdengar seperti doa, seperti puisi, seperti lagu pengantar tidur.

"Urip iku dudu mung babagan guna lan manfaat. Urip iku luwih saka kuwi." (Hidup bukan hanya tentang kegunaan dan manfaat. Hidup itu lebih dari itu.)

"Ana wong sing tetep gelem lungguh jejere kowe... sanadyan kowe ora menehi apa-apa. Sanadyan kowe ora nduweni daya. Sanadyan kowe ora iso nguntungke." (Ada orang yang tetap bersedia duduk di sampingmu... meskipun kamu tidak memberi apa-apa. Meskipun kamu tidak punya kekuatan. Meskipun kamu tidak bisa menguntungkan.)

"Ana regane sing luwih dhuwur tinimbang daya. Ana ajine sing luwih larang tinimbang kekuwatan." (Ada nilai yang lebih tinggi daripada kekuatan. Ada harga yang lebih mahal daripada kekuasaan.)

"Lan dheweke... bocah wadon kuwi... wis miwiti sinau bab kuwi. Alon-alon. Sithik mbaka sithik. Tapi sinau. Tapi ngerti." (Dan dia... gadis itu... sudah mulai belajar tentang itu. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Tapi belajar. Tapi mengerti.)

Aku tidak tahu kenapa. Tetapi kalimat itu membuatku teringat Zahra. Terutama ekspresinya tadi malam—saat ia menyentuh kepalaku dengan lembut. Saat ia berkata bahwa ia sudah tahu sejak lama, tapi tidak yakin apakah ia boleh mempercayainya. Saat ia berkata bahwa mungkin... mungkin karena itulah ia masih berada di sini.

Aku menunduk. Kepalaku berat. Dadaku penuh. Pikiranku ramai, tapi juga kosong pada saat yang sama.

Memikirkan semuanya. Tentang Zahra. Tentang kontrak. Tentang enam pengguna sebelumnya yang tidak pernah benar-benar melihatnya. Tentang diriku sendiri—apakah aku benar-benar berbeda, atau hanya merasa berbeda?

Lalu bertanya pelan. Suaraku nyaris seperti bisikan. "Kek... sebenarnya Kakek ini siapa? Aku serius. Aku perlu tahu. Kenapa Kakek muncul di mimpiku? Kenapa Kakek peduli padaku? Kenapa Kakek peduli pada Zahra?"

Untuk pertama kalinya... Kakek itu tidak menjawab. Tidak ada jawaban. Tidak ada pengalihan topik. Tidak ada teka-teki.

Beliau hanya tersenyum. Senyum yang penuh rahasia. Senyum yang menyimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah diceritakan.

Kemudian berdiri. Perlahan. Gerakannya hati-hati—gerakan orang tua yang kakinya sudah tidak sekuat dulu, tapi semangatnya masih membara. Mengambil tongkat kayunya. Tongkat yang sama. Tongkat yang setia.

"Lha... itu jawaban lagi." gumamku. Setengah kesal, setengah pasrah. "Setiap kali aku bertanya, Kakek selalu menghilang."

Kakek itu malah tertawa. Tawa yang pendek, tapi hangat. Lalu berjalan menjauh. Langkah-langkah kakinya pelan, tapi pasti. Kabut perlahan menelannya—bagian bawah tubuhnya dulu, lalu badannya, lalu bahunya, lalu kepalanya. Seperti sedang berjalan ke dunia lain. Seperti sedang kembali ke tempat asalnya.

Dan tepat sebelum menghilang sepenuhnya... tepat sebelum kabut menelan seluruh tubuhnya...

Aku mendengar suara beliau untuk terakhir kalinya. Suara yang sekarang terdengar lebih jauh, lebih samar, tapi masih jelas.

"Rampungna skripsimu dhisik, Le. Ojo nggawe aku melu pusing. Aku wis tuwek, ora kuat mikir metodologi." (Selesaikan skripsimu dulu, Nak. Jangan membuat aku ikut pusing. Aku sudah tua, tidak kuat memikirkan metodologi.)

Aku langsung tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang menggema di antara kabut. Bahkan dalam mimpi... bahkan di alam bawah sadar... bahkan oleh makhluk misterius yang tidak kuketahui identitasnya... masalah skripsi masih mengejarku. Masih menghantuiku. Masih menjadi bagian dari diriku yang tidak bisa dipisahkan.

Kemudian semuanya memudar. Kabut—perlahan menipis, lalu menghilang. Pohon beringin—daunnya rontok satu per satu, lalu batangnya memudar, lalu seluruh pohon lenyap. Tanah—retak-retak, lalu hancur. Langit—berubah warna, dari kelabu menjadi putih, lalu menjadi terang. Dan sosok sang kakek—yang sudah lebih dulu hilang, yang sudah tidak terlihat lagi.

Seperti lukisan yang perlahan dihapus. Seperti foto yang perlahan memudar. Seperti ingatan yang perlahan terlupakan.

Sampai akhirnya... semuanya putih. Putih susu. Putih mutlak.

Aku perlahan membuka mata. Kesadaranku kembali, merayap dari kegelapan menuju kenyataan. Kembali ke kamar kos. Kembali ke kasur tipisku. Kembali ke tubuhku yang masih terbungkus selimut.

Dengan cahaya matahari pagi yang mulai masuk dari jendela—sinar keemasan yang menerobos celah-celah tirai, menciptakan garis-garis terang di lantai kamar. Cahaya yang hangat. Cahaya yang membawa harapan.

Dan di kursi dekat jendela... Zahra masih di sana. Masih duduk. Masih terjaga.

Menungguku bangun.

1
Sarah
Ya Allah, Kamarudin. Kamu baru tau tentang hal ini? Ini udah bab berapa? Kalau dia nanya-nanya di bab awal-awal sih make sense. Lah ini udah 80-an, Thor. 😭
Ghazali: disengaja. karena manusia itu PELUPA
total 1 replies
Sarah
Bagus. Akhirnya kamu mulai pinter soal perempuan, Mas Kamarudin. 🤗
falea sezi
gambar nya keren👍
Ghazali: maaf itu gambar generat AI 🙏🙏. ilustrasi hanya pemanis nya
total 1 replies
Sarah
Kayaknya ini cerita bakal panjang banget.
Ghazali: sudah mendekati ending mungkin 3 atau 8 episode lagi. (silakan berspekulasilah)
total 1 replies
Sarah
Bagusnya di sini Zahra lebih sigap. Karena sejak awal aku ngerasa agak aneh sih... Zahra tuh se-OP itu tapi lengah terus. Okelah, kalau lengannya Zahra ini di penyerang-penyerang ketika cerita udah cukup jauh. Tapi pas pertama kali ada yang bener-bener nyerang pun... Zahra berasal udah nerf dari awal.
Ghazali: Waduh, valid banget poinnya,! 🫡 Jujur, nulis karakter yang Overpowered tapi tetap bikin cerita terasa tegang itu tantangan tersendiri buat aku. Di awal, aku mungkin terlalu fokus ke sudut pandang Kamarudin yang panik, jadi Zahra-nya keliatan agak 'nerf' atau ketinggalan langkah demi dramatisasi. Tapi masukannya Kakak sangat membantu! Makanya di part ini aku usahain Zahra lebih sigap dan nggak gampang kecolongan. Makasih banyak udah mau baca sampai detail begini, feedback kayak gini yang bikin ceritanya makin bagus!
total 1 replies
Sarah
Orang yang sama atau beda sih sama yang sebelumnya? Yang terakhir kali?
Ghazali: msih yang sama, cuma beda pakaian.
total 1 replies
Sarah
H-Hah? Ini orang habis lihat kepala pecah masih ada tenaga buat ke Mall??
Sarah: Iyasih, cuma heran aja kok bisa gak gak trauma dulu? 😭
total 2 replies
Sarah
Kok Zahra jadi ikutan manggil ‘Mas’? Kayak Valeria aja. Bukannya biasanya dia langsung manggil nama?
Ghazali: Mmemang disengaja bang, Zahra sekarang sudah belajar konteks sosial. Dia sadar kalau di Indonesia, panggilan 'Mas' itu lebih sopan dan natural terutama kalau ada orang lain di sekitar (kayak sopir, polisi, atau Jenderal Hadi tadi). Kalau lagi berdua aja sama Kamarudin, dia masih pakai nama langsung kok. Jadi ini bentuk adaptasi Zahra biar nggak kelihatan 'aneh' di mata manusia biasa. Makasih udah notice detail kecil ini! ✨"
total 1 replies
Sarah
Gambarnya Nia beda sama yg sebelumnya. Sebelumnya jilbab bener, sekarang jilbab asal.
Sarah: Harusnya penampilannya di sini aja gak sih yah yang jadi first impression-nya?
total 4 replies
Sarah
Pliss lah, tokoh-tokoh kayak temen-temen Kamarudin di bab ini jangan wasted potensial dong. Cerita ini tuh bagus cuma kadang emang kerasa terlalu sepi.
Ghazali: Oh tentu.....
total 1 replies
Sarah
Akhirnya MC punya circle.
Sarah
Oke. Ini menjawab. Entitas kontrak berubah wujud jadi gender berlawanan dari pemilik kontrak. Rupanya ada juga pemilik kontrak cewek. Aduhh, penasaran lagi kalau pemilik kontrak cewek, entitas kontrak cowoknya kayak gimana.
Ghazali: sory baru balas "gak juga sih",.
total 1 replies
Sarah
Ya kali temen lu udah lama gak nongol tiba-tiba udah nikah aja. Kan kalaupun nikah pasti ngirim undangan, Bang. 😅
Sarah
Kenapa ini dua anomali gak bisa banget dikasih tau untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak membuat salah paham seperti ini? /Speechless/
Sarah: Wkwkwkw.
total 2 replies
Sarah
Sudah kuduga. Kamarudin terbiasa menolak pemberian orang sampai-sampai lupa kalau di sini yang ngajarin Zahra sama Valerie. 😅
Sarah
MC-nya terlalu gak enakan.
the virtuso
saling dukung thor👍
Ghazali: bacalah bang jangan like doang hehehe]
total 1 replies
Sarah
Dibalikin ciri khasnya. 🤣
Sarah
Ahahahaha! 🤣
Sarah
Itu duitnya gak habis-habis buat beli buku sebanyak 65 bab? Itu buku siapa? Dan... kok bukunya gak habis-habis?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!