Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 021 : Hai, Farah!
Mereka terus berlari masuk ke dalam hutan. Membawa ketakutan mereka atas datangnya sosok wanita menyeramkan yang baru saja hadir. Selama berlari, mereka tidak melepaskan gandengan tangan mereka satu sama lain.
"Apa dia ikut?!!" teriak Desta sembari masih berlari. Farah yang berada di barisan belakang bersama dengan Ardin pun. Menoleh secara sekilas ke arah belakang. Dia memperhatikan sejenak kondisi di belakang sana.
"Aku gak lihat ada pergerakan!" kata Farah menimpali pertanyaan Desta.
"Sial!" umpat Desta, sungguh ini adalah kali pertamanya dia merasakan ketakutan yang sangat hebat.
"Kita terusin lari aja!" perintah Aldi yang berada di barisan paling depan. Entah mengapa, dia begitu yakin? Jika mereka berhenti maka sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
Krekkkkk
Krekkkkk
Suara dahan-dahan patah dari atas pepohonan menyita perhatian mereka berenam kala itu.
Di tengah perintah Aldi yang menyuruh mereka untuk tetap bergerak. Kini fokus mereka tidak bisa acuh pada apa yang terdengar di atas sana.
"Opo lagi, iku?!" pekik Rifki segera memperhatikan atas begitupun dengan yang lainnya.
Saat itu, ketika pandangan mereka secara bersamaan menatap ke atas. Mereka membulatkan mata.
Tubuh mereka membeku tatkala melihat sosok anak kecil bergelang kaki di tangan dan kakinya itu lagi. Sosok itu, sosok yang sama yang Farah temui.
'Dia lagi!' ujar Farah sembari memperhatikan sosok itu dari bawah.
Sosok yang tadinya bertubuh kecil itu kini perlahan mulai membesar. Tubuhnya seperti melebar.
"Loh, loh.." ucap Rifki refleks. Dia takut sekali kejatuhan makhluk itu sekarang. Terbesit pikiran tidak ingin mati rasanya dalam kepalanya kini!
"Menepi-menepi!" teriak Desta menyuruh mereka.
Haikal dan Aldi tidak melihat adanya zona aman untuk menepi. Sebab tubuh besar yang semakin turun ke bawah menghampiri mereka itu. Seakan melahap seluruh zona aman. Melihat tidak ada ruang bagi mereka lolos. Haikal dan Aldi pun berkata,
"Sudah terima saja!" ucap mereka berdua.
Dan benar, ketika sosok itu mengukung mereka. Kegelapan kini membutakan panca Indra mereka. Mereka terdiam sejenak. Mereka tidak bergerak sama sekali. Sebab tak ada yang bisa mereka lihat kini kecuali kegelapan.
Brukkkk
Beberapa detik kemudian tubuh mereka seakan didorong oleh sesuatu yang mengakibatkan mereka jatuh bersimpuh sekarang.
Mereka mengernyitkan keningnya. Tatkala pemandangan yang ada di depan mereka sudah berbeda. Tatkala apa yang kini tangan mereka rasakan juga berbeda.
Aldi dan Haikal berada di satu tempat. Mereka jatuh tepat di atas tumpukan cermin. Saat itu, jelas mereka bisa melihat pantulan diri mereka. Sejenak, melihat sekeliling.
"Kita masih di dalam belantara!" ujar Haikal.
Sementara itu, Rifki jatuh di atas rerumputan. Dia seorang diri. Dia juga sama bingungnya seperti yang lain.
Rifki mencengkram dedaunan yang kini menjadi tumpuannya. Dia yang tadinya menundukkan kepalanya. Mulai menatap ke depan.
Dan di sana, Rifki melihat tiga bocah sedang berdiri menatapnya. Tiga bocah itu, adalah tiga bocah mati yang sering dia jumpai juga.
Mereka berdiri sepuluh langkah dari tempat Rifki. Sungguh, kini Rifki rasanya seperti dipermainkan. Dia memilih beranjak dari posisinya kemudian menatap ketiga bocah mati itu dengan tatapan serius.
"Aku udah muak rasanya! Ditendang sana ditendang sini gak ada ujungnya. Maksudnya apa? Sekarang karena kita berada di alam yang sama. Dan aku sudah melihat wujud kalian ketika mati. Maka tolong, tolong beri aku petunjuk dan jawaban!" kata Rifki kepada mereka bertiga.
Ketiga bocah mati itu diam. Mereka tidak bersuara ketika Rifki berbicara pada mereka. Jika di alam manusia, mereka menampakkan wujud saat mereka masih hidup pada Rifki. Di alam ini, tidak! Mereka menampakkan diri mereka dengan wujud pada saat mereka mati.
Di sini terlihat bagaimana mata mereka bolong. Bola mata itu tidak ada di tempatnya. Serta, leher mereka yang masih terluka menganga dengan darah yang bercucuran.
"Jawab aku!" kata Rifki. Dia berusaha mendekati mereka bertiga. Awalnya, dia hanya berjalan. Tetapi semakin lama, entah mengapa?
Bukannya semakin dekat, justru sosok itu seakan menjauh tiap Rifki dekati. Seakan jalan untuk menuju mereka memanjang tiap kali Rifki mencoba mendekat.
"Pegonnya dan aksaranya, Rifki!" kata mereka bertiga secara bersamaan pada Rifki sebelum menghilang.
Rifki membuang kasar nafasnya. Dia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Pepohonan di hutan itu masih tertempeli oleh huruf Arab Pegon.
"Aku gak sepandai Aldi, tapi baiklah! Aku bakalan, coba!" kata Rifki.
Dia mulai mencari apa yang ada di balik lembaran huruf Arab itu. Kata bocah mati itu, aksara ada di balik Pegon. Di sinilah, Rifki mulai mencarinya dari pohon satu ke pohon lainnya.
Sementara itu, Farah dan Ardin juga terpisah. Ardin jatuh bersimpuh di depan sebuah danau. Sementara Farah, dia jatuh bersimpuh di depan batu besar. Farah membulatkan kedua matanya. Dia terkejut sungguh.
"Bangunlah, Farah!" suara seorang gadis kecil menyita perhatian Farah yang masih menunduk saat itu.
"Hah!" pekik Farah ketika menoleh tepat ke arah sumber suara. Dia menaikkan salah satu alisnya.
Bagaimana tidak? Sosok bocah kecil yang menyeramkan tadi kini berubah menjadi bocah cantik.
Dia berdiri di atas batu besar. Dia mengenakan pakaian serba putih. Dia menatap ke arah Farah.
Kedua matanya tidak lagi merah menyeramkan. Senyumnya juga tak lagi mengerikan. Bocah itu, hampir mirip wajahnya seperti Farah.
"Siapa kamu?" tanya Farah padanya. Hatinya sedikit tenang rasanya ketika melihat sosok di depannya tidak menyeramkan.
Bocah itu hanya tersenyum. Dia memiringkan kepalanya. Dia tersenyum, menatap Farah cukup dalam.
"Hai, Farah! Kamu cantik sekali!" puji bocah itu kepada Farah. Farah hanya diam. Dia memperhatikan tatapan bocah itu yang begitu dalam padanya. Tersirat sebuah kesedihan dalam kelopak mata itu.
"Siapa kamu?" tanya Farah lagi, dia ingin jawaban.
Dia tidak mau terlalu membuang waktunya di alam sebelah ini. Muak, kesal, lelah rasanya. Ingin sekali dia segera menyelesaikannya.
Bocah itu memperhatikan Farah. Dia masih tersenyum lembut pada Farah.
"Kakak!" panggilnya, sebuah panggilan yang membuat Farah bingung. Kakak? Bukankah Farah ini anak tunggal? Lantas mengapa bocah ini memanggilnya kakak?
"Kakak?" tanya Farah padanya.
"Ya!" jawabnya.
"Tapi, aku adalah anak tunggal!" kata Farah menjelaskan.
Bocah itu menggeleng. Dia mulai bergerak, satu gerakan yang cukup cepat hingga dirinya kini berada tepat di hadapan Farah. Lagi-lagi hal yang tidak wajar ini membuatnya terperangah. Dia Farah, membeku tepat ketika wajahnya dan wajah bocah itu saling berhadapan.
"Apa yang kamu cari di sini?" tanya bocah itu pada Farah.
"Jawaban!" jawab Farah.
"Atas apa?" tanya bocah itu lagi.
Farah menundukkan kepalanya. Tak sengaja dia melihat satu aksara yang ada dipergelangan tangannya bocah itu. Aksara jawa, aksara yang berbunyi 'Ong'.
Bocah itu tersenyum. Dia tahu betul, bahwa Farah kini kebingungan. Ketika tatapannya kembali menatap bocah itu.
Bocah itu meletakkan telapak tangannya ke arah kening Farah. Dan pada saat itu, sebuah penglihatan muncul.
"Akan kuberitahu!" kata bocah itu.
______
...Ini adalah aksara Jawa 🏃✨...
Tulisan yang digunakan pada era kerajaan Jawa.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣