Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Namun, Ketenteraman itu sama sekali tidak dirasakan oleh penghuni rumah tersebut. Sejak percakapannya dengan Salsa sore tadi, Aisyah lebih banyak mengurung diri di kamar. Berkali-kali ia mencoba membaca Al-Qur'an untuk menenangkan hatinya, tetapi pikirannya terus kembali pada ucapan kakaknya.
"Kalau nanti Mas Ammar berubah pikiran, terimalah dia sebagai suamimu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Aisyah memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti kakaknya sendiri akan memohon agar dirinya menerima laki-laki yang sangat dicintai Salsa sebagai suami dalam arti yang sesungguhnya.
"Astaghfirullah." Bisiknya lirih. "Ya Allah, tolong kuatkan hati kami. Jangan engkau biarkan kehidupan kami menderita."
Air mata kembali mengalir tanpa mampu Aisyah bendung. Sementara itu, sebuah mobil sedan hitam perlahan memasuki halaman luas kediaman Adhitama . Setelah seharian penuh disibukkan dengan rapat dan berbagai urusan perusahaan, akhirnya Ammar dan Pak Wira pulang bersama. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah dan membuat seorang satpam segera membuka pintu mobil.
"Selamat malam, Tuan."
Pak Wira mengangguk singkat.
"Malam." Jawab pak Wira yang langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Sejak mendengar kebenaran mengenai hubungan rumah tangga Aisyah dan Ammar dari istrinya, Ratih, melalui pesan singkat sore tadi, pikiran pak Wira dipenuhi berbagai pertimbangan. Ia ingin segera berbicara dengan istrinya mengenai perkembangan rumah tangga Ammar dan Aisyah.
Sementara itu, Ammar mengembuskan napas panjang. Hari ini terasa begitu melelahkan, bukan hanya karena pekerjaan, melainkan juga karena kejadian pagi tadi. Tanpa sadar, bayangan ketika ia dipaksa mengecup kening Aisyah kembali muncul di kepalanya dan membuat rahangnya mengeras. Ia sama sekali tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya dipaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya. Namun, yang lebih mengganggu pikirannya justru wajah Salsa. Wajah perempuan itu tampak sangat terluka.
"Aku harus minta maaf sama Salsa mengenai kejadian pagi tadi, aku tidak mau Salsa salah paham kepadaku karena masalah ini." Batin Ammar pelan.
Tanpa membuang waktu lagi, Ammar langsung melangkah menuju kamar yang ditempati Salsa. Baginya, perempuan itulah rumahnya. Satu-satunya tempat yang selalu membuatnya merasa tenang.
Tok...
Tok...
Tok...
Ammar mengetuk pintu pelan.
"Sayang?" Panggilnya namun tidak ada jawaban.
Perlahan ia memutar gagang pintu yang mana pintu kamar Salsa ternyata tidak dikunci. Saat masuk ke dalam, langkah Ammar langsung terhenti saat melihat Salsa sedang duduk di tepi ranjang dan masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi. Tatapannya kosong mengarah ke jendela, bahkan ia tidak menyadari kedatangan Ammar. Melihat hal itu, alis Ammar langsung berkerut.
"Salsa?"
Perempuan itu baru tersadar kalau suaminya sudah pulang kerja dan saat ini menghampirinya. Ia buru-buru mengusap sudut matanya.
"Mas..."
Ammar segera menghampirinya.
"Kamu belum ganti baju?" Salsa menggeleng pelan sementara Ammar duduk di sampingnya. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran. "Kamu kenapa? Tadi seharian Mas kepikiran kamu. Apa kamu masih marah soal kejadian pagi tadi?" Ammar menghela napas. "Kalau memang itu yang bikin kamu sedih, Mas minta maaf. Mas benar-benar dipaksa Papa. Percayalah... Mas sama sekali nggak menginginkan itu."
Salsa menatap wajah suaminya semetara air matanya kembali menggenang.
"Mas..." Suaranya bergetar. "Bukan itu."
Ammar semakin bingung.
"Lalu apa?"
Beberapa detik berlalu, Salsa lalu menundukkan kepalanya.
"Siang tadi... Mama memarahi aku dan Aisyah."
Jantung Ammar seketika berdegup lebih cepat.
"Ada apa? Apa yang mama lakukan sama kamu?"
Salsa menceritakan semuanya. Tidak ada satu pun yang ia sembunyikan. Mulai dari Bu Ratih yang tanpa sengaja mendengar pengakuan Aisyah bahwa mereka tidur terpisah, kemudian kemarahan Bu Ratih hingga ancaman akan mencarikan istri baru jika Ammar tetap tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami. Semakin lama mendengar cerita itu, Wajah Ammar semakin mengeras. Tangannya mengepal kuat.
"Apa?" Suara Ammar terdengar dingin. "Mama bilang begitu?"
Salsa mengangguk pelan.
"Aku nggak bohong, Mas."
Brak!
Ammar spontan berdiri sementara rahangnya mengatup rapat.
"Keterlaluan. Mama benar-benar sudah keterlaluan. Aku akan bicara sekarang juga."
Baru saja Ammar hendak melangkah menuju pintu, Salsa buru-buru bangkit dan mengejarnya.
"Mas!" Tangannya langsung menggenggam lengan Ammar. "Jangan."
Ammar menoleh.
"Salsa, lepaskan. Aku harus bicara sama Mama. Aku nggak akan membiarkan mama mengatur hidup kita terus."
"Tapi, Mas..." Salsa menggeleng cepat. "Kalau Mas melawan Mama, Mas justru akan semakin bertengkar sama mama."
"Aku nggak peduli."
"Tapi aku peduli!" Tangis Salsa pecah dan membuat suasana kamar mendadak sunyi. Salsa memegang kedua tangan Ammar dengan erat.
"Mas, Aku mohon. Jangan memperbesar masalah."
Ammar menatap istrinya dalam.
"Lalu kamu maunya apa?"
Pertanyaan itu membuat Salsa kembali terdiam. Dadanya terasa sesak namun akhirnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, Ia berkata,
"Aku... Aku ingin Mas memenuhi permintaan Mama."
Ammar mengernyit.
"Maksudmu?"
Air mata Salsa kembali jatuh.
"Mas... Tolong jalankan tugas Mas sebagai suami kepada Aisyah."
Deg, Ammar membeku. Tatapannya berubah tidak percaya.
"Salsa."
"Mas harus menerima Aisyah." Kalimat itu terasa begitu berat, bahkan Salsa sendiri hampir tidak sanggup mengucapkannya. "Mas... Aku mohon tolong gauli Aisyah supaya dia cepat hamil dan supaya mama membatalkan niatnya untuk menikahkan mas dengan perempuan lain."
Ruangan itu seolah kehilangan udara. Ammar menatap Salsa cukup lama dengan tatapan matanya yang dipenuhi keterkejutan, Kekecewaan dan rasa tidak percaya.
"Apa?" Suara Ammar terdengar lirih. "Kamu sadar apa yang baru saja kamu minta?"
Salsa menangis semakin keras.
"Aku sadar, mas."
"Tidak." Ammar menggeleng. "Kamu pasti nggak sadar. Bagaimana mungkin perempuan yang paling aku cintai justru menyuruh aku tidur dengan perempuan lain?"
"Aku melakukan ini demi kita, Mas."
"Tidak." Ammar kembali menggeleng. "Demi kita bukan berarti aku harus mengkhianati hatiku sendiri. Aku hanya mencintai kamu dan itu tidak akan berubah."
Salsa memejamkan matanya.
"Aku tahu. Justru karena itu... Aku mohon. Tolong lakukan sekali saja untukku mas. Asal Aisyah hamil, Semuanya akan selesai."
Ammar mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin perempuan yang selalu ia lindungi kini memohon sesuatu yang begitu menyakitkan baginya.
"Salsa." Suara Ammar kini jauh lebih tegas.
"Dengarkan aku baik-baik. Mas lebih memilih meninggalkan rumah ini dan memilih keluar dari keluarga Adhitama daripada harus melakukan hubungan suami istri dengan perempuan yang tidak mas cintai."
Kalimat itu membuat Salsa langsung membeku.
"Apa?"
"Kalau memang Papa dan Mama memaksa, mas akan pergi. Kita bisa hidup mandiri dan membangun hidup kita sendiri. Asal aku tetap bersamamu."
Air mata Salsa semakin deras. Ia buru-buru menggeleng.
"Jangan, Mas. Aku nggak mau. Aku nggak mau gara-gara aku, Hubungan Mas dengan Papa dan Mama hancur. Aku nggak mau menjadi penyebabnya."
parah ini mah kata aku