Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Membisu
Malam itu, di kamar sempit di belakang rumah, Aminah terjaga.
Ia tidak bisa tidur. Bukan karena insomnia atau mimpi buruk. Tapi karena suara-suara dari ruang keluarga yang terdengar hingga ke kamarnya di lantai dasar. Dinding rumah megah itu memang tebal, tapi tidak cukup tebal untuk membungkam jeritan seorang gadis yang memohon ampun.
Aminah duduk di tepi ranjangnya, tubuhnya membeku. Tangannya menggenggam erat ujung sarung yang ia kenakan, buku-buku jarinya memutih karena tekanan.
Di sampingnya, Ningsih dan Wati juga terbangun. Mereka saling berpandangan dengan mata yang penuh ketakutan, tapi tidak ada yang berani bersuara.
Suara itu terus terdengar. Jeritan. Tangis. Dan suara keras yang membuat Aminah menggigil setiap kali mendengarnya. Ia mengenal suara itu. Suara pukulan. Suara tubuh mungil yang terpental ke lantai marmer.
Air mata Aminah menetes. Tangan keriputnya menutup mulut sendiri, menahan isak yang hampir keluar. Ia ingin keluar. Ia ingin menghentikan pria itu. Tapi apa daya? Ia hanya asisten rumah tangga. Ia hanya pekerja. Di rumah ini, ia tidak punya kuasa apa pun.
"Aminah... kita harus..." bisik Ningsih dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Aminah menggeleng cepat, wajahnya pucat pasi. "Kita tidak bisa. Bapak... dia..."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Semua orang tahu apa yang terjadi di luar sana. Semua orang mendengar. Tapi semua orang juga tahu posisi mereka. Jika mereka keluar, bisa jadi mereka yang akan kehilangan pekerjaan—atau bahkan lebih buruk dari itu.
Jadi mereka hanya bisa duduk di kamar sempit itu, bergandengan tangan, menangis dalam diam, sementara di ruang keluarga, seorang gadis polos yang baru berusia delapan belas tahun dihancurkan perlahan-lahan.
Ia ingin berteriak. Ia ingin menolong. Tapi ketakutan akan masa depannya, akan nasib anak-anaknya yang masih sekolah, membuatnya memilih untuk membisu.
Bisu yang sama yang akan terus ia bawa hingga pagi.
---
Pagi tiba dengan sinar matahari yang terlalu cerah.
Aminah bangun lebih awal dari biasanya. Matanya sembab, bekas air mata yang tak terbendung semalam masih membekas di kelopak matanya yang tua.
Ia mencuci muka dengan air dingin, berusaha menghilangkan jejak tangis. Kemudian ia mengambil seragam putihnya, mengenakannya dengan gerakan mekanis seperti biasa.
Ia harus bersikap normal. Ia harus berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Di dapur, Aminah menyiapkan sarapan seperti pagi-pagi sebelumnya. Roti bakar dengan selai stroberi—kesukaan Mbak Alya yang ia catat di minggu pertama kedatangan gadis itu. Teh hangat dengan sedikit madu. Seporsi nasi goreng untuk Bapak jika kebetulan ada di rumah.
Tangannya tidak gemetar. Gerakannya tidak terburu-buru. Semuanya terlihat normal. Karena ia sudah belajar, selama bertahun-tahun menjadi pembantu di rumah-rumah besar, bahwa kadang normal adalah topeng yang paling aman.
Ningsih menyapu halaman. Wati mengepel lantai lorong. Tidak ada yang membicarakan semalam. Mereka hanya bertukar pandang sekilas, saling mengerti tanpa perlu kata-kata.
Lalu mereka mendengar suara dari lantai atas.
Bukan suara yang biasa. Tapi suara gedoran pintu yang keras dan kasar disertai teriakan.
"Alya! Kamu di dalam? Buka pintunya!"
Itu suara Bapak. Suara yang semalam membuat bulu kuduk mereka meremang, kini terdengar dengan nada kesal yang sama.
Aminah berhenti mengaduk teh. Matanya menoleh ke arah tangga, jantungnya berdebar tidak karuan.
---
Di kamar mandi utama lantai atas, Alya membeku.
Tubuhnya masih basah, air shower terus mengalir membasahi tubuhnya yang penuh memar. Ia baru saja selesai membersihkan diri, berusaha menghapus semua jejak malam itu dari kulitnya. Tapi tidak ada sabun sekeras apa pun yang bisa membersihkan rasa kotor yang meresap hingga ke tulang.
Gedoran pintu kamar mandi membuat jantungnya nyaris berhenti.
"Alya! Buka pintunya! Aku mau mandi!"
Suara Reza. Masih sama. Masih lantang. Masih penuh tuntutan. Seolah tidak ada yang terjadi semalam. Seolah ia tidak menghancurkan Alya beberapa jam lalu.
Alya mematikan shower. Tangannya gemetar hebat saat meraih handuk. Ia membalut tubuhnya dengan cepat, rambut basahnya masih meneteskan air ke lantai. Napasnya pendek-pendek, dadanya terasa sesak.
Gedoran terdengar lagi. Lebih keras.
"Alya!"
"Ya... ya, Mas..." suara Alya keluar parau, nyaris tak terdengar. Ia menghela napas, berusaha menenangkan diri, lalu membuka pintu.
Pintu terbuka. Alya berdiri di ambang pintu dengan handuk putih yang membalut tubuh mungilnya. Rambut basahnya menutupi sebagian wajah, tapi tidak cukup untuk menutupi bekas tamparan di pipi kirinya yang mulai membiru.
Reza yang hendak masuk tiba-tiba berhenti.
Matanya menangkap wajah Alya. Pipi yang bengkak. Bibir yang pecah di sudut. Leher yang penuh bekas gigitan dan cengkeraman. Bahu yang terlihat dari balik handuk, dipenuhi memar ungu kebiruan.
Untuk sesaat, ada perubahan di wajah Reza. Matanya yang masih sayu karena sisa alkohol membuka lebar. Kesadaran mulai merayap masuk ke dalam pikirannya yang masih setengah sadar. Ia melihat Alya—benar-benar melihatnya untuk pertama kalinya pagi itu.
"Alya... kamu... apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Reza, suaranya terdengar bingung. Benar-benar bingung. Seolah ia benar-benar tidak ingat apa yang ia lakukan semalam.
Alya tidak menjawab. Matanya menatap Reza dengan tatapan kosong—tatapan yang tidak lagi memiliki rasa takut, tidak lagi memiliki rasa sakit, tidak lagi memiliki apa pun. Hanya kekosongan yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding.
"Alya?" Reza mengulang, tangannya terulang hendak menyentuh pipi gadis itu.
Sentuhan itu—meskipun hanya niat—membuat sesuatu di dalam diri Alya putus. Ia tersentak hebat, mundur tiga langkah hingga punggungnya membentur dinding lorong. Matanya yang kosong tadi tiba-tiba dipenuhi teror yang begitu dalam.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya. Suaranya pecah, parau, tapi mengandung ketakutan yang begitu nyata.
Sebelum Reza sempat berkata apa pun, Alya sudah berlari.
Ia berlari melewati lorong panjang, melewati kamar tidur utama yang masih berantakan, melewati tangga yang menurun. Kakinya yang masih lemas membuatnya tersandung di anak tangga ketiga, hampir jatuh, tapi ia segera bangkit dan terus berlari.
Turun. Turun. Turun.
Hingga kakinya menginjak lantai marmer dingin ruang keluarga.
---
Aminah sedang menuangkan teh ke dalam cangkir ketika suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari tangga.
Ia menoleh. Dan cangkir di tangannya nyaris jatuh.
Alya berlari masuk ke dapur dengan tubuh hanya terbungkus handuk putih. Rambut basahnya menempel di wajah dan leher. Tapi itu bukan yang paling menyita perhatian Aminah.
Yang paling menyita perhatian adalah pipi gadis itu yang membengkak dengan bekas tamparan berwarna merah keunguan. Bibir yang pecah dan masih sedikit mengeluarkan darah. Leher yang dipenuhi bekas gigitan dan cengkeraman tangan—bekas jari-jari yang mencengkeram dengan kekerasan yang tidak manusiawi.
Dan matanya. Matanya yang dulu bersinar polos dan penuh mimpi, kini kosong seperti sumur yang mengering.
Alya berlari masuk ke dapur, tubuhnya menggigil hebat. Ia meraih meja dapur untuk bersandar, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya liar, seperti hewan buruan yang baru saja lolos dari cengkeraman pemburu.
"Mbak... Mbak Alya..." suara Aminah keluar lirih, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tangan keriputnya terangkat, ingin menyentuh, tapi ragu.
Ningsih dan Wati juga berhenti dari aktivitas mereka. Mereka menatap Alya dengan mata yang membelalak. Wati menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya langsung mengalir. Ningsih hanya bisa berdiri membeku, cangkir yang sedang ia lap jatuh dan pecah di lantai, tapi ia tidak menyadarinya.
"Mbak Alya... ini... ini kenapa, Mbak?" Aminah memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar hebat.
Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, kedua tangannya menggenggam erat tepi meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun dengan cepat, tubuhnya terus menggigil seperti daun tertiup angin musim dingin.
"Mbak, siapa yang melakukan ini sama Mbak?" Aminah bertanya lagi, meskipun ia tahu jawabannya. Ia sudah tahu sejak semalam. Tapi ia ingin mendengar dari mulut Alya. Ia ingin gadis ini berkata sesuatu, melampiaskan sesuatu, tidak diam membisu seperti semalam ketika ia sendiri memilih diam.
Alya masih diam. Air matanya mulai mengalir perlahan, membasahi pipinya yang bengkak. Tapi ia tidak mengeluarkan suara. Tidak ada isak. Tidak ada tangis. Hanya air mata yang mengalir tanpa kendali.
Wati akhirnya tidak tahan. Ia mendekat, tapi masih ragu. "Mba Alya... kita... kita lapor polisi aja, Mba... ini kejam... ini..."
Alya menggeleng pelan. Gerakannya lemah, hampir tidak terlihat. "Tidak usah," bisiknya, suara serak yang nyaris tak terdengar. "Tidak akan ada gunanya."
Sebelum ada yang sempat berkata lagi, langkah kaki berat terdengar dari lorong.
Reza muncul di ambang pintu dapur.
Ia sudah berganti pakaian. Kemeja biru muda lengan panjang, celana bahan hitam, rambut yang mulai dirapikan. Wajahnya bersih, matanya sudah tidak merah, dan ia terlihat... normal. Seperti tidak ada yang terjadi. Seolah semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar terjadi.
Tatapannya beralih ke Alya, lalu ke Aminah, lalu ke dua asisten rumah tangga lainnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ekspresinya datar, tidak ada rasa bersalah, tidak ada penyesalan. Hanya ketidakpedulian seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Alya membeku saat melihat Reza. Tubuhnya yang tadinya bersandar di meja langsung menegang, mundur selangkah ke belakang.
Reza tidak memperdulikannya. Ia berjalan ke lemari pendingin, mengambil botol air mineral, meneguknya beberapa kali. Kemudian ia meraih ponsel dan kunci mobil yang tergeletak di meja dapur.
"Aku berangkat," katanya singkat, tanpa menoleh ke siapa pun.
Langkah kakinya terdengar meninggalkan dapur. Pintu depan terbuka dan tertutup dengan bunyi klik pelan. Suara mobil dinyalakan, lalu perlahan menjauh hingga lenyap ditelan hiruk pikuk jalanan pagi itu.
Reza pergi. Seperti tidak ada yang terjadi. Seperti ia tidak baru saja menghancurkan seorang gadis semalam. Seperti ia tidak melihat bekas kekejamannya sendiri di tubuh istrinya.
Seperti ia tidak memiliki rasa bersalah sama sekali.
---
Keheningan menyelimuti dapur setelah kepergian Reza.
Alya masih berdiri di tempatnya, tubuhnya masih menggigil, tapi air matanya perlahan berhenti. Mungkin sudah habis. Atau mungkin ia terlalu lelah untuk menangis.
Aminah menatap pintu yang baru saja ditutup Reza, lalu menoleh ke arah Alya. Hatinya terasa remuk. Ia melihat gadis ini pertama kali tiga minggu lalu—penuh senyum, penuh harap, meskipun ada kesedihan di matanya karena pernikahan yang dipaksakan. Tapi setidaknya masih ada cahaya di sana.
Sekarang, cahaya itu padam.
Air mata Aminah akhirnya pecah. Ia tidak bisa menahannya lagi. Semalam ia mendengar jeritan gadis ini dan memilih diam. Pagi ini ia melihat bekas kekejaman di tubuhnya dan masih bisa berdiri diam.
Aminah mendekati Alya dengan langkah pelan. Tangannya yang keriput terangkat ragu, lalu akhirnya ia memeluk gadis itu. Ia memeluknya dengan erat, seperti seorang ibu memeluk anaknya yang terluka.
"Maafkan Aminah, Mbak..." isak Aminah, suaranya hancur. "Aminah dengar semalam... Aminah dengar Mbak berteriak... tapi Aminah tidak berani keluar. Aminah pengecut, Mbak. Aminah takut kehilangan pekerjaan... takut..."
Aminah tidak bisa melanjutkan. Tangisnya pecah, bahunya bergetar hebat. Ia memeluk Alya semakin erat, seolah dengan pelukan itu ia bisa memindahkan sebagian rasa sakit yang dirasakan gadis itu.
"Maafkan Aminah, Mbak. Maafkan Aminah..."
Ningsih dan Wati juga mendekat. Mereka menangis, tidak bisa berkata-kata. Wati memegang lengan Alya, Ningsih mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
Alya berdiri diam di tengah pelukan mereka.
Tubuhnya masih kaku, tangannya masih terpaku di sisi tubuh. Namun perlahan, tetes demi tetes, air mata mulai mengalir lagi dari matanya yang kosong.
Akhirnya, tangannya terangkat. Ia membalas pelukan Aminah. Perlahan, tubuhnya yang kaku mulai melunak. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Aminah yang telah tua itu.
"Mbak Alya... kita lapor polisi, ya..." bisik Wati di sela tangisnya.
Alya menggeleng pelan. "Tidak," suaranya lirih, nyaris tak terdengar. "Tidak akan ada yang percaya. Kakakku... dia akan membela Reza. Mamaku... dia tidak punya kekuatan. Aku sendiri... aku tidak punya siapa-siapa."
Kata-kata itu keluar dengan datar. Tanpa emosi. Seperti Alya sudah menerima kenyataan bahwa ia benar-benar sendirian di dunia ini.
Aminah memeluknya lebih erat. "Mbak punya Aminah. Aminah tidak akan diam lagi kalau ada yang coba-coba. Aminah akan lindungi Mbak."
Alya hanya diam. Ia tahu Aminah tidak bisa berbuat banyak. Ia tahu janji itu mungkin tidak akan bisa ditepati jika keadaan memaksa.
Akhirnya, Alya melepaskan pelukan itu. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap ketiga wanita yang berdiri di depannya.
"Aminah, tolong pinjamkan aku baju," kata Alya dengan suara yang mulai stabil. "Aku harus membersihkan diri. Dan setelah itu... tolong belikan aku pil KB."
Aminah terkejut. "Pil KB, Mbak?"
Alya mengangguk pelan. Matanya menatap kosong ke suatu titik di kejauhan. "Aku tidak akan biarkan anakku lahir di neraka ini."
Kata-kata itu terucap dengan dingin. Begitu dingin hingga membuat Aminah, Ningsih, dan Wati terdiam. Mereka menatap Alya—gadis yang dulu polos dan penuh senyum—kini berbicara dengan nada yang terlalu dewasa untuk usianya. Terlalu pahit. Terlalu hancur.
Alya berjalan perlahan menuju kamarnya di lantai atas. Langkahnya gontai, bahunya tertunduk, tubuh mungilnya masih dipenuhi luka yang belum sempat ia rawat.
Di balik pintu kamar yang tertutup, ia berdiri di depan cermin lagi.
Wajah yang sama. Tubuh yang sama. Tapi ia tidak lagi sama.
Alya berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku tidak akan menjadi korban selamanya."
jangan lupa mampir yaa🤭