Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka yang Memilih Hutan
Tepat setelah pertempuran berdarah di garis depan mereda. Sekitar dua puluh orang yang terdiri dari berbagai latar belakang berlari compang-camping, nekat menerobos masuk ke dalam Hutan Kematian demi menyelamatkan nyawa. Mereka adalah tujuh prajurit iblis, empat warga sipil yang belum sempat mengungsi dari desa perbatasan, tiga pedagang keliling, tiga tabib lapangan, dua anak-anak, dan dua orang lanjut usia. Selain ketujuh prajurit iblis yang kabur karena terjepit situasi, sebagian besar dari mereka adalah korban perang yang kehilangan arah.
Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Yang menyatukan mereka di bawah rasa takut yang sama hanyalah satu pemikiran mutlak: “Kalau kami tetap bertahan di medan perang... kami pasti mati.”
Hari Pertama di dalam hutan dimulai dengan secercah optimisme semu. Mereka berjalan beriringan, saling merapat demi mencari rasa aman. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara-suara lolongan dan desisan monster mulai sayup-sayup terdengar dari balik semak-semak.
Ketika mereka berhenti untuk beristirahat di sore hari, sebuah Bloodlust Slime tiba-tiba menyerang salah satu prajurit yang tertidur lelap. Makhluk transparan itu langsung menempel di lengannya dan mengisap darah dengan cepat. Beruntung, kejadian itu segera disadari oleh rekan di sebelahnya. Meski berhasil dibunuh, salah satu warga sipil telanjur kehilangan banyak darah akibat makhluk kecil tersebut. Saat itulah mereka mulai menyadari kengerian yang sesungguhnya: hutan ini sama sekali tidak ramah bagi makhluk hidup.
Malam Pertama menjelma menjadi ujian mental yang berat. Di tengah kegelapan total, mereka memberanikan diri menyalakan api kecil untuk menghangatkan badan. Namun, cahaya dan kehangatan api tersebut justru menjadi daya tarik bagi monster sekitar.
Sekelompok Pulvial Wolf muncul di kejauhan, mengawasi mereka dengan mata berpendar merah. Untungnya, kawanan serigala itu tidak langsung menyerang; mereka hanya melintas sambil menyeret dan membawa bangkai rusa monster yang telah dibungkus rapat oleh lapisan batu lava mengeras. Seluruh orang di kelompok pengungsi menahan napas dalam-dalam, mematung tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun sampai bayangan kawanan serigala itu benar-benar lenyap ditelan gelap.
Hari Kedua membawa situasi yang jauh lebih buruk. Persediaan air dan makanan yang mereka bawa dari pos darurat mulai habis. Rasa lapar, kelelahan, dan keputusasaan memicu perpecahan di antara mereka. Beberapa orang mulai bertengkar hebat; ada yang bersikeras ingin kembali menyerahkan diri ke medan perang daripada mati perlahan di sini, sementara yang lain ingin terus masuk mencari jalan keluar.
Akhirnya, kelompok kecil yang rapuh itu pecah menjadi tiga faksi: kelompok pertama memilih berbalik arah kembali ke luar hutan, kelompok kedua tetap nekat berjalan lurus ke dalam, dan kelompok ketiga tersesat di antara semak belukar.
Tak lama setelah perpisahan itu, suara jeritan kengerian terdengar bersahutan dari arah kelompok yang tersesat. Tidak ada yang tau siapa yang tewas atau apa yang menyerang mereka; yang tersisa hanyalah keheningan malam yang kembali mencekam. Jumlah mereka yang tadinya dua puluh orang kini menyusut drastis, tinggal menyisakan sekitar dua belas jiwa saja.
Menjelang sore di hari kedua, salah satu anak kecil dari rombongan pengungsi tiba-tiba menunjuk ke arah depan sambil berteriak pelan, "Ibu... lihat, ada asap..."
Semua orang langsung berhenti melangkah. Di balik sela-sela rimbunnya pepohonan purba yang gelap, terlihat segaris tipis asap abu-abu mengepul naik ke langit senja. Mereka saling berpandangan penuh harap. Asap itu menandakan satu hal yang pasti: ada kehidupan manusia—atau makhluk lain—di sana.
Namun, tidak seorang pun dari mereka yang memiliki keberanian untuk langsung mendekat. Mengingat kengerian hutan yang telah merenggut rekan-rekan mereka, kelompok yang tersisa itu memutuskan untuk bermalam terlebih dahulu di tempat tersembunyi, mengamati titik api tersebut dari kejauhan dengan waspada.
Di pagi hari yang sama, jauh dari tempat para pengungsi bersembunyi, suasana di dalam Desa Haruto terasa sangat produktif. Haruto mulai merealisasikan perluasan wilayah desa sesuai dengan rancangan denah yang telah ia buat sebelumnya.
Keberadaan gerobak dorong (wheelbarrow) buatan Brom benar-benar menunjukkan fungsi dan manfaat luar biasanya hari itu. Tumpukan batu fondasi, potongan kayu berat, hingga tiang-tiang pagar bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan yang jauh melampaui tenaga manusia biasa.
Brom, yang mengawasi penggunaan alat tersebut dari dekat, mengangguk-angguk puas. "Lumayan juga," gumam sang pandai besi.
Haruto menoleh sambil tersenyum. "Hanya 'lumayan'? Alat ini memangkas tenaga dan waktu kita hingga setengahnya, Brom."
Pembagian tugas harian pun berjalan lancar. Mira tetap bertugas siaga penuh di atas menara pengawas karena radius wilayah desa kini semakin luas. Fira dan Fina bekerja sama memasang pagar kayu sederhana di sekeliling lahan baru—bukan benteng pertahanan militer, melainkan pagar pembatas fungsional untuk mencegah monster-monster kecil menyusup masuk. Kaelin dan Hana sibuk mengolah tanah dan membersihkan gulma liar.
Di sela-sela pekerjaan itu, Kaelin sesekali mengingatkan Haruto mengenai jenis-jenis benih tanaman yang harus disemai, termasuk beberapa varietas tanaman obat dari dunia asal Haruto yang memiliki kemiripan fungsi dengan flora dunia ini, serta bibit bunga-bunga indah kesukaan Luna. Haruto mengingat setiap instruksi itu dengan teliti.
Luna sendiri mendapat tugas khusus untuk menyirami bibit-bibit muda. Haruto sengaja menyemai bibit-bibit tersebut di dalam wadah khusus terpisah—memanfaatkan kekuatan Divine Shadow Tool miliknya yang dikombinasikan dengan berkah alami dari dewi pertanian—sebelum nanti dipindahkan ke tanah lapang setelah Kaelin dan Hana merampungkan penyiapan lahan. Meski begitu, seperti biasa, Luna malah asyik bermain-main dengan air siraman hingga membuat Fina berkacak pinggang dan mengomelinya.
Sementara itu, Elara sibuk menghitung ulang catatan hasil panen musim lalu dan memeriksa ketersediaan stok makanan di dalam lumbung utama. Ia mulai menyadari satu hal penting. "Haruto," panggil Elara lembut, "jika panen di area kebun baru ini berhasil dengan baik... gudang penyimpanan kita yang sekarang sepertinya tidak akan cukup menampung semuanya."
Haruto tersenyum tenang. "Kalau begitu, tandanya kita tinggal membangun lumbung yang jauh lebih besar nanti."
Menjelang sore hari, saat matahari mulai condong ke barat, Haruto mulai menanam deretan pohon buah-buahan baru di area kebun yang telah disiapkan. Barisan pertama diisi oleh pohon apel, disusul oleh jeruk, mangga, dan yang terakhir—dengan jarak yang agak jauh dari pohon lainnya—adalah durian.
Luna memiringkan kepalanya, menatap bingung ke arah bibit pohon terakhir. "Haruto, kenapa pohon yang itu ditanam paling jauh di sudut sana?"
Haruto tertawa kecil. "Kalau nanti pohon itu sudah besar dan berbuah... ukuran buahnya sangat besar dan kulitnya berduri tajam. Aku tidak mau ada orang di desa ini yang kepalanya tertimpa buah durian saat sedang berjalan-jalan."
Semua orang yang mendengarnya langsung mengangguk kompak, setuju dengan alasan logis tersebut.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, memancarkan bias jingga keemasan. Haruto berdiri seorang diri di dekat pagar pembatas yang baru saja ditegakkan. Di hadapannya, hamparan tanah lapang yang tadinya kosong dan liar pada pagi hari kini telah rapi dipenuhi oleh bibit-bibit hijau: petak sawah kedua, kebun buah-buahan segar, serta lahan kosong yang telah diberi tanda khusus untuk area kebun anggur nantinya.
Haruto menarik napas panjang, meresapi udara sore yang damai. "Pelan-pelan... desa ini akan terus berkembang menjadi tempat yang lebih baik."
Jauh di balik rimbunnya kegelapan pepohonan hutan di luar pagar, belasan pasang mata yang lelah dan kelaparan tengah memperhatikan pendar cahaya hangat dari api unggun desa kecil itu. Mereka belum mengetahui siapa sosok manusia atau makhluk apa yang tinggal di tempat tersembunyi tersebut.
Namun, bagi orang-orang malang yang telah berhari-hari berjuang mempertaruhkan nyawa di dalam cengkeraman Hutan Kematian, cahaya kecil di kejauhan itu adalah satu-satunya secercah harapan terakhir yang masih tersisa di dunia ini.