"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Kamis, 13 Mei 2021
Pukul 05.30
Karena tidak bisa tenang dan sulit tidur semalaman, aku memutuskan untuk keluar dan jogging. Udara fajar yang menusuk setidaknya bisa sedikit membantuku menata kembali pikiranku yang kacau balau.
Sambil melangkah, aku menautkan kepingan demi kepingan puzzle di kepalaku. Jika dilihat dari apa yang telah terjadi di lini masa sebelum-sebelumnya, urutan kronologisnya mungkin seperti ini:
Rania datang ke bangunan terbengkalai itu untuk menemui pria yang ditaksirnya. Di sana, ia disergap oleh gerombolan bajingan. Setelah mereka melampiaskan kebiadaban mereka, sosok misterius yang menebas leherku secara instan datang dan membantai habis gerombolan bajingan tersebut. Jadi, derap langkah kaki cepat yang kudengar di lini masa saat aku menemukan belasan mayat itu adalah langkah kaki sosok pembunuh ini.
Tapi... masih ada kemungkinan lain. Pembunuhku dan pembunuh gerombolan bajingan itu bisa saja orang yang berbeda. Lagipula, rasanya tidak masuk akal jika ada satu orang yang sanggup menguasai dan membantai belasan pria kekar sendirian dalam waktu singkat. Apa pembunuh itu punya komplotan lain? Atau terjadi perebutan wilayah dan perpecahan internal di antara mereka? Entahlah. Yang jelas, langkah darurat terdekat yang harus kuambil adalah mencegah Rania menapakkan kakinya di bangunan terbengkalai itu.
Langkah kakiku terus melaju membelah trotoar yang sepi. Udara dingin fajar menyusup tajam menembus hoodie tebal yang kukenakan.
Lalu, tanpa aba-aba, sebuah pemikiran liar melintas kilat di benakku. Sebuah realisasi mengerikan yang membuat langkah kakiku terhenti seketika.
Bagaimana jika… orang yang menyerang Rania di gang setelah liburan pantai waktu itu, sebenarnya memiliki keterkaitan langsung dengan penyerangan di bangunan terbengkalai ini?
Wajahku seketika memucat pasi. Keringat dingin menyembur keluar di balik lipatan baju.
Jika dugaan ini benar, maka ini jauh lebih buruk dari bayanganku. Masalah ini tidak akan pernah selesai hanya dengan mencegah Rania pergi ke bangunan terbengkalai itu. Terlebih lagi... jika benar-benar ada dalang di balik layar yang sengaja menyewa mereka untuk menghancurkan hidup Rania, maka lingkaran setan kematian ini tidak akan pernah ada ujungnya. Rania akan terus diincar, di mana pun dan kapan pun.
Kecuali... aku berhasil membongkar dan menangkap pelaku yang sebenarnya.
Tapi, bagaimana caranya?
Waktu mungkin bisa berpihak padaku lewat kutukan ini, tapi kekuatan fisik dan sumber daya sama sekali tidak. Aku hanyalah seorang remaja perempuan yang tidak memiliki kekuatan tempur ataupun koneksi ke pihak berwajib untuk melumpuhkan sekumpulan pembunuh. Pada akhirnya, semua yang bisa kulakukan selama ini hanyalah terus melarikan diri, menyaksikan tragedy berulang, dan membusuk dalam penyesalan setelahnya.
Aku mengepalkan tanganku erat-erat hingga kuku-kukuku menancap tajam ke telapak tangan. Aku menggigit bibir bawahku begitu kuat, mencoba menahan gejolak amarah dan penderitaan yang membakar dada.
Sial! Kenapa aku sangat tidak berdaya?!
Padahal sahabatku—satu-satunya cahaya di hidupku—akan kembali diseret ke dalam neraka yang sama. Apa aku... benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa? Apa benar-benar tidak ada pilihan lain... selain membeberkan semua kegilaan garis waktu ini kepada Rania?
Aku meremas rambutku, menggeleng pelan. Tidak. Itu ide konyol. Terlepas dari apakah Rania akan mempercayaiku atau menganggapku gila, menceritakannya tidak akan mengubah fakta bahwa para pemburu itu tetap berkeliaran di luar sana.
Tapi... bagaimana jika Rania tidak pernah bertemu dengan pria di bangunan terbengkalai itu sejak awal? Apakah Rania akan selamat?
Sebuah pemikiran gelap mendadak melintas di sudut otakku: memutus takdir mereka. Memisahkan Rania dari pria itu secara paksa.
Namun, belum sempat pemikiran itu berakar, aku menggelengkan kepalaku dengan sangat kuat, menampar pipiku sendiri demi membuang jauh-jauh pikiran menjijikkan tersebut.
Apa yang kau pikirkan, dasar sampah?! Dia bahagiamu, dan pria itu adalah salah satu alasannya tersenyum!
"Huuufff..."
Aku menghembuskan napas berat yang beruap di udara pagi, membiarkan bahuku meluruh lemas.
Setiap kali aku mencoba menyelesaikan satu masalah dengan satu cara, masalah serupa dengan bentuk yang berbeda akan selalu datang menghantam dari arah yang tak terduga. Ini persis seperti dipaksa berjalan di dalam labirin tanpa ujung, dan rasa frustrasi yang menumpuk ini perlahan-lahan mulai membuat jiwaku gila.
Jumat, 14 Mei 2021
Pukul 06.00
Aku sudah standby di dekat rumah Rania sejak matahari baru saja terbit. Aku bersembunyi di balik celah bangunan, mengenakan hoodie tebal berpenutup kepala, masker kain rapat, serta kacamata hitam. Penampilanku benar-benar tertutup. Mengamati Rania secara diam-diam adalah satu-satunya pilihan rasional yang bisa kulakukan sekarang untuk membedah pola pergerakannya di lini masa ini.
Pukul 09.00
Setelah tiga jam menahan hawa dingin pagi yang menusuk hingga persendianku terasa pegal, pintu kayu rumah Rania akhirnya terbuka.
Mataku langsung terpaku padanya. Hari ini, ia melangkah keluar dengan penampilan yang menyita perhatian, memancarkan pesona khasnya yang tak pernah gagal membuat siapa pun menoleh. Rania mengenakan overall dress korduroi berwarna cokelat karamel yang membungkus tubuh mungilnya dengan sangat pas. Di baliknya, kaus lengan panjang berwarna putih gading dengan kerah peter-pan berenda menambah kesan manis yang begitu alami.
Rambut hitam sebahunya, yang biasanya dibiarkan tergerai asal, kini diikat sebagian bergaya half-updo yang rapi, dengan poni depan tipis yang membingkai wajahnya yang oval. Sapuan lip tint berwarna peach segar mewarnai bibirnya yang terus melengkungkan senyum, berpadu dengan rona merah alami di pipinya yang bulat.
Sepatu kets putih kanvas yang bersih serta sepasang kaus kaki setinggi pergelangan bermotif garis melengkapi gaya modisnya hari ini. Sebuah sling bag kecil berbahan kulit sintetis tersampir miring di bahunya, bergerak seirama dengan setiap langkahnya yang ringan.
Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar seperti menangkap pantulan cahaya matahari. Ia melangkah riang, hampir seperti melompat kecil, dengan hati yang tampak jelas tengah berbunga-bunga. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, nilai plus keimutannya melonjak tajam, memancarkan aura seorang gadis remaja yang tengah bersiap menemui cinta pertamanya.
Menelan rasa cemas yang mengganjal di tenggorokan, aku langsung membetulkan maskerku dan mulai membuntutinya dari jarak aman, mengatur napas agar langkah kakiku tidak sedikit pun memicu kecurigaan.
“Apa dia akan langsung pergi ke tempat itu sekarang?” gumamku lirih di balik masker.
Pukul 09.45
Dugaanku meleset. Setelah turun dari bus TransJakarta, Rania justru melangkah masuk ke dalam sebuah mal besar. Dia mengitari lantai demi lantai; mengunjungi toko camilan, membeli minuman tren, memilah pakaian, hingga mencuci mata di toko porselen dan suvenir.
Aku terus mengekornya, menyelinap dan mengintip dari balik celah-celah rak barang.
“Mama... lihat deh, ada orang aneh mencurigakan!” celetuk seorang anak kecil tiba-tiba, menunjuk lurus ke arahku dengan polos.
“Ssttt... diam, Nak. Biarkan saja dia, jangan dilihat!” bisik ibunya terburu-buru sambil menarik tangan anaknya menjauh dari area rak.
Kejadian itu membuatku tersentak. Aku baru menyadari sepenuhnya betapa konyol dan abnormal penampilanku di dalam mal yang terang benderang ini. Aku lebih mirip seorang stalker berbahaya daripada sahabat yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa.
Di toko berikutnya, Rania akhirnya berhenti cukup lama. Setelah bergelut sengit dengan pikirannya sendiri di depan etalase, ia membeli sebuah jam tangan di toko perhiasan, yang kemudian dibungkus rapi.
“Itu... desain jam tangan pria. Apa dia membelikannya untuk cowok di bangunan terbengkalai itu?”
Pukul 13.56
Puas berkeliling, Rania memilih duduk di sebuah kedai ramen. Aku mengambil posisi di sudut remang-remang yang berseberangan, berpura-pura menunduk sambil terus mengawasinya. Rania melahap ramennya dengan sangat gembira. Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah paperbag kecil berwarna hitam mengkilat dengan logo toko jam tadi.
Otakku langsung bekerja keras menyambungkan benang-benang ingatan.
Di garis waktu sebelumnya—ketika aku secara mendadak mengajak Rania ketemuan di kafe pada jam dua siang—aku sama sekali tidak melihat paperbag ini. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun berbeda. Apa artinya di lini masa lalu Rania membatalkan seluruh rencana perginya ke mal ini begitu mendengar panggilanku?
Ya, itu masuk akal. Waktu itu aku meneleponnya sekitar pukul 09.00 pagi. Mendengar aku sedang panik, Rania memutuskan mengurungkan niatnya membeli hadiah ini.
Tapi... apa itu berarti hadiah ini bukan untuk ulang tahun? Karena dia pikir dia bisa membelikannya kapan saja di lain hari?
Jika kuingat-ingat kembali, Rania pernah berujar bahwa dia biasanya keluar malam sedikit lebih lama dari jam pertemuan kami di halte. Waktu itu kami bertemu pukul 19.15. Kemungkinan besar, jam biologis Rania keluar rumah secara rutin adalah pukul 20.00.
Seingatku, pesan berisi koordinat lokasi yang dikirimkan dari ponsel Rania masuk pada pukul 20.53. Aku tiba di lokasi pukul 21.12. Tepat di detik itulah pembantaian di dalam ruangan baru saja usai—karena aku mendengar derap langkah kaki terburu-buru yang melarikan diri saat aku mendekati pintu besi.
Jika sang pembunuh yang mengirimkan pesan singkat itu dari ponsel Rania, dia tidak mungkin dengan sabar menungguku datang ke lokasi eksekusi. Yang berarti... gerombolan bajingan itulah yang sengaja memancingku datang menggunakan ponsel Rania!
Tunggu dulu...
Aku menahan napas. Sebuah kejanggalan mendadak menghantam ingatanku. Saat aku berjalan menyusuri lorong bangunan terbengkalai malam itu... aku sama sekali tidak melihat ada ceceran darah di sepanjang jalan utama ataupun di luar pintu besi tersebut!
Pembantaian belasan orang itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat sempit: antara pukul 20.53 hingga 21.12—hanya selisih 19 menit. Dan pembantaian itu terkonsentrasi penuh di dalam satu ruangan tertutup. Ada genangan darah yang luar biasa pekat di sana. Jika ada bajingan yang selamat dan melarikan diri, atau jika ada pembunuh tunggal dari luar yang mengeksekusi mereka lalu pergi, pasti akan ada jejak tapak kaki atau seretan darah yang tertinggal di luar pintu. Tapi lorong luar bersih!
Maka, mengasumsikan tragedi di ruangan itu sebagai perpecahan internal jauh lebih masuk akal! Mereka saling serang, saling bantai karena perebutan hasil atau perselisihan gila, hingga akhirnya tewas bersama. Sedangkan langkah kaki cepat yang kudengar melarikan diri saat aku datang... bukanlah langkah sang pembunuh, melainkan langkah pria yang ditaksir Rania! Pria itu kemungkinan baru saja kembali dari luar, melihat ruangan tempat tinggalnya berubah menjadi neraka penuh mayat, lalu panik dan berlari ketakutan ketika mendengar gedoran pintu dariku.
Tapi masalahnya... kenapa ada beberapa mayat yang terpotong bersih? Sama persis dengan rasa tebasan melayang yang memutus leherku secara instan di lini masa lalu?
Napas mual merayapi tenggorokanku. Tidak. Tidak. Jangan panik dulu, Luna. Waktu itu aku cuma melihat beberapa jasad dari dekat. Aku tidak sempat memeriksa semua mayat di ruangan remang itu. Masih ada kemungkinan mayoritas dari mereka mati karena tusukan pisau atau perkelahian biasa.
Mari pegang asumsi ini dulu: terjadi perpecahan internal di antara gerombolan itu, terlepas dari apa pun pemicunya.
Rania pernah bercerita bahwa ia biasa membawa makanan, minuman, dan buku saat menginjakkan kaki di markas pria itu. Jika ia berangkat dari rumah pukul 20.00, ia butuh waktu membeli makanan, lalu lanjut menempuh perjalanan sekitar 30 menit ke bangunan terbengkalai. Kalaupun Rania sudah menyiapkan semuanya dari awal, ia tetap butuh rentang waktu 15 menit.
Secara kalkulasi kasar, para bajingan itu hanya memiliki waktu sekitar ±40 menit untuk melakukan aksi bejat mereka sebelum pembantaian internal itu terjadi.
Hhmmm... apa rentang waktu itu cukup?
Mengingat jumlah mereka yang mencapai belasan orang, waktu 40 menit terasa terlalu sempit untuk semua skenario keji yang kulihat pada jasad Rania di lini masa lalu. Artinya, pasti ada variabel lain! Apakah Rania sebenarnya telah diculik jauh sebelum malam tiba? Atau ada seseorang yang memancing Rania untuk datang lebih awal dari jadwal biasanya?
Aku menyipitkan mata, mengembalikan fokus penuh pada Rania. Di seberang sana, ia baru saja menyapu bersih mangkuk ramennya. Ia menatap paperbag hitam di atas meja dengan pendar mata yang memancarkan kebahagiaan murni.
Apa... dia berencana datang lebih awal hari ini karena sudah tidak sabar memberikan hadiah jam tangan ini?
Pukul 14.35
Rania akhirnya melangkah keluar dari mal dan langsung menaiki bus TransJakarta.
Pukul 14.55
Rania turun di halte perbatasan. Langkah kakinya membawa Rania menyusuri jalur alternatif. Dari arah dan rutenya, tebakanku tepat: dia memang berniat menuju ke bangunan terbengkalai itu sekarang!
Namun, tepat saat Rania berbelok melangkah masuk ke dalam sebuah gang sempit yang diapit dinding tinggi, dua orang pria bertubuh kekar mendadak muncul dari balik persimpangan dan langsung menghadang jalannya.
Seketika, kilatan memori berdarah menghantam kepalaku. Dua wajah itu... mereka berdua adalah bagian dari gerombolan bajingan yang berada di dalam ruangan pembantaian!
"Eh? Kalian... mau apa?" Rania menghentikan langkahnya, mundur sembari menggenggam paperbag-nya erat-erat. Wajahnya dipenuhi kebingungan dan kepanikan saat kedua pria itu mulai mengeluarkan godaan-godaan vulgar, menyudutkannya ke dinding gang.
"Mau ke mana, Cantik? Jalannya sempit nih, main dulu sama kita," kekeh salah satu pria bertato sambil mengulurkan tangan, meraih paksa pergelangan tangan Rania.
"Lepasin! Jangan sentuh aku!" Rania menjerit, meronta-ronta dan mencoba memukul lengan pria itu dengan tasnya.
"Diem kamu, Anjing!"
Pria itu naik pitam. Dengan satu ayunan tangan yang amat keras, sebuah tamparan mendarat telak di pipi Rania.
PLAKKK!
Bunyi tamparan itu bergema keras di dalam gang. Tubuh Rania yang mungil seketika terlempar ke samping, merosot jatuh hingga bagian samping kepalanya menghantam sudut tembok semen dengan sangat telak.
BUG!
Rania langsung terkapar, tak sadarkan diri di atas tanah. Darah segar mulai mengalir tipis dari pelipisnya, membasahi juntaian rambutnya.
Dari balik celah bangunan tempatku bersembunyi, dadaku seperti meledak. Rahangku mengatup begitu keras hingga gigiku berderit, mataku memerah oleh amarah gila yang membakar seluruh sarafku. Rasanya aku ingin berlari, menjambak, dan menusuk mata kedua bajingan itu saat ini juga!
Namun, aku memaksa kakiku untuk tetap memaku di tanah. Aku meremas jemariku sendiri hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan, mengalirkan rasa sakit untuk menekan histeria di dadaku.
Jangan bertindak konyol, Luna... Jangan sekarang! Kamu tidak punya kekuatan fisik untuk melawan dua pria kekar itu. Kalau kamu keluar sekarang, kamu hanya akan membuat dirimu ikut pingsan atau terbunuh, dan Rania tetap tidak akan terselamatkan!
Dengan darah yang mendidih dan dada yang serasa dihantam palu godam, aku terpaksa menyaksikan dalam diam ketika salah satu pria itu menyambar tubuh pingsan Rania, membopongnya di atas bahu seperti barang dagangan, lalu menghilang bersama temannya menuju ke arah bangunan terbengkalai.